Rilis Kajian Rutin #9 : Kemuliaan Muharram

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, telah terlaksana Kajian Rutin #9 dengan rincian sebagai berikut

Nama penceramah: Ust. M. Asdi Nurcholis, L.C
Pada/hari tanggal: Selasa, 26 September 2017
Tema: Kemuliaan Muharram

Allah SWT berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَاۤ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ؕ ذٰ لِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ ؕ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً ؕ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 36)

Dapat diambil bahwa lama 1 tahun hanyalah Allah yang bisa menetapkan semua itu. Allah menetapkan 12 bulan ketika langit dan bumi diciptakan.
Setelah menciptakan langit dan bumi barulah muncul manusia. Sebelumnya hanya terdapat malaikat dan jin yang menghuni alam semesta. Diantara 12 bulan terdapat 4 bulan yang disucikan yaitu: Muharram,Rajab, Dzulhijah dan Dzulqodah. Bulan bulan hijriyah menentukan amal ibadah kita.
Semua bulan itu baik, kesalahan umum yang mensakralkan bulan muharram adalah tidak benar karena tidak ada bulan yang tidak baik.

Sholat di Masjidil Haram pahalanya akan senilai 10.000 kali di tempat lain. Ibadah umroh merupakan upaya percepatan amal ibadah. Puasa yang paling mulia setelah Ramadhan ialah puasa 10 Muharram, karena akan menghapus dosa-dosa kecil 1 tahun yang lalu.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ الَّذِيْ جَعَلْنٰهُ لِلنَّاسِ سَوَآءً اِۨ لْعَاكِفُ فِيْهِ وَالْبَادِ ؕ وَمَنْ يُّرِدْ فِيْهِ بِاِلْحَـادٍۢ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ اَ لِيْمٍ
“Sungguh, orang-orang kafir dan yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan dari Masjidilharam yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia, baik yang bermukim di sana maupun yang datang dari luar dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 25)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa dosa besar akan dilipat gandakan ketika dimulainya niat perbuatan dosa tersebut dilakukan di Tanah Suci, Melakukan perbuatan dosa di bulan Haram maka dosanya tidak dilipat gandakan, hal itu merupakan bentuk rahmat Allah swt kepada hambanya.

Jazakallah khairan katsiran.

Kabinet Payung Perdaban
Keluarga Muslim Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada

[RILIS RESMI DISKUSI TERBUKA BERSAMA KMFH UGM DENGAN TEMA “KASUS AHOK DAN AL MAIDAH: 51 TINJAUAN DARI SISI TAFSIR AL-QURAN DAN HUKUM]

Tepat pada tanggal 18 Oktober 2016 DPW KMFH UGM bersama DST KMFH UGM menggelar diskusi terbuka yang bertemakan “Kasus Ahok dan Al Maidah: 51 Tinjauan dari Sisi Tafsir Al Quran dan Hukum” yang dimoderatori oleh Jatmiko Wirawan. Diskusi tersebut diselenggarakan di Fakultas Hukum UGM tepatnya di ruang 5.3.1 FH UGM. Pembicara pada diskusi kali ini yaitu : Ustad Ismail selaku pembicara pertama memaparkan materi mengenai tafsir Surat Al-Maidah ayat 51 serta Sejarah Islam. Beliau mengatakan bahwa ada orang yang berpandangan bahwa dulu pada zaman nabi Muhammad SAW ada pemimpin yang berasal dari kalangan kafir beliau menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena pada saat itu nabi Muhammad SAW belum diangkat menjadi nabi dan setelah menjadi nabi pun belum banyak yang menganut agama Islam di Mekkah oleh karena itu nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, setelah di Madinah barulah ajaran Islam diterima dan banyak pengikutnya sampai muncul masyarakat yang mayoritas Islam. Jadi Pada saat itu barulah bermunculan pemimpin yang beragama Islam. Surat Al Maidah ayat 51 ini baru diturunkan di Madinah pada setelah munculnya masyarakat muslim, jadi alasan bahwa pada sejarahnya tadi tidak bisa dipakai untuk alasan memilih pemimpin non muslim(kafir). Begitu pula pada masa khalifah Umar yang pada saat itu Abu Musa selaku Gubernur Basrah yang kurang pandai dalam hal tulis menulis dan mengangkat sekretaris dari kalangan non muslim karena orang tersebut pandai dalam hal tulis menulis, begitu tiba saat melaporkan laporannya Umar menyuruh Abu Musa untuk mendatangkan Sekretaris yang diangkatnya untuk melaporkan laporannya di dalam mimbar Masjid, lalu Abu Musa mengatakan bahwa sekretarisnya tidak bisa memasuki Masjid dan Umar bertanya apakah dia sedang Junub? Jawab Abu Musa tidak, dia bukan orang yang beragama Islam. Mendengar perkataan tersebut Umar langsung memerintahkan Abu Musa untuk mencopotnya dan mengganti dengan orang yang beragama Islam sebab alasan tersebut tidak bisa diterima untuk memilih orang non muslim untuk mengurus urusan negara. Jadi kisah ini menyatakan bahwa umat Islam dilarang untuk menyerahkan urusan negara kepada seorang non muslim, baik itu pemimpin maupun jabatan struktural lainnya.

Kemudian ustad Ismail menjelaskan bahwa tafsir dari Surat Al Maidah ayat 51 itu tidak boleh menjadikan pemimpin orang (selain Islam) dan juga sudah terjadi pada saat Khalifah Umar, lalu ustad Ismail mengatakan bahwa tidak boleh sembarangan menafsirkan, yang harus diperhatikan dalam menafsirkan Al Quran itu harus menguasai 15 cabang ilmu sehingga jika ada orang yang tidak ahli dalam menafsirkan Al Quran itu kalau tafsirannya benar maka dia dapat dosa 1 kalau salah dapat dosa 2, salah satu cara dalam menafsirkan Al Quran itu harus dilihat secara keseluruhan jadi setiap ayat dalam Al Quran itu berkaitan satu sama lainnya tidak boleh terpaku pada satu ayat saja.

