Ridho

Ridho

استلذاذك بالبلاء تحقُّقٌ بالرضا

Jika kau bisa menikmati ujian, berati kau telah mencapai kondisi RIDA.

 

Dikisahkan ada seorang fakir yang menetap bersama Dzunnun RA, selama tiga hari tanpa makan sesuatupun dan tidak pernah meminta-minta. Kemudian seorang laki-laki datang mengadukan kebutuhannya.

Si fakir itu berujar kepadanya, :
“Seandainya kau jujur, kau akan dapatkan apa pun yang kau inginkan.”
Laki-laki itu berkata:
“Kalau begitu, berdoalah untukku!”

Si fakir lalu bangkit berwudhu dan shalat dua rakaat. Setelah itu ia berdoa kepada Allah agar orang itu diberi makanan dan pakaian baru. Tak lama berselang, ia kembali dengan membawa makanan dan pakaian untuk lelaki itu.

Dzunnun berkata kepada si fakir:
“Kau memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Aku tahu, selama tiga hari ini kau tidak makan. Mengapa kau tidak meminta kepada-Nya?”

Si fakir menjawab: “Hatiku telah dipenuhi rasa rida sehingga tidak ada lagi tempat untuk meminta.”

 

 

Sumber:

Agus Afifudin Dimyathi (Pengasuh Asrama Hidayatul Qur’an, Pondok Pesantren Darul ‘Ulum)

Syarh Hikam al Ghaatsiyyah, Ahmad bin Ibrahim al Naqsyabandi

70 Kelompok

70 Golongan

Andaikata hadist berikut ini yang banyak beredar di kalangan umat Islam, pasti kehidupan umat ini lebih damai..

Imam as Sya’roni menyebutkan dalam kitab al Mizan, Hadist dari jalur Ibnu an Najjar yang dishohihkan oleh Imam al Hakim:
ستفترق أمتي على نيف وسبعين فرقة، كلها في الجنة إلا واحدة.

“Umatku akan terpecah menjadi 70 sekian kelompok, semuanya berada di surga kecuali satu”.

dan diriwayatkan dari Anas bin Malik:
… كلها في الجنة إلا الزنادقة.

“Semuanya di surga kecuali kaum zindiq”.

Dan disebutkan juga dalam Takhrij Ahaadist Musnad al Firdaus karya Ibnu Hajar:

تفرق على بضع وسبعين فرقة، كلها في الجنة إلا واحدة، وهي الزنادقة.
“(Umatku) terpecah menjadi 70 sekian kelompok, semuanya berada di surga kecuali satu, yaitu kaum zindiq”.

– dikutib dari buku Dr. Abdul Halim Mahmud, Grand Syekh al Azhar, AT TAFKIR AL FALSAFI FI AL ISLAM. Dar al Maarif.

nb: Ibnu Qudaamah menjelaskan dalam kitab al Mughni, bahwa Zindiq adalah orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakan keislaman, alias munafiq.
.
Wallahu A’lam.

 

Sumber:

Agus Afifudin Dimyathi (Pengasuh Asrama Hidayatul Qur’an, Pondok Pesantren Darul ‘Ulum)

