Lagi-lagi Ulah Media

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di dunia, karena banyak sekali keistimewaannya, tak terkecuali bagi para pemeluk agama Islam di Indonesia juga sangat menantikan datangnya bulan Ramadhan ini yang mana datang hanya sekali dalam setahun. Para umat muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa di bulan suci ini sebagaimana yang telah di firmankan oleh Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Jadi puasa dalam bulan Ramadhan ini bagi umat muslim wajib hukumnya dan jika ditelaah kembali ternyata kewajiban untuk berpuasa bukan hanya ditujukan kepada umat muslim saja tetapi juga kepada umat sebelum adanya umat muslim.

Tahun ini merupakan tahun 1437 H, di Indonesia sendiri yang notabene penduduknya beragama Islam dengan suka cita menyambut bulan Ramadhan ini, namun yang harus kita waspadai adalah banyak para pihak yang ingin memecah belah umat Islam. Tentu kita masih ingat bagaimana kasus yang viral diberitakan oleh media mainstream yaitu kasus yang terjadi di Serang, Banten ibu Saeni dengan Satpol PP dan terus menjadi bahan perbincangan netizen di media sosial, saling lempar komentarpun terjadi, ada yang pro dan ada yang kontra perihal razia tersebut. berdasarkan Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat Satpol PP di Serang Banten melakukan Razia terhadap warung makan yang tetap beroperasi dibulan Ramadhan, padahal sudah ada Surat Edaran yang menguatkan peraturan tersebut. Pada Perda tersebut sudah jelas menyatakan dalam Pasal 3 ayat (2) bahwa kategori penyakit masyarakat meliputi pelacuran dan penyimpangan seksual, waria yang menjajakan diri, minuman beralkohol, gelandangan dan pengemis, anak jalanan serta kegiatan yang dilarang pada bulan Ramadhan.

Kegiatan yang dilarang pada bulan Ramadhan itu mengacu pada Pasal 10 ayat (1) yaitu setiap orang dilarang merokok, makan atau minum di tempat umum atau tempat yang dilintasi oleh umum pada siang hari di bulan Ramadhan. Pada bagian penjelasan disebutkan yang dimaksud siang hari adalah waktu pelaksanaan ibadah puasa. Diperjelas dengan ayat (3) pada Pasal yang sama disebutkan, setiap pengusaha restoran atau rumah makan atau warung dan pedagang makanan dilarang menyediakan tempat dan melayani orang menyantap makanan dan minuman pada siang hari. Jika ditelaah lebih lanjut maka insiden Razia tersebut memang sudah berlandaskan hukum yang berlaku dan juga dilakukan oleh oknum yang berwenang karena dalam Pasal 15 disebutkan, Satpol PP berwenang melakukan razia terhadap tempat atau rumah, tempat usaha, jalan atau tempat umum, yang digunakan atau mempunyai indikasi atau bukti yang kuat, sehingga patut diduga tempat tersebut digunakan sebagai tempat kegiatan penyakit masyarakat. Namun patut disayangkan ketika media mainstream menayangkan berita yang menyulut emosi netizen sehingga banyak yang melemparkan komentar hujatan tanpa tahu peristiwa yang sebenarnya.

Pemerintah Daerah memiliki kewenangan dalam membuat Peraturan Daerah hal ini berlandaskan pada Pasal 18 ayat (5) dan (6) Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang memberikan kewenangan bagi daerah dalam menjalankan otonomi daerah yang seluas-luasnya termasuk dalam membuat peraturan daerah tetapi otonomi daerah harus dijalankan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku diatasnya dan tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang telah berlaku sebelumnya. Jikalau masyarakat menanyakan Perda Banten ini tercium rasis dan mendukung agama tertentu maka hal ini juga telah dibenarkan dalam Undang-undang bahwa salah satu bentuk otonomi daerah yaitu adanya peraturan daerah. Pembentukan suatu peraturan daerah haruslah tidak bertentangan dengan peraturan yang diatasnya, apa sajakah peraturan tersebut? peraturan yang diatasnya itu mengcu pada hierarki peraturan perundang-undangan yang tertuang dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-undang No. 12 tahun 2011 yaitu: Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:

