Bangsa Ini Masih Subuh

Bangsa ini masih subuh. Ia bagai seorang balita yang sedang merangkak namun ada orang tua yang mematahkan kakinya. Sebenarnya tak ada beda dengan bangsa lain. Bangsa yang sama-sama memiliki tanah, pemerintah dan rakyat. Tapi ada sebuah rahasia yang membuat bangsa ini masih subuh.

Telingaku selalu terngiang mendengar ucapan ayah kala itu. Sebuah ucapan yang baru kumengerti setelah terjadi suatu peristiwa. Ya, peristiwa itu memang sangat membekas seperti luka bakar yang mencokol dalam kulit tipis pipiku. Perih. Pedih.

Dibawah raja surya yang menyengat, kubiarkan lengan mungil ini bermain di jalanan. Tangan kanan kupegang kecrekan yang sengaja dibuat dari kayu lalu di sisi kanan dan kirinya menempel bekas tutup botol minuman. Ada sebuah plastik bekas bungkus permen yang tergenggam di tangan kiriku. Bermodalkan itu tangan mungilku mulai bergerak. Seiring berdendangnya lagu yang kunyanyikan, kecrek di tangan kanan semakin kencang kupukulkan ke tangan kiri. Sudah tak kupedulikan surya yang kian memabakar kulit tubuh. Semangatku berkobar seperti Soekarno yang saat itu ingin memerdekakan bangsa ini.

Setiap hari begitulah kerjaanku. Tak ada hari yang lebih indah selain dari bernyanyi di jalanan, di setiap sudut lampu merah. Mengamen. Untuk anak seusiaku mungkin ini tak wajar, sangat tidak wajar sepertinya. Tapi apalah daya bagi aku dan ayahku yang hanya mempunyai satu kaki. Bukan hanya hilang satu kaki, bahkan ia pun tak sanggup melihat dengan mata dzohirnya. Ayahku hanya bisa melihat dengan batinnya saja, tak lebih.

Setiap sore sekitar pukul lima aku kembali ke tempat berteduhku Selalu saat akan pulang, sekolahan di dekat rumahku terlewati.. Dan selalu ada yang membuat ulu hati tersentuh. Ada bagian yang ingin aku miliki dari sekolah itu. Bukan bangkunya, tidak gurunya juga bukan seragam merah-putih yang kuinginkan tapi kain merah-putih yang terus dikibarkan di tiang halaman sekolah. Aku pun sungguh tak mengerti mengapa diri ini ingin memilikinya secara pribadi. Merahnya mempesona. Putihnya berwibawa. Aku suka dan sangat ingin menjamahnya.

“Ayah, aku ingin beli bendera,” pintaku setiba di rumah.

“Bendera apa, Nak?”

“Merah-putih, Yah,” aku melihat ke arah wajahnya pertanda memohon. “Bendera Indonesia, boleh, ya?”

Dia, lelaki yang paling kucintai di dunia ini tak menjawab apa-apa. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya walau hanya satu kata. Hanya anggukan dengan seulas senyum yang diberikan. Dirabanya tanganku lalu naik ke pundak dan tibalah di ujung kepalaku. Ia belai rambut pirangku dengan kasih. Sentuhannya hangat kurasa. Walau sebenarnya kasar, tapi bagiku tangannya lembut, melebihi kelembutan apapun.

“Akan ayah usahakan, ya, Nak,”

Setiap hari selalu kuimpikan memeluk kain merah putih yang mempesona itu. Dalam mimpiku sudah tergambar jelas, nantinya akan ada tiang di depan rumah dan di atasnya benderaku berkibar indah. Seraya menikmati mimpi, di sisi lain aku sadar bahwa ini harus diusahakan. Karenanya, tanganku semakin kencang memukulkan kecrekan, suaraku semakin lantang mendendangkan bermacam nyanyian. Hariku kini penuh semangat.

Berhari-hari sudah kukumpulkan sekeping rupiah. Sebenarnya uang di kantongku sudah cukup, namun karena banyaknya kebutuhan rumah, berkuranglah jumlahnya.

“Pekerjaan apa yang bisa cepat menghasilkan uang dengan satu kaki, Nak?”

Melihat kedalaman sorot matanya, aku terdiam, tak bisa berkata. “Jika mau cepat, nanti ayah belikan yang murah saja. Di pasar loakkan mungkin banyak,” saran ayah saat itu.

“Tak mau, Yah. Aku ingin yang bagus, biar mahal akan tetap kubeli. Biarlah aku menunggu sampai uangnya terkumpul. Kalau ayah tak sanggup membelinya, aku mau ngamen sampai malam, biar uangnya cepat banyak.” suaraku naik turun, menggebu-gebu.

