Diskusi Umum Usulan Kenaikan Dana Bantuan Pemerintah Untuk Parpol Naik 50%

103379

Departemen Pengkajian dan Wacana KMFH UGM bersama BPPM MAHKAMAH FH UGM bekerja sama dalam menggelar diskusi dengan tema “Usulan Kenaikan Dana Bantuan Pemerintah untuk Partai Politik Sebesar 50 Kali Lipat” pada diskusi kali ini mengundang pembicara bernama Luthfi Dwi Hartono seorang mahasiswa FH UGM yang mengambil konsentrasi Hukum Tata Negara, diskusi tersebut dilaksanakan pada 27 Oktober 2016. Beliau mengatakan bahwa Partai Politik memiliki tiga sumber keuangan yaitu iuran anggota, sumber yang sah, dan bantuan pemerintah sebesar 658 Miliar pertahun untuk semua parpol. Bantuan keuangan tersebut hanya mencakup pendidikan politik dan operasional kesekretariatan, tidak ada biaya kampanye. Dia mengatakan bahwa bantuan yang naik sebesar 50% tidaklah masalah karena memang uang tersebut seharusnya digunakan untuk pendidikan politik pada masyarakat yang salah adalah ketika parpol tidak menggunakan uang tersebut sebagai mana mestinya. Dapat pula dilihat dari berbagai faktor untuk menentukan keuangan bukan semata-mata karena ekonomi saja tapi dilihat juga faktor sosial dan politik.

 

Pada sesi tanya jawab ada peserta yang melontarkan pertanyaan mengenai dana bantuan tersebut haruskah dihapuskan atau tidak, namun beliau menjawab bahwa tidak ada yang salah dengan dana bantuan karena mekanisme dan regulasinya sudah jelas yang menjadi masalah adalah sanksinya,Selain itu masalah iuran keuangan dan sumbangan tidak ada regulasinya. Mengenai 50 kali lipatnya (658 miliar) tidak menjadi masalah, karena sesungguhnya APBN adalah 2000 Triliyun yang mana hal itu masih sangat bijak jika menaikkan dana bantuan untuk parpol.

 

Pada akhirnya karena waktu telah semakin sore, diskusi itupun ditutup dengan moderator sekaligus penjelasan singkat selama diskusi berlangsung dan para peserta akhirnya mendapatkan pandangan baru mengenai isu tersebut sehingga bisa menarik kesimpulan masing-masing.

[RILIS RESMI DISKUSI TERBUKA BERSAMA KMFH UGM DENGAN TEMA “KASUS AHOK DAN AL MAIDAH: 51 TINJAUAN DARI SISI TAFSIR AL-QURAN DAN HUKUM]

Tepat pada tanggal 18 Oktober 2016 DPW KMFH UGM bersama DST KMFH UGM menggelar diskusi terbuka yang bertemakan “Kasus Ahok dan Al Maidah: 51 Tinjauan dari Sisi Tafsir Al Quran dan Hukum” yang dimoderatori oleh Jatmiko Wirawan. Diskusi tersebut diselenggarakan di Fakultas Hukum UGM tepatnya di ruang 5.3.1 FH UGM. Pembicara pada diskusi kali ini yaitu : Ustad Ismail selaku pembicara pertama memaparkan materi mengenai tafsir Surat Al-Maidah ayat 51 serta Sejarah Islam. Beliau mengatakan bahwa ada orang yang berpandangan bahwa dulu pada zaman nabi Muhammad SAW ada pemimpin yang berasal dari kalangan kafir beliau menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena pada saat itu nabi Muhammad SAW belum diangkat menjadi nabi dan setelah menjadi nabi pun belum banyak yang menganut agama Islam di Mekkah oleh karena itu nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, setelah di Madinah barulah ajaran Islam diterima dan banyak pengikutnya sampai muncul masyarakat yang mayoritas Islam. Jadi Pada saat itu barulah bermunculan pemimpin yang beragama Islam. Surat Al Maidah ayat 51 ini baru diturunkan di Madinah pada setelah munculnya masyarakat muslim, jadi alasan bahwa pada sejarahnya tadi tidak bisa dipakai untuk alasan memilih pemimpin non muslim(kafir). Begitu pula pada masa khalifah Umar yang pada saat itu Abu Musa selaku Gubernur Basrah yang kurang pandai dalam hal tulis menulis dan mengangkat sekretaris dari kalangan non muslim karena orang tersebut pandai dalam hal tulis menulis, begitu tiba saat melaporkan laporannya Umar menyuruh Abu Musa untuk mendatangkan Sekretaris yang diangkatnya untuk melaporkan laporannya di dalam mimbar Masjid, lalu Abu Musa mengatakan bahwa sekretarisnya tidak bisa memasuki Masjid dan Umar bertanya apakah dia sedang Junub? Jawab Abu Musa tidak, dia bukan orang yang beragama Islam. Mendengar perkataan tersebut Umar langsung memerintahkan Abu Musa untuk mencopotnya dan mengganti dengan orang yang beragama Islam sebab alasan tersebut tidak bisa diterima untuk memilih orang non muslim untuk mengurus urusan negara. Jadi kisah ini menyatakan bahwa umat Islam dilarang untuk menyerahkan urusan negara kepada seorang non muslim, baik itu pemimpin maupun jabatan struktural lainnya.