  1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
  2. Ketetapan Majelis Permusyawaratak Rakyat
  3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
  4. Peraturan Pemerintah
  5. Peraturan Presiden
  6. Peraturan Daerah Provinsi dan
  7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

Kemudian dalam Pasal 9 ayat (2) pada Undang-undang yang sama menyatakan bahwa dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-undang diduga bertentangan dengan Undang-undang, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung, oleh karena itu jikalau perda tersebut dianggap bertentangan maka yang berhak membatalkan adalah Mahkamah Agung bukanlah Pemerintah Pusat ataupun Menteri itupun juga harus melalui mekanisme pengujian terlebih dahulu tidak bisa membatalkan secara sepihak.

Propaganda yang dilakukan oleh media mainstream tersebut menuai sukses besar untuk memecah belah umat karena terjadi perdebatan yang tiada habisnya antara yang pro dengan yang kontra dengan argumennya masing-masing. Maka perlulah kita untuk bertabayun terlebih dahulu dalam menyikapi suatu isu, sangat disayangkan ketika kita terpancing oleh media mainstream yang ingin memecah belah umat dengan berbagai cara. Banyak orang Islam yang terpancing sehingga melemparkan pernyataan bahwa ketika orang berpuasa meminta untuk dihormati maka juga hormati orang yang tidak berpuasa. Sebuah logika yang agak melenceng sedang mencoba dibangun, umat Islam di Indonesia lupa bahwa mereka adalah kaum mayoritas. Umat Islam di Banten masih menjadi mayoritas berbeda dengan halnya dengan di Bali yang mana umat Islam menjadi minoritas disana dan mentaati hukum yang berlaku di sana karena itulah suatu peraturan yang berlaku di daerah Bali yang dituangkan dalam Perda begitu pula Banten yang telah menjalankan salah satu bentuk otonominya yaitu menjalankan Perda tetapi malah di hujat habis-habisan oleh umat Islam sendiri, tetapi banyak juga yang menghormatinya seperti pengusaha restoran KFC yang ikut menyesuaikan jam operasional di Banten pada bulan Ramadhan. Jika ingin melihat tulisan yang lebih komprehensif mengenai logika masyarakat Indonesia maka silahkan googling akan banyak ditemukan penulis-penulis yang menyatakan bahwa logika yang dipakai oleh masyarakat Indonesia dalam menanggapi isu ini salah kaprah.

Perlulah kita sebagai umat Islam yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk tidak mudah terpancing oleh propaganda murahan seperti ini. Media mainstream sekarang sudah tidak bisa diharapkan, lalu cara kita untuk meminimalisir agar tidak terjadi hal seperti ini lagi. Beberapa cara untuk melihat isu secara obyektif yaitu dengan cara melihat dari berbagai sisi, pertama-tama carilah media yang menginformasikan dari satu sisi dan kemudian carilah media yang menginformasikan dari sisi yang lain kalau perlu media yang menginformasikan dari sis yang bertentangan dengan media mainstream lalu barulah ditelaah lebih lanjut dengan melakukan survei lapangan sehingga kita dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana seharusnya sikap kita. Meskipun hal ini tidak menjamin keobyektifan secara 100% tetapi setidaknya kita telah mencoba untuk melakukan pandangan yang subyektif tetapi yang mendekati obyektif. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini agar kita tidak mudah terpecah belah dengan propaganda media mainstream. Akhir kata untuk menutup tulisan ini maka apabila ada kekeliruan dalam tulisan ini silahkan di caci maki tetapi dengan mengindahkan norma yang hidup di masyarakat.

 

Husni Muhammad F

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

Serba-Serbi Cerita Delegasi MCC Internal PDFH XI

Departemen Pengkajian dan Wacana (DPW) Keluarga Muslim Fakultas Hukum (KMFH) UGM pada 10-12 Februari 2016 menyelenggarakan Moot Court Academy (MCA). MCA ini merupakan kegiatan yang mengawali persiapan calon-calon anggota delegasi KMFH MCC PDFH IX atau biasa disebut sebagai MCC Internal. Materi-materi yang berkaitan hukum pidana, hukum acara pidana, hukum pidana khusus, pemaparan praktik sidang serta pengenalan berkas MCC. Tentunya para pemateri dalam kegiatan tersebut adalah orang yang sangat berkompeten dibidangnya. Hal ini melihat pada pengalaman pemateri yang pernah mengikuti MCC, baik internal mau pun nasional, serta menjuarainya.

