Celoteh Bang Agam: “Katanya Toleransi”

Di sebuah malam, malam yang sangat ditunggu oleh pecinta sepak bola Indonesia. Saat itu adalah final melawan negara tetangga.

Kevin seorang mahasiswa tingkat dua mendesah. Menelan kekecawaannya yang tadinya berharap sang garuda muda memenangkan final namun berakhir dengan title runner-up.

“Jangan kecewa begitulah kau,” ucap Bang Agam dengan logat medannya.

“Bagaimana ga kecewa bang. Gua udah berkepala dua, tapi Indonesia selalu mentok di final,”

“Ah, macam tidak tahu saja lah kau. Selain itu, daripada memikirkan bola, lebih baik kau lihat kondisi kita sekarang.”

“Lu benar bang, keuangan gua kurang baik akhir-akhir ini,” ucap Kevin semakin depresi.

Mendengarnya curhatan keuangan Kevin, lelaki yang dipanggil Bang Agam mengusap-usap kepalanya karena Kevin tidak tahu maksud dari ucapannya.

Dia kemudian menyeruput kopi hangat favoritnya.

Agam mendesah. Menikmati panasnya kopi merasuki seluruh tubuhnya. Agam kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Kau tahu apa yang sedang hangat-hangatnya sekarang?” Tanya Agam kepada pemuda yang sibuk mengusap layar smartphone-nya.

“Apa bang?” Kevin bertanya balik.

Agam mengusap kepalanya lagi. Melepas napasnya bersamaan dengan kumpulan emosi yang bisa saja meledak karena tingkah junior-nya tersebut.

“Kau lihat saja itu yang lagi hangat-hangatnya,”

“Indonesia yang barusan kalah ‘kan bang?” Sahut Kevin

“Bisa gila aku,” Balas Agam.

Salah seorang piket poskamling, Pak Reza, duduk dan memesan sebuah kopi hangat.

“Maksud dari Nak Agam itu tentang Rohingya bukan?” Ucap Pak Reza yang nimbrung percakapan antara Agam dan Kevin.

Agam menjetikkan jarinya. “Nah itu pak, itu yang aku maksud. Tapi anak ini tidak nyambung sama sekali,”

Kevin cengegesan. “Harusnya lu ngomong to the point-lah bang, biar ga ambigu,”

“Halah, banyak alasan kau,” Bantah Agam. “Berita tentang ini sudah hangat dan menjalar kemana-mana,”

Agam kemudian menyeruput kopinya sekali lagi. Menikmati hangat yang menjalar. Dia kemudian berdehem mulai menjelaskan.

“Kasus Rohingya telah terjadi semenjak tahun 90an. Bahkan hingga sekarang masih terus berlanjut,”

“Seriusan nak Agam?” Mata Pak Kevin sedikit membesar mendengar pernyataan dari Agam. Televisi yang sedang menyiarkan berita tengah malam sudah tidak mereka perhatikan lagi.

Agam menyeruput kopinya sekali lagi. Lalu kemudian melanjutkan.

“Kalau ditarik lebih jauh maka konflik bermulai sejak tahun 1940an ketika Jepang datang menginvasi Myanmar. Inggris yang sebelumnya menjajah lalu menyerah. Setelah Nasionalis Burma yang sekarang disebut Myanmar menyerang komunitas muslim yang mendapatkan keuntungan dari Inggris. Tensi antara pemerintah Myanmar dan Muslim Rohingya semakin meningkat setiap mereka berselisih. Puncaknya ketika baru-baru ini, kabarnya karena Pasukan Rohingya membunuh 9 orang yang berjaga diperbatasan. Alhasil mereka langsung dicap sebagai teroris oleh pemerintahan. Sedangkan yang dilakukan oleh pihak pemerintah dan oknum pendeta buddhanya jauh lebih mengerikan terhadap muslim Rohingya.

“Namun tidak serta merta kita mencap bahwa seluruh buddhis itu berkelakuan sama, karena ibarat muslim yang tidak mengakui ISIS. Hanya saja, toleransi di sana jauh berbeda dengan yang terjKevin di Indonesia. Jika tidak sudah mati aku sebelum jadi mualaf.”

Agam tertawa, walaupun dalam bayanganya ia bergidik jika hal itu benar-benar terjadi di Indonesia. Cepat-cepat dia menghabiskan kopinya yang mulai mendingin.

“Lalu apa hubungannya dengan kita bang?”

Agam tak sengaja menempeleng Kevin. “Maaf reflek, salah kau karena daritadi bikin aku kesal” Agam kemudian mencodongkan kepalanya. “Balas lah,”

Agam kemudian kembali meluruskan kepalanya karena tidak ada respon dari Kevin.

“Terserah kau kalau tidak ingin membalas. Sampai dimana tadi… ”

Agam hening sejenak. Agam kemudian berdehem untuk melanjutkan penjelasannya.

“Untuk bersimpati terhadap muslim Rohingya, kau tidak perlu jadi seorang muslim!” Tegas Agam. “Kau manusia tidak?” Agam menatap tajam Kevin

“T- Tentu saja bang,” Kevin berusaha menjauh.

“Lagipula, sudah dijelaskan di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, kau ingat tidak?”

Kevin hanya berusaha mengelak dari tatapan Agam.

“Dalam kasus Indonesia sempat katanya terjadi krisis toleransi,” Agam menggeleng-gelengkan kepala.

“Waktu Pilkada DKI itu ya nak Agam,” Ucap Pak Reza yang sedari tadi menyimak penjelasan Agam.

Agam menangguk dan menjetikkan jarinya.

“Mereka yang nyinyir soal toleransi sekarang bahkan diam melihat tragedi Rohingya. Tidak hanya itu, bagaimana dengan nasib orang-orang di Syiria dan Palestina?” Agam mengangkat bahunya.

“Mayoritas dari mereka yang nyinyir tersebut bahkan tidak peduli. Sudah ku bilang, tidak perlu menjadi muslim untuk bersimpati. Renungkan saja apakah masih ada rasa kemanusiaan di dalam diri kita? Mereka yang nyinyir aka toleransi hanya memanfaatkan kata itu untuk menyudutkan saja.

“Toleransi katanya …” Agam geleng-geleng kepala. “Jika mereka dibawa ke Rakhine atau tempat-tempat lain mungkin akan langsung ‘balik kanan’ ketika melihat situasi di sana,”

Pak Reza mengangguk menyetujui.

“Jika Indonesia krisis toleransi, maka seharusnya situasi kita tak jauh berbeda dari negara tetangga itu. Kelompok bar-bar katanya,” Lanjut Agam.

“Katanya toleransi, aksi solidaritas saja diperiksa polisi.” Gerutu Agam. “Simpati dikaitkan dengan upaya menjatuhkan pemerintahan,”

Pak Reza ikut geleng-geleng kepala.

Agam menutup mulutnya yang menguap lebar.

Pak Reza tertawa. “Sudah minum kopi masih ngantuk?”

“Kalau sudah ngantuk, minum 100 cangkir kopi pun tidak akan sunggup pak.” Agam ikut tertawa.

“Kau renungkan saja Kevin,” Agam menepuk pundak Kevin. “Makanya kau, kalau ada diskusi di kampus ikutan, jangan menatap layar datar itu saja,”

“Mari Pak,” Pamit Agam pada Pak Reza.

“Eh mas, bayar dulu,” teriak si pemilik warung.

Sontak Agam langsung menghentikan langkahnya. “Itu si Kevin yang bayar,”

Dalam sekejap Agam langsung berlari meninggalkan warung tersebut.

“Yah, yah. Bang, Makasih!” Teriak Kevin. Dia kemudian mengumpat-umpat sambil terpaksa mengeluarkan uang ekstra dompetnya.

Pak Reza yang melihat kelakuan Agam geleng-geleng kepala sambil tertawa.

 

Ditulis oleh:

Fadhil Mu’alim (2016)

Cak Nun dan Relevansi Dakwah Kontemporer

Pulau Jawa, menjadi pulau yang sangat eksotis ketika kita berbicara tentang bagaimana pergolakan pemikiran dan perumusan cara penyampaian agama yang relevan bagi masyarakatnya. Pulau jawa punya sejarah panjang dan kenangan masa lalu yang romantis dengan banyak agama. Hindu menjadi “mantan pertama” Pulau Jawa, awalnya dimulai dengan kerajaan Kutai Kartanegara seperti yang dikatakan buku sejarah SD. Kemudian berkembang pesat di Jawa lewat sistem multi-monarki. Setelah Hindu, Budha kemudian mendekati Jawa dan juga berkembang pesat dengan sistem dan cara yang tak beda jauh dengan Hindu. Kedua agama ini mengakar kuat di masyarakat Jawa yang kemudian mempengaruhi budayanya. Pengaruh besar kedua agama ini pun seakan-akan menciptakan budaya baru masyarakat jawa yang bahkan bertahan sampai sekarang.

Setelah periode Hindu-Budha, Islam datang dengan ajaran yang mendamaikan dan membebaskan hati serta pikiran, jasmani dan rohani. Banyak teori yang menjelaskan bagaimana datangnya Islam ke Pulau Jawa. Ada yang mengatakan dari pedagang Gujarat India, ada juga yang mengatakan dari komunitas syiah Hadramaut Yaman, ada juga yang mengatakan dari jazirah Arabnya langsung, serta banyak teori lagi yang kemudian di politisasi demi sebuah identitas. Namun terlepas dari itu semua, Islam akan sangat sulit membuat kisah romantis dengan Jawa. Ini dikarenakan Islam bukan dari kerajaan dan budaya Islam akan sangat berbeda bila dibandingkan dengan budaya Hindu-Budha yang meresapi hingga kedalam sukma rakyat Jawa. Melihat realita tadi, muncul kelompok yang berdakwah secara kontinu yang biasa kita kenal sebagai Wali Songo atau Sembilan Wali. Wali-wali ini yang kemudian memperkenalkan Islam ke Jawa dan sukses dalam hal kuantitas juga mungkin kualitas. Namun bagaimana kemudian kesuksesan sembilan wali ini terwujud ? sementara realita sosial berkata hampir mustahil meng-Islam-kan Jawa.

Wali Songo merupakan simbol penyebaran Islam di Indonesia khususnya di Jawa. Merekalah yang kemudian berperan menyebarkan Islam secara masif dan bekesinambungan. Mereka pula yang berperan besar mengkulturkan Islam di tanah Jawa dan melahirkan banyak kerajaan Islam yang berpengaruh di Nusantara. Ada satu cerita dari wali songo yang menggambarkan bagaimana cara memperkenalkan Islam ke tanah Jawa. Dari Sunan Gresik, beliau melihat banyak rakyat yang tersisih dari Majapahit dan kemudian menjadi golongan mustadh’afin. Disini beliau dengan cepat melihat peluang bagaimana caranya menarik hati dari golongan tersisih ini, diajarilah mereka cara bertani dan merangkul mereka akibat krisis ekonomi dan perang saudara akibat runtuhnya Majapahit. Kemudian dari Sunan Bonang yang memperkenalkan Islam lewat kesenian. Ini menarik, Sunan Bonang sudah Mampu berpikiran jauh dengan gagasan relevansi Islam atau kontekstualisasi ajaran Islamnya. Ditengah kentalnya budaya Hindu-Budha di Jawa berikut dengan keseniannya, Sunan Bonang masuk dengan seninya yang disesuaikan dengan Islam dan budaya Jawa. Budaya yang disakralkan dalam masyarakat Jawa, ketika Islam masuk, perlahan di de-sakrali-sasi lewat cara-cara para wali termasuk dengan cara Sunan Bonang. Drs. Tafsir M.Ag dalam buku Muhammadiyah & Wahabisme : Mengurai Tititk Temu dan Seteru, mengatakan bahwa dakwah model ini sama dengan gerakan pembaharuan Muhammadiyah, dalam konteks budaya lokal dengan lebih empatik dalam mengapresiasi budaya masyarakat yang akan menjadi sasaran dakwah, sembari tetap mengaktualisasikan Islam secara kaffah dengan proses Islamisasi budaya yang perlahan.

Cak Nun dan Dakwah Kontemporernya

Cak Nun, merupakan seorang budayawan, sastrawan, serta ulama yang sekarang ini cukup digandrungi masyarakat, khususnya daerah Jawa bagian tengah dan timur. Dengan gayanya yang eksentrik serta berambut panjang layaknya pujangga, ia lalu lalang berdakwah melintasi Jawa khususnya bagian tengah dan timur. Majelisnya pun senantiasa didatangi banyak orang, setiap majelisnya selalu ramai oleh setiap kalangan. Hampir semua kalangan, baik tua muda, pria wanita, kelas menengah atas-bawah, yang berpenampilan borjuis hingga yang bergaya gondes dan mendes (sebutan Bahasa Jawa untuk remaja alay). Bahkan anda bebas menghisap dan mengepulkan asap rokok anda, walau agak sedikit menjauhi keramaian.

Menarik untuk menganalisis metode Cak Nun yang bisa menggandeng semua kalangan untuk menikmati ceramah-ceramahnya. Metodenya kurang lebih sama dengan walisongo saat menggandeng masyarakat Jawa Hindu-Budha, yakni dengan pendekatan kultural. Bedanya hanya penyesuaian dengan zaman semata. Kenapa beda, ini yang unik, bila dahulu walisongo seperti Sunan Bonang meng-Islam-kan dan men-deskralisasi seni musik gamelan yang biasanya dikeramatkan, Cak Nun me-modernisasi alat musiknya dengan menambahkan gitar, drum, bahkan keyboard. Lagu yang dimainkan pun unik bahkan sampai membuat kita mengernyitkan dahi, bagaimana tidak, dalam satu majelis Cak Nun dan grup musiknya Kyai Kanjeng malah memainkan lagu Maroon 5 seperti One More Night dan Payphone. Ini mungkin yang kemudian menarik banyak massa datang sekedar ikut sinau bareng Cak Nun. Bahkan sampai ada yang membawa bendera OI atau Slankers.

Kebanyakan hadirin majelis Cak Nun berasal dari kalangan masyarakat pinggiran. Banyak pula yang berpendidikan namun tidak sampai mengenyam bangku perguruan tinggi. Dan mayoritasnya pun dari kalangan menengah. Namun bila kita perhatikan lagi ceramah Cak Nun yang sangat sufistik, banyak substansi-substansi yang berat, bahkan bagi mahasiswa sekalipun. Ceramah Cak Nun juga sangat filosofis dan penggunaan diksi yang relatif tinggi, hanya biasa digunakan di lingkungan akademik. Di tiap majelis, tujuannya selalu berbunyi “melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metode perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.”

Lalu, apa yang ditangkap oleh mayoritas audiens majelis ? apakah audiens sudah paham benar tentang dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai ? sementara hal-hal yang simbolik ke-Cak Nun-an masih sangat digandrungi. Apa pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat sudah selesai ?. Dapatkah audiens menangkap tujuan Cak Nun tadi ? sangat disayangkan bila audiens menghadiri majelis Cak Nun hanya karena mencari hiburan lewat lagu-lagu yang dimainkan ataupun Ludruk Jawa yang khas dengan lawakannya atau bahkan hanya sekekdar guyonan khas Cak Nun. Padahal substansi ceramah intelek Cak Nun sangat luas dan mendalam. Analisis beliau terhadap ayat-ayat Tuhan merupakan salah satu yang terbaik, dimana beliau membedah kalamullah itu dari sisi esensi dan filosofi.

Sebenarnya tidak salah bila audiens menghadiri majelis Cak Nun hanya tertarik dengan hiburan-hiburan yang disuguhkan atau lebih baik lagi dengan sholawatan yang dilantunkan dengan berbagai cara. Namun disini harus ada proses agar substansi ceramah Cak Nun diterima secara komprehensif dan baiknya lagi di amalkan. Disini sang budayawan punya peran besar untuk sekedar merelevansikan pemikiran dan penyampaiannya kepada khalayak ramai audiensnya dengan latar belakang masing-masing.

Kembali ke zaman walisongo tadi, kita sadari, dakwah para sunan belum selesai, bahkan sempat terhenti akibat datangnya kolonial negeri Eropa. Akhirnya dakwah walisongo hanya sampai tahap mengIslamkan rakyat sahaja, belum dalam tahap menghilangkan budaya yang tak sesuai ajaran Islam. Oleh sebab itu, sering kita dengar cerita-cerita tentang walisongo yang bisa terbang, menghilang, dan lainnya yang sifatnya takhayul dan tak substantif dari ajarannya. Sementara budaya yang diadopsi untuk menyampaikan Islam malah diinterpretasikan lain, yakni diskaralisasi. Inilah yang kemudian dianggap belum selesai.

Cak Nun seringkali dalam ceramahnya membedah Surat Al-Ikhlas yang mengajarkan hal paling fundamental yakni ketauhidan. Dari ajaran ketauhidan ini lah yang kemudian pengupayan solusi-solusi masalah masyarakat dari dimensi Islam bisa terwujud. Ini karena konsep ketauhidan dari kalimat “la ilaha illallah” mengandung gagasan pembebasan. Menurut Nurcholis Madjid dalam buku Islam Doktrin dan Peradaban, kalimat tersebut mengandung penegasian dan pengkonfirmasian atau biasa masyhur dikenal sebagai Al-Nafy wa Al-Itsbat, dimana diawal kita membebaskan diri dari segala bentuk penyembahan terhadap Tuhan kemudian mengkonfirmasi kita tetap menyatakan Allah sebagai Tuhan yang disembah. Bagi Cak Nur, panggilan akrab Nurcholis Madjid, tidaklah cukup hanya mengimani adanya Tuhan yang satu, namun saat bersamaan juga menjadikan sesuatu yang bukan Tuhan itu sendiri yang tidak memiliki sifat ke-ilahi-an sebagai tuhannya yang dalam konteks agama dikatakan sebagai musyrik. Dari sini kita bisa pahami masalah-masalah takhayul dan musyrik tadi bisa diatasi dengan ajaran-ajaran keilahian Cak Nun.

Walisongo dan Cak Nun merupakan agen dakwah yang sangat unik, cerdas dan ciamik. Keduanya patut diberikan apresiasi karena dapat mengkontekstualisasi dan merelevansikan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam suatu komunitas yang didakwahinya. Namun terlepas dari itu semua, Cak Nun sebagai penerus walisongo yang dakwahnya sempat terhenti dan akhirnya terjadi misinterpretasi terhadap ajarannya kemudian punya peran besar dalam meluruskan pandangan masyarakat agar terwujudnya purifikasi ajaran Islam di Jawa. Namun langkah awalnya, butuh dorongan agar para audiens Cak Nun masuk ke tahapan selanjutnya, yakni memahami dan meresapi substansi keilahian a la Cak Nun.

 

Kahfi Adlan Hafiz

Mahasiswa FH UGM, Kader KMFH UGM

Lebaran, Munajat, Halal Bi Halal

H

“Cinta hendaknya untuk merasa bahagia

Jika nurani berkata

Akal sehat berkuasa

Hidayah Ilahi nuansakan surga

Tuhan ada di semua umat-Nya

Bergegaslah luapkan kata maaf

Seiring doa

Hamba dengungkan takbir Ilahi

Allahu Akbar Walillailham

Bedug pun ditabuh

Menandakan hari kemenangan telah tiba

Insan manusia bergembira

Sambut lebaran milik kita.”

            (Lebaran Milik Kita, merupakan sepenggal puisi karya Dewantara Soepardi, yang dapat menginspirasi kita semua untuk lebih berusaha, dibalik diagnosa brain injured (cerebral palsy tipe quadriplegia) terhadapnya).

Tak terasa bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat ini hampir berakhir. Bulan dimana umat muslim wajib berpuasa, berlomba-lomba khatam Al Qur’an, melakukan shalat malam, dan berbagai ritual agama lainnya, yang semua dilaksanakan untuk meraih ridha dan pahala dari Allah SWT.

Hari Raya Idul Fitri atau yang lebih akrab disebut Lebaran, adalah hal yang selalu dinantikan oleh umat Muslim. Hari kemenangan, merayakan “kemenangan” umat muslim setelah sebulan berpuasa, menahan nafsu, menjaga hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang buruk dan dilarang oleh Allah SWT. Semua orang berkumpul. Saling melempar senyum dan bersalaman sambil berkata, “Ngaturaken Sugeng Riyadi nggih Pak, Bu…” (terjemahan: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak, Bu..”) atau mengirimkan pesan singkat bertuliskan, “Taqabbalallahu minkum ahyaakumullah li amtsaalihi kulla ‘aamiin wa antum bi khair” – Semoga Allah menerima (amal) kalian semua. Semoga Allah memanjangkan umur kalian di tahun-tahun yang sama, dan kalian senantiasa dalam keadaan baik.”

Di Indonesia yang tercinta ini, banyak tradisi yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari tradisi beli baju dan alat ibadah baru (atau bahkan kembaran satu keluarga), memasak lontong opor lengkap dengan kerupuk, camilan kue kaleng dari parcel yang akan menjadi hiasan di meja tamu selama sebulan ke depan, tradisi terima tunjangan hari raya bagi kaum muda, tradisi sungkeman dengan anggota keluarga, tradisi copy paste dan kirim SMS pantun atau puisi yang diawali dengan frasa “air tak selalu jernih..” berkedok meminta maaf hingga tradisi halal bi halal.

Tradisi halal bi halal seperti menjadi annual event yang dilaksanakan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari perkumpulan alumni sekolah, keluarga mahasiswa, perkumpulan pegawai kantor hingga paguyuban di kampung.

Penggagas istilah halal bi halal itu sendiri adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Sedikit bercerita, pada tahun 1948, Indonesia sempat dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar dan tidak mau duduk dalam satu forum. Kemudian, Ir. Soekarno yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI, meminta pendapat dari KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang sedang tidak sehat. Kebetulan pada waktu itu mendekati datangnya Hari Raya Idul Fitri, sehingga KH Abdul Wahab Chasbullah memberikan saran kepada Ir. Soekarno untuk mengadakan silaturrahim. Namun Ir Soekarno menginginkan istilah lain itu menggantikan terminologi silaturrahim.

Kemudian, KH Abdul Wahab Chasbullah menjelaskan, ”Para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu berdosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halal bi halal.

Tradisi halal bi halal ini kemudian diikuti masyarakat muslim secara luas. Sebenarnya, kegiatan yang mirip dengan halal bi halal ini sudah dilaksanakan sejak era kepemimpinan KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa, namun beliau belum menyebut kegiatan tersebut dengan istilah halal bi halal, meskipun esensinya sudah ada.

Istilah halal bi halal ini secara nyata dicetuskan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halal bi thariqin halal) adalah mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisa kedua (halal yujza’u bi halal) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Terlepas dari segala keberagaman pendapat mengenai halal bi halal, bukankah suatu hal yang sangat baik apabila kita masih bisa berkumpul dengan kawan lama, saling meminta maaf, saling bercerita, hingga saling bermunajat untuk kebaikan satu sama lain?

Sebagai contoh, Halal Bi Halal alumni SMP Negeri X Angkatan 1980.

Kalau bukan karena halal bi halal, mungkin saja angkatan yang sudah berusia lebih dari 30 tahun itu tidak akan berkumpul bersama dan bertemu, bahkan saling mengirim pesan atau surat pun belum tentu. Bagaimana ya kabar si X teman sebangku waktu sekolah dulu? atau Bagaimana ya kabar si Y yang pernah menolongku ketika kesusahan? Padahal kita sebagai umat muslim, memiliki kewajiban untuk menjaga tali silaturahmi dan ukhuwah yang telah dibangun. Melalui kegiatan halal bi halal tersebut, banyak kata maaf dan memaafkan yang terucap, banyak tawa bahagia hingga air mata yang menetes akibat pengakuan kesalahan, hingga banyak doa-doa baik yang terpanjatkan untuk Allah SWT.

Seperti sabda Rasulullah SAW, “Allah merahmati seorang hamba yang pernah berbuat dzalim terhadap harta dan kehormatan saudaranya, lalu ia datang kepada saudara yang didzaliminya itu untuk minta kehalalannya sebelum ajal menjemput.” (HR Tirmidzi dan Abu Hurairah)

Setiap orang hampir bisa dipastikan pernah berbuat salah dan khilaf. Rasulullah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa semua bani adalah khattha’un, adalah yang banyak berbuat dosa dan maksiat. Dan sebaik-baik khattha’un adalah at-tawwabun, yaitu orang yang banyak bertaubat.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Anas bin Malik RA.

Sehingga, bukanlah suatu hal yang memalukan (aib) apabila kita mengakui kekhilafan dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita perbuat kepada saudara kita, tetangga kita, atau bahkan teman kerja/kuliah kita yang bahkan jarang bertegur sapa dengan kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memiliki tanggungan kedzaliman terhadap saudaranya, entah dalam hal kehormatan atau pun hartanya, maka hendaklah meminta kehalalannya hari ini. Sebelum datang hari (kiamat) di mana tidak berguna lagi dirham dan dinar. Pada hari kiamat nanti, bila seseorang yang mendzalimi belum meminta kehalalan dari saudaranya, maka bila ia memiliki amal kebaikan, sebagian amal kebaikannya itu diambil sekadar kedzaliman yang ia lakukan untuk diserahkan kepada orang yang sudah pernah ia dzalimi. Bila ia sudah tidak memiliki sisa amal kebaikan, maka dosa yang dimiliki orang yang pernah ia dzalimi di dunia akan dilimpahkan kepadanya senilai kedzaliman yang pernah ia lakukan. (HR Bukhari dan Abu Hurairah RA)

Maka, jangan sampai dosa-dosa yang kita punya akibat berbuat khilaf tersebut dibawa mati hanya karena kita merasa gengsi untuk meminta maaf. Karena sebagai ganti dari kedzaliman yang belum diminta kehalalannya, dosa orang yang kita dzalimi akan dialihkan menjadi tanggungan kita.

Walaupun kegiatan halal bi halal memang sudah banyak dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat di Indonesia, akan tetapi, bukan halal bi halal itu sendiri yang wajib untuk dilaksanakan, melainkan saling meminta maaf, bersilaturrahim dan menjaga ukhuwah itulah yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.

*cerita mengenai latar belakang lahirnya istilah Halal Bi Halal didapat dari KH Masdar Farid Mas’udi.

Ditulis oleh:

Nova Alfie Annisa (2015)

Bratayuda Jayabinangun: Filosofi Perang Penundukkan Hawa Nafsu

Bagaimana mungkin pementasan wayang kulit yang dilaksanakan semalam suntuk, dapat membuat penontonnya tetap melek dan tidak bosan?

Pementasan wayang kulit yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh PBB ini lambat laun mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Banyak yang tidak tahu, bahwa pementasan wayang kulit bukanlah sekadar haha hihi belaka, namun pementasan wayang kulit banyak mengandung filosofi mendalam mengenai nilai-nilai kehidupan dan agama. Wayang, yang dulunya dijadikan salah satu media dakwah oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa, memiliki banyak corak. Namun yang paling terkenal adalah wayang kulit.

Ada dua alasan mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Scara normatif, Sunan Kalijaga telah mengajarkan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang untuk memeluk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkolerasi dengan nilai Islam. Sehingga tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Secara kreatif, para tokoh wayang diganti nama dengan rukun Islam yang ada lima jumlahnya. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) bernama Jamus Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Dimana shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa. Dimana puasa identik dengan proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat serta duniawi. Kemudian Nakula dan Sadewa merupakan simbolisasi dari zakat dan haji.

Perang Bratayuda Jayabinangun memiliki makna yang mendalam mengenai pedoman hidup, dan bagi sebagian orang yang diberkahi kapabilitas untuk dapat menerima dan memahami akan hal ini, perang ini kerap dijadikan sebagai ideologi terbuka. S.Haryanto, dalam bukunya yang berjudul “Bayang-Bayang Adiluhung” (1995), memaparkan bahwa makna Perang Bratayuda adalah perang batin melawan keruwetan hidup (brata= ruwet, yuda= perang) dimana yang dimaksud lebih jauh bahwa banyak orang dalam menghayati dan menghadapi kenyataan hidup yang serba ruwet, mengakibatkan frustasi dan putus asa karenanya. Hal itu berbeda dengan cara orang beriman, yakni senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, dimana itulah satu-satunya jalan untuk menyelematkan diri dari situasi yang ruwet dalam kehidupan.

Perang Bratayuda Jayabinangun antara Pandhawa dan Kurawa, jika dilihat dari konteks spiritual, mengisyaratkan simbolisasi ‘perang’ melawan hawa nafsu dirinya sendiri. Nafsu ammarah (nafsu yang mengajak keburukan atau angkara murka) harus dikalahkan serta tidak diberi tempat untuk berekspresi. Begitu pula dengan nafsu lawwamah (nafsu yang menyesal dan mencela) dan nafsu supiyah atau mulhimah (bisikan-bisikan hati) serta nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang) harus dikendalikan atau ditempatkan secara proporsional.

Dalam perang ini, diceritakan pengendalinya adalah Sri Bathara Kresna, yang tugasnya memang memelihara perdamaian dan kelestarian alam, memayu hayuning bawana atau rahmatan lil ‘alamin.

Menurut Imam Al-Ghazali, musuh utama yang paling sulit untuk ditundukkan manusia adalah hawa nafsu. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa An-Nafs (nafsu) mempunyai dua arti; 1) arti yang mencakup kekuatan amarah, syahwat dan sifat-sifat tercela. Sebagaimana yang dimaksud dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Musuhmu yang paling jahat ialah nafsu yang berada di rongga badanmu.” Dimana kita harus memerangi nafsu dan menundukkanya; 2) bisikan Rabbani yang merupakan salah satu makna roh, hati dan jiwa pula.

Nafsu, yang identik dengan kebiasaan selalu meminta lebih, harus dikendalikan secara profesional agar mendapatkan bagian proporsional. Maka dari itu, para ahli sufi memberikan tips agar manusia dapat menundukkan hawa nafsunya, yaitu dengan 4 cara: diam (tidak banyak bicara), berada di tempat yang sunyi, bangun malam (mengurangi tidur) dan dalam keadaan lapar.

Secara singkat, dalam perang ini diceritakan bahwa Pandhawa yang dikenal sebagai sosok protagonis harus berhadapan dengan sang guru, Begawan Durna. Begitu pula dengan sosok Resi Bhisma, yang merupakan simbolisasi dari rasa takut dan kekhawatiran dalam diri manusia dan Prabu Salya, yang melambangkan ingsun/ego yang berada dalam jiwa manusia. Serta harus melawan saudara sendiri, Adhipati Karna, yaitu putera Dewi Kunthi Talibranta dengan Bathara Surya, yang melambangkan angkara/kejahatan, dimana apabila bisa mengalahkan Adhipati Karna, berarti sanggup mengendalikan angkaranya dan para Kurawa yang dikenal sebagai sosok antagonis. ‘Saudara sendiri’ yang dimaksud adalah hawa nafsu, yang senantiasa hidup dalam diri kita. Begitulah kiasan seseorang yang sedang berjuang di jalan Tuhan: hatinya harus tertuju dan terniatkan pada satu hal, yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun, tidak boleh tergoda oleh suatu hal apapun.

Seseorang yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsu  pada hakikatnya telah berhasil memenangkan perang yang agung. Hal ini bukan berarti ketika memerangi hawa nafsu, seseorang akan berdiam diri dan tidak melakukan suatu hal apapun. Tetapi justru menyumbangkan segala pikiran, tenaga dan kontribusi maksimal kepada masyarakat dan kehidupan sosial, itulah yang dapat dikatakan sebagai agen dakwah, yang siap berkorban dengan segala yang dimilikinya.

Dalam buku berjudul Dhalang, Wayang dan Gamelan karya Wawan Susetya, dikatakan bahwa makna dari Bratayuda adalah senang berperang melawan hawa nafsu, sedangkan Jayabinangun adalah membangun kejayaan atau kelanggengan manusia di alam kelanggengan (akhirat).

Wayang merupakan karya seni para pendahulu, dan oleh para pendakwah Islam dijadikan sebagai instrumen atau media dakwah. Karena dalam berdakwah, Allah SWT menyerukan dengan cara, metode dan pendekatan yang bijaksana, nasihat yang baik dan diskusi dengan cara yang lebih baik. Sesuai yang termaktub dalam Surat An-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah meeka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Islam itu melindungi dan mengayomi. Islam mengajarkan harmoni dan keindahan. Mari kita tingkatkan ibadah ritual-vertikal kepada Allah, dan tuangkan dalam wujud nyata dalam ibadah sosial-horizontal kepada sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya mulia. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik atau shaleh amal perbuatannya. Semoga Allah meringankan dan menolong kita untuk beramal shaleh, guna masa depan kita. Allah al-musta’an, Allah tempat memohon pertolongan. Allah a’lam bi al-shawab.

 

Ditulis oleh: Nova Alfie Annisa (2015)