Lebaran, Munajat, Halal Bi Halal

H

“Cinta hendaknya untuk merasa bahagia

Jika nurani berkata

Akal sehat berkuasa

Hidayah Ilahi nuansakan surga

Tuhan ada di semua umat-Nya

Bergegaslah luapkan kata maaf

Seiring doa

Hamba dengungkan takbir Ilahi

Allahu Akbar Walillailham

Bedug pun ditabuh

Menandakan hari kemenangan telah tiba

Insan manusia bergembira

Sambut lebaran milik kita.”

            (Lebaran Milik Kita, merupakan sepenggal puisi karya Dewantara Soepardi, yang dapat menginspirasi kita semua untuk lebih berusaha, dibalik diagnosa brain injured (cerebral palsy tipe quadriplegia) terhadapnya).

Tak terasa bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat ini hampir berakhir. Bulan dimana umat muslim wajib berpuasa, berlomba-lomba khatam Al Qur’an, melakukan shalat malam, dan berbagai ritual agama lainnya, yang semua dilaksanakan untuk meraih ridha dan pahala dari Allah SWT.

Hari Raya Idul Fitri atau yang lebih akrab disebut Lebaran, adalah hal yang selalu dinantikan oleh umat Muslim. Hari kemenangan, merayakan “kemenangan” umat muslim setelah sebulan berpuasa, menahan nafsu, menjaga hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang buruk dan dilarang oleh Allah SWT. Semua orang berkumpul. Saling melempar senyum dan bersalaman sambil berkata, “Ngaturaken Sugeng Riyadi nggih Pak, Bu…” (terjemahan: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak, Bu..”) atau mengirimkan pesan singkat bertuliskan, “Taqabbalallahu minkum ahyaakumullah li amtsaalihi kulla ‘aamiin wa antum bi khair” – Semoga Allah menerima (amal) kalian semua. Semoga Allah memanjangkan umur kalian di tahun-tahun yang sama, dan kalian senantiasa dalam keadaan baik.”

Di Indonesia yang tercinta ini, banyak tradisi yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari tradisi beli baju dan alat ibadah baru (atau bahkan kembaran satu keluarga), memasak lontong opor lengkap dengan kerupuk, camilan kue kaleng dari parcel yang akan menjadi hiasan di meja tamu selama sebulan ke depan, tradisi terima tunjangan hari raya bagi kaum muda, tradisi sungkeman dengan anggota keluarga, tradisi copy paste dan kirim SMS pantun atau puisi yang diawali dengan frasa “air tak selalu jernih..” berkedok meminta maaf hingga tradisi halal bi halal.

Tradisi halal bi halal seperti menjadi annual event yang dilaksanakan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari perkumpulan alumni sekolah, keluarga mahasiswa, perkumpulan pegawai kantor hingga paguyuban di kampung.

Penggagas istilah halal bi halal itu sendiri adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Sedikit bercerita, pada tahun 1948, Indonesia sempat dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar dan tidak mau duduk dalam satu forum. Kemudian, Ir. Soekarno yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI, meminta pendapat dari KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang sedang tidak sehat. Kebetulan pada waktu itu mendekati datangnya Hari Raya Idul Fitri, sehingga KH Abdul Wahab Chasbullah memberikan saran kepada Ir. Soekarno untuk mengadakan silaturrahim. Namun Ir Soekarno menginginkan istilah lain itu menggantikan terminologi silaturrahim.

Kemudian, KH Abdul Wahab Chasbullah menjelaskan, ”Para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu berdosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halal bi halal.

Tradisi halal bi halal ini kemudian diikuti masyarakat muslim secara luas. Sebenarnya, kegiatan yang mirip dengan halal bi halal ini sudah dilaksanakan sejak era kepemimpinan KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa, namun beliau belum menyebut kegiatan tersebut dengan istilah halal bi halal, meskipun esensinya sudah ada.

Istilah halal bi halal ini secara nyata dicetuskan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halal bi thariqin halal) adalah mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisa kedua (halal yujza’u bi halal) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Terlepas dari segala keberagaman pendapat mengenai halal bi halal, bukankah suatu hal yang sangat baik apabila kita masih bisa berkumpul dengan kawan lama, saling meminta maaf, saling bercerita, hingga saling bermunajat untuk kebaikan satu sama lain?

Sebagai contoh, Halal Bi Halal alumni SMP Negeri X Angkatan 1980.

Kalau bukan karena halal bi halal, mungkin saja angkatan yang sudah berusia lebih dari 30 tahun itu tidak akan berkumpul bersama dan bertemu, bahkan saling mengirim pesan atau surat pun belum tentu. Bagaimana ya kabar si X teman sebangku waktu sekolah dulu? atau Bagaimana ya kabar si Y yang pernah menolongku ketika kesusahan? Padahal kita sebagai umat muslim, memiliki kewajiban untuk menjaga tali silaturahmi dan ukhuwah yang telah dibangun. Melalui kegiatan halal bi halal tersebut, banyak kata maaf dan memaafkan yang terucap, banyak tawa bahagia hingga air mata yang menetes akibat pengakuan kesalahan, hingga banyak doa-doa baik yang terpanjatkan untuk Allah SWT.