DATABASE BUKU PERPUSTAKAAN KEJUJURAN MUSHOLA BAITUL HAKIM FAKULTAS HUKUM UGM

RAK BUKU MUSHOLLA BAGIAN PEREMPUAN      
NO. JUDUL BUKU PENGARANG PENERBIT JUMLAH BUKU KODE
1 ABC PASAR MODAL INDONESIA MARZUKI USMAN, DJOKO KOESNADI, ARYS ILYAS, HASAN ZEIN M., I GEDE PUTU ARY SUTA, I NYOMAN TJAGER, SRIHANDOKO INSTITUT BANKIR INDONESIA JAKARTA 1994 1 02.7 IND A C.1
2 AGAMA DAN PERUBAHAN SOSIAL MATTULADA, ISMUHA, BAIHAQI A.K., ABU HAMID, CV. RAJAWALI JAKARTA 1 2X6.13 ABD A
3 AL ‘UBUDIYAH TUNTUNAN PRAKTIS IBADAH MAHDHAH TIM ASISTENSI AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA LEMBAGA STUDI ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 1 03.21 UMS AC.1
4 AL-MA’TSURAT DAN HADITS ARBA’IN HASAN AL-BANNA, IMAM NAWAWI GEMA INSANI JAKARTA 2007 1 BAN C.2
5 AL-MA’TSURAT WAZIFAH KUBRA HASAN AL-BANNA, IMAM NAWAWI 1
6 AL-QUR’AN
7 AQIDAH AKHLAK 3 UNTUK MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 1984 DRS. H. MAHMUD SUYUTHI, dkk. SAHABAT ILMU SURABAYA 1 42 B.1
8 ASAS-ASAS HUKUM MUAMALAT (HUKUM PERDATA ISLAM) KH. AHMAD AZHAR BAYIR, MA UII PRESS YOGYAKARTA 2000 1
9 AYAT AYAT CINTA (SEBUAH NOVEL PEBANGUN JIWA) HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY PENERBIT REPUBLIKA JAKARTA 1 80 B.1
10 BAHAYA MODE KHALID BIN ABDURRAHMAN ASY-SYAYI’ GEMA INSANI PRESS JAKARTA 2002 1 1. 16
11 BAHAYA SYIRIK LAJNAH ILMIAH HASMI LPKI 1 58 HAS B.1
12 BALANCED SCORECARD: ALAT MANAJEMEN KONTEMPORER UNTUK PELIPATGANDA KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN MULYADI SALEMBA EMPAT JAKARTA 2001 1 02.20 MUL B C.1
13 BELAJAR CEPAT PERCAKAPAN BAHASA ARAB MODERN AHMAD QOSIM, S.Ag MULTI PUBLISHING YOGYAKARTA 2011 1 35 MUL C.1
14 BUKTI KEBENARAN QURAN ABDULLAH M. AL-REHAILI TAJIDU PRESS YOGYAKARTA 2003 1 63 B.1
15 BUKU III HUKUM PIDANA INTERNASIONAL DAN PEREMPUAN BELAJAR LEWAT PENGADILAN SEMU (MOOT COURT) GALUH WANDITA (ICTJ), ATIKAH NURAINI, BETTY SITANGGANG, BETTY YOLANDA, NATALIA YETI PUSPITA, NELLA SUMIKA PUTRI, PATRICK BURGESS, SYAMSUL ALAM PUBLIKASI KOMNAS PEREMPUAN 2006 1 105 KOM C.1
16 BUKU PANDUAN KULIAH KERJA NYATA “PEMBERDAYAAN HUKUM MASYARAKAT PENGGUNA PENGADILAN” (EDISI REVISI 2012) HASRUL HALILI, HIFDZIL ALIM, LARAS SUSANTI, OCE MADRIL, ZAINAL ARIFIN MOCHTAR PUSAT KAJIAN ANTI (PUKAT) KORUPSI, FAKULTAS HUKUM, UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTA 2012 1 56 PUK C.1
17 BUNGA RAMPAI HUKUM PIDANA PROF. DR. A.Z. ABIDIN, S.H. PT PRADNYA PARAMITA JAKARTA 1983 1 05 B
18 CETAK BIRU KOMUNITAS SOSIAL BUDAYA (SOCIO-CULTURAL COMMUNITY BLUEPRINT) ASEAN DIRJEND KERJA SAMA ASEAN KEMENLU RI DIRJEND KERJA SAMA ASEAN 1 108 C.1
19 DEAD MEDIA SOCIETY BIMO NUGROHO MEDIA LINK JAKARTA 1
20 HIMPUNAN PERUNDANGAN KEARSIPAN 1
21 HUKUM DAN KEPENDUDUKAN DI INDONESIA NANI SOEWONDO, S.H. BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL DEPARTEMEN KEHAKIMAN 1982 1 01.19 SOE H C.1
22 HUKUM EKONOMI PEMBANGUNAN INDONESIA DR. C.F.G. SUNARYATI HARTONO,S.H. BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL DEPARTEMEN KEHAKIMAN 1982 2 1 73
23 HUKUM ISLAM PENGANTAR ILMU HUKUM ISLAM DI INDONESIA PROF. DR. H. ZAINUDDIN ALI, M.A. SINAR GRAFIKA JAKARTA 1 66 C.2
24 HUKUM PERKAWINAN ISLAM KH. AHMAD AZHAR BAYIR, MA UII PRESS YOGYAKARTA 1999 1 41 AAB C.1
25 HUKUM UDARA INDONESIA DAN INTERNASIONAL E. SUHERMAN PENERBIT ALUMNI BANDUNG 1983 1 1 41
26 JANGAN PILIH CALON HAKIM (AGUNG) BUSUK PANDUAN TRACKING CALON HAKIM AGUNG EMERSON YUNTHO, MUJI KARTIKA RAHAYU, ILLIAN DETA ARTA ASRI INDONESIA CORRUPTION WATCH JAKARTA 2007 1 01.43 ICW J C.2
27 KERAJAAN ACEH ZAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636) DENYS LOMBARD KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA) JAKARTA 2006 1
28 KITAB TAUHID 2 TIM AHLI TAUHID DARUL HAQ JAKARTA 1998 3 03.77 FAU K C.1
29 KITAB TAUHID 3 DR. SHALIH BIN FAUZAN BIN ‘ABDULLAH AL-FAUZAN DARUL HAQ JAKARTA 1999 6
30 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA K.U.H.P R. SOESILO POLITEIA BOGOR 1 49 C.2
31 KULIAH TAUHID DR. IR. MUHAMMAD ‘IMADUDDIN ‘ABDULRAHIM, M.SC. GEMA INSANI PRESS JAKARTA 2002 1 71 IMA B.1
32 KUMPULAN SURAT-SURAT PENDEK AKHWAT SHALIHAH – JURNAL MUSLIMAH DAN KELUARGA SAKINAH 1
33 MAJALAH AS-SUNNAH EDISI 04/TAHUN XI/1428H/2007M 1
34 MAJALAH ERAMUSLIM PT. ERAMUSLIM GLOBAL MEDIA JAKARTA 1
35 MAJALAH KAMMI UNIVERSITAS GADJAH MADA SPEAK UP KAMMI EDISI 02 – 2013 KAMMI UNIVERSITAS GADJAH MADA 1
36 MAJALAH MEDIA POLITIK DAN DAKWAH AL-WA’FIE MEMBANGUN KESADARAN UMAT NO.115 TAHUN X, 1-31 MARET 2010/1431H 1
37 MAJALAH QIBLATI EDISI 06/TAHUN V/03-1431H/03-2010 1
38 MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI – BUKU SAKU UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI JAKARTA 2006 1