Keesokan harinya setelah MCA berlangsung, kader KMFH yang masih bersemangat mengikuti MCC Internal mengikuti tes seleksi dalam dua tahap. Pertama, seleksi tertulis yang menguji pemahaman mereka terkait materi yang diberikan selama MCA. Kedua, seleksi wawancara untuk melihat potensi serta kepribadian kader. Seleksi ini penting untuk menyaring kader yang dinilai dapat berjuang bersama untuk mewakili KMFH meraih hasil yang optimal dalam PDFH IX. Selain pemilihan anggota delegasi, tahun ini Kak Dandi Septian bersedia melatih tim yang notabene merupakan mahasiswa tingkat pertama. Kak Dandi pernah mengikuti MCC internal serta beberapa MCC nasional dengan peran yang berbeda saat pemberkasan dan sidang. Atas pengalaman-pengalamannya tersebut, keahlian serta kompetensinya untuk bimbingan tim KMFH tidak diragukan lagi.

Kurang lebih 3 (tiga) bulan tim ditempa untuk mempersiapkan diri dengan tujuan menjuarai kompetisi. Sesi latihan dibagi menjadi dua tahap: tahap pemberkasan selama dua bulan lebih serta tahap latihan sidang selama 3 minggu. Walau memiliki corak latihan yang berbeda, namun keduanya tetap menguras waktu, tenaga, dan pikiran delegasi. Hal tersebut tentu tidak memadamkan semangat tim untuk melangkah sampai titik akhir. Dibalik kerja keras tersebut, ada dinamika suka dan duka yang tentu dirasa tiap anggota. Dari yang kehilangan sepeda saat sedang latihan di lain tempat hingga mendapat teman-teman baru dengan saling bahu-membahu.

Salah satu ciri khas dari delegasi KMFH, anggota tim tidak melulu ditempa dalam bidang MCC saja tetapi juga di tempa dalam ilmu Agama Islam sehingga nilai-nilai Islami tidak luput ditanamkan dalam diri para pejuang MCC Internal. Mereka dibiasakan untuk sholat berjamaah, membaca ayat suci Al-Qur’an di sela-sela latihan, serta saling mengingatkan untuk beramal dan berakhlak karimah. Sehingga tidak saja raga yang bekerja, namun jiwa juga mendapat asupan kesegaran agama.

Berbagai dukungan juga terus dikobarkan dalam berbagai cara oleh keder KMFH lain walau pun tidak tergabung dalam tim. Salah satu kader KMFH ada yang menulis di laman pribadinya menyatakan dukungan penuh apapun hasilnya nanti. Senior-senior KMFH beberapa kali berkunjung untuk memberi dukungan moral serta motivasi. Ada juga yang bersedia membagi ilmunya untuk meningkatkan hasil kerja tim. Dukungan materiil juga ditanggung bersama selama perlombaan ini.

myhomeHingga pada hari-H dimana semua pengorbanan dipertaruhkan, alhamdulillah bisa persidangan berjalan dengan lancar. Ketukan palu penutup sidang dipukul dalam golden time dengan menyisihkan alokasi waktu 2 detik. Urutan tampil pertama tidak menghalangi tim menampilkan persidangan sebaik mungkin. Sebelum seremoni penutupan PDFH IX di Gedung I, diadakan sholat maghrib dan isya berjamaah serta do’a bersama agar apa pun hasilnya, itu yang terbaik dan harus ikhlas menerimanya. Alhamdulillah pada tahun ini tim KMFH dapat mempertahankan gelar Penuntut Umum Terbaik serta dapat selangkah naik dan menyabet Juara III. Semoga tahun depan prestasi ini bisa ditingkatkan lagi dengan kerja keras delegasi dan dukungan dari barbagai pihak. MCC KMFH, Allahuakbar!