Diskusi dilanjut dengan pembicara kedua yaitu pak Sigid Riyanto, S.H., M.Si. yang memaparkan kasus Ahok dalam perspektif hukum pidana khususnya pasal terkait yaitu Pasal 156a ayat (1) dan Pasal 4 Undang-undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Berikut bunyi Pasal 156a ayat 1 KUHP “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. Beliau mengatakan Pasal 156a ayat (1) KUHP merupakan delik formil dan selanjutnya beliau mengurai unsur delik Pasal 156a ayat (1) KUHP menjadi:

Unsur Subjektif: barang siapa dengan sengaja

Unsur Objektif:

  1. Dimuka umum
  2. Mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan
  3. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia

Lalu beliau menerangkan bahwa unsur barang siapa itu menunjuk orang atau subyek dalam perkara tersebut telah dilakukan oleh seseorang (jelas ada pelakunya), sedangkan unsur dengan sengaja bahwa diri pelaku secara psikis menyadari atas segala perbuatan yang dilakukan dalam perkara in casu pembuat pernyataan adalah sehat secara rohani dan sedang melaksanakan tugas. Artinya bahwa yang bersangkutan memiliki kecakapan, pada perkara tersebut dalam keadaan sehat ketika melakukan hal tersebut, unsur tersebut telah terpenuhi. Lalu beliau menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam persoalan in casu sedang memberikan sambutan sebagai Gubernur dalam acara kedinasan dan pelaku menyadari dan/atau mengharapkan akan ada akibat yang diinginkan dari beberapa pernyataan yang dikemukakan oleh pelaku, maka yang bersangkutan ada keinginan untuk dipilih menjadi Gubernur meskipun para pemilih tidak seagama dengan oknum unsur tersebut telah terpenuhi.

 

Pada unsur dimuka umum telah terpenuh karena pelaku melakukan hal tersebut di depan umum, pelaku juga memenuhi unsur mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, dalam perkara in casu pelaku menyatakan bahwa “Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu” hal ini bermakna bahwa ada orang atau pihak tertentu seperti ustad atau kyai yang membohongi atau membuat bohong padahal dalam agama Islam, ustad atau kyai merupakan orang yang sangat dihormati, sedangkan unsur penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia agama diakui di Indonesia berdasarkan penjelasan Pasal 1 UU PNPS Tahun 1965 di Indonesia ada 6 agama yang diakui, salah satunya adalah Agama Islam, diama surat Al Maidah ayat 51 memberikan pedoman cara memilih pimpinan maka kalau disebut “dibohongi” oleh surat tersebut maka merupakan perbuatan yang menodai keyakinan umat Islam. Oleh karena itu dalam perkara in casu sudah terbukti dan sudah seharusnya hukum ditegakkan hanya saja tergantung bagaimana penegakan dari para penegak hukum itu sendiri.

 

Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, Pertanyaan pertama dari Arvel yang menyatakan bahwa dalam teori Filsafat Hukum, pemimpin dibagi menjadi ulama dan umara. Apakah masih relevan konteks pemimpin yang dikualifikasikan dalam Surat Al Maidah ayat 51, di keadaan yang sekarang dimana Indonesia merupakan negara besar dan Islam sudah semakin luas. Apakah umara dan ulama bisa saling bersanding dalam melaksanakan tugasnya?

Jawaban dari Ustad Ismail yaitu pada zaman Rasulullah dan sesudahnya (khalifah), yang dipilih adalah orang-orang alim sehingga beliau dapat melaksanakan tugas kepemimpinan sesuai dengan perintah Allah SWT. Pada saat itu, kategori ulama dan umara tergabung dalam satu orang, sehingga memang benar-benar orang yang alim dan ahli.

Contoh : ketika ada orang yang tidak membayar zakat atau melakukan perbuatan pidana, maka itu menjadi urusan negara.

Berbeda dengan sekarang, karena Indonesia tidak menerapkan Hukum Islam. Apabila diterapkan maka yang terjadi adalah kejanggalan-kejanggalan. Bukan masalah relevan atau tidak relevan, karena hukum dalam Al Qur’an akan selalu relevan. Maka yang dapat dilakukan adalah menaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya Surat Al Maidah ayat 51 tetap relevan untuk dijalankan, namun harus memperbaiki dari segi kualitas keislaman orang-orang Islam di Indonesia. Permasalahan yang terbesar ada dalam kualitas diri orang-orang Islam tersebut, apakah sudah mematuhi ajaran agama sesuai dengan seharusnya atau belum. Menurut Islam (Surat Al Maidah ayat 51 dan ayat 78), tidak akan menjadikan Yahudi/Nasrani sebagai pemimpin. Jadi menurut Islam, pemimpin haruslah seorang mukmin.

 

Pertanyaan selanjutnya dari Jovi, yang pada intinya menanyakan seperti apa sosok Nabi Isa AS atau Yesus Kristus dalam Islam? Bagaimana Islam memandang kafir? Apakah adil ketika memang Pasal 156a ayat (1) dikatakan sebagai delik formil? Karena menurut dirinya Pasal tersebut merupakan delik materil dan harus dibuktikan alat bukti mengenai hal tersebut.

Jawaban dari ustad Ismail

  1. Nabi Isa adalah seorang manusia dan hamba Allah SWT. Nabi Isa berasal dari kaum nasrani yang artinya (menolong). Dalam hal ini menolong yang dimaksudkan adalah menolong dalam mendakwahkan agama Allah. Dalam Islam Nabi Isa adalah seorang Nabi, hamba Allah SWT dan bukan merupakan ruh Tuhan. Namun Nabi Isa adalah ruh yang diistimewakan karena terlahir dengan tidak memiliki ayah, Nabi Isa AS memiliki tugas yang sama dengan Nabi yang lain, yaitu memperjuangkan agama Allah dan kaum Nabi Isa AS disebut Kaum Nasrani (orang-orang yang menjadi penolong Nabi Isa dalam perjuangan dakwahnya)
  2. Kafir adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan tidak mengikuti perintah Allah SWT. Walaupun dia mengaku beriman kepada Allah SWT, tetapi apa yang dilakukannya tidak sejalan dengan perintah Allah SWT dan syariat Rasulullah SAW, maka dia termasuk orang yang kafir.