Seperti sabda Rasulullah SAW, “Allah merahmati seorang hamba yang pernah berbuat dzalim terhadap harta dan kehormatan saudaranya, lalu ia datang kepada saudara yang didzaliminya itu untuk minta kehalalannya sebelum ajal menjemput.” (HR Tirmidzi dan Abu Hurairah)

Setiap orang hampir bisa dipastikan pernah berbuat salah dan khilaf. Rasulullah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa semua bani adalah khattha’un, adalah yang banyak berbuat dosa dan maksiat. Dan sebaik-baik khattha’un adalah at-tawwabun, yaitu orang yang banyak bertaubat.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Anas bin Malik RA.

Sehingga, bukanlah suatu hal yang memalukan (aib) apabila kita mengakui kekhilafan dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita perbuat kepada saudara kita, tetangga kita, atau bahkan teman kerja/kuliah kita yang bahkan jarang bertegur sapa dengan kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memiliki tanggungan kedzaliman terhadap saudaranya, entah dalam hal kehormatan atau pun hartanya, maka hendaklah meminta kehalalannya hari ini. Sebelum datang hari (kiamat) di mana tidak berguna lagi dirham dan dinar. Pada hari kiamat nanti, bila seseorang yang mendzalimi belum meminta kehalalan dari saudaranya, maka bila ia memiliki amal kebaikan, sebagian amal kebaikannya itu diambil sekadar kedzaliman yang ia lakukan untuk diserahkan kepada orang yang sudah pernah ia dzalimi. Bila ia sudah tidak memiliki sisa amal kebaikan, maka dosa yang dimiliki orang yang pernah ia dzalimi di dunia akan dilimpahkan kepadanya senilai kedzaliman yang pernah ia lakukan. (HR Bukhari dan Abu Hurairah RA)

Maka, jangan sampai dosa-dosa yang kita punya akibat berbuat khilaf tersebut dibawa mati hanya karena kita merasa gengsi untuk meminta maaf. Karena sebagai ganti dari kedzaliman yang belum diminta kehalalannya, dosa orang yang kita dzalimi akan dialihkan menjadi tanggungan kita.

Walaupun kegiatan halal bi halal memang sudah banyak dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat di Indonesia, akan tetapi, bukan halal bi halal itu sendiri yang wajib untuk dilaksanakan, melainkan saling meminta maaf, bersilaturrahim dan menjaga ukhuwah itulah yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.

*cerita mengenai latar belakang lahirnya istilah Halal Bi Halal didapat dari KH Masdar Farid Mas’udi.

Ditulis oleh:

Nova Alfie Annisa (2015)

KMFH UGM “Nandur Bibit” di Jojoran Kulon

Pada tanggal 30 April 2017 lalu, Keluarga Muslim Fakultas Hukum melalui program kerja Departemen Pelayanan Umat menyelenggarakan kegiatan bertajuk ‘Nandur Bibit’ di Desa Jojoran Kulon, Bantul, DIY yang merupakan desa binaan KMFH. Kegiatan Nandur Bibit ini bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Serayu Opak Progo, Yogyakarta. Sebanyak 2.500 bibit pohon yang terdiri dari 500 bibit pohon Jabon Merah dan 2.000 bibit pohon Jati telah dibagikan kepada warga serta sebagian ditanam di dua titik di wilayah desa Jojoran Kulon.

1

2

Kegiatan Nandur Bibit ini diikuti oleh warga desa Jojoran Kulon yang didominasi dari kalangan bapak-bapak, serta para anggota aktif Keluarga Muslim Fakultas Hukum. Kegiatan ini diawali dengan acara sambutan, tausyiah kemudian mengobrol santai sambil menikmati hidangan makanan kecil.

3

 

Kemudian, kegiatan langsung dilanjutkan pada sesi menanam dan membagikan bibit pohon. Seluruh warga bersama dengan anggota KMFH saling bahu-membahu untuk menanam bibit pohon. Banyak pengetahuan dan pengalaman yang kami dapatkan langsung dari para warga, mulai dari bagaimana cara menanam pohon yang benar, hingga petuah-petuah yang secara spontan terucapkan. Disini, nilai kekeluargaan benar-benar terasa.

4

Kegiatan ditutup dengan sesi foto dan makan siang bersama di salah satu rumah warga. Semoga pohon-pohon yang telah ditanam ini dapat memayungi para warga serta bermanfaat, aamiin ya robbal alamin.

6

Modernisasi : Elegi Kemanusiaan dan Kebangkrutan Sosial

 

“Kalau dahulu banyak luka kemanusiaan dalam perjalanan sebuah peradaban berpangkal pada sikap chauvinis yang berlebihan. Kini tampaknya egoisme mengambil alih.”

….

Sejarah peradaban manusia telah mengalami percepatan sedemikian rupa. Kita hidup di era dimana kemajuan di berbagai bidang tersosialisasikan dengan mudahnya. Percepatan dan segala kemajuan di berbagai bidang ini pun tentu sangat mempengaruhi pola interaksi antar-manusia yang tampak lebih condong kearah destruktif.