Kemudian ustad Ismail menjelaskan bahwa tafsir dari Surat Al Maidah ayat 51 itu tidak boleh menjadikan pemimpin orang (selain Islam) dan juga sudah terjadi pada saat Khalifah Umar, lalu ustad Ismail mengatakan bahwa tidak boleh sembarangan menafsirkan, yang harus diperhatikan dalam menafsirkan Al Quran itu harus menguasai 15 cabang ilmu sehingga jika ada orang yang tidak ahli dalam menafsirkan Al Quran itu kalau tafsirannya benar maka dia dapat dosa 1 kalau salah dapat dosa 2, salah satu cara dalam menafsirkan Al Quran itu harus dilihat secara keseluruhan jadi setiap ayat dalam Al Quran itu berkaitan satu sama lainnya tidak boleh terpaku pada satu ayat saja.

Diskusi dilanjut dengan pembicara kedua yaitu pak Sigid Riyanto, S.H., M.Si. yang memaparkan kasus Ahok dalam perspektif hukum pidana khususnya pasal terkait yaitu Pasal 156a ayat (1) dan Pasal 4 Undang-undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Berikut bunyi Pasal 156a ayat 1 KUHP “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. Beliau mengatakan Pasal 156a ayat (1) KUHP merupakan delik formil dan selanjutnya beliau mengurai unsur delik Pasal 156a ayat (1) KUHP menjadi:

Unsur Subjektif: barang siapa dengan sengaja

Unsur Objektif:

  1. Dimuka umum
  2. Mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan
  3. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia

Lalu beliau menerangkan bahwa unsur barang siapa itu menunjuk orang atau subyek dalam perkara tersebut telah dilakukan oleh seseorang (jelas ada pelakunya), sedangkan unsur dengan sengaja bahwa diri pelaku secara psikis menyadari atas segala perbuatan yang dilakukan dalam perkara in casu pembuat pernyataan adalah sehat secara rohani dan sedang melaksanakan tugas. Artinya bahwa yang bersangkutan memiliki kecakapan, pada perkara tersebut dalam keadaan sehat ketika melakukan hal tersebut, unsur tersebut telah terpenuhi. Lalu beliau menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam persoalan in casu sedang memberikan sambutan sebagai Gubernur dalam acara kedinasan dan pelaku menyadari dan/atau mengharapkan akan ada akibat yang diinginkan dari beberapa pernyataan yang dikemukakan oleh pelaku, maka yang bersangkutan ada keinginan untuk dipilih menjadi Gubernur meskipun para pemilih tidak seagama dengan oknum unsur tersebut telah terpenuhi.

 

Pada unsur dimuka umum telah terpenuh karena pelaku melakukan hal tersebut di depan umum, pelaku juga memenuhi unsur mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, dalam perkara in casu pelaku menyatakan bahwa “Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu” hal ini bermakna bahwa ada orang atau pihak tertentu seperti ustad atau kyai yang membohongi atau membuat bohong padahal dalam agama Islam, ustad atau kyai merupakan orang yang sangat dihormati, sedangkan unsur penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia agama diakui di Indonesia berdasarkan penjelasan Pasal 1 UU PNPS Tahun 1965 di Indonesia ada 6 agama yang diakui, salah satunya adalah Agama Islam, diama surat Al Maidah ayat 51 memberikan pedoman cara memilih pimpinan maka kalau disebut “dibohongi” oleh surat tersebut maka merupakan perbuatan yang menodai keyakinan umat Islam. Oleh karena itu dalam perkara in casu sudah terbukti dan sudah seharusnya hukum ditegakkan hanya saja tergantung bagaimana penegakan dari para penegak hukum itu sendiri.

 

Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, Pertanyaan pertama dari Arvel yang menyatakan bahwa dalam teori Filsafat Hukum, pemimpin dibagi menjadi ulama dan umara. Apakah masih relevan konteks pemimpin yang dikualifikasikan dalam Surat Al Maidah ayat 51, di keadaan yang sekarang dimana Indonesia merupakan negara besar dan Islam sudah semakin luas. Apakah umara dan ulama bisa saling bersanding dalam melaksanakan tugasnya?

Jawaban dari Ustad Ismail yaitu pada zaman Rasulullah dan sesudahnya (khalifah), yang dipilih adalah orang-orang alim sehingga beliau dapat melaksanakan tugas kepemimpinan sesuai dengan perintah Allah SWT. Pada saat itu, kategori ulama dan umara tergabung dalam satu orang, sehingga memang benar-benar orang yang alim dan ahli.

Contoh : ketika ada orang yang tidak membayar zakat atau melakukan perbuatan pidana, maka itu menjadi urusan negara.

Berbeda dengan sekarang, karena Indonesia tidak menerapkan Hukum Islam. Apabila diterapkan maka yang terjadi adalah kejanggalan-kejanggalan. Bukan masalah relevan atau tidak relevan, karena hukum dalam Al Qur’an akan selalu relevan. Maka yang dapat dilakukan adalah menaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya Surat Al Maidah ayat 51 tetap relevan untuk dijalankan, namun harus memperbaiki dari segi kualitas keislaman orang-orang Islam di Indonesia. Permasalahan yang terbesar ada dalam kualitas diri orang-orang Islam tersebut, apakah sudah mematuhi ajaran agama sesuai dengan seharusnya atau belum. Menurut Islam (Surat Al Maidah ayat 51 dan ayat 78), tidak akan menjadikan Yahudi/Nasrani sebagai pemimpin. Jadi menurut Islam, pemimpin haruslah seorang mukmin.