Jawaban dari pak Sigid

  1. Pompei menjelaskan niat berbeda dengan kesengajaan. Niat merupakan unsur subyektif sehingga tidak dapat diobjektifkan, yang mengetahui niat adalah orang yang berniat itu sendiri dan Tuhan. Sedangkan kesengajaan adalah unsur objektif. Ada perbuatan nyata yang dilakukan dan memiliki unsur niat yang sudah diobjektifkan. Apabila seseorang sudah memberikan ungkapan atau perbuatan, maka dalam hati pelaku sudah terdapat niat untuk mempengaruhi atau membuat akibat terhadap orang lain/lingkungannya.
  2. Delik materil mendasarkan pada suatu akibat. Penodaan agama tidak mendasarkan pada akibat, tapi perbuatan yang ia lakukan. Misalnya pada unsur dilakukan di depan umum, merupakan unsur perbuatan. Kemudian pada unsur dibodohi hal ini brmakna ada yang MELAKUKAN PERBUATAN, yaitu orang yang melakukan pembodohan, dalam perkara in casu adalah menodai agama dan menimbulkan permusuhan.

 

Pertanyaan terakhir yaitu dari Istigfaro Anjaz yang mengaitkan Pasal 72 ayat (3) Undang-undang Penetapan Kepala Daerah dan sanksi yang terdapat pada Pasal 72 ayat (5) Undang-undang Penetapan Kepala Daerah dengan perkara in casu bukankah seharusnya hal tersebut dikategorikan dalam perkara pemilihan, bukan pidana? Serta menyatakan pendapat bahwa dirinya tidak sepakat apabila dalam memilih pemimpin kita tidak boleh mempertimbangkan unsur agama. Dalam menentukan pilihan, tidak bisa sekedar hanya mempertimbangkan kinerja dan visi-misi, unsur agama maupun suku bangsa juga merupakan pertimbangan yang wajar.

Jawaban dari Pak Sigid yaitu merujuk pada deliknya, termasuk delik khusus atau delik umum, maka memungkinkan untuk diberikan dakwaan kumulatif. Serta menegaskan bahwa perlu ada kajian kembali apakah perbuatan tersebut bertujuan untuk menjatuhkan pasangan calon yang lain atau semata-mata penistaan agama, hal tersebut kembali lagi kepada wessenchau (maksud dari si pembuat undang-undang)

Setelah sesi tanya jawab berakhir maka berakhir pula acara diskusi terbuka tersebut yang ditutup dengan kesimpulan dari moderator. Pada akhirnya peserta diskusi mendapatkan pandangan baru serta masing-masing peserta dapat membuat kesimpulan dari hasil diskusi terbuka ini.

 

 

 

 

 

Tertanda

Aris Munandar selaku Ketua KMFH UGM

Husni Muhammad Fakhruddin selaku Kepala Departemen Pengkajian dan Wacana KMFH UGM

Andy Bagus Burhannudien Jofa selaku Kepala Departemen Syiar dan Takmir KMFH UGM

Kabinet Biqolbimmuniib

Jawaban Telak Untuk Quburiyyun (Pemuja Kuburan)

Ketahuilah! Semoga Allah merahmati kita semua bahwa jalan menuju ridho Allah memiliki musuh-musuh yang pandai bersilat lidah, berilmu dan memiliki argumen. Oleh karena itu kita wajib mempelajari agama Allah yang bisa menjadi senjata bagi kita untuk memerangi syaitan-syaitan ini, yang pemimpin dan pendahulu mereka (baca: iblis) berkata kepada Robb-mu ‘azza wa jalla:

لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau akan mendapati mereka kebanyakan tidak bersyukur (ta’at).” (QS. Al A’raaf: 16-17)

Ketahuilah, sesungguhnya tentara Allah akan senantiasa menang dalam argumen dan perdebatan sebagaimana mereka menang dengan pedang dan senjata. Seorang muwahhid (orang yang bertauhid) yang menempuh jalan (Allah) namun tanpa senjata (ilmu untuk membela diri) amatlah mengkhawatirkan.

Allah ta’ala telah memberi nikmat kepada kita dengan menurunkan kitab-Nya yang Dia jadikan:

تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Sebagai penjelas atas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An Nahl: 89)

Tidak ada seorang pun pembawa kebatilan datang dengan membawakan hujjah (demi membela kebatilannya) melainkan di dalam Al Quran terdapat dalil yang membantahnya dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang (ganjil), melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al Furqon: 33)

Termasuk ahlul bathil adalah ahlul bid’ah dan para quburiyyin yang sesat mereka tinggalkan kewajiban ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan menyekutukan Allah dengan selain-Nya yaitu para nabi dan wali. Mereka memiliki dalih-dalih. Untuk menjawabnya dapat ditempuh dua metode, secara global dan rinci.

Jawaban Global

Allah ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ

“Dialah yang menurunkan Al Quran kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutsyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imron: 7)

(Ayat muhkamat adalah Ayat yang jelas dan tegas maksudnya dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang pengertiannya hanya diketahui oleh Allah. Termasuk pengertian ayat mutasyaabih adalah ayat yang sukar untuk dipahami walaupun tidak menutup kemungkinan ada yang dapat memahami karena ilmunya lebih mumpuni -pent).