Ada satu pesan khusus yang dapat kita tangkap dari sebuah kemajuan, bahwasanya kita akan segera memasuki dunia yang serba ekstrim di masa depan apabila manusia kehilangan respons terhadap rasa kemanusiaannya. Namun tanda-tanda ini nampaknya mulai tumbuh dalam pola interaksi masyarakat. Sebut saja yang terkini yakni semakin sering disebarnya fitnah dan hoax di media sosial yang mempengaruhi mental masyarakat. Dan entah secara sadar atau tidak telah membuat masyarakat mengorbankan jati diri kemanusiaannya.

Berbagai kemajuan dan segala implikasinya dapat melipat potensi kemanusiaan dalam diri. Berbagai anstisipasi demi mempertahankan kemanusiaan mesti dilakukan. Harus ada sebuah pemahaman mendalam dan penanaman budaya kritis di titik ini. Namun tak hanya sampai disitu, secara esensial haruslah dapat tercapai sebuah tindakan sosial yang didasari rasa kasih sayang/emosi (Affectual Effect).

Pemaknaan kemanusiaan dapat kita temukan dalam salah satu ajaran Gandhi, yakni ahimsa. Ahimsa tidak sebatas hanya pada keyakinan atau sikap saja, ia meliputi segala pikiran, tindakan, dan ucapan. Ahimsa pun mencakup seluruh ciptaan, itu artinya bahwa orang harus berlaku secara ahimsa kepada siapa pun. Ahimsa ditujukan agar kita mempunyai keteguhan jiwa. Pemaknaan tersebut dapat dijelaskan bahwa makna ahimsa lebih menekankan pada makna penolakan atau penghindaran secara total terhadap segenap keinginan, kehendak atau tindakan yang mengarah pada bentuk penyerangan atau melukai siapa pun. Inilah kemanusiaan.

Islam, Kemanusiaan, dan Permasalahan Sosial

Praktek beragama menjadi jalan paling efektif dan solutif untuk menumbuhkan kemanusiaan dalam diri seseorang, agama apa pun itu, tentu mengajarkan segala hal tentang kebaikan dan salah satunya tentang kemanusiaan. Kesalehan individual yang diajarkan dalam beragama selalu melahirkan efek-efek kesalehan sosial. Apabila tidak, dapatlah dikatakan bahwa telah terjadi kebangkrutan sosial.

Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW pernah menyinggung masalah ini,

“Apakah kalian tahu siapakah sebenarnya orang yang bangkrut? Para sahabat nabi mengatakan: ”orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan harta benda”. Nabi bersabda: “Bukan demikian. Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa dan zakat. Tetapi pada saat yang sama dia juga datang sebagai orang yang pernah mencaci-maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka para orang lain (korban) tersebut akan diberikan pahala kebaikan dia (pelaku/al-muflis). Ketika seluruh kebaikannya habis sebelum dia dapat menebusnya, maka dosa-dosa korban akan ditimpakan kepadanya (pelaku), kemudian dia (pelaku) dilemparkan ke dalam neraka”. (H.R. Imam Muslim, Imam Ahmad dan Tirmizi).

….

Berbagai kemajuan telah membawa kita ke dua tempat, ke arah pembangunan dan kehancuran sekaligus. Modernisasi harus disikapi dalam sebaik-baik bentuk dan prasangka, tanpa harus melupakan keburukan-keburukan yang selalu bersamanya.

Kemanusiaan menjadi barang mahal di era ini. Lalu kenapa mesti kemanusiaan? Ya, sebab ia seperti mutiara, meski di lumpur sekalipun, ia tetaplah mutiara dengan segala keindahannya. Yang pasti manusia lah titik sentralnya. Ia subyek sekaligus objek perubahan, bahwa dalam perubahan, kemajuan dan pembangunan apapun itu, dimensi manusia harus tetap dikedepankan.

 

Ditulis oleh : Rakha Gurand (2016)

Bratayuda Jayabinangun: Filosofi Perang Penundukkan Hawa Nafsu

Bagaimana mungkin pementasan wayang kulit yang dilaksanakan semalam suntuk, dapat membuat penontonnya tetap melek dan tidak bosan?

Pementasan wayang kulit yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh PBB ini lambat laun mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Banyak yang tidak tahu, bahwa pementasan wayang kulit bukanlah sekadar haha hihi belaka, namun pementasan wayang kulit banyak mengandung filosofi mendalam mengenai nilai-nilai kehidupan dan agama. Wayang, yang dulunya dijadikan salah satu media dakwah oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa, memiliki banyak corak. Namun yang paling terkenal adalah wayang kulit.

Ada dua alasan mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Scara normatif, Sunan Kalijaga telah mengajarkan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang untuk memeluk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkolerasi dengan nilai Islam. Sehingga tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Secara kreatif, para tokoh wayang diganti nama dengan rukun Islam yang ada lima jumlahnya. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) bernama Jamus Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Dimana shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa. Dimana puasa identik dengan proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat serta duniawi. Kemudian Nakula dan Sadewa merupakan simbolisasi dari zakat dan haji.