 

Pertanyaan selanjutnya dari Jovi, yang pada intinya menanyakan seperti apa sosok Nabi Isa AS atau Yesus Kristus dalam Islam? Bagaimana Islam memandang kafir? Apakah adil ketika memang Pasal 156a ayat (1) dikatakan sebagai delik formil? Karena menurut dirinya Pasal tersebut merupakan delik materil dan harus dibuktikan alat bukti mengenai hal tersebut.

Jawaban dari ustad Ismail

  1. Nabi Isa adalah seorang manusia dan hamba Allah SWT. Nabi Isa berasal dari kaum nasrani yang artinya (menolong). Dalam hal ini menolong yang dimaksudkan adalah menolong dalam mendakwahkan agama Allah. Dalam Islam Nabi Isa adalah seorang Nabi, hamba Allah SWT dan bukan merupakan ruh Tuhan. Namun Nabi Isa adalah ruh yang diistimewakan karena terlahir dengan tidak memiliki ayah, Nabi Isa AS memiliki tugas yang sama dengan Nabi yang lain, yaitu memperjuangkan agama Allah dan kaum Nabi Isa AS disebut Kaum Nasrani (orang-orang yang menjadi penolong Nabi Isa dalam perjuangan dakwahnya)
  2. Kafir adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan tidak mengikuti perintah Allah SWT. Walaupun dia mengaku beriman kepada Allah SWT, tetapi apa yang dilakukannya tidak sejalan dengan perintah Allah SWT dan syariat Rasulullah SAW, maka dia termasuk orang yang kafir.

Jawaban dari pak Sigid

  1. Pompei menjelaskan niat berbeda dengan kesengajaan. Niat merupakan unsur subyektif sehingga tidak dapat diobjektifkan, yang mengetahui niat adalah orang yang berniat itu sendiri dan Tuhan. Sedangkan kesengajaan adalah unsur objektif. Ada perbuatan nyata yang dilakukan dan memiliki unsur niat yang sudah diobjektifkan. Apabila seseorang sudah memberikan ungkapan atau perbuatan, maka dalam hati pelaku sudah terdapat niat untuk mempengaruhi atau membuat akibat terhadap orang lain/lingkungannya.
  2. Delik materil mendasarkan pada suatu akibat. Penodaan agama tidak mendasarkan pada akibat, tapi perbuatan yang ia lakukan. Misalnya pada unsur dilakukan di depan umum, merupakan unsur perbuatan. Kemudian pada unsur dibodohi hal ini brmakna ada yang MELAKUKAN PERBUATAN, yaitu orang yang melakukan pembodohan, dalam perkara in casu adalah menodai agama dan menimbulkan permusuhan.

 

Pertanyaan terakhir yaitu dari Istigfaro Anjaz yang mengaitkan Pasal 72 ayat (3) Undang-undang Penetapan Kepala Daerah dan sanksi yang terdapat pada Pasal 72 ayat (5) Undang-undang Penetapan Kepala Daerah dengan perkara in casu bukankah seharusnya hal tersebut dikategorikan dalam perkara pemilihan, bukan pidana? Serta menyatakan pendapat bahwa dirinya tidak sepakat apabila dalam memilih pemimpin kita tidak boleh mempertimbangkan unsur agama. Dalam menentukan pilihan, tidak bisa sekedar hanya mempertimbangkan kinerja dan visi-misi, unsur agama maupun suku bangsa juga merupakan pertimbangan yang wajar.

Jawaban dari Pak Sigid yaitu merujuk pada deliknya, termasuk delik khusus atau delik umum, maka memungkinkan untuk diberikan dakwaan kumulatif. Serta menegaskan bahwa perlu ada kajian kembali apakah perbuatan tersebut bertujuan untuk menjatuhkan pasangan calon yang lain atau semata-mata penistaan agama, hal tersebut kembali lagi kepada wessenchau (maksud dari si pembuat undang-undang)

Setelah sesi tanya jawab berakhir maka berakhir pula acara diskusi terbuka tersebut yang ditutup dengan kesimpulan dari moderator. Pada akhirnya peserta diskusi mendapatkan pandangan baru serta masing-masing peserta dapat membuat kesimpulan dari hasil diskusi terbuka ini.

 

 

 

 

 

Tertanda

Aris Munandar selaku Ketua KMFH UGM

Husni Muhammad Fakhruddin selaku Kepala Departemen Pengkajian dan Wacana KMFH UGM

Andy Bagus Burhannudien Jofa selaku Kepala Departemen Syiar dan Takmir KMFH UGM

Kabinet Biqolbimmuniib

Jawaban Telak Untuk Quburiyyun (Pemuja Kuburan)

Ketahuilah! Semoga Allah merahmati kita semua bahwa jalan menuju ridho Allah memiliki musuh-musuh yang pandai bersilat lidah, berilmu dan memiliki argumen. Oleh karena itu kita wajib mempelajari agama Allah yang bisa menjadi senjata bagi kita untuk memerangi syaitan-syaitan ini, yang pemimpin dan pendahulu mereka (baca: iblis) berkata kepada Robb-mu ‘azza wa jalla:

لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau akan mendapati mereka kebanyakan tidak bersyukur (ta’at).” (QS. Al A’raaf: 16-17)

Ketahuilah, sesungguhnya tentara Allah akan senantiasa menang dalam argumen dan perdebatan sebagaimana mereka menang dengan pedang dan senjata. Seorang muwahhid (orang yang bertauhid) yang menempuh jalan (Allah) namun tanpa senjata (ilmu untuk membela diri) amatlah mengkhawatirkan.