Sumber: muslim(dot)or(dot)id

Aksioma Literasi Payung Peradaban

Di payung pradaban nan sentosa penuh diskusi dan pertukaran gagasan praksis kehukuman. Oleh segenap mahasiswa Fakultas Hukum yang acap kali berkolaborasi dalam iba dan simpati untuk memperjuangkan amar makruf dan nahi munkar. Dalam dakwah yang –semoga- tiada henti bersemayam dalam dada. Jiwa dakwah bak lanar di tepian pantai mengendap dalam perasaan ukhuwah. Tidak pernah usang dan tak akan pernah hilang. Lebih dari wadah. Lebih dari sekedar lembaga. Tanpa disangka disana terdapat keluarga.
Keluarga Muslim Fakultas Hukum, sebuah wadah kekeluargaan progresif lingkup fakultas yang akan selalu tenteram dijumpai. Perasaan damai penuh hormat antar sesama bersemi. Merumung pelosok kampus yang tak jarang ramai. Entitas awal dari sebuah pergerakan da’awy.
Pentingnya sebuah gerakan dakwah tak perlu ditanyakan lagi. Sepak terjang manfaat dan barakah sudah mudah dijumpai mengingat semakin banyak orang akan mengetahui Islam lewat gerakan dakwah. Namun, ada yang dua aspek penting disini, yaitu pengorganisasian dan budaya literasi.
Seorang Imam Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan dengan mudah dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir”. Mudah saja kita mengambil sebuah pelajaran; untuk melakukan kebaikan, kita seyogyanya melakukannya dengan rapi (terorganisir), apabila tidak, maka kebaikan yang kita lakukan akan dikalahkan oleh keburukan, meski keburukan itu tidak dalam keadaan rapi. Di sini berlaku aturan, keburukan dan kebaikan akan selalu ada. Karena keduanya mengisi ruang dan waktu. Sederhananya, kita tidak akan bisa mengharapkan sirnanya keburukan dengan kebaikan yang kita lakukan.
Lebih jauh, kita memandang fenomena kebobrokan umat sebagai tantangan aktifis dakwah. Ketika adab pergaulan antara ikhwan-akhwat sudah tidak dipedulikan lagi -melainkan sedikit saja-, ketika panji kepemimpinan muda Islami sudah tak dapat bersaing di pentas perpolitikan kampus lagi -melainkan sedikit saja-, dan ketika keilmuan asasi Hukum Islam sudah tak banyak diminati lagi -melainkan sedikit saja-, dan juga standar lumbung kreatifitas cocok tanam penerus estafet dakwah yang kian menipis. Apakah kita akan diam saja? Sepertinya tidak bisa. Oleh karenanya, memulai pengorganisasian kebaikan dalam dakwah menjadi amat sangat penting untuk dikerjakan.
Peluang menarik kita dapatkan dari payung peradaban. Sebuah tempat nongkrong santai di timur mushola. Di sini kita dapat membangun –jika tidak dibilang berlebihan- sebuah peradaban yang madani di kampus fakultas hukum UGM. Sesuai dengan namanya, Payung Peradaban.
Beberapa abad silam, umat muslim menyibukkan dirinya dalam pergumulan ilmu. Tujuannya tak lain adalah untuk membangun peradaban Islami. Bidang keilmuan lah yang menjadi pondasi utama umat Islam terdahulu dalam membangun peradaban. Sehingga tercetaklah generasi yang memahami konsep ilmu dalam Islam, tidak sekedar mengetahui akan tetapi juga mengilmui. Keilmuan Islam itu juga pasti berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Salah satu contoh yang menjadi bukti kegemilangan keimuan zaman itu adalah dipakainya Al Qonun Fi At tibbi (buku kedokteran) karya Ibnu Sina di eropa, penemuan bilangan ‘nol’ oleh Al Khawarizmi, ditemukannya konsep pesawat terbang oleh Ibnu Firnas, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, kita dapat membangun sebuah peradaban dengan cara yang sederhana, memulainya dari diri sendiri dan kampus, yaitu melanjutkan budaya keilmuan yang selama ini hilang dari dunia Islam, melaikan sedikit saja. Dan di era sekarang kita dapat menyebut budaya keilmuan itu dengan budaya literasi di dunia pendidikan yang juga hilang darirealitasnya. Membaca, menulis, dan yang terpenting berdiskusi dengan sesama anggota. Tanpa rasa canggung, tanpa ketawa ketiwi. Namun, keceriaan dari sebuah diskusi pun bakal kita dapatkan. Pastinya, misi yang demikian itu semua kita lakukan di payung peradaban tempat nongkrong itu.

 

Oleh: Habib Haidar Pradana Effendi, Departemen Syiar dan Takmir, FH UGM 2015

RAHASIA KEAGUNGAN HARI ARAFAH

2. Arafah

RAHASIA KEAGUNGAN HARI ARAFAH
——-

Hari Arafah 9 Dzulhijjah sudah diambang pintu. Emang ada apa ?

Ketahuilah bahwa hari Arafah merupakan hari yang penuh dengan keutamaan, karena hari Arafah adalah hari:

1. Hari Allah membuka pintu Maghfiroh seluas-luasnya.
Ummul mukminin Aisyah pernah menuturkan bahwasanya Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُوْ ثُمَّ يُبَاهِيْ بِهِمْ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُوْلُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Tidak ada satu hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka, melebihi hari arafah. Sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para Malaikat. Allah berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?’
[HR. Muslim 3354, Nasai 3003, dan yang lainnya]

Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini jelas sekali menunjukkan keutamaan hari Arafah”.

2. Hari bagi para jama’ah haji untuk wukuf yg merupakan inti haji
Jubair bin Muth’im Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ
Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah ‘Uranah
[HR. Ahmad no. 16.797, dihukumi shahih oleh al-Albâni dan Syuaib al-Arnauth]

3. Hari penyempurnaan agama dan nikmat yang agung kepada ummat Islam.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.”
[QS. Al-Maidah: 3]
Umar menjawab: “kami mengetahui hari dan tempat diturunkannya ayat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pada saat itu beliau berada di Arafah pada hari Jum’at.”

——-
Maka semestinya bagi kita untuk memanfaatkan hari Arafah untuk memperbanyak pundi2 pahala sebagai bekal menghadap Sang Maha Kuasa.

Hari Arafah juga momen di mana umat Muslim di seluruh dunia menjalankan puasa sunnah yang menurut sebuah riwayat pahala puasa Arafah mampu menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun.

Hari Arafah merupakan hari pembebasan dari Neraka, bagi mereka yang turut berpuasa di hari tersebut dengan mengharapkan keridhoan dari Tuhannya. Hal ini tak lain karena Allah SWT. telah menjamin pengampunan dosa bagi mereka yang berpuasa di hari Arafah.

Rasulullah SAW bersabda :

من صام يوم عرفة غفر له سنة أمامه وسنة خلفه، ومن صام عاشوراء غفر له سنة. رواه الطبراني في الأوسط

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa di hari Arafah, maka dia diampuni (dari dosanya) setahun setelah dan sebelumnya. (Sedangkan) barang siapa yang berpuasa pada hari Asyura’, maka ia diampuni (dari dosa) setahun”.
[HR. Thabrani dalam Al-Ausath]

 

Sumber:
Al-Qur’an
Al-Hadits
Channer Mulia dengan Sunnah di Telegram
Website konsultasisyariah(dot)com
Website islampos(dot)com
Website almanhaj(dot)or(dot)id

 

 

#IslamicReminder
#ArtikelKeislaman
#DepartemenSyiardanTakmir
#KMFHUGM

Perumpamaan Orang Beriman

Perumpamaan Orang Beriman

 

 

