Di Balik Konflik Berdarah Suriah

Diskusi Suri

Diskusi Publik : Dibalik Konflik Berdarah di Suriah

Rabu 11 Mei 2016

Pada tanggal 11 Mei 2016 DPW KMFH bersama HMI Komisariat Hukum UGM menggelar diskusi publik yang bertemakan “Dibalik Konflik Berdarah di Suriah”. Pembicara pada hari itu adalah Mas Fajri sebagai dosen Hukum Internasional FH UGM, dan Perwakilan dari PPI Suriah. Diskusi ini dilakukan untuk mengulas konflik yang tengah berlangsung di Suriah khususnya yang menjadi sorotan publik adalah Kota Aleppo.

Pembicara pertama yaitu M. Najih Ramadhan, Lc mengatakan bahwa konflik Suriah dimulai sejak Maret 2011 banyak aktor-aktor dibalik konflik tersebut mulai dari aktor lokal, regional sampai Internasional. Sebelumnya Suriah merupakan negara sosialis, dekat dengan Ruia dan China. 20juta jiwa dengan mayoritas penduduk Sunni, 16% itu menganut agama lain, 13% menganut Syiah kata Ust. Eddy selaku pembicara kedua. Patut diketahui bahwa kedua pembicara ini pernah berada langsung di Suriah.

Sejak pertempuran Inflasi di Suriah sudah mencapai 500%, PPI Damaskus sudah melakukan upaya-upaya untuk membantu korban melalui organisasi bulan sabit merah/hilal ahmar dan menghimbau agar orang tidak salah dalam memberikan bantuan karena memberikan bantuan ke Suriah itu sulit dan juga tidak jarang jatuh di tangan yang tidak tepat. Pada dasarnya ini semua terjadi karena permasalahan politik yang sangat kompleks, kita harus dapat melihat konflik ini secara berimbang dari semua sisi. Lanjut pada pembicara ketiga Mas Fajri yang menekankan bahwa dalam Hukum Humaniter Internasional matinya orang sipil secara tidak sengaja itu lumrah tapi bukan sembrono, yang terjadi sekarang adalah tindakan yang sembrono seperti penggunaan bom sarin, bom birmil. Maka dari itu jelas perbuatan yang dilakukan pemerintah Suriah itu melanggar hukum perang.

Sesi tanya jawabpun dimulai salah seorang peserta diskusi bernama Uyun menanyakan jika media ditakutkan keobjektifannya maka seharusnya kita percaya terhadap media yang mana? Langsung dijawab oleh ketiga pembicara yang pada intinya semua sepakat bahwa dalam menggali informasi yang objektif haruslah melihat dari segala sisi, carilah sisi yang bertentangan dikumpulkan lalu bandingkan dengan survei lapangan agar mendapatkan informasi yang lebih akurat. Begitu banyak peserta yang ingin berdiskusi tetapi waktu sudah menunjukkan waktu adzan Maghrib oleh karena itu diskusi ini ditutup dan tidak lupa salah satu pembicara kami membagikan hadiah kepada peserta diskusi yang terlibat aktif dalam diskusi tadi.

 

Kabar Aleppo

[Kabar Aleppo]
Sedikitnya 200 orang telah meninggal dunia dan 1000 orang mengalami luka-luka. Beberapa tempat publik seperti Rumah sakit dan pasar menjadi sasaran perang hingga menewaskan warga sipil, anak-anak bahkan dokter sehingga membuat kota Aleppo krisis. Jelas tindakan tersebut menyalahi Hukum Humaniter Internasional. Berikut kami rangkumkan beberapa peristiwa yang telah terjadi

alep

#savealeppo
#aleppoberdarah
#maripedulialeppo

Diskusi dan Screening Film Suffragette

1461629801846

Diskusi dan Screening Film Suffragette

Sleman, 27 April 2016

Departemen Pengkajian dan Wacana Keluarga Muslim Fakultas Hukum mengadakan diskusi sekaligus screening film yang bertemakan “Feminisme”. Film tersebut mengangkat tentang perjuangan hak pilih bagi wanita karena di London pada tahun 1912 wanita tidak mempunyai hak pilih sebagaimana yang dimiliki oleh laki-laki hak mereka dianggap sudah diwakilkan oleh ayah, saudara laki-laki mereka dan suami mereka. Wanita juga dianggap tidak memiliki keseimbangan tempramen dan pikiran untuk melakukan penilaian dalam urusan politik. Kegiatan ini diadakan di ruang VII.2.2 Fakultas Hukum UGM mengundang elemen mahasiswa yang konsentrasi di bidang Hukum Internasional yaitu Fathimatush Sholihah.