Allah ta’ala telah memberi nikmat kepada kita dengan menurunkan kitab-Nya yang Dia jadikan:

تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Sebagai penjelas atas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An Nahl: 89)

Tidak ada seorang pun pembawa kebatilan datang dengan membawakan hujjah (demi membela kebatilannya) melainkan di dalam Al Quran terdapat dalil yang membantahnya dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang (ganjil), melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al Furqon: 33)

Termasuk ahlul bathil adalah ahlul bid’ah dan para quburiyyin yang sesat mereka tinggalkan kewajiban ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan menyekutukan Allah dengan selain-Nya yaitu para nabi dan wali. Mereka memiliki dalih-dalih. Untuk menjawabnya dapat ditempuh dua metode, secara global dan rinci.

Jawaban Global

Allah ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ

“Dialah yang menurunkan Al Quran kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutsyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imron: 7)

(Ayat muhkamat adalah Ayat yang jelas dan tegas maksudnya dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang pengertiannya hanya diketahui oleh Allah. Termasuk pengertian ayat mutasyaabih adalah ayat yang sukar untuk dipahami walaupun tidak menutup kemungkinan ada yang dapat memahami karena ilmunya lebih mumpuni -pent).

Sumber: muslim(dot)or(dot)id

Aksioma Literasi Payung Peradaban

Di payung pradaban nan sentosa penuh diskusi dan pertukaran gagasan praksis kehukuman. Oleh segenap mahasiswa Fakultas Hukum yang acap kali berkolaborasi dalam iba dan simpati untuk memperjuangkan amar makruf dan nahi munkar. Dalam dakwah yang –semoga- tiada henti bersemayam dalam dada. Jiwa dakwah bak lanar di tepian pantai mengendap dalam perasaan ukhuwah. Tidak pernah usang dan tak akan pernah hilang. Lebih dari wadah. Lebih dari sekedar lembaga. Tanpa disangka disana terdapat keluarga.
Keluarga Muslim Fakultas Hukum, sebuah wadah kekeluargaan progresif lingkup fakultas yang akan selalu tenteram dijumpai. Perasaan damai penuh hormat antar sesama bersemi. Merumung pelosok kampus yang tak jarang ramai. Entitas awal dari sebuah pergerakan da’awy.
Pentingnya sebuah gerakan dakwah tak perlu ditanyakan lagi. Sepak terjang manfaat dan barakah sudah mudah dijumpai mengingat semakin banyak orang akan mengetahui Islam lewat gerakan dakwah. Namun, ada yang dua aspek penting disini, yaitu pengorganisasian dan budaya literasi.
Seorang Imam Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan dengan mudah dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir”. Mudah saja kita mengambil sebuah pelajaran; untuk melakukan kebaikan, kita seyogyanya melakukannya dengan rapi (terorganisir), apabila tidak, maka kebaikan yang kita lakukan akan dikalahkan oleh keburukan, meski keburukan itu tidak dalam keadaan rapi. Di sini berlaku aturan, keburukan dan kebaikan akan selalu ada. Karena keduanya mengisi ruang dan waktu. Sederhananya, kita tidak akan bisa mengharapkan sirnanya keburukan dengan kebaikan yang kita lakukan.
Lebih jauh, kita memandang fenomena kebobrokan umat sebagai tantangan aktifis dakwah. Ketika adab pergaulan antara ikhwan-akhwat sudah tidak dipedulikan lagi -melainkan sedikit saja-, ketika panji kepemimpinan muda Islami sudah tak dapat bersaing di pentas perpolitikan kampus lagi -melainkan sedikit saja-, dan ketika keilmuan asasi Hukum Islam sudah tak banyak diminati lagi -melainkan sedikit saja-, dan juga standar lumbung kreatifitas cocok tanam penerus estafet dakwah yang kian menipis. Apakah kita akan diam saja? Sepertinya tidak bisa. Oleh karenanya, memulai pengorganisasian kebaikan dalam dakwah menjadi amat sangat penting untuk dikerjakan.
Peluang menarik kita dapatkan dari payung peradaban. Sebuah tempat nongkrong santai di timur mushola. Di sini kita dapat membangun –jika tidak dibilang berlebihan- sebuah peradaban yang madani di kampus fakultas hukum UGM. Sesuai dengan namanya, Payung Peradaban.
Beberapa abad silam, umat muslim menyibukkan dirinya dalam pergumulan ilmu. Tujuannya tak lain adalah untuk membangun peradaban Islami. Bidang keilmuan lah yang menjadi pondasi utama umat Islam terdahulu dalam membangun peradaban. Sehingga tercetaklah generasi yang memahami konsep ilmu dalam Islam, tidak sekedar mengetahui akan tetapi juga mengilmui. Keilmuan Islam itu juga pasti berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Salah satu contoh yang menjadi bukti kegemilangan keimuan zaman itu adalah dipakainya Al Qonun Fi At tibbi (buku kedokteran) karya Ibnu Sina di eropa, penemuan bilangan ‘nol’ oleh Al Khawarizmi, ditemukannya konsep pesawat terbang oleh Ibnu Firnas, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, kita dapat membangun sebuah peradaban dengan cara yang sederhana, memulainya dari diri sendiri dan kampus, yaitu melanjutkan budaya keilmuan yang selama ini hilang dari dunia Islam, melaikan sedikit saja. Dan di era sekarang kita dapat menyebut budaya keilmuan itu dengan budaya literasi di dunia pendidikan yang juga hilang darirealitasnya. Membaca, menulis, dan yang terpenting berdiskusi dengan sesama anggota. Tanpa rasa canggung, tanpa ketawa ketiwi. Namun, keceriaan dari sebuah diskusi pun bakal kita dapatkan. Pastinya, misi yang demikian itu semua kita lakukan di payung peradaban tempat nongkrong itu.

 

Oleh: Habib Haidar Pradana Effendi, Departemen Syiar dan Takmir, FH UGM 2015

RAHASIA KEAGUNGAN HARI ARAFAH

2. Arafah

RAHASIA KEAGUNGAN HARI ARAFAH
——-

Hari Arafah 9 Dzulhijjah sudah diambang pintu. Emang ada apa ?

Ketahuilah bahwa hari Arafah merupakan hari yang penuh dengan keutamaan, karena hari Arafah adalah hari:

1. Hari Allah membuka pintu Maghfiroh seluas-luasnya.
Ummul mukminin Aisyah pernah menuturkan bahwasanya Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُوْ ثُمَّ يُبَاهِيْ بِهِمْ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُوْلُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Tidak ada satu hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka, melebihi hari arafah. Sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para Malaikat. Allah berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?’
[HR. Muslim 3354, Nasai 3003, dan yang lainnya]

Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini jelas sekali menunjukkan keutamaan hari Arafah”.

2. Hari bagi para jama’ah haji untuk wukuf yg merupakan inti haji
Jubair bin Muth’im Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ
Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah ‘Uranah
[HR. Ahmad no. 16.797, dihukumi shahih oleh al-Albâni dan Syuaib al-Arnauth]

3. Hari penyempurnaan agama dan nikmat yang agung kepada ummat Islam.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.”
[QS. Al-Maidah: 3]
Umar menjawab: “kami mengetahui hari dan tempat diturunkannya ayat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pada saat itu beliau berada di Arafah pada hari Jum’at.”

——-
Maka semestinya bagi kita untuk memanfaatkan hari Arafah untuk memperbanyak pundi2 pahala sebagai bekal menghadap Sang Maha Kuasa.

Hari Arafah juga momen di mana umat Muslim di seluruh dunia menjalankan puasa sunnah yang menurut sebuah riwayat pahala puasa Arafah mampu menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun.

Hari Arafah merupakan hari pembebasan dari Neraka, bagi mereka yang turut berpuasa di hari tersebut dengan mengharapkan keridhoan dari Tuhannya. Hal ini tak lain karena Allah SWT. telah menjamin pengampunan dosa bagi mereka yang berpuasa di hari Arafah.

Rasulullah SAW bersabda :

من صام يوم عرفة غفر له سنة أمامه وسنة خلفه، ومن صام عاشوراء غفر له سنة. رواه الطبراني في الأوسط

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa di hari Arafah, maka dia diampuni (dari dosanya) setahun setelah dan sebelumnya. (Sedangkan) barang siapa yang berpuasa pada hari Asyura’, maka ia diampuni (dari dosa) setahun”.
[HR. Thabrani dalam Al-Ausath]

 

Sumber:
Al-Qur’an
Al-Hadits
Channer Mulia dengan Sunnah di Telegram
Website konsultasisyariah(dot)com
Website islampos(dot)com
Website almanhaj(dot)or(dot)id

 

 

#IslamicReminder
#ArtikelKeislaman
#DepartemenSyiardanTakmir
#KMFHUGM

Muslimah Membangun Peradaban

Assalamualaykum Wr.Wb
(notulensi kantinjus)
02 September 2016

🌺Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah🌺

Hai para sholihaatt.. Ada release notulensi kantinjus yang pertama nih setelah setengah kepwngurusan berjalan.. Yuk yg mau jadi muslimah pembangun peradaban simak yaa notulensinyaa. Heehee

Tema: Muslimah Mrmbangun Peradaban

Tentunya kita sebagai wanita nantinya akan mnjadi seorang ibu bagi anak-anak kita, peradaban masa depan terletak pada bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Tangan kitalah yg nantinya akan memiliki pengaruh besar terhadap peradaban islam kedepan karena sejatinya kita adalah calon ibu, dan ibu adalah tempat atau madrasah pertama agi anak-anak kita karena Al umahat madrasatun uula.
Ibu adalah sekolah bagi anak2ny
Seorang ibu harus mempunyai bekal akhlaq, perilaku, fiqh, dan juga adab. Bgaimana perilaku anak kita dibentuk, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh perilaku atau bagaimana seorang ibu mendidik anak. Bukan kewajiban sekolah formal, pendidikan itu diberikan. Namun, pendidikan tersebut merupakan sebuah kewajiban bagi seorang ibu.
Wanita haruslah mempunyai filter agar tidak tergoyahkan, filter tersebut berupa mengaji dan belajar
Seperti dalam kisah Rabi’ah adawiyah yaitu seorang janda yang dilamar oleh Syech Hasan Al Basri. Rabi’ah mengatakan bahwa Ia sedang memikirkan tentang bagaimana Ia akan meninggal nantinya, Khusnul khatimah atau su’ul khotimah. Tidak ada pemikiran untuk menikah lagi.
Manusia diciptakan untuk beribadah.
Hilangkan persepsi bahwa menikah adalah sumber kenikmatan. Jangan menikah karena nafsu. Tapi jadikan pernikahan sebagai sarana beribadah kepada Allah. Menikah itu tentang kita menentukan sebuah pilihan. Jadi, sebelum kita menikah, maka jadilah pribadi yg berkualitas, karena wanita adalah pembangun peradaban, dan seorang ibu nantinya. Semoga bermanfaat kedepannya.

*simak edisi kantinjus berikutnya ya.. Edisi berikutnya adalah tentang fiqih wanita.

Wassalamualaykum Wr.Wb

*Departemen keputrian KMFH
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Lagi-lagi Ulah Media

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di dunia, karena banyak sekali keistimewaannya, tak terkecuali bagi para pemeluk agama Islam di Indonesia juga sangat menantikan datangnya bulan Ramadhan ini yang mana datang hanya sekali dalam setahun. Para umat muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa di bulan suci ini sebagaimana yang telah di firmankan oleh Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Jadi puasa dalam bulan Ramadhan ini bagi umat muslim wajib hukumnya dan jika ditelaah kembali ternyata kewajiban untuk berpuasa bukan hanya ditujukan kepada umat muslim saja tetapi juga kepada umat sebelum adanya umat muslim.

Tahun ini merupakan tahun 1437 H, di Indonesia sendiri yang notabene penduduknya beragama Islam dengan suka cita menyambut bulan Ramadhan ini, namun yang harus kita waspadai adalah banyak para pihak yang ingin memecah belah umat Islam. Tentu kita masih ingat bagaimana kasus yang viral diberitakan oleh media mainstream yaitu kasus yang terjadi di Serang, Banten ibu Saeni dengan Satpol PP dan terus menjadi bahan perbincangan netizen di media sosial, saling lempar komentarpun terjadi, ada yang pro dan ada yang kontra perihal razia tersebut. berdasarkan Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat Satpol PP di Serang Banten melakukan Razia terhadap warung makan yang tetap beroperasi dibulan Ramadhan, padahal sudah ada Surat Edaran yang menguatkan peraturan tersebut. Pada Perda tersebut sudah jelas menyatakan dalam Pasal 3 ayat (2) bahwa kategori penyakit masyarakat meliputi pelacuran dan penyimpangan seksual, waria yang menjajakan diri, minuman beralkohol, gelandangan dan pengemis, anak jalanan serta kegiatan yang dilarang pada bulan Ramadhan.

Kegiatan yang dilarang pada bulan Ramadhan itu mengacu pada Pasal 10 ayat (1) yaitu setiap orang dilarang merokok, makan atau minum di tempat umum atau tempat yang dilintasi oleh umum pada siang hari di bulan Ramadhan. Pada bagian penjelasan disebutkan yang dimaksud siang hari adalah waktu pelaksanaan ibadah puasa. Diperjelas dengan ayat (3) pada Pasal yang sama disebutkan, setiap pengusaha restoran atau rumah makan atau warung dan pedagang makanan dilarang menyediakan tempat dan melayani orang menyantap makanan dan minuman pada siang hari. Jika ditelaah lebih lanjut maka insiden Razia tersebut memang sudah berlandaskan hukum yang berlaku dan juga dilakukan oleh oknum yang berwenang karena dalam Pasal 15 disebutkan, Satpol PP berwenang melakukan razia terhadap tempat atau rumah, tempat usaha, jalan atau tempat umum, yang digunakan atau mempunyai indikasi atau bukti yang kuat, sehingga patut diduga tempat tersebut digunakan sebagai tempat kegiatan penyakit masyarakat. Namun patut disayangkan ketika media mainstream menayangkan berita yang menyulut emosi netizen sehingga banyak yang melemparkan komentar hujatan tanpa tahu peristiwa yang sebenarnya.

Pemerintah Daerah memiliki kewenangan dalam membuat Peraturan Daerah hal ini berlandaskan pada Pasal 18 ayat (5) dan (6) Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang memberikan kewenangan bagi daerah dalam menjalankan otonomi daerah yang seluas-luasnya termasuk dalam membuat peraturan daerah tetapi otonomi daerah harus dijalankan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku diatasnya dan tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang telah berlaku sebelumnya. Jikalau masyarakat menanyakan Perda Banten ini tercium rasis dan mendukung agama tertentu maka hal ini juga telah dibenarkan dalam Undang-undang bahwa salah satu bentuk otonomi daerah yaitu adanya peraturan daerah. Pembentukan suatu peraturan daerah haruslah tidak bertentangan dengan peraturan yang diatasnya, apa sajakah peraturan tersebut? peraturan yang diatasnya itu mengcu pada hierarki peraturan perundang-undangan yang tertuang dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-undang No. 12 tahun 2011 yaitu: Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:

  1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
  2. Ketetapan Majelis Permusyawaratak Rakyat
  3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
  4. Peraturan Pemerintah
  5. Peraturan Presiden
  6. Peraturan Daerah Provinsi dan
  7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

Kemudian dalam Pasal 9 ayat (2) pada Undang-undang yang sama menyatakan bahwa dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-undang diduga bertentangan dengan Undang-undang, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung, oleh karena itu jikalau perda tersebut dianggap bertentangan maka yang berhak membatalkan adalah Mahkamah Agung bukanlah Pemerintah Pusat ataupun Menteri itupun juga harus melalui mekanisme pengujian terlebih dahulu tidak bisa membatalkan secara sepihak.

Propaganda yang dilakukan oleh media mainstream tersebut menuai sukses besar untuk memecah belah umat karena terjadi perdebatan yang tiada habisnya antara yang pro dengan yang kontra dengan argumennya masing-masing. Maka perlulah kita untuk bertabayun terlebih dahulu dalam menyikapi suatu isu, sangat disayangkan ketika kita terpancing oleh media mainstream yang ingin memecah belah umat dengan berbagai cara. Banyak orang Islam yang terpancing sehingga melemparkan pernyataan bahwa ketika orang berpuasa meminta untuk dihormati maka juga hormati orang yang tidak berpuasa. Sebuah logika yang agak melenceng sedang mencoba dibangun, umat Islam di Indonesia lupa bahwa mereka adalah kaum mayoritas. Umat Islam di Banten masih menjadi mayoritas berbeda dengan halnya dengan di Bali yang mana umat Islam menjadi minoritas disana dan mentaati hukum yang berlaku di sana karena itulah suatu peraturan yang berlaku di daerah Bali yang dituangkan dalam Perda begitu pula Banten yang telah menjalankan salah satu bentuk otonominya yaitu menjalankan Perda tetapi malah di hujat habis-habisan oleh umat Islam sendiri, tetapi banyak juga yang menghormatinya seperti pengusaha restoran KFC yang ikut menyesuaikan jam operasional di Banten pada bulan Ramadhan. Jika ingin melihat tulisan yang lebih komprehensif mengenai logika masyarakat Indonesia maka silahkan googling akan banyak ditemukan penulis-penulis yang menyatakan bahwa logika yang dipakai oleh masyarakat Indonesia dalam menanggapi isu ini salah kaprah.

Perlulah kita sebagai umat Islam yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk tidak mudah terpancing oleh propaganda murahan seperti ini. Media mainstream sekarang sudah tidak bisa diharapkan, lalu cara kita untuk meminimalisir agar tidak terjadi hal seperti ini lagi. Beberapa cara untuk melihat isu secara obyektif yaitu dengan cara melihat dari berbagai sisi, pertama-tama carilah media yang menginformasikan dari satu sisi dan kemudian carilah media yang menginformasikan dari sisi yang lain kalau perlu media yang menginformasikan dari sis yang bertentangan dengan media mainstream lalu barulah ditelaah lebih lanjut dengan melakukan survei lapangan sehingga kita dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana seharusnya sikap kita. Meskipun hal ini tidak menjamin keobyektifan secara 100% tetapi setidaknya kita telah mencoba untuk melakukan pandangan yang subyektif tetapi yang mendekati obyektif. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini agar kita tidak mudah terpecah belah dengan propaganda media mainstream. Akhir kata untuk menutup tulisan ini maka apabila ada kekeliruan dalam tulisan ini silahkan di caci maki tetapi dengan mengindahkan norma yang hidup di masyarakat.

 

Husni Muhammad F

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

Serba-Serbi Cerita Delegasi MCC Internal PDFH XI

Departemen Pengkajian dan Wacana (DPW) Keluarga Muslim Fakultas Hukum (KMFH) UGM pada 10-12 Februari 2016 menyelenggarakan Moot Court Academy (MCA). MCA ini merupakan kegiatan yang mengawali persiapan calon-calon anggota delegasi KMFH MCC PDFH IX atau biasa disebut sebagai MCC Internal. Materi-materi yang berkaitan hukum pidana, hukum acara pidana, hukum pidana khusus, pemaparan praktik sidang serta pengenalan berkas MCC. Tentunya para pemateri dalam kegiatan tersebut adalah orang yang sangat berkompeten dibidangnya. Hal ini melihat pada pengalaman pemateri yang pernah mengikuti MCC, baik internal mau pun nasional, serta menjuarainya.

Keesokan harinya setelah MCA berlangsung, kader KMFH yang masih bersemangat mengikuti MCC Internal mengikuti tes seleksi dalam dua tahap. Pertama, seleksi tertulis yang menguji pemahaman mereka terkait materi yang diberikan selama MCA. Kedua, seleksi wawancara untuk melihat potensi serta kepribadian kader. Seleksi ini penting untuk menyaring kader yang dinilai dapat berjuang bersama untuk mewakili KMFH meraih hasil yang optimal dalam PDFH IX. Selain pemilihan anggota delegasi, tahun ini Kak Dandi Septian bersedia melatih tim yang notabene merupakan mahasiswa tingkat pertama. Kak Dandi pernah mengikuti MCC internal serta beberapa MCC nasional dengan peran yang berbeda saat pemberkasan dan sidang. Atas pengalaman-pengalamannya tersebut, keahlian serta kompetensinya untuk bimbingan tim KMFH tidak diragukan lagi.