🍶Jadilah Engkau Seperti Lebah Jangan Seperti Lalat🍶
💎Telah bersabda Rosulullah Sholallahu alaihi wasallam :
” .. والذي نفسي بيده ، إن مثل المؤمن كمثل النّحلة ! ؛ أكلت طيباً ، ووضعت طيّباً ، ووقعت فلم تكسر و لم تفسد ”
أحمد (٦٨٧٢) ، وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة (٢٢٨٨) .
💎Demi Zat yang jiwaku ada di Tangan-Nya.
🍮Sesungguhnya permisalan seorang mukmin seperti seekor lebah
🌻Dia memakan makanan yang baik,mengeluarkan sesuatu yang baik,dan bila ia hinggap di suatu tempat dia tidak mematahkan dan merusak .”
HR Ahmad no 6872 di Shohihkan Syaikh Al Albani dalam Ash Shohihah no 2288
🍇Demikian pula seorang mukmin dia mengkonsumsi makanan yang halalan thoyyiban…
💽Keluar dari lisannya ucapan-ucapan yang baik,tidaklah ia memberikan kecuali kebaikan ,baik pula dalam bergaul.
👍Ketika ia berada di suatu tempat ia memberikan manfaat pada yang lain.
🐾Ketika ia pergi tidak meninggalkan kesan yang jelek,luka dihati dan kerusakan.
☁️Kehadirannya selalu diharapkan dan dirindukan.
💎Berkata Ibnul Qayyim Rohimahullah Ta’ala
يقول ابن القيم في الفوائد (١٩٦) :
” فالنّفوس الشريفة لا ترضى من الأشياء الا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة.
🔹Maka jiwa yang mulia tidaklah meridai sesuatu melainkan yang paling tinggi nilainya,yang paling afdhol,yang paling baik akibatnya…”
📚Al Fawaid 196
⛔️Janganlah engkau menjadi seperti lalat❗️
🏴Tidaklah ia hinggap melainkan ditempat yang kotor,makan makanan yang kotor.
❌Ketika ia pergi maka ia meninggalkan penyakit dan kotoran,kehadirannya tidak pernah diharapkan.
🔵Berkata Ibnu Taimiyah Rohimahullah Ta’ala:
 الجاهل بمنزلة الذباب الذي لا يقع إلا على العَقير ، ولا يقع على الصحيح ! ، والعاقل يزن الأمور جميعاً هذا وهذا “.
( منهاج السنة: ٦-١٥٠)
Sesungguhnya orang yang bodoh seperti lalat.
Tidaklah ia hinggap melainkan pada penyakit dan ia tidak mau hinggap ditempat yang sehat
Maka orang yang berakal tentunya akan menimbang-nimbang semua perkara antara ini dan ini.
Sumber:
1. Minhajus Sunnah 6/150.
2. Telegram Ukhuwah Imaniyyah

Pembatal-pembatal Syahadatain

Yaitu hal yang membatalkan Islam, karena dua kalimat syahadat itulah yang membuat seorang masuk dalam Islam. Mengucapkan keduanya adalah pengakuan terhadap kandungannya dan konsisten mengamalkan konsekuensinya berupa segala macam syi’ar Islam. Jika menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah diikrarkannya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.

Perkara-perkara yang membatalkan Islam itu banyak sekali. Para fuqaha’ dalam kitab-kitab fiqih telah menulis bab khusus yang diberi judul Bab Riddah (kemurtadan). Adapun yang terpenting adalah sepuluh hal, yaitu:

  • Syirik dalam beribadah kepada Allah. Allah berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa’: 48, 116)

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, paka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Al-Ma’idah: 72) Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, misalnya untuk kuburan yang dikeramatkan atau untuk jin dan lain-lain.

  •  Orang yang menjadikan perantara-perantara antara dirinya dan Allah. Ia berdoa kepada mereka, meminta syafaat kepada mereka, dan bertawakkal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijmak.

 

  • Orang yang tidak meu mengafirkan orang-orang musyrik dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzab mereka, dia itu kafir.

 

  • Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi lebih sempurna dari petunjuk beliau, atau hukum yang lebih baik daripada hukum beliau. Misalnya, orang-orang yang mengutamakan hukum para thaghut di atas hukum Rasulullah, mengutamakan hukum atau perundang-unndangan manusia di atas hukum Islam, maka dia kafir.

 

  • Siapa yang membenci sesuatu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah S.A.W. walaupun ia juga mengamalkannya, maka ia kafir.

 

  • Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasul, pahala, atau siksanya, maka ia kafir. Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah:

 

قُلِ اسْتَهْزِؤُواْ إِنَّ اللّهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ. لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.’” (At-Taubah: 65-66).

 

  • Sihir di antaraya sharf dan ‘athf (mungkin yang dimaksud adalah amalan yang bisa membuat suami benci kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya/pelet). Siapa melakukan atau meridhainya, maka ia kafir. Dalilnya adalah firman Allah:

 

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ

“Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’” (Al-Baqarah: 102).

 

  • Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat Islam. Dalilnya adalah Firman Allah:

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Ma’idah: 51)

 

  • Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad S.A.W., seperti halnya Nabi Hidir boleh keluar dari syariat Nabi Musa Alaihissalam, maka ia kafir. Hal ini sebagaimana yang diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi yang melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah S.A.W.

 

  • Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya, dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya Firman Allah:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” (Al-Ahqaf: 3)

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22).

 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, ”Tidak ada bedanya dalam hal membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, serius (bersungguh-sungguh), ataupun yang takut, kecuali orang yang dipaksa. Semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang peling sering terjadi. Maka setiap Muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta memohon perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah dan siksa-Nya yang pedih.”

 

 

 

Sumber:

Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly

Isra’ Mi’raj

Dalam Al Quran, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diceritakan dalam dua surah yang berbeda, yaitu dalam Surah Al Isra’ dan Surah An Najm ayat 1-18. Dari dua surah tersebut, dapat diketahui bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan dua peristiwa, bukan hanya satu peristiwa.

Isra’ secara bahasa berasal dari kata saro yang bermakna perjalanan di malam hari. Secara istilah, isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad S.A.W dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hal ini berdasarkan;

Surah Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)

Sedangkan Mi’raj secara bahasa bermakna suatu alat yang dipakai untuk naik. Secara istilah, Mi’raj berarti perjalanan Nabi Muhammad S.A.W dari bumi naik ke langit ketujuh. Hal ini berdasarkan Al-Qur’an surah An-Najm ayat 1-18.