Di Balik Konflik Berdarah Suriah

Diskusi Suri

Diskusi Publik : Dibalik Konflik Berdarah di Suriah

Rabu 11 Mei 2016

Pada tanggal 11 Mei 2016 DPW KMFH bersama HMI Komisariat Hukum UGM menggelar diskusi publik yang bertemakan “Dibalik Konflik Berdarah di Suriah”. Pembicara pada hari itu adalah Mas Fajri sebagai dosen Hukum Internasional FH UGM, dan Perwakilan dari PPI Suriah. Diskusi ini dilakukan untuk mengulas konflik yang tengah berlangsung di Suriah khususnya yang menjadi sorotan publik adalah Kota Aleppo.

Pembicara pertama yaitu M. Najih Ramadhan, Lc mengatakan bahwa konflik Suriah dimulai sejak Maret 2011 banyak aktor-aktor dibalik konflik tersebut mulai dari aktor lokal, regional sampai Internasional. Sebelumnya Suriah merupakan negara sosialis, dekat dengan Ruia dan China. 20juta jiwa dengan mayoritas penduduk Sunni, 16% itu menganut agama lain, 13% menganut Syiah kata Ust. Eddy selaku pembicara kedua. Patut diketahui bahwa kedua pembicara ini pernah berada langsung di Suriah.

Sejak pertempuran Inflasi di Suriah sudah mencapai 500%, PPI Damaskus sudah melakukan upaya-upaya untuk membantu korban melalui organisasi bulan sabit merah/hilal ahmar dan menghimbau agar orang tidak salah dalam memberikan bantuan karena memberikan bantuan ke Suriah itu sulit dan juga tidak jarang jatuh di tangan yang tidak tepat. Pada dasarnya ini semua terjadi karena permasalahan politik yang sangat kompleks, kita harus dapat melihat konflik ini secara berimbang dari semua sisi. Lanjut pada pembicara ketiga Mas Fajri yang menekankan bahwa dalam Hukum Humaniter Internasional matinya orang sipil secara tidak sengaja itu lumrah tapi bukan sembrono, yang terjadi sekarang adalah tindakan yang sembrono seperti penggunaan bom sarin, bom birmil. Maka dari itu jelas perbuatan yang dilakukan pemerintah Suriah itu melanggar hukum perang.

Sesi tanya jawabpun dimulai salah seorang peserta diskusi bernama Uyun menanyakan jika media ditakutkan keobjektifannya maka seharusnya kita percaya terhadap media yang mana? Langsung dijawab oleh ketiga pembicara yang pada intinya semua sepakat bahwa dalam menggali informasi yang objektif haruslah melihat dari segala sisi, carilah sisi yang bertentangan dikumpulkan lalu bandingkan dengan survei lapangan agar mendapatkan informasi yang lebih akurat. Begitu banyak peserta yang ingin berdiskusi tetapi waktu sudah menunjukkan waktu adzan Maghrib oleh karena itu diskusi ini ditutup dan tidak lupa salah satu pembicara kami membagikan hadiah kepada peserta diskusi yang terlibat aktif dalam diskusi tadi.

 

Kabar Aleppo

[Kabar Aleppo]
Sedikitnya 200 orang telah meninggal dunia dan 1000 orang mengalami luka-luka. Beberapa tempat publik seperti Rumah sakit dan pasar menjadi sasaran perang hingga menewaskan warga sipil, anak-anak bahkan dokter sehingga membuat kota Aleppo krisis. Jelas tindakan tersebut menyalahi Hukum Humaniter Internasional. Berikut kami rangkumkan beberapa peristiwa yang telah terjadi

alep

#savealeppo
#aleppoberdarah
#maripedulialeppo

Diskusi dan Screening Film Suffragette

1461629801846

Diskusi dan Screening Film Suffragette

Sleman, 27 April 2016

Departemen Pengkajian dan Wacana Keluarga Muslim Fakultas Hukum mengadakan diskusi sekaligus screening film yang bertemakan “Feminisme”. Film tersebut mengangkat tentang perjuangan hak pilih bagi wanita karena di London pada tahun 1912 wanita tidak mempunyai hak pilih sebagaimana yang dimiliki oleh laki-laki hak mereka dianggap sudah diwakilkan oleh ayah, saudara laki-laki mereka dan suami mereka. Wanita juga dianggap tidak memiliki keseimbangan tempramen dan pikiran untuk melakukan penilaian dalam urusan politik. Kegiatan ini diadakan di ruang VII.2.2 Fakultas Hukum UGM mengundang elemen mahasiswa yang konsentrasi di bidang Hukum Internasional yaitu Fathimatush Sholihah.