Setelah film usai sesi diskusipun dilakukan semua peserta sangat berantusias. Diawali oleh kahfi yang menceritakan tentang Kartini sebagai pahlawan nasional lalu pemantik memulai pembicaraannya dengan membicarakan CEDAW/ICEDAW yaitu Internasional Convention on Elimination of All Forms of Discrimation Against Women) berisi sebuah kesepakatan Hak Asasi Internasional yang secara khusus mengatur hak-hak perempuan. Konvensi ini juga berisikan tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasinya.

Diskusipun berlanjut hingga membicarakan hak-hak wanita dalam Islam. Seorang peserta diskusi bernama Husni mengatakan bahwa dalam Q.S. An Nisa ayat 34-35 sudah diatur tentang kepemimpinan bagi kaum laki-laki, karena kaum laki-laki kodratnya sudah dilebihkan dari pada perempuan namun kaum laki-laki tidak boleh menekan dan merendahkan kaum perempuan. Hudaibi mengatakan bahwa Islam mengatur secara proporsional hak bagi perempuan dan hak bagi laki-laki jadi seharusnya sebagai muslim kita harus menghormati hak-hak perempuan dan tidak boleh melakukan diskriminasi terhadapnya.

Pada akhirnya diskusi ditutup dengan pemantik yang mengatakan benar bahwa Islam itu sudah sangat sempurna mengatur hak-hak perempuan dan hak-hak laki-laki tugas kita adalah menerapkan ajaran agama Islam tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terjadi diskriminasi terhadap kaum perempuan karena agama Islam adalah rahmatan lil alamin.

Islamophobia dalam Kehidupan

Benua Eropa dan negara Amerika merupakan daerah yang notabene penduduknya beragama non-islam. Sejak munculnya tragedi 911 muncul suatu ketakutan yang berlebihan terhadap umat islam sehingga sering disebut-sebut islam merupakan agama pembawa kehancuran dan tidak sesuai jika di terapkan dalam kehidupan baik di bidang sosial, politik, ekonomi. Banyak doktrin-doktrin di dunia untuk takut terhadap islam, bahkan baru-baru ini salah satu partai politik di german yaitu Alternative for Germany mempropagandakan bahwa mereka mendukung Islamophobia. “Islam is a political ideology that is not compatible with the German Constitution,” said AfD deputy leader Beatrix von Storch over the weekend. She went on to state that the AfD is in favor of banning minarets, burkas and mosque calls to prayer”.[1] Jelas terlihat bahwa ini merupakan propaganda agar menarik perhatian warga German untuk memilih partainya dalam pemilihan nanti. Partai ini mendukung pelarangan mengumandangkan adzan untuk sholat, ini sangat tidak mencerminkan kebebasan beragama di German.  Islam selalu menjadi bulan-bulanan ketika umat pemeluk agama Islam melakukan kesalahan terutama masalah teror, hal ini yang paling sering di kaitkan dengan islam. Padahal hal tersebut tidaklah pantas untuk dilakukan karena tidak semua orang yang beragama Islam menebarkan teror, di negaranya sendiri mayoritas muslim German hidup dalam damai dan tidak membuat kekacauan, entah kenapa partai ini mempropagandakan Islamophobia dalam kampanyenya. Semoga tidak banyak yang terpengaruh dengan politik murahan seperti ini.