Surah an Najm ayat 1-18;

وَالنَّجْمِإِذَاهَوَى. مَاضَلَّصَاحِبُكُمْوَمَاغَوَى. وَمَايَنْطِقُعَنِالْهَوَى. إِنْهُوَإِلَّاوَحْيٌيُوحَى. عَلَّمَهُشَدِيدُالْقُوَى. ذُومِرَّةٍفَاسْتَوَى. وَهُوَبِالْأُفُقِالْأَعْلَى. ثُمَّدَنَافَتَدَلَّى. فَكَانَقَابَقَوْسَيْنِأَوْأَدْنَى. فَأَوْحَىإِلَىعَبْدِهِمَاأَوْحَى. مَاكَذَبَالْفُؤَادُمَارَأَى. أَفَتُمَارُونَهُعَلَىمَايَرَى. وَلَقَدْرَآهُنَزْلَةًأُخْرَى. عِنْدَسِدْرَةِالْمُنْتَهَى. عِنْدَهَاجَنَّةُالْمَأْوَى. إِذْيَغْشَىالسِّدْرَةَمَايَغْشَى. مَازَاغَالْبَصَرُوَمَاطَغَى. لَقَدْرَأَىمِنْءَايَاتِرَبِّهِالْكُبْرَى

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)

Sebagian orang meyakini peristiwa yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab, namun tidak ada dasar dalil Al Quran atau Hadits yang kuat memastikan. Ada pula yang berpendapat terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal. Juga terdapat perbedaan pendapat tentang waktu terjadinya Isra’ Mi’raj, apakah terjadi ketika 1 bulan atau 1 tahun atau 5 tahun sebelum Nabi Muhammad S.A.W hijrah.

Diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad S.A.W berada di Masjidil Aqsa, Nabi-nabi sebelumnya dibangkitkan oleh Allah untuk membaiat Nabi Muhammad S.A.W. Agar Nabi Muhammad S.A.W yakin bahwa ia memang benar-benar utusan-Nya yang terakhir. Lalu shalat mengimami Nabi-nabi yang lain (namun di sini tidak diketahui shalat yang seperti apa karena perintah shalat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W belum diberikan).

Dikisahkan melalui riwayat Muslim dalam shahihnya;

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar. Kemudian datang kepadaku Jibril  ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi  khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

 

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam  meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan  Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.  Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata:“Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Adapun dalam riwayat Imam Bukhari dikisahkan bahwa;

Malik bin Sha’sha’ah berkata, Nabi saw bersabda. “Ketika aku berada disisi Baitullah, antara tidur dan sadar,” beliau melanjutkan, “Ada seorang lelaki diantara dua laki-laki yang datang membawa baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan iman. Orang itu lantas membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu ia mencuci perutku dengan air zam-zam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman.

Kemudian aku diberi seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil daripada baghal, tapi leih besar disbanding keledai. Tunggangan itu bernama Al-Buraq. Maka aku berangkat bersama Jibril, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang, sebaik-baik orang yang telah tiba.’

Kemudian aku menemui Adam as dan memberi salam kepadanya. Dia lantas berkata, ‘(Ucapan) selamat datang bagimu dari anak keturunan dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit kedua lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Lalu aku menemui Isa dan Yahya as. Keduanya berkata, ‘Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit ketiga lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Lalu aku menemui Yusuf as dan memberi salam kepadanya. Dia lantas berkata, ‘Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit keempat lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Lalu aku menemui Idris as dan memberi salam kepadanya. Dia lalu berkata, ‘Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit kelima lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Lalu aku menemui Harun as dan memberi salam kepadanya. Dia lalu berkata, ‘Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit keenam lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Kemudian aku menemui Musa as dan memberi salam kepadanya. Dia lalu berkata, ‘selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Ketika aku sudah selesai, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan, ‘Mengapa kamu menangis ?’ Musa menjawab, ‘Ya Rabb, anak ini yang diutus setelah aku. Umatnya akan masuk surga dengan kedudukan lebih utama dibanding siapa yang masuk surga dari umatku.’

Kemudian kami naik ke langit ketujuh lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Kemudian aku menemui Ibrahim as dan memberi salam kepadanya. Lalu dia lalu berkata, ‘selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian ditampakkan Al-Baitul Makmur kepadaku. Aku bertanya kepada Jibril, lalu ia menjawab, ‘Ini adalah Al-Baitul Makmur. Setiap hari ada 70 ribu malaikat mendirikan shalat di sana. Jika mereka keluar (untuk pergi shalat), tidak ada satupun dari mereka yang kembali.’

Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran). Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab, ‘Adapun Bathinan berada di surga, sedangkan Zhahiran adalah An-Nail dan Al-Furat (dua nama sungai di surga).

Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh kali. Aku menerimanya hingga Musa AS menemuiku dan bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan?’ Aku jawab, ‘Aku diwajibkan shalat lima puluh kali.’ Musa berkata, ‘Aku lah orang yang lebih tau tentang manusia daripada kamu. Aku sudah berusaha menangani Bani Israil dengan sungguh-sunggu. Dan umatmu tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban shalat itu. Maka itu kembalilah kamu kepada Rabbmu dan memintalah (keringanan).’

Maka aku meminta keringanan lalu Alah memberiku 40 kali shalat. Lalu aku menerimanya dan Musa kembali menasihatiku  agar meminta keringanan lagi. Kemudian kejadian berulang seperti itu (nasihat Musa) hingga dijadikan 30 kali. Lalu kejadian berulang seperti itu lagi hingga dijadikan 20 kali. Kemudian kejadian berulang lagi hingga jadi 10 kali. Lalu aku menemui Musa dan dia kembali berkata seperti tadi hingga dijadikan lima waktu.