Setelah film usai sesi diskusipun dilakukan semua peserta sangat berantusias. Diawali oleh kahfi yang menceritakan tentang Kartini sebagai pahlawan nasional lalu pemantik memulai pembicaraannya dengan membicarakan CEDAW/ICEDAW yaitu Internasional Convention on Elimination of All Forms of Discrimation Against Women) berisi sebuah kesepakatan Hak Asasi Internasional yang secara khusus mengatur hak-hak perempuan. Konvensi ini juga berisikan tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasinya.

Diskusipun berlanjut hingga membicarakan hak-hak wanita dalam Islam. Seorang peserta diskusi bernama Husni mengatakan bahwa dalam Q.S. An Nisa ayat 34-35 sudah diatur tentang kepemimpinan bagi kaum laki-laki, karena kaum laki-laki kodratnya sudah dilebihkan dari pada perempuan namun kaum laki-laki tidak boleh menekan dan merendahkan kaum perempuan. Hudaibi mengatakan bahwa Islam mengatur secara proporsional hak bagi perempuan dan hak bagi laki-laki jadi seharusnya sebagai muslim kita harus menghormati hak-hak perempuan dan tidak boleh melakukan diskriminasi terhadapnya.

Pada akhirnya diskusi ditutup dengan pemantik yang mengatakan benar bahwa Islam itu sudah sangat sempurna mengatur hak-hak perempuan dan hak-hak laki-laki tugas kita adalah menerapkan ajaran agama Islam tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terjadi diskriminasi terhadap kaum perempuan karena agama Islam adalah rahmatan lil alamin.

Islamophobia dalam Kehidupan

Benua Eropa dan negara Amerika merupakan daerah yang notabene penduduknya beragama non-islam. Sejak munculnya tragedi 911 muncul suatu ketakutan yang berlebihan terhadap umat islam sehingga sering disebut-sebut islam merupakan agama pembawa kehancuran dan tidak sesuai jika di terapkan dalam kehidupan baik di bidang sosial, politik, ekonomi. Banyak doktrin-doktrin di dunia untuk takut terhadap islam, bahkan baru-baru ini salah satu partai politik di german yaitu Alternative for Germany mempropagandakan bahwa mereka mendukung Islamophobia. “Islam is a political ideology that is not compatible with the German Constitution,” said AfD deputy leader Beatrix von Storch over the weekend. She went on to state that the AfD is in favor of banning minarets, burkas and mosque calls to prayer”.[1] Jelas terlihat bahwa ini merupakan propaganda agar menarik perhatian warga German untuk memilih partainya dalam pemilihan nanti. Partai ini mendukung pelarangan mengumandangkan adzan untuk sholat, ini sangat tidak mencerminkan kebebasan beragama di German.  Islam selalu menjadi bulan-bulanan ketika umat pemeluk agama Islam melakukan kesalahan terutama masalah teror, hal ini yang paling sering di kaitkan dengan islam. Padahal hal tersebut tidaklah pantas untuk dilakukan karena tidak semua orang yang beragama Islam menebarkan teror, di negaranya sendiri mayoritas muslim German hidup dalam damai dan tidak membuat kekacauan, entah kenapa partai ini mempropagandakan Islamophobia dalam kampanyenya. Semoga tidak banyak yang terpengaruh dengan politik murahan seperti ini.