Ayah yang semula murung dan mengeluhkan kakinya, tiba-tiba bersemangat mencari pekerjaan ke sana ke mari. Tanpa sepengetahuanku, ia tanyakan harga bendera termahal ke seluruh pasar yang bisa ia kunjungi. Walau lelah demi cita-cita anaknya akan tetap dilakukan. Cita-cita anakku berarti cita-citaku juga. Ucap ayah lirih.

Malam semakin kelabu. Gelapnya malam tak menggetarkanku untuk kembali ke rumah seorang diri. Setiba di gubuk, kulihat ayah sudah terlelap di ranjang bututnya. Seperti biasa, pulang ngamen kuhitung penghasilanku saat itu juga. Lalu kusatukan dengan uang di celengan. Kuhitung seluruhnya dan sepertinya sudah cukup. Besok, aku akan beli benderaku, bendera Indonesia.

Adanya bendera di halaman ruamah jadi kebanggaan tersendiri bagiku. karena di sekitar gubukku hanya aku yang memilikinya. Mereka lebih senang mengumpulkan uang untuk beli baju-baju mahal di pasar sana, dan mereka bangga mengenakan baju bermerk luar itu.

Pagi hari akhirnya tiba juga. Tak sabar dengan rencana hari ini, aku bergegas mandi. Uang sudah di kantong, dan kaki sudah melangkah melewati pintu rumah.

Hiduplah bangsaku, hiduplah negeriku untuk Indonesia raya …. Kulihat ayah sedang menyanyikan lagu Indonesia raya dengan posisi hormat.

“Ah ayah, baru saja mau kubeli bendera ini,” ucapku sembari memeluknya. Pelukannya semakin erat. Ayah berlalu setelah ia memelukku. Ia membiarkanku menikmati bendera yang kini sudah bertengger indah di halaman.

“Serang … serang …” tiba-tiba suara terdengar dari ujung timur. Mereka berlari saling berkejaran. Di tangan mereka tergenggam batu dan berbagai alat pertanian. Mereka saling berteriak, berkejaran dan saling menyerang. “Serang … serang …” gerombolan berseragam putih-abu melewatiku yang asyik menatap sang saka. Saat kubalikkan badan mencari apa yang sedang terjadi, mereka menghadangku, melindas tiang bendera dan merobek bendera dengan goloknya. Tubuhku terkulai lemah mempertahankan bendera.

Sering ayah berkata “Nak, bangsa ini masih subuh.” Terheran aku dibuatnya. Dulu aku bertanya dan selalu bertanya maksudnya apa. Sobekan bendera tergenggam ditangan, kulihatnya lamat-lamat, air tumpah membanjiri pipi. Jejak langkah mereka masih tercium. Karena tawuran mereka benderaku robek dan karenanya juga dulu ayahku harus bergantung pada tongkat. Tawuran itu kini meremukkan tulang belulangku.

Aku, seorang bocah yang hanya ingin mengibarkan merah-putih di halaman rumahku, harus hilang kesadaran akibat mempertahankannya agar tak diinjak mereka. Benar katamu ayah, bangsa ini masih subuh.

Yogyakarta, Mei 2015

 

BIODATA PENULIS

Penulis kelahiran Ciamis-Jawa Barat ini mempunyai nama lengkap Rena Rizki Nurfauzi. Perempuan yang mempunyai hobi membaca ini adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini sedang menggeluti perkuliahan jenjang S1 di jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain aktif di bangku kuliah, perempuan berdarah Sunda ini juga aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma dan kebetulan diamanahi sebagai pimpinan Redaksi masa bakti 2015/12016. Alamat domisili saat ini ada di JL. K.H Wahid Hasyim No.38 Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta 55283. Penulis bisa dihubungi melalui nomor telepon 087728003487 atau renanurfauzi@gmail.com

 

Pengumuman Lomba Cerpen Muslimah “Aku dan Indonesia”

Assalamualaikum para muslimah!

Akhirnya kita sampai pada saat yang paling dinanti-nanti oleh para peserta Lomba Cerpen Muslimah KMFH UGM 2015, yaitu pengumuman pemenang lomba.

Sangatlah sulit bagi panitia dan juri dalam proses penilaian karena penulis begitu kreatif. Namun  melihat antusias para peserta yang sangat peduli pada Indonesia maka baik pihak panitia maupun juri akhirnya telah memilih satu naskah terbaik dari sekian banyak naskah yang  diterima.

Tak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah berpartisipasi dan mengirimkan karyanya selama periode lomba yang berakhir pada 17 Mei 2015. Semoga para muslimah akan selalu berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

NASKAH TERBAIK LOMBA CERPEN MUSLIMAH 2015

RENA RIZKI NURFAUZI

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Karya: Bangsa ini Masih Subuh

note: untuk pengambilan hadiah dan sertifikat, pemenang akan dihubungi oleh panitia