Aku kemudian menemui Musa dan dia bertanya, ‘Apa yang kamu dapatkan?’ aku jawab, ‘Telah ditetapkan lima waktu.’ Dia pun berkata seperti tadi lagi. Aku katakan, ‘Aku telah menerimanya dengan baik.’ Tiba-tiba ada suara yang berseru, ‘Sungguh, Aku telah putuskan kewajiban dariku ini dan Aku telah ringankan untuk hamba-hamba-Ku. Dan Aku akan balas setiap satu kebaikan (shalat) dengan sepuluh balasan (pahala).’ (H.R Bukhari)

Terkait Surah An Najm dan Hadits di atas, Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa Nabi Muhammad S.A.W melihat Rabb-nya tidak seperti manusia biasa. Kemudian ia menyebutkan perkataan Ibnu Taimiyah mengenai masalah ini. Pada intinya, Nabi Muhammad S.A.W melihat Allah dengan mata telanjang. Namun pendapat ini tidak ada yang menguatkan sama sekali, dan tidak pernah dikatakan oleh seorang sahabat pun. Sedangkan perkataan yang dinukil dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad S.A.W melihat Allah secara mutlak dan beliau melihat-Nya dengan sanubari. Yang pertama tidak menafikan yang kedua. Kemudian ia berkata, “Tentang firman Allah di dalam surat An Najm, ‘Kemudian dia mendekat lalu bertambah dekat lagi’, bukan berkaitan dengan mendekatnya Jibril, sebagaimana yang dikatakan Aisyah dan Ibnu Mas’ud. Sedangkan mendekat dalam peristiwa Isra’ adalah mendekatnya Allah. Jadi tidak ada yang diperselisihkan dalam surat An Najm ini. Bahkan dalam surat ini juga disebutkan, bahwa beliau melihat Jibril dalam rupa aslinya, sekali tatkala di bumi dan sekali tatkala di Sidratul Muntaha, wallahu a’lam.

Hendaknya kita meneladani sifat para sahabat terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.  Mereka mengatakan : “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!” Abu Bakar berkata : “Apa yang beliau ucapkan?”. Orang-orang musyrik berkata : “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam”. Abu Bakar berkata : “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”. Orang-orang musyrik kembali bertanya: “Mengapa demikian?”. Abu Bakar menjawab: “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (Hadits diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha).

Dari kisah Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tersebut, dapat kita ambil teladan untuk kita terapkan dalam menanggapi apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya. Yaitu kita seharusnya langsung membenarkan peristiwa tersebut, meskipun terlihat mustahil dengan teknologi pada zamannya maupun teknologi pada saat ini.

Berikut adalah beberapa faedah yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut;

  • Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam.
  • Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhum. Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.
  • Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
    (QS. Al-Isra` : 1)

Dari kisah Isra’ Mi’raj, kita sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad S.A.W wajib untuk meyakini peristiwa-peristiwa ghaib, keagungan, kebesaran, dan kasih sayang Allah, kebenaran atas Nabi Muhammad S.A.W sebagai Nabi terakhir yang diutus, dan tidak lupa perintah shalat yang harus kita jaga. Dimana melalui peristiwa Isra’ Mi’raj inilah Allah menyampaikan bahwa hamba-hamba-Nya dapat berhubungan langsung dengan-Nya lewat shalat. Sehingga hal yang terpenting dari peringatan Isra’ Mi’raj ini bukan pada harinya, namun peringatan kepada diri sendiri untuk beribadah lebih baik dalam shalat kita. Wallahu a’lam.

 

 

 

 

 

Sumber:

  • Al-Qur’an
  • Al-Hadits
  • Syarh Lum’atil I’tiqaad li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
  • Lihat Syarh Al Ushuul Ats Tsalatsah li Syaikh Shalih Fauzan
  • Ar Rahiqul Makhtum
  • Al Lu’lu’ wal Marjan
  • muslim.or.id

Wudhu

Kajian Rutin Fiqh

  1.  Pengertian
    1. Dalam bahasa arab, wudhu berarti suci.
    2. Sedangkan menurut istilah, wudhu memiliki arti mengalirkan air ke anggota badan yang telah ditentukan oleh syariat disertai dengan niat tertentu.

 

  1. Syarat sah wudhu
    1. Beragama islam
      syarat mutlak orang sah wudhunya itu beragama islam. Seandainya orang non-Islam mempraktikan wudhu, hal tersebut hanya membersihkan tubuh saja, tidak ada fadhilah lainnya (seperti menghilangkan dosa, dan lain-lain).
    2. Akil Baligh
      artinya adalah orang yang berakal.
    3. Tamyiz
      bisa membedakan antara yang haq dan yang batil.
    4. Tidak ada penghalang antara kulit dengan air
      dilihat terlebih dahulu di tangannya ada cat, oli, tato, minyak dan lain-lain atau tidak. Sebaiknya segala sesuatu yang dapat menghalangi masuknya air ke dalam kulit dibersihkan terlebih dahulu sampai benar-benar bersih.

 

  1. Air terbagi atas 4
    1. Air mutlak
      1. Air yang suci dan menyucikan serta tidak makruh untuk bersuci.
    2. Air musyammas
      1. Air suci dan menyucikan yang makruh.
    3. Air musta’mal
      1. Air suci namun tidak menyucikan, dan air yang berubah karena bercampur dengan benda-benda suci lainnya.
    4. Air najis
      1. Air yang bercampur benda najis dan jumlahnya tidak sampai dua qullah, atau mencapai dua qullah namun berubah. Ukuran dua qullah air kira-kira berjumlah limar ratus liter Baghdad berdasarkan pendapat paling benar.

 

  1. Wajib wudhu
    1. Niat
      1. “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. …”
        (H.R. Bukhari Muslim)
      2. Secara bahasa, niat berarti menyengaja.
  • Secara istilah, niat berarti menyengaja suatu hal apapun berbarengan dengan amal yang kita lakukan.
  1. Niat itu ada di dalam hati, apapun ibadahnya
  2. Terdapat perbedaan/far’iyah tentang sebaiknya niat itu cukup di dalam hati saja atau juga diucapkan di lisan. Alangkah baiknya perbedaan ini tidak dilebarkan biar tidak memecah belah umat.
    1. Menurut Mazhab Imam Syafi’i, niat sunnah untuk dilafalkan. Dijelaskan oleh Imam Nawawi bahwa hal ini dilakukan untuk mengingatkan hati dan pikiran mengenai apa yang hendak dilakukan.
    2. Menurut Mazhab lainnya tidak perlu diucapkan di lisan.
  3. Niat dalam wudhu dilakukan dilakukan ketika membasuh muka. Apabila niat dilakukan saat sedang tidak membasuh muka kebanyakan ulama tidak membolehkannya, dengan alasan niat itu dilakaukan ketika awal melakukan perbuatan.
  1. Membasuh muka
    1. ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,” (Qs al-Maidah ayat:6)
  2. Membasuh kedua tangan sampai siku
    1. ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,” (Qs al-Maidah ayat:6)
    2. Lebih baik jika dibasuh sampai atas siku
  3. Mengusap kepala
    1. “dan sapulah kepalamu”.
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
    2. Batas kepala adalah lingkar tumbuhnya rambut yang ada di kepala
  4. Membasuh kedua kaki sampai dua mata kaki
    1. “dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
  5. Tertib
    1. Tertib artinya teratur seperti membasuh muka dahulu baru tangan, tidak boleh sebaliknya.