Di Indonesia sendiri timbul anggapan bahwa orang yang berjenggot, memakai pakaian jubah, memakai celana kain dan membawa ransel besar sering di identikkan dengan teroris walaupun terkadang ini hanya lelucon saja, tapi tetap hal ini tidak baik jika dilakukan karena akan menimbulkan mindset bahwa yang berpenampilan seperti itu merupakan orang yang melakukan teror bahkan jika lebih ekstrim lagi orang yang sering ke masjid untuk melaksanakan ibadah dicurigai sebagai teroris. Propaganda Islamophobia telah berhasil merasuki masyarakat Indonesia, namun seharusnya kita menyikapinya dengan kepala dingin. Kita harus memberikan contoh perilaku umat Islam yang seharusnya seperti pada zaman Rasulullah SAW, karena Islam itu merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Namun kebencian akan Islam selalu menjadi-jadi banyak propaganda terus diluncurkan sehingga membentuk pemikiran bahwa Islam itu penebar teror dan radikal. Seharusnya kita sebagai orang muslim bisa berpikir jernih dan meneladani nilai-nilai Islam secara keseluruhan, jika tidak maka akan mudah diri kita untuk terombang-ambing mengikuti aliran yang tidak jelas.

Baru-baru ini Indonesia dikagetkan dengan ulah suatu detasemen khusus untuk menanggulangi teror yang selalu menangkap terduga teroris namun belum sempat masuk ke persidangan terduga tersebut sudah menyandang gelar almarhum/almarhumah. Mungkin ini salah satu hasil dari propaganda Islamophobia di negara kita.  Sikap kita sebagai muslim seharusnya mempelajari  terlebih dahulu kelegalan detasemen khusus tersebut, jangan hanya menyikapi dengan aksi penolakan terhadap detasemen tersebut, lakukanlah kajian yang lebih mendalam terlebih dahulu, kritisi Surat Keputusan Pembentukan detasemen tersebut, jangan sampai kita ikut-ikutan untuk melakukan aksi tapi tanpa paham akar permasalahannya, karena kebanyakan dari kita sekarang mengikuti aksi tapi tidak tahu permasalahannya sehingga hanya melakukan aksi buta saja, semoga kita semua tidak termasuk orang yang demikian. Betapa sudah mendarah dagingnya Islamophobia bahkan tidak untuk negara barat saja untuk lingkungan yang mayoritas orang yang beragama Islam pun masih saling curiga satu sama lain. Terakhir untuk menutup tulisan ini, sebagai seorang muslim saya mengajak kita semua untuk berkaca diri apakah kita sudah menjadi pribadi muslim yang baik? Apakah kita juga terpengaruh akan propaganda Islamophobia? Sudah seharusnya kita membuktikan bahwa Islam itu bukanlah agama yang menebarkan teror dimana-mana dimulai dengan berperilaku yang baik dan menerapkan nilai-nilai Islam di kehidupan sehari-hari kita seperti saling memberi, terbuka dalam pemikiran, dan meneladani Rasulullah SAW, dan jangan memecah belah di dalam umat muslim sendiri, hargailah perbedaan yang ada jangan mengutuk perbedaan dan menganggap diri kita paling benar. InsyaAllah pengaruh dari Islamophobia yang telah dipropagandakan oleh kaum yang tidak senang apabila Islam berjaya di muka bumi ini akan hilang dengan sendirinya.

 

 

Husni Muhammad F

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

[1] http://www.huffingtonpost.com/entry/germans-muslims-condemn-afd_us_57166eece4b0018f9cbb41ae, diakses pada 30 April 2016 pukul 7:35 WIB

Tokoh, Kaum Minoritas, dan Pemimpin Berkualitas

Tulisan ini ditujukan pada umat Muslim !!!

Pilkada terpenting di Indonesia masih satu tahun lagi, namun para cawagub dan parpol-parpol sudah bermanuver kemana-mana. Ajang pilkada ibukota paling disorot media ketika kaum minoritas, yang memiliki tokoh mempunya elektabilitas tinggi. Bukan bermaksud rasis, tapi ini realita yang ada, kaum minoritas punya suara. Pilkada mendapat perhatian dari banyak kalangan, sehingga pilkada terpenting ini terpublikasi secara luas diselingi propaganda media. Ini juga ajang bagi parpol untuk melebarkan sayapnya, kemudian mendukung orang-orang yang dianggap populis dan dapat menaikkan citra partai. Kelihatan memang manuver-manuver politik oleh para parpol, entah itu demi kemaslahatan masyarakat atau hanya sekedar mencari popularitas, demi Pemilu 2019.

Terdengar hingar bingar nama bakal calon gubernur, dan ada satu nama yang menyembul sendiri, yang punya elektabilitas tinggi dan tak terkalahkan. Peristiwa yang unik memang ketika kita lihat latar belakang tokoh tersebut yang merupakan seorang beretnis Tiong Hoa, yang merupakan kaum minoritas di Indonesia. Kenapa unik, yang pertama ia seorang minoritas di tengah ibukota yang plural namun konservatif, sulit bagi kaum minoritas untuk berpolitik disana, entah itu etnis Tiong Hoa, Arab, India, bahkan orang luar Jawa. Yang kedua adalah, masih sering kita temui sentiment-sentimen ketidak-suka-an terhadap etnis Tiong Hoa, namun tokoh tersebut tetap berhasil mengambil hati rakyat ibukota. Tokoh itu yang sekarang menjadi Plt Gubernur DKI Jakarta semenjak ditinggal kawan lamanya nyapres, dianggap seorang yang prestatif, tegas, dan solutif dalam menyelesaikan dinamika dan problematika ibukota yang kompleks. Padahal pendapat itu tidak sepenuhnya benar, hanya pandangan segelintir orang yang subjektif. Pelabelan-pelabelan ini merupakan peran penting dari media yang dengan gencar mempropagandakan kehebatan tokoh tersebut.

Namun, bagaimanapun populisnya orang, pasti ada saja yang mengusik ketenangannya untuk berkampanye ria. Pengusik itu kebanyakan berasal dari golongan Islam konservatif, paguyuban-paguyuban Betawi dan kaum-kaum marjinal. Golongan Islam konservatif seperti FPI dan kawan-kawan jelas menolak mentah-mentah tokoh itu sebagai pemimpin, mereka menolak kepemimpinan dari yang bukan penganut dari agama mereka, karena Islam pun mendoktrin penganutnya untuk memilih pemimpin seiman bukan pemimpin yang beda iman yang akan membawa ke-mudharat-an lebih banyak. Lalu kemudian paguyuban-paguyuban Betawi, mereka menganggap tokoh tersebut sudah mengusik ketenangan mereka dan mengusir mereka dari kampung-kampung mereka secara tak langsung, mereka lebih suka dengan orang Betawi asli yang kuat agamanya. Fenomena ini mengejutkan semua pihak memang. Seorang Tiong Hoa bisa menarik hati warga yang mayoritas Muslim dan Pribumi. Namun sebuah fakta yang memang tidak dapat dipungkiri, masyarakat sedang haus akan seorang pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi serta tegas terhadap semua problematika ibukota. Ketika datang seorang tokoh yang menawarkan konsep itu (anggapan media dan masyarakat) langsung disanjung semua kalangan. Namun anggapan hanyalah anggapan. peristiwa baik yang dilakukan oleh seorang tokoh tersebut yang dipublikasikan berulang-ulang akan dianggap sebagai indikator bahwa tokoh itu memang baik dan benar padahal tidak sedikit juga media yang menunjukkan kelemahan dari tokoh tersebut namun masyarakat suka mengesampingkan hal tersebut. Sebuah realita didalam masyarakat Indonesia.

Mari kita mengkritisi sikap masyarakat. Masyarakat ibukota mayoritas Muslim, mereka di doktrin untuk tidak memilih pemimpin yang beda iman. Doktrin ini sangat kuat, karena berasal dari Al-Qur’an yang diyakini sebagai kebenaran absolut dari Tuhan, dan penulis sendiri meyakini ini dengan mantap. Namun kenapa elektabilitas tokoh yang notabene non-Muslim menjulang tinggi, di media sosial misalkan yang berjilbab pun mengelu-elukan tokoh tersebut, bahkan salah satu penggerak komunitas dari tokoh tersebut adalah seorang wanita berhijab. Namun kita juga tidak bisa menyalahkan mereka, tokoh itu adalah seorang yang tegas lagi bijaksana, setelah menampilkan ketegasannya, keberaniannya, serta integritasnya, Cuma sayang dalam penyampaiannya tidak mencerminkan bahwa dia merupakan pemimpin. Kerap kali tokoh tersebut mengucapkan kata-kata kasar dalam menyampaikan ketegasannya, namun masyarakat lebih suka melihat pemimpin yang melakukan aksi konkrit dan mengesampingkan sifat individu dari para insan tersebut. Padahal sebagai muslim seharusnya jika meneladani sifat rasulullah SAW seharusnya pemimpin juga mempunyai sikap yang baik karena pemimpin tersebut akan menjadi tauladan bagi pengikutnya. Kita tidak bisa salahkan masyarakat yang begini. Rakyat sudah terlalu lama memimpikan pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi. Sehingga ketika ada tokoh yang muncul dengan popularitasnya di media, rakyat langsung terpana dan mudah di kendalikan opininya melalui media-media.

Masalah lainnya adalah krisis pemimpin dari kalangan umat Islam. Sangat banyak orang-orang yang berjiwa pemimpin dari kalangan Islam, namun tak mau muncul kepermukaan. Sangat disayangkan memang pemimpin dari kalangan Muslim yang berjiwa ksatria tidak maju dalam bursa calon pemimpin daerah Ibukota. Masalah lainnya (lagi) adalah, kurang dekatnya masyarakat dengan agama. Sosok pemuka agama dalam hal ini Ustad, kurang menghadirkan diri lagi kepada masyarakat awam. Masyarakat awam pun kurang berminat lagi pada pengajian-pengajian yang digelar dan walaupun hadir hanya sebatas hadir. Masyarakat modern sudah menerima mentah-mentah paham sekularisme, hingga agama pun tidak hadir lagi dalam hidupnya, sehingga apa yang dikatakan Tuhan dalam kitab suci-Nya pun tidak di-implementasi-kan lagi pada hidupnya. Tugas mereka yang paham agama kemudian menghadirkan lagi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam agama, namun ingat, harus dengan metode pendekatan yang preventif.

Terakhir (mungkin), mindset masyarakat yang sebagian besar sudah mulai terpengaruhi oleh media hingga mereka tak bisa memikirkan lagi mana haq dan mana yang bathil. Media berperan penting disini, mereka selalu meliput hasil kerja tokoh itu mulai dari normalisasi Kali Ciliwung hingga penertiban Kali Jodo. Bahkan ketika tokoh tersebut marah-marah pun, media membangun opini publik bahwa marah-marah itu sebuah simbol dari ketegasan. Sehingga seolah-olah tokoh itu tidak pernah salah, tegas, inovatif, solutif, inspiratif dan sebagainya. Yah walaupun saya sendiri belum pernah merasakan “hasil kerja tokoh itu”.

Memang walau mayoritas, Muslim tidak punya banyak kekuatan media yang pengaruhnya besar, walau sebagian besar pekerja media juga Muslim. Namun umat Muslim harus bergerak, jangan sampai dilangkahi orang-orang yang punya kepentingan. Jangan sampai Muslimin juga ditunggangi kepentingan belaka. Umat Muslim harus punya sosok baru yang mengatasnamakan Islam sebagai kebenaran hakiki. Harus ada yang mewakili suara-suara Muslim yang dapat memajukan Islam dan Indonesia. Caranya dengan menyadari bahwa kita harus kembali menghadirkan agama pada diri kita, agamawan menghadirkan dirinya pada khalayak ramai, bergerak maju dan bersatu-padu dalam merebut kemenangan. Maka dari itu seharusnya kaum muslimin sudah menyadari betapa peliknya permasalahan ini dan memahamkan masyarakat yang belum paham. Jadi intinya harus mulai dari diri kita sendiri untuk introspeksi diri apakah kita sudah menjadi manusia yang sepenuhnya telah menjalankan syariat Islam secara keseluruhan, sehingga menjadi pribadi yang baik. Kalau dari diri kita sendiri masih banyak kekurangan maka perbaikilah diri kita sendiri baru kita perbaiki orang lain. Sekian tulisan ini dibuat bertujuan untuk menyentuh hati dan menyadarkan orang muslim agar lebih berhati-hati dalam bertindak.

 

 

Kahfi Adlan Hafiz

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)