Perang Bratayuda Jayabinangun memiliki makna yang mendalam mengenai pedoman hidup, dan bagi sebagian orang yang diberkahi kapabilitas untuk dapat menerima dan memahami akan hal ini, perang ini kerap dijadikan sebagai ideologi terbuka. S.Haryanto, dalam bukunya yang berjudul “Bayang-Bayang Adiluhung” (1995), memaparkan bahwa makna Perang Bratayuda adalah perang batin melawan keruwetan hidup (brata= ruwet, yuda= perang) dimana yang dimaksud lebih jauh bahwa banyak orang dalam menghayati dan menghadapi kenyataan hidup yang serba ruwet, mengakibatkan frustasi dan putus asa karenanya. Hal itu berbeda dengan cara orang beriman, yakni senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, dimana itulah satu-satunya jalan untuk menyelematkan diri dari situasi yang ruwet dalam kehidupan.

Perang Bratayuda Jayabinangun antara Pandhawa dan Kurawa, jika dilihat dari konteks spiritual, mengisyaratkan simbolisasi ‘perang’ melawan hawa nafsu dirinya sendiri. Nafsu ammarah (nafsu yang mengajak keburukan atau angkara murka) harus dikalahkan serta tidak diberi tempat untuk berekspresi. Begitu pula dengan nafsu lawwamah (nafsu yang menyesal dan mencela) dan nafsu supiyah atau mulhimah (bisikan-bisikan hati) serta nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang) harus dikendalikan atau ditempatkan secara proporsional.

Dalam perang ini, diceritakan pengendalinya adalah Sri Bathara Kresna, yang tugasnya memang memelihara perdamaian dan kelestarian alam, memayu hayuning bawana atau rahmatan lil ‘alamin.

Menurut Imam Al-Ghazali, musuh utama yang paling sulit untuk ditundukkan manusia adalah hawa nafsu. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa An-Nafs (nafsu) mempunyai dua arti; 1) arti yang mencakup kekuatan amarah, syahwat dan sifat-sifat tercela. Sebagaimana yang dimaksud dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Musuhmu yang paling jahat ialah nafsu yang berada di rongga badanmu.” Dimana kita harus memerangi nafsu dan menundukkanya; 2) bisikan Rabbani yang merupakan salah satu makna roh, hati dan jiwa pula.

Nafsu, yang identik dengan kebiasaan selalu meminta lebih, harus dikendalikan secara profesional agar mendapatkan bagian proporsional. Maka dari itu, para ahli sufi memberikan tips agar manusia dapat menundukkan hawa nafsunya, yaitu dengan 4 cara: diam (tidak banyak bicara), berada di tempat yang sunyi, bangun malam (mengurangi tidur) dan dalam keadaan lapar.

Secara singkat, dalam perang ini diceritakan bahwa Pandhawa yang dikenal sebagai sosok protagonis harus berhadapan dengan sang guru, Begawan Durna. Begitu pula dengan sosok Resi Bhisma, yang merupakan simbolisasi dari rasa takut dan kekhawatiran dalam diri manusia dan Prabu Salya, yang melambangkan ingsun/ego yang berada dalam jiwa manusia. Serta harus melawan saudara sendiri, Adhipati Karna, yaitu putera Dewi Kunthi Talibranta dengan Bathara Surya, yang melambangkan angkara/kejahatan, dimana apabila bisa mengalahkan Adhipati Karna, berarti sanggup mengendalikan angkaranya dan para Kurawa yang dikenal sebagai sosok antagonis. ‘Saudara sendiri’ yang dimaksud adalah hawa nafsu, yang senantiasa hidup dalam diri kita. Begitulah kiasan seseorang yang sedang berjuang di jalan Tuhan: hatinya harus tertuju dan terniatkan pada satu hal, yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun, tidak boleh tergoda oleh suatu hal apapun.

Seseorang yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsu  pada hakikatnya telah berhasil memenangkan perang yang agung. Hal ini bukan berarti ketika memerangi hawa nafsu, seseorang akan berdiam diri dan tidak melakukan suatu hal apapun. Tetapi justru menyumbangkan segala pikiran, tenaga dan kontribusi maksimal kepada masyarakat dan kehidupan sosial, itulah yang dapat dikatakan sebagai agen dakwah, yang siap berkorban dengan segala yang dimilikinya.

Dalam buku berjudul Dhalang, Wayang dan Gamelan karya Wawan Susetya, dikatakan bahwa makna dari Bratayuda adalah senang berperang melawan hawa nafsu, sedangkan Jayabinangun adalah membangun kejayaan atau kelanggengan manusia di alam kelanggengan (akhirat).

Wayang merupakan karya seni para pendahulu, dan oleh para pendakwah Islam dijadikan sebagai instrumen atau media dakwah. Karena dalam berdakwah, Allah SWT menyerukan dengan cara, metode dan pendekatan yang bijaksana, nasihat yang baik dan diskusi dengan cara yang lebih baik. Sesuai yang termaktub dalam Surat An-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah meeka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Islam itu melindungi dan mengayomi. Islam mengajarkan harmoni dan keindahan. Mari kita tingkatkan ibadah ritual-vertikal kepada Allah, dan tuangkan dalam wujud nyata dalam ibadah sosial-horizontal kepada sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya mulia. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik atau shaleh amal perbuatannya. Semoga Allah meringankan dan menolong kita untuk beramal shaleh, guna masa depan kita. Allah al-musta’an, Allah tempat memohon pertolongan. Allah a’lam bi al-shawab.

 

Ditulis oleh: Nova Alfie Annisa (2015)

Sekolah Debat 2016

103921

Tepat pada tanggal 9 November 2016, Departemen Pengkajian dan Wacana KMFH UGM mengadakan sekolah debat yang bertempat di ruang 7.2.4 FH UGM (ruang sidang 4). Sekolah debat kali ini dihadiri dari berbagai kalangan mahasiswa, Tio (mahasiswa FH UGM 2015) selaku pembawa acara membuka acara tersebut dengan ucapan pembuka. Setelah itu barulah acara dipandu oleh Husni (mahasiswa FH UGM 2014) selaku moderator yang mengajukan pernyataan untuk membuka sesi materi. Materi disampaikan oleh Ola Anisa Ayutama, S.H. dengan baik dan berbobot, beliau menyampaikan materi tentang tata cara debat yang baik dan benar mulai dari bahasa tubuh dan bahasa verbal, selanjutnya beliau juga memberikan tips membedah mosi yang baik.

Pada kali ini mosi yang dibedah adalah “Usulan Pemerintah untuk menaikkan dana bantuan kepada partai politik” mulai dari cara membangun argumen pro dan kontra pun dibahas dengan terstruktur dan sangat baik sehingga mudah dicerna oleh para peserta. Sesi selanjutnya yaitu simulasi debat, pada sesi ini moderator memandu agar peserta dibagi menjadi tim pro dan tim kontra, mosi untuk simulasi debat kali ini adalah “Pengetatan pemberian remisi bagi terpidana korupsi” dalam waktu 10 menit peserta diberikan kesempatan untuk membedah mosi tersebut sesuai tim masing-masing. Setelah waktu habis barulah simulasi debat dimulai, simulasi debat kali ini sangat menarik karena dari masing-masing tim memberikan argumen yang sangat baik.

Setelah selesai sesi simulasi barulah Ola Anisa Ayutama, S.H selaku pemateri memberikan komentar yang sangat membangun dan sangat mengapresiasi hasil dari simulasi debat tersebut. Acara sekolah debat ini akhirnya ditutup dengan kesimpulan yang disampaikan oleh moderator sekaligus menjadi penutup dalam acara Sekolah Debat.

Diskusi Umum Usulan Kenaikan Dana Bantuan Pemerintah Untuk Parpol Naik 50%

103379

Departemen Pengkajian dan Wacana KMFH UGM bersama BPPM MAHKAMAH FH UGM bekerja sama dalam menggelar diskusi dengan tema “Usulan Kenaikan Dana Bantuan Pemerintah untuk Partai Politik Sebesar 50 Kali Lipat” pada diskusi kali ini mengundang pembicara bernama Luthfi Dwi Hartono seorang mahasiswa FH UGM yang mengambil konsentrasi Hukum Tata Negara, diskusi tersebut dilaksanakan pada 27 Oktober 2016. Beliau mengatakan bahwa Partai Politik memiliki tiga sumber keuangan yaitu iuran anggota, sumber yang sah, dan bantuan pemerintah sebesar 658 Miliar pertahun untuk semua parpol. Bantuan keuangan tersebut hanya mencakup pendidikan politik dan operasional kesekretariatan, tidak ada biaya kampanye. Dia mengatakan bahwa bantuan yang naik sebesar 50% tidaklah masalah karena memang uang tersebut seharusnya digunakan untuk pendidikan politik pada masyarakat yang salah adalah ketika parpol tidak menggunakan uang tersebut sebagai mana mestinya. Dapat pula dilihat dari berbagai faktor untuk menentukan keuangan bukan semata-mata karena ekonomi saja tapi dilihat juga faktor sosial dan politik.

 

Pada sesi tanya jawab ada peserta yang melontarkan pertanyaan mengenai dana bantuan tersebut haruskah dihapuskan atau tidak, namun beliau menjawab bahwa tidak ada yang salah dengan dana bantuan karena mekanisme dan regulasinya sudah jelas yang menjadi masalah adalah sanksinya,Selain itu masalah iuran keuangan dan sumbangan tidak ada regulasinya. Mengenai 50 kali lipatnya (658 miliar) tidak menjadi masalah, karena sesungguhnya APBN adalah 2000 Triliyun yang mana hal itu masih sangat bijak jika menaikkan dana bantuan untuk parpol.

 

Pada akhirnya karena waktu telah semakin sore, diskusi itupun ditutup dengan moderator sekaligus penjelasan singkat selama diskusi berlangsung dan para peserta akhirnya mendapatkan pandangan baru mengenai isu tersebut sehingga bisa menarik kesimpulan masing-masing.

[RILIS RESMI DISKUSI TERBUKA BERSAMA KMFH UGM DENGAN TEMA “KASUS AHOK DAN AL MAIDAH: 51 TINJAUAN DARI SISI TAFSIR AL-QURAN DAN HUKUM]

Tepat pada tanggal 18 Oktober 2016 DPW KMFH UGM bersama DST KMFH UGM menggelar diskusi terbuka yang bertemakan “Kasus Ahok dan Al Maidah: 51 Tinjauan dari Sisi Tafsir Al Quran dan Hukum” yang dimoderatori oleh Jatmiko Wirawan. Diskusi tersebut diselenggarakan di Fakultas Hukum UGM tepatnya di ruang 5.3.1 FH UGM. Pembicara pada diskusi kali ini yaitu : Ustad Ismail selaku pembicara pertama memaparkan materi mengenai tafsir Surat Al-Maidah ayat 51 serta Sejarah Islam. Beliau mengatakan bahwa ada orang yang berpandangan bahwa dulu pada zaman nabi Muhammad SAW ada pemimpin yang berasal dari kalangan kafir beliau menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena pada saat itu nabi Muhammad SAW belum diangkat menjadi nabi dan setelah menjadi nabi pun belum banyak yang menganut agama Islam di Mekkah oleh karena itu nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, setelah di Madinah barulah ajaran Islam diterima dan banyak pengikutnya sampai muncul masyarakat yang mayoritas Islam. Jadi Pada saat itu barulah bermunculan pemimpin yang beragama Islam. Surat Al Maidah ayat 51 ini baru diturunkan di Madinah pada setelah munculnya masyarakat muslim, jadi alasan bahwa pada sejarahnya tadi tidak bisa dipakai untuk alasan memilih pemimpin non muslim(kafir). Begitu pula pada masa khalifah Umar yang pada saat itu Abu Musa selaku Gubernur Basrah yang kurang pandai dalam hal tulis menulis dan mengangkat sekretaris dari kalangan non muslim karena orang tersebut pandai dalam hal tulis menulis, begitu tiba saat melaporkan laporannya Umar menyuruh Abu Musa untuk mendatangkan Sekretaris yang diangkatnya untuk melaporkan laporannya di dalam mimbar Masjid, lalu Abu Musa mengatakan bahwa sekretarisnya tidak bisa memasuki Masjid dan Umar bertanya apakah dia sedang Junub? Jawab Abu Musa tidak, dia bukan orang yang beragama Islam. Mendengar perkataan tersebut Umar langsung memerintahkan Abu Musa untuk mencopotnya dan mengganti dengan orang yang beragama Islam sebab alasan tersebut tidak bisa diterima untuk memilih orang non muslim untuk mengurus urusan negara. Jadi kisah ini menyatakan bahwa umat Islam dilarang untuk menyerahkan urusan negara kepada seorang non muslim, baik itu pemimpin maupun jabatan struktural lainnya.

Kemudian ustad Ismail menjelaskan bahwa tafsir dari Surat Al Maidah ayat 51 itu tidak boleh menjadikan pemimpin orang (selain Islam) dan juga sudah terjadi pada saat Khalifah Umar, lalu ustad Ismail mengatakan bahwa tidak boleh sembarangan menafsirkan, yang harus diperhatikan dalam menafsirkan Al Quran itu harus menguasai 15 cabang ilmu sehingga jika ada orang yang tidak ahli dalam menafsirkan Al Quran itu kalau tafsirannya benar maka dia dapat dosa 1 kalau salah dapat dosa 2, salah satu cara dalam menafsirkan Al Quran itu harus dilihat secara keseluruhan jadi setiap ayat dalam Al Quran itu berkaitan satu sama lainnya tidak boleh terpaku pada satu ayat saja.

Diskusi dilanjut dengan pembicara kedua yaitu pak Sigid Riyanto, S.H., M.Si. yang memaparkan kasus Ahok dalam perspektif hukum pidana khususnya pasal terkait yaitu Pasal 156a ayat (1) dan Pasal 4 Undang-undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Berikut bunyi Pasal 156a ayat 1 KUHP “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. Beliau mengatakan Pasal 156a ayat (1) KUHP merupakan delik formil dan selanjutnya beliau mengurai unsur delik Pasal 156a ayat (1) KUHP menjadi:

Unsur Subjektif: barang siapa dengan sengaja

Unsur Objektif:

  1. Dimuka umum
  2. Mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan
  3. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia

Lalu beliau menerangkan bahwa unsur barang siapa itu menunjuk orang atau subyek dalam perkara tersebut telah dilakukan oleh seseorang (jelas ada pelakunya), sedangkan unsur dengan sengaja bahwa diri pelaku secara psikis menyadari atas segala perbuatan yang dilakukan dalam perkara in casu pembuat pernyataan adalah sehat secara rohani dan sedang melaksanakan tugas. Artinya bahwa yang bersangkutan memiliki kecakapan, pada perkara tersebut dalam keadaan sehat ketika melakukan hal tersebut, unsur tersebut telah terpenuhi. Lalu beliau menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam persoalan in casu sedang memberikan sambutan sebagai Gubernur dalam acara kedinasan dan pelaku menyadari dan/atau mengharapkan akan ada akibat yang diinginkan dari beberapa pernyataan yang dikemukakan oleh pelaku, maka yang bersangkutan ada keinginan untuk dipilih menjadi Gubernur meskipun para pemilih tidak seagama dengan oknum unsur tersebut telah terpenuhi.

 

Pada unsur dimuka umum telah terpenuh karena pelaku melakukan hal tersebut di depan umum, pelaku juga memenuhi unsur mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, dalam perkara in casu pelaku menyatakan bahwa “Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu” hal ini bermakna bahwa ada orang atau pihak tertentu seperti ustad atau kyai yang membohongi atau membuat bohong padahal dalam agama Islam, ustad atau kyai merupakan orang yang sangat dihormati, sedangkan unsur penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia agama diakui di Indonesia berdasarkan penjelasan Pasal 1 UU PNPS Tahun 1965 di Indonesia ada 6 agama yang diakui, salah satunya adalah Agama Islam, diama surat Al Maidah ayat 51 memberikan pedoman cara memilih pimpinan maka kalau disebut “dibohongi” oleh surat tersebut maka merupakan perbuatan yang menodai keyakinan umat Islam. Oleh karena itu dalam perkara in casu sudah terbukti dan sudah seharusnya hukum ditegakkan hanya saja tergantung bagaimana penegakan dari para penegak hukum itu sendiri.

 

Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, Pertanyaan pertama dari Arvel yang menyatakan bahwa dalam teori Filsafat Hukum, pemimpin dibagi menjadi ulama dan umara. Apakah masih relevan konteks pemimpin yang dikualifikasikan dalam Surat Al Maidah ayat 51, di keadaan yang sekarang dimana Indonesia merupakan negara besar dan Islam sudah semakin luas. Apakah umara dan ulama bisa saling bersanding dalam melaksanakan tugasnya?

Jawaban dari Ustad Ismail yaitu pada zaman Rasulullah dan sesudahnya (khalifah), yang dipilih adalah orang-orang alim sehingga beliau dapat melaksanakan tugas kepemimpinan sesuai dengan perintah Allah SWT. Pada saat itu, kategori ulama dan umara tergabung dalam satu orang, sehingga memang benar-benar orang yang alim dan ahli.

Contoh : ketika ada orang yang tidak membayar zakat atau melakukan perbuatan pidana, maka itu menjadi urusan negara.

Berbeda dengan sekarang, karena Indonesia tidak menerapkan Hukum Islam. Apabila diterapkan maka yang terjadi adalah kejanggalan-kejanggalan. Bukan masalah relevan atau tidak relevan, karena hukum dalam Al Qur’an akan selalu relevan. Maka yang dapat dilakukan adalah menaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya Surat Al Maidah ayat 51 tetap relevan untuk dijalankan, namun harus memperbaiki dari segi kualitas keislaman orang-orang Islam di Indonesia. Permasalahan yang terbesar ada dalam kualitas diri orang-orang Islam tersebut, apakah sudah mematuhi ajaran agama sesuai dengan seharusnya atau belum. Menurut Islam (Surat Al Maidah ayat 51 dan ayat 78), tidak akan menjadikan Yahudi/Nasrani sebagai pemimpin. Jadi menurut Islam, pemimpin haruslah seorang mukmin.

 

Pertanyaan selanjutnya dari Jovi, yang pada intinya menanyakan seperti apa sosok Nabi Isa AS atau Yesus Kristus dalam Islam? Bagaimana Islam memandang kafir? Apakah adil ketika memang Pasal 156a ayat (1) dikatakan sebagai delik formil? Karena menurut dirinya Pasal tersebut merupakan delik materil dan harus dibuktikan alat bukti mengenai hal tersebut.

Jawaban dari ustad Ismail

  1. Nabi Isa adalah seorang manusia dan hamba Allah SWT. Nabi Isa berasal dari kaum nasrani yang artinya (menolong). Dalam hal ini menolong yang dimaksudkan adalah menolong dalam mendakwahkan agama Allah. Dalam Islam Nabi Isa adalah seorang Nabi, hamba Allah SWT dan bukan merupakan ruh Tuhan. Namun Nabi Isa adalah ruh yang diistimewakan karena terlahir dengan tidak memiliki ayah, Nabi Isa AS memiliki tugas yang sama dengan Nabi yang lain, yaitu memperjuangkan agama Allah dan kaum Nabi Isa AS disebut Kaum Nasrani (orang-orang yang menjadi penolong Nabi Isa dalam perjuangan dakwahnya)
  2. Kafir adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan tidak mengikuti perintah Allah SWT. Walaupun dia mengaku beriman kepada Allah SWT, tetapi apa yang dilakukannya tidak sejalan dengan perintah Allah SWT dan syariat Rasulullah SAW, maka dia termasuk orang yang kafir.

Jawaban dari pak Sigid

  1. Pompei menjelaskan niat berbeda dengan kesengajaan. Niat merupakan unsur subyektif sehingga tidak dapat diobjektifkan, yang mengetahui niat adalah orang yang berniat itu sendiri dan Tuhan. Sedangkan kesengajaan adalah unsur objektif. Ada perbuatan nyata yang dilakukan dan memiliki unsur niat yang sudah diobjektifkan. Apabila seseorang sudah memberikan ungkapan atau perbuatan, maka dalam hati pelaku sudah terdapat niat untuk mempengaruhi atau membuat akibat terhadap orang lain/lingkungannya.
  2. Delik materil mendasarkan pada suatu akibat. Penodaan agama tidak mendasarkan pada akibat, tapi perbuatan yang ia lakukan. Misalnya pada unsur dilakukan di depan umum, merupakan unsur perbuatan. Kemudian pada unsur dibodohi hal ini brmakna ada yang MELAKUKAN PERBUATAN, yaitu orang yang melakukan pembodohan, dalam perkara in casu adalah menodai agama dan menimbulkan permusuhan.

 

Pertanyaan terakhir yaitu dari Istigfaro Anjaz yang mengaitkan Pasal 72 ayat (3) Undang-undang Penetapan Kepala Daerah dan sanksi yang terdapat pada Pasal 72 ayat (5) Undang-undang Penetapan Kepala Daerah dengan perkara in casu bukankah seharusnya hal tersebut dikategorikan dalam perkara pemilihan, bukan pidana? Serta menyatakan pendapat bahwa dirinya tidak sepakat apabila dalam memilih pemimpin kita tidak boleh mempertimbangkan unsur agama. Dalam menentukan pilihan, tidak bisa sekedar hanya mempertimbangkan kinerja dan visi-misi, unsur agama maupun suku bangsa juga merupakan pertimbangan yang wajar.

Jawaban dari Pak Sigid yaitu merujuk pada deliknya, termasuk delik khusus atau delik umum, maka memungkinkan untuk diberikan dakwaan kumulatif. Serta menegaskan bahwa perlu ada kajian kembali apakah perbuatan tersebut bertujuan untuk menjatuhkan pasangan calon yang lain atau semata-mata penistaan agama, hal tersebut kembali lagi kepada wessenchau (maksud dari si pembuat undang-undang)

Setelah sesi tanya jawab berakhir maka berakhir pula acara diskusi terbuka tersebut yang ditutup dengan kesimpulan dari moderator. Pada akhirnya peserta diskusi mendapatkan pandangan baru serta masing-masing peserta dapat membuat kesimpulan dari hasil diskusi terbuka ini.

 

 

 

 

 

Tertanda

Aris Munandar selaku Ketua KMFH UGM

Husni Muhammad Fakhruddin selaku Kepala Departemen Pengkajian dan Wacana KMFH UGM

Andy Bagus Burhannudien Jofa selaku Kepala Departemen Syiar dan Takmir KMFH UGM

Kabinet Biqolbimmuniib

Jawaban Telak Untuk Quburiyyun (Pemuja Kuburan)

Ketahuilah! Semoga Allah merahmati kita semua bahwa jalan menuju ridho Allah memiliki musuh-musuh yang pandai bersilat lidah, berilmu dan memiliki argumen. Oleh karena itu kita wajib mempelajari agama Allah yang bisa menjadi senjata bagi kita untuk memerangi syaitan-syaitan ini, yang pemimpin dan pendahulu mereka (baca: iblis) berkata kepada Robb-mu ‘azza wa jalla:

لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau akan mendapati mereka kebanyakan tidak bersyukur (ta’at).” (QS. Al A’raaf: 16-17)

Ketahuilah, sesungguhnya tentara Allah akan senantiasa menang dalam argumen dan perdebatan sebagaimana mereka menang dengan pedang dan senjata. Seorang muwahhid (orang yang bertauhid) yang menempuh jalan (Allah) namun tanpa senjata (ilmu untuk membela diri) amatlah mengkhawatirkan.

Allah ta’ala telah memberi nikmat kepada kita dengan menurunkan kitab-Nya yang Dia jadikan:

تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Sebagai penjelas atas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An Nahl: 89)

Tidak ada seorang pun pembawa kebatilan datang dengan membawakan hujjah (demi membela kebatilannya) melainkan di dalam Al Quran terdapat dalil yang membantahnya dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang (ganjil), melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al Furqon: 33)

Termasuk ahlul bathil adalah ahlul bid’ah dan para quburiyyin yang sesat mereka tinggalkan kewajiban ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan menyekutukan Allah dengan selain-Nya yaitu para nabi dan wali. Mereka memiliki dalih-dalih. Untuk menjawabnya dapat ditempuh dua metode, secara global dan rinci.

Jawaban Global

Allah ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ

“Dialah yang menurunkan Al Quran kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutsyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imron: 7)

(Ayat muhkamat adalah Ayat yang jelas dan tegas maksudnya dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang pengertiannya hanya diketahui oleh Allah. Termasuk pengertian ayat mutasyaabih adalah ayat yang sukar untuk dipahami walaupun tidak menutup kemungkinan ada yang dapat memahami karena ilmunya lebih mumpuni -pent).

Sumber: muslim(dot)or(dot)id