Kurang lebih 3 (tiga) bulan tim ditempa untuk mempersiapkan diri dengan tujuan menjuarai kompetisi. Sesi latihan dibagi menjadi dua tahap: tahap pemberkasan selama dua bulan lebih serta tahap latihan sidang selama 3 minggu. Walau memiliki corak latihan yang berbeda, namun keduanya tetap menguras waktu, tenaga, dan pikiran delegasi. Hal tersebut tentu tidak memadamkan semangat tim untuk melangkah sampai titik akhir. Dibalik kerja keras tersebut, ada dinamika suka dan duka yang tentu dirasa tiap anggota. Dari yang kehilangan sepeda saat sedang latihan di lain tempat hingga mendapat teman-teman baru dengan saling bahu-membahu.

Salah satu ciri khas dari delegasi KMFH, anggota tim tidak melulu ditempa dalam bidang MCC saja tetapi juga di tempa dalam ilmu Agama Islam sehingga nilai-nilai Islami tidak luput ditanamkan dalam diri para pejuang MCC Internal. Mereka dibiasakan untuk sholat berjamaah, membaca ayat suci Al-Qur’an di sela-sela latihan, serta saling mengingatkan untuk beramal dan berakhlak karimah. Sehingga tidak saja raga yang bekerja, namun jiwa juga mendapat asupan kesegaran agama.

Berbagai dukungan juga terus dikobarkan dalam berbagai cara oleh keder KMFH lain walau pun tidak tergabung dalam tim. Salah satu kader KMFH ada yang menulis di laman pribadinya menyatakan dukungan penuh apapun hasilnya nanti. Senior-senior KMFH beberapa kali berkunjung untuk memberi dukungan moral serta motivasi. Ada juga yang bersedia membagi ilmunya untuk meningkatkan hasil kerja tim. Dukungan materiil juga ditanggung bersama selama perlombaan ini.

myhomeHingga pada hari-H dimana semua pengorbanan dipertaruhkan, alhamdulillah bisa persidangan berjalan dengan lancar. Ketukan palu penutup sidang dipukul dalam golden time dengan menyisihkan alokasi waktu 2 detik. Urutan tampil pertama tidak menghalangi tim menampilkan persidangan sebaik mungkin. Sebelum seremoni penutupan PDFH IX di Gedung I, diadakan sholat maghrib dan isya berjamaah serta do’a bersama agar apa pun hasilnya, itu yang terbaik dan harus ikhlas menerimanya. Alhamdulillah pada tahun ini tim KMFH dapat mempertahankan gelar Penuntut Umum Terbaik serta dapat selangkah naik dan menyabet Juara III. Semoga tahun depan prestasi ini bisa ditingkatkan lagi dengan kerja keras delegasi dan dukungan dari barbagai pihak. MCC KMFH, Allahuakbar!

Perumpamaan Orang Beriman

Perumpamaan Orang Beriman

 

 

🍶Jadilah Engkau Seperti Lebah Jangan Seperti Lalat🍶
💎Telah bersabda Rosulullah Sholallahu alaihi wasallam :
” .. والذي نفسي بيده ، إن مثل المؤمن كمثل النّحلة ! ؛ أكلت طيباً ، ووضعت طيّباً ، ووقعت فلم تكسر و لم تفسد ”
أحمد (٦٨٧٢) ، وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة (٢٢٨٨) .
💎Demi Zat yang jiwaku ada di Tangan-Nya.
🍮Sesungguhnya permisalan seorang mukmin seperti seekor lebah
🌻Dia memakan makanan yang baik,mengeluarkan sesuatu yang baik,dan bila ia hinggap di suatu tempat dia tidak mematahkan dan merusak .”
HR Ahmad no 6872 di Shohihkan Syaikh Al Albani dalam Ash Shohihah no 2288
🍇Demikian pula seorang mukmin dia mengkonsumsi makanan yang halalan thoyyiban…
💽Keluar dari lisannya ucapan-ucapan yang baik,tidaklah ia memberikan kecuali kebaikan ,baik pula dalam bergaul.
👍Ketika ia berada di suatu tempat ia memberikan manfaat pada yang lain.
🐾Ketika ia pergi tidak meninggalkan kesan yang jelek,luka dihati dan kerusakan.
☁️Kehadirannya selalu diharapkan dan dirindukan.
💎Berkata Ibnul Qayyim Rohimahullah Ta’ala
يقول ابن القيم في الفوائد (١٩٦) :
” فالنّفوس الشريفة لا ترضى من الأشياء الا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة.
🔹Maka jiwa yang mulia tidaklah meridai sesuatu melainkan yang paling tinggi nilainya,yang paling afdhol,yang paling baik akibatnya…”
📚Al Fawaid 196
⛔️Janganlah engkau menjadi seperti lalat❗️
🏴Tidaklah ia hinggap melainkan ditempat yang kotor,makan makanan yang kotor.
❌Ketika ia pergi maka ia meninggalkan penyakit dan kotoran,kehadirannya tidak pernah diharapkan.
🔵Berkata Ibnu Taimiyah Rohimahullah Ta’ala:
 الجاهل بمنزلة الذباب الذي لا يقع إلا على العَقير ، ولا يقع على الصحيح ! ، والعاقل يزن الأمور جميعاً هذا وهذا “.
( منهاج السنة: ٦-١٥٠)
Sesungguhnya orang yang bodoh seperti lalat.
Tidaklah ia hinggap melainkan pada penyakit dan ia tidak mau hinggap ditempat yang sehat
Maka orang yang berakal tentunya akan menimbang-nimbang semua perkara antara ini dan ini.
Sumber:
1. Minhajus Sunnah 6/150.
2. Telegram Ukhuwah Imaniyyah