39 MENGGAPAI DUNIA DAMAI MOCHTAR LUBIS YAYASAN OBOR INDONESIA JAKARTA 1988 1 02.12 LUB M C.1
40 MERETAS ASA DARI HAKIM AGUNG BARU 2007 ZAINAL ABIDIN, HASRIL HERTANTO, ARSIL, FULTHONI, EMERSON YUNTHO, ILLIAN DETA ARTA SARI INDONESIA CORRUPTION WATCH (ICW) JAKARTA 1 2 65
41 MIGRASI TANPA DOKUMEN STRATEGI PEREMPUAN MEMPERTAHANKAN KEHIDUPAN – STUDI KASUS LIMA BURUH MIGRAN PEREMPUAN INDONESIA YANG BEKERJA DI MALAYSIA ERNA CHOTIM, LISA NOOR HUMAIDAH, TATI KRISNAWATY PUBLIKASI KOMNAS PEREMPUAN 2003 1 106 C.1
42 NATIONAL CONSULTATION INDONESIAN NGOs and KOMNAS PEREMPUAN WITH UNITED NATIONS- SPECIAL RAPPORTEUR ON THE HUMAN RIGHTS OF MIGRANTS – KONSULTASI NASIONAL LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT, ORGANISASI PEMERHATI DAN PEMBELA HAK BURUH MIGRAN INDONESIA DENGAN PELAPOR KHUSUS PBB TENTANG HAK ASASI MIGRAN LISA NOOR HUMAIDAH, SAHERMAN PUBLIKASI KOMNAS PEREMPUAN 2006 1 104 KUM C.1
43 PAHAMI DULU. BARU LAWAN! BUKU PANDUAN KAMU BUAT NGELAWAN KORUPSI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI JAKARTA 1
44 PANCARAN AL-QUR’AN TERHADAP POLA KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA MAHASISWA PERGURUAN TINGGI ILMU AL QUR’AN (P.T.I.Q.) PUSTAKA AL HUSNA JAKARTA 1
45 PELAPOR KHUSUS KOMNAS PEREMPUAN – LAPORAN PELAPOR KHUSUS UNTUK ACEH SEBAGAI KORBAN JUGA SURVIVOR – PENGALAMAN DAN SUARA PEREMPUAN PENGUNGSI ACEH TENTANG KEKERASAN DAN DISKRIMINASI APRIL2006 PUBLIKASI KOMNAS PEREMPUAN 2006 1 65 C.1
46 PEMETAAN PERMASALAHAN HAK ATAS KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI BAGI KELOMPOK PEREMPUAN: IBU RUMAH TANGGA DAN LAJANG, ANAK, BURUH, IDP’s, PENYANDANG CACAT DAN LANSIA, SERTA MINORITAS KURNIASARI N. DEWI, MASRUCHAH, BUDI WAHYUNI KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA (KOMNAS HAM) NOVEMBER 2006 1 2 37
47 PENGKAJIAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN BANTUAN YANG LAYAK BAGI PENGUNGSI INTERNAL (IDPs) VITA MAYASTINASARI, ed. KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA (KOMNAS HAM) 2007 1 2 66
48 POTRET KEADILAN INDONESIA LAPORAN KEADAAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA 1985-1985 YAYASAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM INDONESIAJAKARTA 1987 1 01.29 YLB P C.1
49 PRINSIP-PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DR. SHOLEH BIN FAUZAN BIN ‘ABDULLAH AL-FAUZAN PUSTAKA ISHLAHUL UMMAH JAKARTA 1 77 FAU B.1
50 PROSES MEDIASI LAHAN TANAH ADAT BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN TIM KERJA KOMNAS HAM KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA 1
51 PUSPITA SERANGKUM, ANEKA MASALAH HUKUM AGRARIA MARIA S. SUMARDJONO, S.H.,MCI. ANDI OFFSET YOGYAKARTA 1982 1 01.21 SUM P C.1
52 RINGKASAN DISERTASI: PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KEPENTINGAN BANK SYARIAH DAN NASABAH DALAM PEMBIAYAAN MURABAHAH FAISAL 1 51 FAI C.1
53 SEJARAH DAN PENGGUNAAN LAMBANG PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH H. UMAR MU’IN MARKAS DAERAH PALANG MERAH INDONESIA BANDUNG 2 4 64
54 SENTUHAN NILAI KEFIKIHAN UNTUK WANITA BERIMAN SYAIKH SHALIH BIN FAUZAN BIN ABDULLAH AL-FAUZAN UII PRESS 1 5.9
55 SERI POSITION PAPER PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN PEMBERIAN BANTUAN DALAM UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN: SEBUAH OBSERVASI AWAL SYAHRIAL MARTANTO WIRYAWAN, MELLY SETYOWATI INDONESIA CORRUPTION WATCH JAKARTA 1 01.48 WIR P C.1
56 STUDI ISLAM 2 DRS. ARIEF WIBOWO, DKK. LEMBAGA STUDI ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 1
57 SURAT YASIN TAHLIL DAN ISTIGHOTSAH MENGENANG 100 HARI WAFATNYA ALMARHUM PROF. SOEDARSO, S.P., MA. 1
58 SURAT YASIN TAHLIL DAN ISTIGHOTSAH MENGENANG 100 HARI WAFATNYA ALMARHUM TERCINTA SEMI REJO MITRO UTOMO CV. WIDYA KARYA SEMARANG 1
59 SURAT YASIN TAHLIL MENGENANG 1000 HARI WAFATNYA ALMARHUMAH HJ. KARTILAH TEDJOKUSUMO BINTI PADMODIHARJO 1
60 SURAT YASIN TAKHTIM DAN TAHLIL MENGENANG 40 HARI WAFATNYA ALMARHUMAH HJ. KHARIMAH, S.E. BINTI H. HASAN SULUNG PEKANBARU 1
61 TERJEMAHAN MAJMU’ SYARIF H. FACHRURAZI SINAR BARU ALGENSINDO BANDUNG 1 76 A.2
62 TIGA LANDASAN UTAMA BEBERAPA PELAJARAN PENTING UNTUK SELURUH UMAT SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB 1 44 WAH B.1
63 TJONTOH2, KONTRAK2, REKES2 DAN SURAT2 RESMI SE-HARI2 DJILID III PROF. MR. DR. S. GAUTAMA PENERBIT ALUMNI BANDUNG 1973 1 105 C.2
64 TUNTUNAN PRAKTIS AQIQAH, QURBAN DAN KHITAN KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI DIY 1 91 DIY B.1
65 UUD 1945 HASIL AMANDEMEN DAN PROSES AMANDEMEN UUD 1945 SECARA LENGKAP (PERTAMA 1999 – KEEMPAT 2002) SINAR GRAFIKA JAKARTA 1 81 C.1

10 Sifat Orang-orang Kafir

10 Sifat Orang-orang Kafir

 

Allah Subhanahu Wata’ala telah menyifati hati orang-orang kafir dengan 10 sifat, kesepuluh sifat tersebut adalah: sombong, terkunci, sempit, penuh penyakit, mati, keras membatu, suka berpaling, suka menghindar dan ingkar.

Ayat ayat yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah ta’ala:

 

1. mengenai kesombongan mereka, Allah berfirman (Q.S. an-nahl-22)
إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
artinya: Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.

 

2. mengenai keangkuhan mereka, Allah berfirman (Q.S. Al-fath 26)
إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
artinya: Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

3. dan berkenaan dengan kesukaan mereka berpaling, Allah ta’ala berfirman (Q.S. At-taubah 127)
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَفْقَهُونَ
artinya: Dan apabila diturunkan satu surat sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.

 

4. mengenai kekerasan hati mereka, Allah berfirman (Q.S. Az-zaumar 22)
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
artinya: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

 

5. mereka juga dinyatakan sebagai orang yang sudah mati seperti yang disinyalir ayat berikut ini (Q.S. al-an’am 122)
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
artinya: Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.

 

6. dan mengenai ketertutupan hati mereka itu telah disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firmanNya (Q.S. almuthoffifin 14)
كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
artinya:Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.

 

7. hati mereka telah dihinggapi oleh penyakit kronis seperti yang diterangkan dalam firman Allah surat (Q.S. al-baqarah 10)
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
artinya: Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

 

8. hati mereka juga dinyatakan sebagai hati yang sangat sempit, seperti firman Allah (Q.S. al’anam 125)
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ
artinya: Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

 

9. hati mereka talah benar-benar terkunci mati, seperti fiman Allah (Q.S. Almunafiqun 3)
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ
artinya: Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

 

10. dan mengenai rapatnya tutupan hati mereka Allah berfirman (Q.S. Albaqarah 7)
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
artinya: Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

 

 

 

 

 

 

Sumber:

1. Tafsir Al-Qurthubi

2. Hidayatul Qur’an

Rukun Syahadatain (Part 2)

Rukun Syahadatain

Rukun Syahadat muhammadur rasulullah

Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat عبده (hamba-Nya) dan ورسوله (rasul-Nya). Dua rukunn ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tarith (meremehkan) pada hak Rasulullah. Beliau adalah hamba dan rasul-Nya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini.

Al-abdu di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Demikian pula berlaku atas beliau apa yang berlaku atas orang lain sebagaimana firman Allah:

 

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ

”Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu.’”

(Al-Kahf: 110).

 

Beliau telah memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah memujinya:

 

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖن

“Bukanlah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?”

(Az-Zumar: 36)

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an).”

(Al-Kafh: 1).

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Mahasuci Allah, yang telah menjalankan hamba-Nya pada suau malam dari Al-Masjid Al-Haram.”

(Al-Isra’: 1).

 

Adapun rasuul artinya orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan).

Persaksian untuk Rasulullah dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak beliau. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabatnya sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah. Mereka beristighatsah (mnta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah. Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya serta memaksakan diri dalam menakwilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

 

ke Part 1

Sumber:

Kitab “Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly” 

Rukun Syahadatain (Part 1)

Syahadatain

Rukun syahadat la ilaha illallah

La ilaha illallah mempunyai dua rukun:

 

  • An-Nafyu atau peniadaan: لأ اله membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.
  • Al-Itsbat (penetapan): الأ الله menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

 

Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Barangsiapa yang inkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.” (Al-Baqarah: 256).

 

Firman Allah, “Siapa yang inkar kepada thagut” adalah makna dari لأاله yang merupakan rukun pertama. Sedangkan Firman Allah, “dan beriman kepada Allah” adalah makna dari rukun kedua الأ الله. Begitu pula Firman Allah kepada Nabi Ibrahim:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّأ تَعْبُدُونَ (26) إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهدِينِ (27) ت

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku.”” (Az-Zukhruf: 26-27).

 

Firman Allah, “Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan “Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku” adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.

ke Part 2

Sumber:

Kitab “Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly” 

DATABASE BUKU PERPUSTAKAAN KEJUJURAN MUSHOLA BAITUL HAKIM FAKULTAS HUKUM UGM

RAK BUKU MUSHOLLA BAGIAN LAKI-LAKI
NO. JUDUL BUKU PENGARANG PENERBIT JUMLAH BUKU KODE
1 AGAMA KRISTEN DAN ISLAM SERTA PERBANDINGANNYA DRS. ABUJAMIN ROHAM TINTAMAS JAKARTA 1 A C.1
2 AL-QUR’AN
3 AQIDAH SHAHIHAH VERSUS AQIQAH BATHILAH SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAAZ KANTOR DAKWAH KOMPLEK INDUSTRI LAMA, RIYADH 4 4.10
4 ASAS-ASAS ANTROPOLOGI DRS. SOELARDJO PONTJOSOETIRTO YAYASAN BADAN PENERBIT GADJAH MADA YOGYAKARTA 1 A C.1
5 BAHAN SOSIALISASI PEMBENTUKAN PUSAT PERANCANGAN KEBIJAKAN DAN INFORMASI HUKUM PUSAT-DAERAH DPR RI DPR RI 1 92 C.2
6 BAHASA INDONESIA YANG SALAH DAN YANG BENAR M.RAMLAN, I DEWA PUTU WIJANA, YOHANA TRI MASTOYO, SUNARSO ANDI OFFSET 1 B C.1
7 BAHAYA SYIRIK LAJNAH ILMIAH HASMI RADIO FAJRI 1 58 B.2
8 BURUK WAJAH PENDIDIKAN DASAR ADE IRAWAN, AGUS SUNARYANTO, FEBRI HENDRY, LUKY DJANI ICW 1 B C.1
9 CATATAN AKHIR 2006 KOMNAS HAM KOMNAS HAM 1 C C.2
10 DAHSYATNYA DOA DZIKIR HAJI DAN UMRAH MUHAMMAD SYAFI’I MASYKUR MEDIA FIRDAUS 1 67 B.1
11 EKONOMI PEMBANGUNAN INDONESIA F.X. SOEDIJANA, S.H. YAYASAN BADAN PENERBIT GADJAH MADA YOGYAKARTA 2 2 C.1
12 HKI, HUKUM ISLAM DAN FATWA MUI AUNUR ROHIM FAQIH, DKK. GRAHA ILMU 1 73 C.2
13 HUKUM PIDANA TERORISME MAHRUS ALI GRAMATA PUBLISHING 1
14 HUKUM WARIS ISLAM KH. AHMAD AZHAR BAYIR, MA. UII PRESS 1 82 B.2
15 ICMI: KELAHIRAN DAN MISI DEPARTEMEN PEMBINAAN SDM DAN PEMBUDAYAAN IKATAN CENDEKIAWAN MUSLIM INDONESIA DEPARTEMEN PEMBINAAN SDM DAN PEMBUDAYAAN ICMI 1 C.1
16 JUZ ‘AMMA 1
17 KEDUDUKAN SAKSI DALAM PERADILAN MENURUT HUKUM ISLAM DRS. ABD. RAHMAN UMAR PUSTAKA AL-HUSNA 1 K C.1
18 KEMUSYRIKAN MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI’I DR. MUHAMMAD ABDURRAHMAN AL-KHUMAIS UII PRESS 4 4.11
19 KESALAHAN-KESALAHAN UMUM LAJNAH ILMIAH HASMI RADIO FAJRI 1 57 B.2
20 KHUTBAH ARAFAH ABDULLAH GYMNASTIAR PUSTAKA GRAFIKA 1 1. 21
21 KITAB TAUHID TIM AHLI TAUHID UII PRESS 1
22 KITAB TAUHID DR. SHALIH BIN FAUZAN BIN ABDULLAH AL-FAUZAN UII PRESS 1 K C.3
23 KITAB UU HUKUM DAGANG DAN UU KEPAILITAN PROF. R. SUBEKTI, S.H. PRADNYA PARAMITA 1 1.40
24 KOMPILASI HUKUM ISLAM NUANSA MULIA 1 70 C.1
25 KRIMINALISTIK R. SOESILO POLITEIA-BOGOR 1 95 C.2
26 KUMPULAN DOA DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS SA’ID BIN ALI WAHF AL-QAHTHANI MUASSASAH AL-JARISY 1 61 B.2
27 LAPORAN KEGIATAN EKSAMINASI SURAT EDARAN MA TENTANG PUTUSAN SERTA MERTA ICW ICW 1 52 C.2
28 LOYALITAS DALAM ISLAM SYAIKH SHALIH BIN FAUZAN BIN ABDULLAH AL-FAUZAN ISLAMIC PROPACATION OFFICE IN RABWAH 2 1 C.1
29 MASALAH TAPOL DAN NAPOL DARI PERSPEKTIF KONSTITUSI LBH JAKARTA PUAR IKADIN JAKARTA POKJA JK-LPK EL-SAM LBH JAKARTA PUAR IKADIN JAKARTA POKJA JK-LPK EL-SAM 1 3.59
30 MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI KPK KPK 1
31 MEMBAYANGI NEGARA LBH APIK LBH APIK 1 83 C.1
32 MENGAPA KITA HARUS SHOLAT? LAJNAH ILMIAH HASMI RADIO FA 1 110 B.2
33 MENGENAL DUNIA FILATELI H. SOERJONO, BC A.P. PT POS-INDONESIA 1 M C.1
34 MENYINGKAP TABIR KESALAHFAHAMAN TERHADAP JAMA’AH TABLIGH GHULAM MUSTHAFA HASAN ASH-SHAFF 1 103 B.2
35 NASIONALISME, TRANSMIGRASI DAN PERANAN PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN TRANSMIGRASI DAN PEMUKIMAN PERAMBAH HUTAN DEPARTEMEN TRANSMIGRASI DAN PEMUKIMAN PERAMBAH HUTAN 1 N C.1
36 NASKAH RANCANGAN PERUBAHAN UUD TIM MAHASISWA UGM TIM REFORMASI KADIN DIY 1 79 C.1
37 NEGARA DAN PEMERINTAHAN DALAM ISLAM KH. AHMAD AZHAR BAYIR, MA. UII PRESS 1 99.0 C.2
38 PANCARAN AL-QUR’AN TERHADAP POLA KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA MAHASISWA PERGURUAN TINGGI ILMU AL QUR’AN (P.T.I.Q.) PUSTAKA AL HUSNA JAKARTA 1 P. C1
39 PEDOMAN DOA-DOA DAN DZIKIR MANASIK HAJI H. WILLYUDDIN A. RASYID DHANI PUSTAKA AR-RAHMAN 1 B.1
40 PEDOMAN PEMBUATAN USULAN PENELITIAN MARIA S. W. SUMARDJONO 1
41 PELAJARAN BAHASA ARAB KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI DKI JAKARTA CV. BIRU JAKARTA 1 96 B.2
42 PELAJARAN QUR’AN HADITS MURTADHO ABDILLAH CV. AL-IHSAN SURABAYA 1 1. 32
43 PENGANTAR ILMU HUKUM PAJAK R. SANTOSO BROTODIHARJO, S.H. PT REFIKA ADHITAMA 1 62 C.2
44 PENGKAJIAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN BANTUAN YANG LAYAK BAGI PENGUNGSI INTERNAL (IDPs) KOMNAS HAM KOMNAS HAM 1 2 66
45 PENTINGNYA LARANGAN RIBA DALAM ISLAM IMRAN N. HOSEIN MASJID DAR AL-QUR’AN LONG ISLAND, NEW YORK, USA 1 P. C1
46 PERADILAN YANG TIDAK MEMIHAK PETANI INDONESIA CORRUPTION WATCH INDONESIA CORRUPTION WATCH JAKARTA 2 P C.2
47 PERLINDUNGAN TERHADAP PEMBELA HAM AL ARAF, M. ALISYAFAAT POENGKY INDARTI IMPARSIAL 1 P C.1
48 PIAGAM ASEAN DIREKTORAT JENDERAL KERJASAMA ASEAN DEPARTEMEN LUAR NEGERI DIREKTORAT JENDERAL KERJASAMA ASEAN DEPARTEMEN LUAR NEGERI 1 90 B.2
49 POLA PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN LEMBAGA STUDI ISLAM UMS LEMBAGA STUDI ISLAM UMS 2 0.91
50 PRAKTIK BRUTALITAS POLISI DI MASA TRANSISI TIM IMPARSIAL IMPARSIAL 1 P C.1
51 PRINSIP-PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH SYAIKH SHOLEH BIN FAUZAN BIN ABDULLAH AL-FAUZAN PUSTAKA ISHLAHUL UMMAH JAKARTA 2 77 B.2
52 PRINSIP-PRINSIP DASAR KEIMANAN SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL-UTSAIMIN HAIATUL IQHATSAH AL-ISLAMIYAH AL-ALAMIAH, RIYADH 3 4.8
53 PSIKOLOGI PENDIDIKAN SUGIHARTONO, DKK. UNY PRESS 1
54 RAHASIA HIDUP SESUDAH MATI IR. ABDUL RAZZAQ NAUFAL PT BINA ILMU 1 1. 22
55 RIYA’ SYAIKH ABU SALIM AL-HILALY DARUL FALAH 1
56 SEJARAH DAN PENGGUNAAN LAMBANG PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH H. UMAR MU’IN MARKAS DAERAH PALANG MERAH INDONESIA BANDUNG 2 4. 64
57 SENGKETA TANAH KOMNAS HAM KOMNAS HAM 1
58 SIFAT SHALAT NABI SYAIKH ABDULLAH BIN ABDURRAHMAN AL-JIBRIN AT-TIBYAN 1
59 SURAT YAASIIN DAN TAHLIL 4
60 TEKNIK JITU MENYUSUN SKRIPSI, TESIS, DAN DISERTASI REDAKSI IMMORTAL PUBLISHER IMMORTAL PUBLISHER 1 101 C.2
61 TIGA LANDASAN UTAMA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB PUSAT STUDI DAN DAKWAH ISLAM MAHASISWA AL-SHOHWAH 2 44 B.2
62 TINJAUAN KASUS BEBERAPA MASALAH TANAH MARIA S. SUMARDJONO, S.H., MCI. JURUSAN HUKUM AGRARIA FH UGM 1 85 C.2
63 TUNTUNAN PRAKTIS AQIQAH, QURBAN DAN KHITAN KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI DIY KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA PROPINSI DIY 3 91 B.2
64 UU NO. 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN. PERDA KOTA YOGYAKARTA NO. 19/2009 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM IMPLAW YOGYAKARTA 1 74 C.2
65 UU RI NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI ICW BERSAMA KOALISI PERLINDUNGAN SAKSI 4 5 46
66 UU RI NO. 37 TAHUN 2008 TENTANG OMBUDSMAN RI DAN UU NO. 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PUBLIK OMBUDSMAN RI OMBUDSMAN RI 1 84 B.2

Bersyukurlah

Syukur

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.

  • Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.
  • Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.
  • Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.

Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.” (Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul ‘Aqidah, hal. 165-166).

Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, gaji yang wah, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.

Sumber: rumaysho.com

Pemahaman Sahabat Mengenai Hadits Rasulullah S.A.W. tentang Sunnah dan Bid’ah

Pemahaman Sahabat Mengenai

Hadits Rasulullah S.A.W. tentang Sunnah dan Bid’ah

(Rilis kajian yang diisi oleh Ustadz Ismail)

 

“Disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW pada suatu saat (beliau) menyampaikan suatu pesan yang mana menyentuh sekali terhadap hati-hati para sahabat, yang menyebabkan para sahabat ingin menangis mendengarkan nasihat ini. Sehingga ada salah seorang sahabat kemudian bertanya: Ya Rasulullah, seolah-seolah pesan ini merupakan pesan yang terakhir, bahkan perpisahan antara kami dengan engkau Ya Rasulullah, maka berwasiatlah engkau kepada kami Ya Rasulullah?” Beliau, Rasulullah SAW pun bersabda; Aku mewasiatkan kepada engkau agar senantiasa bertakwa kepada Allah Azza Wa jalla, kemudian agar engkau senantiasa taat terhadap pemimpin kalian, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba Habsy (Ethiopia/hamba yang berkulit hitam – seorang budak yang berkulit hitam kalian harus tetap taat), dan sesungguhnya esok orang yang akan hidup setelah aku, ia akan melihat banyak sekali perbedaan, maka hendaknya kalian senantiasa berpegang kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin dan Nahdliyin. Peganglah agama itu dengan kuat-kuat, dan janganlah kalian ini mendekati perkara-perkara yang baru dari urusan agama. Karena sesungguhnya perkara yang baru yang tidak ada dasarnya adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah itu adalah suatu kesesatan.”[1]

Banyak diantara masyarakat yang salah dalam memahami hadit ini, khususnya pada kalimat “Kullu bid’atin dholalah”.

Apa itu bid’ah? Bagaimana pemahaman para sahabat terkait Bid’ah?

Menurut pemahaman para sahabat, bid’ah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah bid’ah secara syar’iyyah atau bid’ah secara istilah yang bermakna suatu amalan yang dikerjakan yang mana amalan itu tidak ada dasarnya sama sekali baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Sehingga, yang dimaksud bukalah pemahaman bahwa semuanya yang tidak ada dalil dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits maka tidak boleh dikerjakan atau dinamakan bid’ah seperti anggapan bid’ah terhadap do’a setelah shalat.

Dalam suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Jarir Ibnu Abdullah ra. dijelaskan bahwa; “Barangsiapa yang membuat suatu sunnah kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala dari amalan itu dan pahala dari orang-orang yang mengerjakannya setelah sepeninggalnya tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakan tersebut. Dan barang siapa yang membuat suatu sunnah keburukan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa-dosa para pelakunya tersebut.”[2]

Seperti halnya sunnah, yang bisa bermakna sunnah baik, namun bisa juga bermakna sunnah buruk. Bid’ah pun juga bisa bermakna bid’ah baik yang dinamakan “Bid’ah hasanah”, namun ada juga bid’ah buruk yang dinamakan “Bid’ah dholalah”. Meskipun bid’ah adalah lawan kata dari sunnah.

Yang dimaksud Bid’ah Hasanah adalah suatu amalan yang mungkin Nabi tidak pernah mengerjakannya, akantetapi di dalam agama ini ada dasarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan  Bid’ah dholalah adalah setiap perkara yang dikerjakan tanpa ada dasarnya sama sekali.

Lalu, bagaimana para sahabat dalam melakukan amal?

Yang mana, pemahaman sahabat pasti lebih baik daripada pemahaman kita, karena ketika mereka melakukan suatu amalan-amalan langsung mendapatkan pengawasan dari Rasulullah S.A.W. sehingga ketika mereka benar maka disetujui oleh Rasulullah S.A.W., namun apabila amalan mereka tidak benar, makan ditegur dan diluruskan oleh Rasulullah S.A.W.

Para sahabat ini paham dengan perintah Allah S.W.T. dalam Q.S. Al-Hajj ayat 77, Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, Rukulah, sujudlah kamu, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar sekalian kamu menjadi orang-orang yang beruntung.”. Yang mana melalui ayat ini Allah S.W. memerintahkan untuk mengerjakan kebaikan yang sebanyak-banyaknya.

Apa itu kebaikan?

Kebaikan adalah sesuatu yang tidak bertentangan dengan perintah Rasulullah S.A.W. dan yang tidak bertentangan dengan Sunnatullah.

Seperti itulah pemahaman para sahabat, sehingga banyak sekali perbuatan-perbuatan para sahabat yang mereka kerjakan. Akantetapi tidak pernah dikerjakan ataupun diperintahkan oleh Rasulullah S.A.W.

Dalam hal kebaikan, para sahabat sangatlah ‘rakus’, sehingga mereka berusaha agar bagaimana dalam kehidupan di dunia inni selalu mengerjakan suatu kebaikan,walaupun perkara itu tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah S.A.W.

Sebagaimana amalan yang dikerjakan oleh Sayyidina Bilal r.a. (muadzin Baginda Rasulullah SAW). Suatu ketika setelah selesai sholat subuh, Baginda Rasulullah SAW bertanya kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang sering kau kerjakan di dalam Islam ini. Amalan apa yang kamu istimewakan sehingga aku mendengar suara langkah sandalmu sudah sampai di surga. Apa yang kamu kerjakan wahai Bilal?”

Maka, Sayyidina Bilal r.a. menjawab, “Yang aku kerjakan ini Ya Rasulullah, sesungguhnya bila saya berhadats maka saya segera bersuci/berwudhu baik itu malam hari maupun siang hari. Setelah wudhu, lalu saya mengerjakan sholat semampu saya. Itulah amalan yang saya kerjakan.”

Dalam hal ini Bilal r.a. ini mengerjakan suatu amalan yang tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah, akantetapi yang dikerjakan oleh Bilal r.a. ini dipuji oleh Beliau S.A.W.. Maka Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya Bilal r.a. ini bersungguh-sungguh dalam memperbanyak amalan dan ibadah kepada Allah S.W.T.

Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa; “Suatu ketika, ketika Rasulullah SAW sedang mengerjakan sholat, ketika beliau bangkit dari ruku’nya, maka beliau mengatakan membaca; sami’allahu liman hamidah. Lalu dibelakangnya ada orang yang membaca dengan keras; robbana wa lakal hamdu hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiih (suatu bacaan yang Nabi tidak pernah mengajarkan). Maka setelah selesai shalat, Baginda bertanya; Siapakah dia yang membaca doa tadi? Maka sahabat mengatakan; Saya, Ya Rasulullah. Kemudian Nabi berkata; Sesungguhnya tadi saya melihat ada 30 malaikat lebih yang mereka saling berebutan untuk menulis dari apa yang kamu bacakan.” [3]

Padahal Nabi S.A.W. pernah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Akantetapi, dalam hal ini ada seorang sahabat yang menambahi bacaan doanya. Meskipun begitu, Nabi S.A.W. tidak marah dan tidak menyebutnya bid’ah, namun memujunya.

Dalam suatu riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah S.A.W. hanya mengerjakan shalat tarawih sampai malam ke-3 saja, karena beliau khawatir shalat tarawih akan diwajibkan bagi umatnya jika beliau mengerjakannya secara rutin.

Lalu, kenapa pada saat ini kita melaksanakan tarawih selama sebulan penuh?

Apakah tidak menyalahi apa yang Rasulullah S.A.W. contohkan?

Bahkan pada saat Khalifah Umar r.a. orang-orang masih mengerjakan shalat tarawih dengan sendiri-sendiri, ada yang dengan kelompok-kelompok kecil. Kemudian Umar r.a. berpendapat apabila jamaah itu dikumpulkan, maka hal ini akan lebih baik. Lalu, Umar r.a. memerintahkan untuk shalat tarawih di masjid dengan hanya ada satu imam dan ditetapkan rakaat shalat sejumlah 23 rakaat (yakni 20 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir). Lalu beliau berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Mengapa beliau berkata seperti itu? Karena pada zaman Nabi S.A.W. tidak ada shalat tarawih berjama’ah selama sebulan penuh di masjid yang seperti ini.

Sebagaimana sabda Nabi S.A.W.; “Hendaknya kalian senantiasa berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah setelah aku.”[4]

Maka hendaknya kita mengikuti sunna Rasulullah S.A.W. dan sunnah (amalan-amalan yang dikerjakan) oleh Khulafaur Ar-Rasyidin (Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib).

Jadi kesimpulannya, bid’ah itu sendiri menjadi dua, yakni; Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dholalah. Yang dimaksud Bid’ah Hasanah adalah suatu amalan yang mungkin Nabi tidak pernah mengerjakannya, akantetapi di dalam agama ini ada dasarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan  Bid’ah Dholalah adalah setiap perkara yang dikerjakan tanpa ada dasarnya sama sekali.

[1] Hadits riwayat Ibnu Majjah

[2] Hadits Riwayat Muslim

[3] Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

[4] Hadits Riwayat Abu Daud dan Tirmiddzi

Jihad dan Nasionalisme

Jihad dan Nasionalisme

Sleman, 10 November 2015

Departemen Syiar dan Takmir (DST) dan Departemen Pengkajian dan Wacana (DPW) Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (KMFH UGM) mengadakan diskusi yang bertepatan pada Hari Pahlawan dengan tema “Semangat Jihad”. Tema tersebut dikaitkan dengan pertempuran yang pernah terjadi di Surabaya. Diskusi yang diadakan di Selasar Gedung I Fakultas Hukum tersebut mendatangkan dua pembicara, yakni Wing Wicaksono dan Ghifari Yuristriadhi serta dimoderatori oleh Ahmad Insani Andalas (mahasiswa Fakultas Hukum 2015).

Mayoritas masyarakat awam beranggapan bahwa jihad selalu berkaitan dengan perang. Namun, hal tersebut diluruskan oleh Wing Wicaksono, S.S, selaku pembicara pertama yang menyampaikan bahwa Jihad tidak selalu dikaitkan dengan pedang, perang, dan pertumpahan darah. Jihad dapat juga diartikan sebagai perilaku sungguh-sungguh dalam melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena sifat dari jihad itu sendiri yaitu lahiriah. Beliau menambahkan bahwa jihad dapat dilakukan dengan berbagai cara, oleh siapapun, baik yang sudah baligh maupun belum baligh. Bagi yang sudah baligh, dapat dilakukan dengan berbagai hal seperti jihad mata (menjaga pandangan), mengorbankan sesuatu untuk kepentingan agama, menahan nafsu, dan juga menutup aurat bagi kaum perempuan.

Selain untuk agama, Jihad juga dapat dilakukan untuk membela negara, seperti yang pernah dilakukan oleh para santri di Surabaya yang dikomandoi oleh K.H. Hasyim Ashari selaku ketua Nahdlatul Ulama (NU) pada masa itu. Peristiwa lain misalnya terjadinya Perang Sabil di Aceh, saat itu terdapat banyak mantra atau syair-syair penyemangat yang dapat menggerakkan seseorang untuk benar-benar berjihad, bahkan dapat diibaratkan seorang wanita hamil 8 bulan pun berani mengambil rencong untuk membunuh tentara Belanda.

Untuk menghargai peran para santri dalam membela negara oleh pemerintah mulai tahun 2015 pada tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan peristiwa Resolusi Jihad dan jatuhnya bulan Muharram sebagai Syahrullah atau bulan Allah dimana pada bulan tersebut pembunuhan dan peperangan diharamkan. Hal itu dijabarkan oleh Ghifari Yuristriadhi, S. Hum., M.Hum., selaku pembicara kedua.

Jadi, Jihad tidak selalu identik dengan fanatik agama dan peperangan, tetapi juga dapat diperuntukkan sebagai salah satu sikap bela negara dan menciptakan perdamaian sebagaimana yang dikatakan oleh Jenderal Soedirman, “Cinta perdamaian tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Dan keislaman dapat bersanding dengan nasionalisme.