Di Indonesia sendiri timbul anggapan bahwa orang yang berjenggot, memakai pakaian jubah, memakai celana kain dan membawa ransel besar sering di identikkan dengan teroris walaupun terkadang ini hanya lelucon saja, tapi tetap hal ini tidak baik jika dilakukan karena akan menimbulkan mindset bahwa yang berpenampilan seperti itu merupakan orang yang melakukan teror bahkan jika lebih ekstrim lagi orang yang sering ke masjid untuk melaksanakan ibadah dicurigai sebagai teroris. Propaganda Islamophobia telah berhasil merasuki masyarakat Indonesia, namun seharusnya kita menyikapinya dengan kepala dingin. Kita harus memberikan contoh perilaku umat Islam yang seharusnya seperti pada zaman Rasulullah SAW, karena Islam itu merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Namun kebencian akan Islam selalu menjadi-jadi banyak propaganda terus diluncurkan sehingga membentuk pemikiran bahwa Islam itu penebar teror dan radikal. Seharusnya kita sebagai orang muslim bisa berpikir jernih dan meneladani nilai-nilai Islam secara keseluruhan, jika tidak maka akan mudah diri kita untuk terombang-ambing mengikuti aliran yang tidak jelas.

Baru-baru ini Indonesia dikagetkan dengan ulah suatu detasemen khusus untuk menanggulangi teror yang selalu menangkap terduga teroris namun belum sempat masuk ke persidangan terduga tersebut sudah menyandang gelar almarhum/almarhumah. Mungkin ini salah satu hasil dari propaganda Islamophobia di negara kita.  Sikap kita sebagai muslim seharusnya mempelajari  terlebih dahulu kelegalan detasemen khusus tersebut, jangan hanya menyikapi dengan aksi penolakan terhadap detasemen tersebut, lakukanlah kajian yang lebih mendalam terlebih dahulu, kritisi Surat Keputusan Pembentukan detasemen tersebut, jangan sampai kita ikut-ikutan untuk melakukan aksi tapi tanpa paham akar permasalahannya, karena kebanyakan dari kita sekarang mengikuti aksi tapi tidak tahu permasalahannya sehingga hanya melakukan aksi buta saja, semoga kita semua tidak termasuk orang yang demikian. Betapa sudah mendarah dagingnya Islamophobia bahkan tidak untuk negara barat saja untuk lingkungan yang mayoritas orang yang beragama Islam pun masih saling curiga satu sama lain. Terakhir untuk menutup tulisan ini, sebagai seorang muslim saya mengajak kita semua untuk berkaca diri apakah kita sudah menjadi pribadi muslim yang baik? Apakah kita juga terpengaruh akan propaganda Islamophobia? Sudah seharusnya kita membuktikan bahwa Islam itu bukanlah agama yang menebarkan teror dimana-mana dimulai dengan berperilaku yang baik dan menerapkan nilai-nilai Islam di kehidupan sehari-hari kita seperti saling memberi, terbuka dalam pemikiran, dan meneladani Rasulullah SAW, dan jangan memecah belah di dalam umat muslim sendiri, hargailah perbedaan yang ada jangan mengutuk perbedaan dan menganggap diri kita paling benar. InsyaAllah pengaruh dari Islamophobia yang telah dipropagandakan oleh kaum yang tidak senang apabila Islam berjaya di muka bumi ini akan hilang dengan sendirinya.

 

 

Husni Muhammad F

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

[1] http://www.huffingtonpost.com/entry/germans-muslims-condemn-afd_us_57166eece4b0018f9cbb41ae, diakses pada 30 April 2016 pukul 7:35 WIB

Tokoh, Kaum Minoritas, dan Pemimpin Berkualitas

Tulisan ini ditujukan pada umat Muslim !!!

Pilkada terpenting di Indonesia masih satu tahun lagi, namun para cawagub dan parpol-parpol sudah bermanuver kemana-mana. Ajang pilkada ibukota paling disorot media ketika kaum minoritas, yang memiliki tokoh mempunya elektabilitas tinggi. Bukan bermaksud rasis, tapi ini realita yang ada, kaum minoritas punya suara. Pilkada mendapat perhatian dari banyak kalangan, sehingga pilkada terpenting ini terpublikasi secara luas diselingi propaganda media. Ini juga ajang bagi parpol untuk melebarkan sayapnya, kemudian mendukung orang-orang yang dianggap populis dan dapat menaikkan citra partai. Kelihatan memang manuver-manuver politik oleh para parpol, entah itu demi kemaslahatan masyarakat atau hanya sekedar mencari popularitas, demi Pemilu 2019.

Terdengar hingar bingar nama bakal calon gubernur, dan ada satu nama yang menyembul sendiri, yang punya elektabilitas tinggi dan tak terkalahkan. Peristiwa yang unik memang ketika kita lihat latar belakang tokoh tersebut yang merupakan seorang beretnis Tiong Hoa, yang merupakan kaum minoritas di Indonesia. Kenapa unik, yang pertama ia seorang minoritas di tengah ibukota yang plural namun konservatif, sulit bagi kaum minoritas untuk berpolitik disana, entah itu etnis Tiong Hoa, Arab, India, bahkan orang luar Jawa. Yang kedua adalah, masih sering kita temui sentiment-sentimen ketidak-suka-an terhadap etnis Tiong Hoa, namun tokoh tersebut tetap berhasil mengambil hati rakyat ibukota. Tokoh itu yang sekarang menjadi Plt Gubernur DKI Jakarta semenjak ditinggal kawan lamanya nyapres, dianggap seorang yang prestatif, tegas, dan solutif dalam menyelesaikan dinamika dan problematika ibukota yang kompleks. Padahal pendapat itu tidak sepenuhnya benar, hanya pandangan segelintir orang yang subjektif. Pelabelan-pelabelan ini merupakan peran penting dari media yang dengan gencar mempropagandakan kehebatan tokoh tersebut.

Namun, bagaimanapun populisnya orang, pasti ada saja yang mengusik ketenangannya untuk berkampanye ria. Pengusik itu kebanyakan berasal dari golongan Islam konservatif, paguyuban-paguyuban Betawi dan kaum-kaum marjinal. Golongan Islam konservatif seperti FPI dan kawan-kawan jelas menolak mentah-mentah tokoh itu sebagai pemimpin, mereka menolak kepemimpinan dari yang bukan penganut dari agama mereka, karena Islam pun mendoktrin penganutnya untuk memilih pemimpin seiman bukan pemimpin yang beda iman yang akan membawa ke-mudharat-an lebih banyak. Lalu kemudian paguyuban-paguyuban Betawi, mereka menganggap tokoh tersebut sudah mengusik ketenangan mereka dan mengusir mereka dari kampung-kampung mereka secara tak langsung, mereka lebih suka dengan orang Betawi asli yang kuat agamanya. Fenomena ini mengejutkan semua pihak memang. Seorang Tiong Hoa bisa menarik hati warga yang mayoritas Muslim dan Pribumi. Namun sebuah fakta yang memang tidak dapat dipungkiri, masyarakat sedang haus akan seorang pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi serta tegas terhadap semua problematika ibukota. Ketika datang seorang tokoh yang menawarkan konsep itu (anggapan media dan masyarakat) langsung disanjung semua kalangan. Namun anggapan hanyalah anggapan. peristiwa baik yang dilakukan oleh seorang tokoh tersebut yang dipublikasikan berulang-ulang akan dianggap sebagai indikator bahwa tokoh itu memang baik dan benar padahal tidak sedikit juga media yang menunjukkan kelemahan dari tokoh tersebut namun masyarakat suka mengesampingkan hal tersebut. Sebuah realita didalam masyarakat Indonesia.

Mari kita mengkritisi sikap masyarakat. Masyarakat ibukota mayoritas Muslim, mereka di doktrin untuk tidak memilih pemimpin yang beda iman. Doktrin ini sangat kuat, karena berasal dari Al-Qur’an yang diyakini sebagai kebenaran absolut dari Tuhan, dan penulis sendiri meyakini ini dengan mantap. Namun kenapa elektabilitas tokoh yang notabene non-Muslim menjulang tinggi, di media sosial misalkan yang berjilbab pun mengelu-elukan tokoh tersebut, bahkan salah satu penggerak komunitas dari tokoh tersebut adalah seorang wanita berhijab. Namun kita juga tidak bisa menyalahkan mereka, tokoh itu adalah seorang yang tegas lagi bijaksana, setelah menampilkan ketegasannya, keberaniannya, serta integritasnya, Cuma sayang dalam penyampaiannya tidak mencerminkan bahwa dia merupakan pemimpin. Kerap kali tokoh tersebut mengucapkan kata-kata kasar dalam menyampaikan ketegasannya, namun masyarakat lebih suka melihat pemimpin yang melakukan aksi konkrit dan mengesampingkan sifat individu dari para insan tersebut. Padahal sebagai muslim seharusnya jika meneladani sifat rasulullah SAW seharusnya pemimpin juga mempunyai sikap yang baik karena pemimpin tersebut akan menjadi tauladan bagi pengikutnya. Kita tidak bisa salahkan masyarakat yang begini. Rakyat sudah terlalu lama memimpikan pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi. Sehingga ketika ada tokoh yang muncul dengan popularitasnya di media, rakyat langsung terpana dan mudah di kendalikan opininya melalui media-media.

Masalah lainnya adalah krisis pemimpin dari kalangan umat Islam. Sangat banyak orang-orang yang berjiwa pemimpin dari kalangan Islam, namun tak mau muncul kepermukaan. Sangat disayangkan memang pemimpin dari kalangan Muslim yang berjiwa ksatria tidak maju dalam bursa calon pemimpin daerah Ibukota. Masalah lainnya (lagi) adalah, kurang dekatnya masyarakat dengan agama. Sosok pemuka agama dalam hal ini Ustad, kurang menghadirkan diri lagi kepada masyarakat awam. Masyarakat awam pun kurang berminat lagi pada pengajian-pengajian yang digelar dan walaupun hadir hanya sebatas hadir. Masyarakat modern sudah menerima mentah-mentah paham sekularisme, hingga agama pun tidak hadir lagi dalam hidupnya, sehingga apa yang dikatakan Tuhan dalam kitab suci-Nya pun tidak di-implementasi-kan lagi pada hidupnya. Tugas mereka yang paham agama kemudian menghadirkan lagi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam agama, namun ingat, harus dengan metode pendekatan yang preventif.

Terakhir (mungkin), mindset masyarakat yang sebagian besar sudah mulai terpengaruhi oleh media hingga mereka tak bisa memikirkan lagi mana haq dan mana yang bathil. Media berperan penting disini, mereka selalu meliput hasil kerja tokoh itu mulai dari normalisasi Kali Ciliwung hingga penertiban Kali Jodo. Bahkan ketika tokoh tersebut marah-marah pun, media membangun opini publik bahwa marah-marah itu sebuah simbol dari ketegasan. Sehingga seolah-olah tokoh itu tidak pernah salah, tegas, inovatif, solutif, inspiratif dan sebagainya. Yah walaupun saya sendiri belum pernah merasakan “hasil kerja tokoh itu”.

Memang walau mayoritas, Muslim tidak punya banyak kekuatan media yang pengaruhnya besar, walau sebagian besar pekerja media juga Muslim. Namun umat Muslim harus bergerak, jangan sampai dilangkahi orang-orang yang punya kepentingan. Jangan sampai Muslimin juga ditunggangi kepentingan belaka. Umat Muslim harus punya sosok baru yang mengatasnamakan Islam sebagai kebenaran hakiki. Harus ada yang mewakili suara-suara Muslim yang dapat memajukan Islam dan Indonesia. Caranya dengan menyadari bahwa kita harus kembali menghadirkan agama pada diri kita, agamawan menghadirkan dirinya pada khalayak ramai, bergerak maju dan bersatu-padu dalam merebut kemenangan. Maka dari itu seharusnya kaum muslimin sudah menyadari betapa peliknya permasalahan ini dan memahamkan masyarakat yang belum paham. Jadi intinya harus mulai dari diri kita sendiri untuk introspeksi diri apakah kita sudah menjadi manusia yang sepenuhnya telah menjalankan syariat Islam secara keseluruhan, sehingga menjadi pribadi yang baik. Kalau dari diri kita sendiri masih banyak kekurangan maka perbaikilah diri kita sendiri baru kita perbaiki orang lain. Sekian tulisan ini dibuat bertujuan untuk menyentuh hati dan menyadarkan orang muslim agar lebih berhati-hati dalam bertindak.

 

 

Kahfi Adlan Hafiz

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

Darurat LGBT dan Peran Lembaga Dakwah Mahasiswa dalam Menanganinya

Darurat LGBT dan Peran Lembaga Dakwah Mahasiswa dalam Menanganinya

 

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) merupakan suatu istilah bagi kelompok tertentu yang memiliki orientasi seksual berbeda pada umumnya. Dimulai dari sejarahnya gejala sosial ini muncul di masyarakat dalam lingkup kecil dan terpisah, hingga saat ini muncul persoalan Gerakan LGBT yang di dukung materil dan moril dari UNDP dan USAID, realita ini terdapat pada laporan yang dilansir oleh situs resmi UNDP (United Nations Development Programme) setebal 85 halaman yang berjudul “Hidup sebagai LGBT di Asia: Laporan Nasional Indonesia”. Pada sampulnya, terdapat logo United States Agency International Development (USAID) dan UNDP. Secara keseluruhan, laporan ini merupakan hasil dokumentasi dan presentasi dari acara Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia, yang digelar pada 13-14 Juni 2013 di Bali.

Berbicara tentang LGBT ini memang tidak ada habisnya dimulai dari sejarah sudah mengakar sampai persoalan organisasi – organisasi penggerak LGBT yang di dukung dana dari UNDP dan USAID. Jika dilihat dalam perkembangannya yang terjadi sekarang ini adalah banyaknya kasus mencuat ke publik adalah pelaku LGBT ini merasa ada perlakuan diskriminasi terhadap mereka dalam bermasyarakat di Indonesia, salah satu contohnya mereka mendapat perlakuan yang tidak hormat, dikucilkan, tidak mendapatkan pekerjaan. Ini merupakan suatu bentuk penolakan dari masyarakat terhadap sesuatu ideologi yang tidak pantas untuk diterapkan di Indonesia, masyarakat secara otomatis akan melakukan suatu bentuk penolakan apabila hal tersebut tidaklah sesuai dengan kepribadian Indonesia namun hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena Indonesia ini merupakan negara hukum dan tindakan main hakim sendiri pada asasnya tidaklah diperbolehkan. Bentuk penolakan ini muncul ketika adanya stigma negatif terhadap pelaku LGBT padahal sebenarnya pelaku LGBT juga memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik, tetapi yang terjadi sekarang adalah kerap kali para aktivis LGBT itu mendesak pemerintah untuk melegalkan perkawinan sejenis dengan dalih HAM dan Demokrasi. Hal inilah yang harus diperhatikan, di Indonesia sendiri sudah terbentuk Undang-undang Perkawinan yaitu UU No. 1 Tahun 1974. Dalam Pasal 1 UU Perkawinan sudah sangat jelas bahwa perkawinan dianggap sah apabila dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita. Maka dari itu jelaslah apabila perkawinan sejenis tidak di legalkan di Indonesia karena aturannya sudah jelas dan juga aturan tersebut mempertimbangkan norma agama serta norma sosial yang berlaku dan berkembang di Indonesia. Secara budaya di Indonesia juga tidak mengenal adanya istilah LGBT ini makanya sudah sepantasnya apabila pernikahan sejenis tidak dilegalkan.

Ketika dipandang dalam Agama Islam dalam sejarahnya sudah terjadi pada kaum Nabi Luth AS yakni kaum sodom yang mana berkelakuan suka sesama jenis maka pada zaman itu  kaum tersebut di azab dengan cara yang seperti telah terdapat dalam QS. Al-Hijr 73-75 (Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit, maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan). Jadi telah jelas bahwa dalam Agama Islam LGBT itu dilarang bahkan termasuk salah satu dosa besar dan akan diazab dengan pedih. Maka dari itu perlulah kita sebagai Lembaga Dakwah Mahasiswa mampu mengedukasi masyarakat yang awam terhadap fenomena ini agar tidak terjadi hal yang sama pada kaum Nabi Luth AS, namun jangan dikesampingkan juga perihal hak-hak asasi manusia karena Agama Islam sangat menghormati hak tersebut terbukti dengan adanya Piagam Madinah yang menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban bagi kaum Muslim dan kaum Yahudi.

Pada dasarnya dalam Hukum Internasional sendiri tidak ada yang menyebut hak-hak LGBT secara spesifik. Namun ada : 1) pemberian hak kepada semua orang; 2) larangan diskriminasi kepada siapapun. Tetapi banyak terjadi persekusi terhadap kaum LGBT, misal kaum LGBT disiksa dan hal ini sangat di sesalkan oleh hukum Internasional begitu pula dengan PBB, namun yang menjadi titik toleransi di sini adalah sama yaitu tidak membolehkan adanya diskriminasi terhadap kaum LGBT. Maka dari itu sinergitas antara pemerintah, akademisi dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menindaklanjuti secara tegas terhadap pelaku-pelaku LGBT yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh Undang-undang seperti melakukan tindakan kekerasan seksual atau melakukan tindakan seksual ke anak di bawah umur. Perlu juga adanya sosialisasi dari pemerintah sendiri bahwa main hakim sendiri dan melakukan diskriminasi ke kaum LGBT tidaklah diperbolehkan tetapi kaum LGBT harusnya diberi bimbingan yang lebih mendalam perihal agama. Dalam menangani kasus ini maka diperlukan sinergitas antara pemerintah, akademisi dan masyarakat sehingga hal-hal yang serupa tidak terulang kembali karena akan sangat merugikan korban apalagi yang masih di bawah umur.

 

Sampailah kepada titik ini bahwa harus ada suatu sikap terhadap gejala sosial ini, bentuk pernyataan sikap dari kami Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM melalui Departemen Pengkajian dan Wacana menyatakan bahwa:

  1. Sesuai dengan syariat Agama Islam kami menolak adanya LGBT
  2. Sebagai LDF, kita akan melakukan pendekatan secara keilmuan dan kultural untuk membuat masyarakat lebih paham tentang Ilmu Agama dalam menangani permasalahan ini
  3. Mengajak para orang tua untuk melakukan penanaman nilai Islam di keluarga dengan baik
  4. Mendorong pemerintah untuk melakukan program dialogis antara semua pihak berwenang dan elemen terkait agar tercipta kepastian dalam menangani permasalahan ini
  5. Mengajak kerjasama seluruh elemen Lembaga Dakwah di UGM untuk melakukan sikap yang solutif berupa pemahaman kaidah Islam dan akademis dalam menyelesaikan permasalahan ini yang tepat dan berkelanjutan.

Demikianlah hasil dari kegiatan diskusi Internal dan Eksternal yang telah dilakukan oleh Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM pada tanggal 17 Maret 2016 di Selasar Gedung 1 FH UGM.

 

Jihad dan Nasionalisme

Jihad dan Nasionalisme

Sleman, 10 November 2015

Departemen Syiar dan Takmir (DST) dan Departemen Pengkajian dan Wacana (DPW) Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (KMFH UGM) mengadakan diskusi yang bertepatan pada Hari Pahlawan dengan tema “Semangat Jihad”. Tema tersebut dikaitkan dengan pertempuran yang pernah terjadi di Surabaya. Diskusi yang diadakan di Selasar Gedung I Fakultas Hukum tersebut mendatangkan dua pembicara, yakni Wing Wicaksono dan Ghifari Yuristriadhi serta dimoderatori oleh Ahmad Insani Andalas (mahasiswa Fakultas Hukum 2015).

Mayoritas masyarakat awam beranggapan bahwa jihad selalu berkaitan dengan perang. Namun, hal tersebut diluruskan oleh Wing Wicaksono, S.S, selaku pembicara pertama yang menyampaikan bahwa Jihad tidak selalu dikaitkan dengan pedang, perang, dan pertumpahan darah. Jihad dapat juga diartikan sebagai perilaku sungguh-sungguh dalam melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena sifat dari jihad itu sendiri yaitu lahiriah. Beliau menambahkan bahwa jihad dapat dilakukan dengan berbagai cara, oleh siapapun, baik yang sudah baligh maupun belum baligh. Bagi yang sudah baligh, dapat dilakukan dengan berbagai hal seperti jihad mata (menjaga pandangan), mengorbankan sesuatu untuk kepentingan agama, menahan nafsu, dan juga menutup aurat bagi kaum perempuan.

Selain untuk agama, Jihad juga dapat dilakukan untuk membela negara, seperti yang pernah dilakukan oleh para santri di Surabaya yang dikomandoi oleh K.H. Hasyim Ashari selaku ketua Nahdlatul Ulama (NU) pada masa itu. Peristiwa lain misalnya terjadinya Perang Sabil di Aceh, saat itu terdapat banyak mantra atau syair-syair penyemangat yang dapat menggerakkan seseorang untuk benar-benar berjihad, bahkan dapat diibaratkan seorang wanita hamil 8 bulan pun berani mengambil rencong untuk membunuh tentara Belanda.

Untuk menghargai peran para santri dalam membela negara oleh pemerintah mulai tahun 2015 pada tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan peristiwa Resolusi Jihad dan jatuhnya bulan Muharram sebagai Syahrullah atau bulan Allah dimana pada bulan tersebut pembunuhan dan peperangan diharamkan. Hal itu dijabarkan oleh Ghifari Yuristriadhi, S. Hum., M.Hum., selaku pembicara kedua.

Jadi, Jihad tidak selalu identik dengan fanatik agama dan peperangan, tetapi juga dapat diperuntukkan sebagai salah satu sikap bela negara dan menciptakan perdamaian sebagaimana yang dikatakan oleh Jenderal Soedirman, “Cinta perdamaian tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Dan keislaman dapat bersanding dengan nasionalisme.

Sekolah Debat Oktober 2015

Departemen Pengkajian dan Wacana (DPW) Keluarga Muslim Fakultas Hukum (KMFH) UGM kembali mengadakan sekolah debat pada hari Kamis, 29 Oktober 2015. Acara yang bertempat di ruang 5.3.1 Fakultas Hukum (FH) UGM disambut dengan baik oleh para peserta yang terdiri dari mahasiswa FH UGM angkatan 2013-2015. Kahfi (mahasiswa FH UGM 2015) membuka acara tersebut dengan memberikan beberapa patah kata pembuka. Kemudian, acara dimulai dengan penyampaian materi oleh Suryana Yogaswara, S.H.

“Ada berapa balok di dalam gambar tersebut?”, menjadi pertanyaan pembuka sebelum Suryana Yogaswara mengisi materi.

Picture1 sekolah debat

Beragam jawaban muncul dari peserta. Ada yang mengatakan dua balok, satu balok serta ada yang setuju bahwa balok di gambar tersebut ada tiga dan empat. Suryana Yogaswara menegaskan bahwa pertanyaan tersebut bukanlah permasalahan benar atau salah melainkan persoalan mengenai fakta/dasar dari pendapat para peserta. Melalui pertanyaan tersebut, Suryana Yogaswara ingin menunjukkan pentingnya fakta/dasar dalam suatu debat.

Setelah pertanyaan pembuka tersebut, Suryana Yogaswara menyampaikan materi Sekolah Debat.

Materi Sekolah Debat

Acara Sekolah Debat berlangsung begitu santai, ringan, tetapi berbobot. Meskipun matahari beranjak berwarna oranye, para peserta tetap antusias mendengarkan pemateri. Tanpa terasa Sekolah Debat pun berakhir pada pukul 17.30 dan ditutup dengan sesi tanya-jawab serta penutup oleh Kahfi selaku penanggung jawab acara Sekolah Debat.