 

  1. Yang membatalkan Wudhu
    1. Keluarnya sesuatu dari dubur dan qubul
      1. “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”
        (Qs Al-Maidah ayat: 6)
      2. Dari Abu Hurairah ra. Rasulallah saw bersabda “Tidaklah batal wudhu seseorang kecuali keluar suara atau bau (dari aurat belakang)
        (HR at-Tirmidzi)
  • Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad ra, Rasulallah saw bersabda: “tentang mazi, hendaknya ia membasuh kemaluannya lalu berwudhu”
    (HR Bukhari Muslim)
  1. Hilangnya akal karena mabuk, gila, pingsan dan tidur
    1. Dari Aisyah ra ia berkata: “Sesungguhnya Nabi saw pernah pingsan lalu sadar, maka beliau mandi”
      (HR Bukhari Muslim)
  1. Tidur berat jika dilakukan dengan berbaring membatalkan wudhu.
    Dari Ali Bin Abi Thalib ra, Rasulullah saw. bersabda, “Mata adalah tali dubur, maka barang siapa yang tidur hendaknya berwudu.”
    (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  • Sedangkan tidur sambil duduk (dengan mantap) kemudian bangun, boleh mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi.
    1. Menurut Anas bin Malik, sahabat-sahabat Nabi pun terkadang tidur sambil duduk sampai kepala mereka tertunduk untuk menanti datangnya shalat Isya. Kemudian mereka mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi.
      (Hadits ini diriwayatkan oleh Syafi’i, Imam Muslim, Abu Daud, dan at-Tirmidzi)
  • Bersentuhan kulit laki laki dan perempuan dewasa yang bukan mahram tanpa pembalut hukumnya batal wudhu penyetuh dan yang disentuh karena keduanya merasakan kelezatan sentuhan
    1. Allah berfirman: ”atau menyentuh perempuan” ,
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
    2. Bersentuhan dengan mahram atau anak kecil hukumnya tidak membatalkan wudhu, begitu pula menyentuh rambut, gigi dan kuku karena tidak merasakan kelezatan sentuhan
  • Menyentuh aurat (kemaluan) dan dubur belakang dengan telapak tangan.
    1. Sesuai dengan sabda Rasulallah saw: “Jika seseorang menyentuh dzakarnya (dengan telapak tangan) maka hendaknya ia berwudhu, dalam riwayat lain: barang siapa menyentuh kemaluannya maka hendaknya ia berwudhu”
      (HR. Malik, Syafie, Abu Daud dll dengan sanad-sanad shahih)
    2. Hadits lainya, dari Abu Hurairah, Rasulallah saw bersabda: “Jika seseorang menyentuh kemaluanya (dengan telapak tangan) tanpa hijab dan pembalut maka wajib baginya wudhu”
      (HR Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi dan at-Thabrani)

 

 

Sumber:

1. Kajian Rutin Fiqh, Mukhammad Bisri, Lc.,KMFH UGM

2. Fiqh Nabi, oleh Hasan Husen Assagaf

3. At-Tadzib fi Adillat Matan Al-Ghayat wa At-Taqrib Al-Masyur bi Matan Abi Syuja’ fi Al-Fiqh Asy-Syafi’ie, oleh Dr. Musthafa Diib Al-Bugha

Syarat Syahadatain

A. Syarat-syarat la ilaha illallah

Bersaksi bahwa la ilaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat tersebut syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah:

  1. ‘Ilmu, yang menafikkan jahl (kebodohan).
  2. Yaqin (yakin), yang menafikkan syak (keraguan).
  3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).
  4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).
  5. Ikhlash, yang menafikan syirik.
  6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).
  7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha’ (kebencian).

 

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

 

  1. ‘Ilmu (mengetahui)

Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dana pa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut. Allah berfirman:

 

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“…akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka yang meyakini(nya).” (Az-Zukhruf: 86)

 

Maksudnya, orang yang bersaksi dengan la ilaha illallah dan ia memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

 

  1. Yaqin (yakin)

Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat tersebut. Jika ia meragukannya maka persaksiannya tidak berguna. Allah berfirman:

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (Al-Hujurat: 15).

 

Kalua ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi bersabda:

 

 

 

“Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebun) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selai Allah dengan hati yang meyakini, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) surga.” (HR. Al-Bukhari).

Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk surga.

 

  1. Qabul (menerima)

Yakni menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menaati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah:

 

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ [37:35]

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ [37:36]

 

”Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ‘La ilaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’”. (Ash-Shaffat: 35-36).

 

Ini seperti halnya penyembah kuburan pada hari ini. Mereka mengikrarkan la ilaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian, berarti mereka belum menerima makna la ilaha illallah.

 

  1. Inqiyaad (tunduk dan patuh dengan kandungan makna syahadat)

Allah berfirman:

 

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ [31:22]

 

“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan Dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (Luqman: 22).

 

Al-‘Urwatul-wutsqa adalah la ilaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu lillah atau patuh kepada Allah dengan ikhlas kepada-Nya.

 

  1. Shidq (jujur)

Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkannya. Jika lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta. Allah berfirman:

 

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ [2:8]

يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ [2:9]

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [2:10]

 

”Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hari mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.’” (Al-Baqarah: 8-10).

 

  1. Ikhlas

Yaitu membersihkan amal dari segala debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena tamak terhadap dunia, riya’, atau sum’ah. Dalam hadits ‘Itsban, Rasulullah bersabda:

 

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan laa ilaha illallah karena menginginkan ridha Allah.”

 

  1. Mahabbah (kecintaan)

Maksudnya mencintai kalimat ini beserta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Allah berfirman:

 

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ [2:165]

 

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

 

Ahli la ilaha illallah mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih, sedangkan ahli syirik emncintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan la ilaha illallah.

 

B. Syarat syahadat Muhammadur rasulullah

  1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.
  2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.
  3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.
  4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal gaib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.
  5. Mencintainya melebihi cintanya kepada diri sendiri, harta, anak, orang tua serta seluruh umat manusia.
  6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.

 

Sumber:

Kitab “Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly”