Persiapan Menjadi Istri Idaman

💐💐💐💐💐💐💐💐
Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu’alaikum wr.wb😊
🌾Notulens Kantinjus🌾
(04 Maret 2016)
———————————————–
Tema: Persiapan Menjadi Istri Idaman
Pembicara: Ustadzah Nurus Sa’diyyah

~Kitab Keluarga Sakinah~

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.”
(HR. Muslim No. 1467)

Jadilah kita wanita yang bisa membuat bidadari surga cemburu

Ar-rijalu qawwamuna ‘ala nisa’ –> Seorang laki- laki adalah pemimpin bagi wanita. Bukan sebagai pemimpin yg otoriter, bukan hanya memimpin tapi juga mengayomi dan membimbing, ibarat orang tua bagi istrinya.

Kiat menjadi istri yang baik:
1. Kita harus mengetahui diri kita sendiri. Bahwa wanita adalah seseorang yg dipimpin. Kita harus taat/patuh pada suami asalkan itu sesuai dg syariat islam. Kalau perintah suami itu berat, maka anggaplah hal tersebut adalah perintah agama.

2. Ketika kita tidak menyukai sikap suami, jaga lisan kita. Jangan sampai mwngucakpkan yang tidak-tidak. Ex: minta cerai. Karena sesungguhnya wanita yg minta cerai tidak akan pernah mencium bau surga.

Sesungguhnya Allah tidak akan memandang wanita yang tidak mau bersyukur atas suaminya.

Kita harus tetap bersyukur berapapun penghasilan suami. Karena kita telah memilihnya untuk menjadi pendamping kita. Jika kita sulit untuk bersyukur, maka carilah calon suami yang memiliki kualitas lebih dibanding kita.

Kenali ego diri kita sendiri dalam menyeleksi calon suami kita nanti. Terima bagaimanapun suami kita nanti.

🌹Jika Belum Siap Maka Jangan Berpikir Untuk Menikah LebiDulu🌹

4 golongan wanita yang akan dimasukkan dalam surga Allah:

1. Wanita yang bisa menjaga dirinya untuk taat pada Allah

2. Wanita yang sabar dan menerima apa adanya pasangan.

3. Wanita yang ketika ditinggal suami dapat menjaga diri sendiri dan harta suami. Kalau kita ingin menggunakan harta suami maka IZIN terlebih dahulu. Ex: sedekah dll.

4. Wanita yg bisa menjaga lisannya. Ex: tdak gossip.

4 golongan wanita yang akan dimasukkan dalam neraka Allah:

1. Wanita yang suka bicara buruk. Membicarakan kejelekan suami.
Ketika kita membuka aib suami = Membuka aib diri kita sendiri.

2. Wanita yang tidak bisa menjaga diri saat suami tidak ada.

3. Wanita yang suka memperlihatkan perhiasannya. Karena akan meninbulkan keceburuan sosial yg berujung fitnah.

4. Wanita yang malas beribadah. Maka dari itu solusinya adalah cari suami yang bisa mengingatkan kita untuk selalu beribadah pada Allah.

Wassalamu’alaikum wr.wb..

Tunggu edisi katinjus selanjutnya…. !!!
Semoga bermanfaat..
💐💐💐💐💐💐💐💐💐

Pemahaman Sahabat Mengenai Hadits Rasulullah S.A.W. tentang Sunnah dan Bid’ah

Pemahaman Sahabat Mengenai

Hadits Rasulullah S.A.W. tentang Sunnah dan Bid’ah

(Rilis kajian yang diisi oleh Ustadz Ismail)

 

“Disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW pada suatu saat (beliau) menyampaikan suatu pesan yang mana menyentuh sekali terhadap hati-hati para sahabat, yang menyebabkan para sahabat ingin menangis mendengarkan nasihat ini. Sehingga ada salah seorang sahabat kemudian bertanya: Ya Rasulullah, seolah-seolah pesan ini merupakan pesan yang terakhir, bahkan perpisahan antara kami dengan engkau Ya Rasulullah, maka berwasiatlah engkau kepada kami Ya Rasulullah?” Beliau, Rasulullah SAW pun bersabda; Aku mewasiatkan kepada engkau agar senantiasa bertakwa kepada Allah Azza Wa jalla, kemudian agar engkau senantiasa taat terhadap pemimpin kalian, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba Habsy (Ethiopia/hamba yang berkulit hitam – seorang budak yang berkulit hitam kalian harus tetap taat), dan sesungguhnya esok orang yang akan hidup setelah aku, ia akan melihat banyak sekali perbedaan, maka hendaknya kalian senantiasa berpegang kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin dan Nahdliyin. Peganglah agama itu dengan kuat-kuat, dan janganlah kalian ini mendekati perkara-perkara yang baru dari urusan agama. Karena sesungguhnya perkara yang baru yang tidak ada dasarnya adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah itu adalah suatu kesesatan.”[1]

Banyak diantara masyarakat yang salah dalam memahami hadit ini, khususnya pada kalimat “Kullu bid’atin dholalah”.

Apa itu bid’ah? Bagaimana pemahaman para sahabat terkait Bid’ah?

Menurut pemahaman para sahabat, bid’ah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah bid’ah secara syar’iyyah atau bid’ah secara istilah yang bermakna suatu amalan yang dikerjakan yang mana amalan itu tidak ada dasarnya sama sekali baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Sehingga, yang dimaksud bukalah pemahaman bahwa semuanya yang tidak ada dalil dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits maka tidak boleh dikerjakan atau dinamakan bid’ah seperti anggapan bid’ah terhadap do’a setelah shalat.

Dalam suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Jarir Ibnu Abdullah ra. dijelaskan bahwa; “Barangsiapa yang membuat suatu sunnah kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala dari amalan itu dan pahala dari orang-orang yang mengerjakannya setelah sepeninggalnya tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakan tersebut. Dan barang siapa yang membuat suatu sunnah keburukan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa-dosa para pelakunya tersebut.”[2]

Seperti halnya sunnah, yang bisa bermakna sunnah baik, namun bisa juga bermakna sunnah buruk. Bid’ah pun juga bisa bermakna bid’ah baik yang dinamakan “Bid’ah hasanah”, namun ada juga bid’ah buruk yang dinamakan “Bid’ah dholalah”. Meskipun bid’ah adalah lawan kata dari sunnah.

Yang dimaksud Bid’ah Hasanah adalah suatu amalan yang mungkin Nabi tidak pernah mengerjakannya, akantetapi di dalam agama ini ada dasarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan  Bid’ah dholalah adalah setiap perkara yang dikerjakan tanpa ada dasarnya sama sekali.

Lalu, bagaimana para sahabat dalam melakukan amal?

Yang mana, pemahaman sahabat pasti lebih baik daripada pemahaman kita, karena ketika mereka melakukan suatu amalan-amalan langsung mendapatkan pengawasan dari Rasulullah S.A.W. sehingga ketika mereka benar maka disetujui oleh Rasulullah S.A.W., namun apabila amalan mereka tidak benar, makan ditegur dan diluruskan oleh Rasulullah S.A.W.

Para sahabat ini paham dengan perintah Allah S.W.T. dalam Q.S. Al-Hajj ayat 77, Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, Rukulah, sujudlah kamu, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar sekalian kamu menjadi orang-orang yang beruntung.”. Yang mana melalui ayat ini Allah S.W. memerintahkan untuk mengerjakan kebaikan yang sebanyak-banyaknya.

Apa itu kebaikan?

Kebaikan adalah sesuatu yang tidak bertentangan dengan perintah Rasulullah S.A.W. dan yang tidak bertentangan dengan Sunnatullah.

Seperti itulah pemahaman para sahabat, sehingga banyak sekali perbuatan-perbuatan para sahabat yang mereka kerjakan. Akantetapi tidak pernah dikerjakan ataupun diperintahkan oleh Rasulullah S.A.W.

Dalam hal kebaikan, para sahabat sangatlah ‘rakus’, sehingga mereka berusaha agar bagaimana dalam kehidupan di dunia inni selalu mengerjakan suatu kebaikan,walaupun perkara itu tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah S.A.W.

Sebagaimana amalan yang dikerjakan oleh Sayyidina Bilal r.a. (muadzin Baginda Rasulullah SAW). Suatu ketika setelah selesai sholat subuh, Baginda Rasulullah SAW bertanya kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang sering kau kerjakan di dalam Islam ini. Amalan apa yang kamu istimewakan sehingga aku mendengar suara langkah sandalmu sudah sampai di surga. Apa yang kamu kerjakan wahai Bilal?”

Maka, Sayyidina Bilal r.a. menjawab, “Yang aku kerjakan ini Ya Rasulullah, sesungguhnya bila saya berhadats maka saya segera bersuci/berwudhu baik itu malam hari maupun siang hari. Setelah wudhu, lalu saya mengerjakan sholat semampu saya. Itulah amalan yang saya kerjakan.”

Dalam hal ini Bilal r.a. ini mengerjakan suatu amalan yang tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah, akantetapi yang dikerjakan oleh Bilal r.a. ini dipuji oleh Beliau S.A.W.. Maka Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya Bilal r.a. ini bersungguh-sungguh dalam memperbanyak amalan dan ibadah kepada Allah S.W.T.

Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa; “Suatu ketika, ketika Rasulullah SAW sedang mengerjakan sholat, ketika beliau bangkit dari ruku’nya, maka beliau mengatakan membaca; sami’allahu liman hamidah. Lalu dibelakangnya ada orang yang membaca dengan keras; robbana wa lakal hamdu hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiih (suatu bacaan yang Nabi tidak pernah mengajarkan). Maka setelah selesai shalat, Baginda bertanya; Siapakah dia yang membaca doa tadi? Maka sahabat mengatakan; Saya, Ya Rasulullah. Kemudian Nabi berkata; Sesungguhnya tadi saya melihat ada 30 malaikat lebih yang mereka saling berebutan untuk menulis dari apa yang kamu bacakan.” [3]

Padahal Nabi S.A.W. pernah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Akantetapi, dalam hal ini ada seorang sahabat yang menambahi bacaan doanya. Meskipun begitu, Nabi S.A.W. tidak marah dan tidak menyebutnya bid’ah, namun memujunya.

Dalam suatu riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah S.A.W. hanya mengerjakan shalat tarawih sampai malam ke-3 saja, karena beliau khawatir shalat tarawih akan diwajibkan bagi umatnya jika beliau mengerjakannya secara rutin.

Lalu, kenapa pada saat ini kita melaksanakan tarawih selama sebulan penuh?

Apakah tidak menyalahi apa yang Rasulullah S.A.W. contohkan?

Bahkan pada saat Khalifah Umar r.a. orang-orang masih mengerjakan shalat tarawih dengan sendiri-sendiri, ada yang dengan kelompok-kelompok kecil. Kemudian Umar r.a. berpendapat apabila jamaah itu dikumpulkan, maka hal ini akan lebih baik. Lalu, Umar r.a. memerintahkan untuk shalat tarawih di masjid dengan hanya ada satu imam dan ditetapkan rakaat shalat sejumlah 23 rakaat (yakni 20 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir). Lalu beliau berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Mengapa beliau berkata seperti itu? Karena pada zaman Nabi S.A.W. tidak ada shalat tarawih berjama’ah selama sebulan penuh di masjid yang seperti ini.

Sebagaimana sabda Nabi S.A.W.; “Hendaknya kalian senantiasa berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah setelah aku.”[4]

Maka hendaknya kita mengikuti sunna Rasulullah S.A.W. dan sunnah (amalan-amalan yang dikerjakan) oleh Khulafaur Ar-Rasyidin (Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib).

Jadi kesimpulannya, bid’ah itu sendiri menjadi dua, yakni; Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dholalah. Yang dimaksud Bid’ah Hasanah adalah suatu amalan yang mungkin Nabi tidak pernah mengerjakannya, akantetapi di dalam agama ini ada dasarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan  Bid’ah Dholalah adalah setiap perkara yang dikerjakan tanpa ada dasarnya sama sekali.

[1] Hadits riwayat Ibnu Majjah

[2] Hadits Riwayat Muslim

[3] Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

[4] Hadits Riwayat Abu Daud dan Tirmiddzi

Ku Tunggu Janjimu

Kantinjus, 24 April 2015

kantinjus

 

Sebagai seorang muslim, maka satu hal yang pasti adalah kita telah bersyahadat. Syahadat sejatinya adalah ikrar, bentuk perjanjian kita dengan Allah untuk menaati Allah dan menjauhi apa yang Ia larang. Teman-teman pasti sudah sangat familiar dengan ayat ini

“ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ”

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. “

Yap, Az-Dzariyat ayat 56. Allah mengatakan bahwa Ia menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya karena memang tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Dalam sebuah hadist, Rasulullah mengatakan bahwa sesungguhnya setiap manusia lahir dalam keadaan Islam, yang menjadikannya nasrani, yahudi, atau majusi adalah orang tuanya. Sebagian besar dari kita mungkin terlahir dan dibesarkan di keluarga muslim, sehingga seringkali kita mungkin merasa “biasa saja” dengan kalimat yang selalu kita ikrarkan setiap tasyahud dalam sholat. Padahal, bentuk kita membaca syahadat sebagai ikrar dan persaksian kita bahwa hanya Allah lah ilah yang berhak disembah tidaklah ringan. Kita harus memaknai syahadat kita, juga harus merenungi, apa yang harus kita lakukan setelahnya. Inilah yang disebut dengan komitmen kita sebagai seorang muslim. Komitmen adalah kesepakatan, janji. Maka bila sebuah komitmen diingkari, teman-teman tentu tahu apa akibatnya smile emotikon

Dalam berislam ini, tentu sudah menjadi kewajiban kita untuk terus menggali dan memperdalam ilmunya. Setelah kita memahamkan diri dengan islam, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan .

  1. Mengislamkan akidah kita. Segala hal hanya kita gantungkan pada Allah. Jika selembar daun jatuh dengan takdir Allah, maka segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, yakinkanlah bahwa itu merupakan ketetapanNya dan hanya kepadaNya kita berserah diri. sedetik pun hidup kita tidak boleh tidak kita niatkan melainkan hanya untuk ibadah.
    2. Mengislamkan akhlak. Kita sudah paham akan Rasulullah. Bunda Aisyah menyebutkan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Quran. Ia adalah teladan terbaik. Jika parfum ada yang asli dan kw, maka dekatkanlah diri kita untuk menjadi parfum yang asli, yang benar-benar mencontoh perilaku dan akhlak Rasulullah.
    3. Mengislamkan keluarga. Selalu berbagi nasihat, cerita yang indah, islami dan menenangkan dengan orang-orang terdekat.
    4. Yakin bahwa masa depan milik Islam, bukan milik yang lain. Ini adalah salah satu konsekuensi kita sebagai muslim, meyakini bahwa kita adalah umat terbaik, sehingga masa depan adalah milik kita, umat Islam.

Jika ke empat hal itu sudah tertanam, maka langkah yang harus kita jalani sepanjang hayat kita adalah menyeru kepada kebaikan. Menebarkan nilai-nilai Islam kepada semua. Manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang saling menasihati. Dimana pun teman-teman berada, proses menebar kebaikan ini harus selalu dilakukan. Itulah mengapa, hal ini membutuhkan komitmen, karena ia adalah serangkain proses yang harus dijalani dengan istiqomah. Jika kita berhanti, bagaimana keyakinan kita akan kejayaan Islam akan terbukti?

Ingatlah, sejatinya semua makhluk menunggu janji kita kepada Allah, untuk menegakkan kalimatNya, untuk berlomba dalam kebaikan, dan untuk bersama-sama membawa Islam kembali kepada masa emasnya. Jangan tunggu yang lain, jangan tunggu nanti, mari kita mulai dari diri sendiri, sekarang juga J

Psikologi Islam

Jumat, 27 Maret 2015

Mushola Baitul Hakim FH UGM, Yogyakarta

 

kantinjus 27 maret 2015

Apakah anda mengenali diri anda? Pertanyaan yang mudah tetapi tak banyak orang yang dapat menjawabnya dengan tegas. Kantinjus mengajak para muslimah untuk mengenali pribadi masing-masing dengan mengangkat tema Psikologi Islam. Setelah pembacaan tilawah oleh Milana, Mbak Dita (mahasiswa psikologi angkatan 2012) mulai menyampaikan materi.

Manusia tidak akan pernah lepas dari psikologi. Sebab Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan cara berpikirnya. Seiring dengan berkembangya jaman, Psikologi tidak hanya melihat pada satu individu tetapi sudah masuk ke ranah keilmuan. Banyak umat muslim yang mengacu pada Psikologi Barat padahal Islam pun juga mempelajari Psikologi. Buktinya adalah terdapatnya Rumat Sakit Jiwa di Iran sebelum masa Renaissance. Lalu kemanakah psikologi islam itu? Mereka menghilang begitu saja dan hanya berada di lingkungan mereka. Kondisi ini menjadi hal yang mengkhawatirkan karena ada perbedaan antara psikologi barat dengan psikologi Islam. Berbeda dengan psikologi barat yang hanya berfokus pada keduniaan (fisik), psikologi islam selain mempelajari fisik juga mempelajari ruh dan Tuhan. Hal inilah yang menjadikan banyak orang yang sakit di Barat karena mereka hanya belajar mengenai fisik. Sementara psikologi islam mengajari kita tentang kesabaran dan keikhlasan yang menjadi penawar racun jiwa. Saat ini orang-orang Barat mulai menyadari bahwa ada sesuatu di luar manusia, yaitu Tuhan.

Sabda Rasululah SAW: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya”. Mengapa demikian? Sebagai manusia tentu kita tidak dapat mengendalikan semua hal. Meskipun banyak penemuan-penemuan canggih di era modern ini yang membuat manusia menjadi sombong. Namun ada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia seperti detak jantung. Penting sekali bagi setiap individu untuk dapat mengenali diri mereka.

Ketika seorang manusia menemukan dirinya maka ia akan menemukan bahwa ada kekuatan di luar sana yang mengendalikan ha-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Dengan begitu, kita akan menyadari keberadaan Tuhan dan kita bukanlah pemilik sejati raga ini. Orang-orang yang tidak bisa menemukan siapa dirinya maka ia tidak mempunyai pegangan dan hanya akan terbawa arus. Mereka tidak dapat menyelesaikan masalah yang muncul di lingkungan mereka sehingga mengakibatkan stress. Pada tahap yang sangat parah seseorang yang tidak mengenali diri mereka dapat melakukan tindakan kriminal bahkan dapat menjadi gila.

Johari Window membagi keterbukaan seseorang menjadi empat kelompok, yakni:
1. Open, mengambarkan diri seseorang yang diketahui olehnya dan juga orang lain.
2. Hidden, dimana seseorang itu sendiri yang tahu akan dirinya sementara orang lain tidak.
3. Blind, suatu kondisi saat seseorang tidak tahu dirinya tetapi orang lain tahu.
4. Unknown, baik pribadi itu sendiri maupun orang lain tidak tahu.

johari-window

Jadi, marilah kita mulai mengenali diri kita masing-masing. Awali dengan pertanyaan yang sangat sederhana: Siapa diri kita? Tentu saja pertanyaan ini tidak selesai hanya dengan menjawab saya Islam. Sebagai penutup, Mbak Dita menambahkan bahwa diri manusia ibarat sebuah bumerang. Tanpa mengenali diri maka bumerang itu bisa saja menyerang diri kita sendiri. Oleh karena itu, diperlukannya pemahaman diri oleh masing-masing individu agar mereka dapat mengontrol bumerang tersebut.

Pentingnya Membaca Al-Qur’an

al-qur'an

Kantinjus yang diadakan di mushola FH pada Jumat, 6 Maret 2015 kali ini mengangkat tema “Mengapa sih Kita Harus Membaca Al-Qur’an?”. Pemateri yang didatangkan ialah Mbak Mita, seorang mahasiswa manajemen angkatan 2010. Dibuka dengan game tebak hati, Mbak Mita pun memulai kajian.

Kematian adalah hal yang akan dialami oleh setiap mahluk hidup. Begitu banyak amalan ibadah yang dilakukan manusia agar mereka mendapatkan kehidupan terbaik setelah kematian. Namun tahukah kalian bahwa ada amalan yang mudah dilakukan untuk masuk ke surga-Nya? Jawabannya adalah dengan membaca Al-Qur’an.

1. Membaca Al-Qur’an dapat memberikan sepuluh kebaikan.
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca 1 huruf dari Al Qur’an, maka baginya 1 kebaikan. dan 1 kebaikan dilipat-gandakan 10x lipat. aku tidak mengatakan alif lam miim itu satu huruf, tapi alim satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At Tirmidzi 2910)

2. Al-Qur’an merupakan pedoman segala permasalahan di dunia. Oleh karena itu, dengan membaca Al-Qur’an kita dapat merasakan ketentraman.

3. Al-Qur’an memberikan syafaat pada hari akhir.
Rasulullah SAW bersabda:
اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi shahibul Qur’an” (HR. Muslim 804).

4. Membaca Al-Qur’an dapat menjadi bakti terbaik kita kepada orang tua.
ثم يكسا أبواه إن كانا مسلمين حلة خيراً من الدنيا وما فيها، فيقولان: أنى لنا هذا وما بلغت أعمالنا؟! فيقال: إن ولدكما يقرأ القرآن

“Kemudian kedua orang tuanya, dipakaikan dengan pakaian yang lebih indah daripada dunia dan seisinya.” Kedua orang tuanya berkata,”Apa yang menyebabkan kami mendapatkan hal ini ? Kemudian dikatakan kepada keduanya,”Karena anak kalian berdua membaca Al-Qur’an.”

Adapun cara berinteraksi dengan Al-Qur’an yaitu dengan membaca, memahami, menghafalkan dan mengamalkannya. Selain itu, perlu diperhatikan juga adab-adab membaca Al-Qur’an:
a. Ikhlas;
b. Suci;
c. Menghadap kiblat;
d. Menutup aurat;
e. Diawali dgn ta’awudz.

Mengenal Syiah dan Sunni

Jumat, 27 Februari 2015

kantinjus1

Pada kepengurusan kabinet Fii Sabilil Haq, Kantinjus (Kajian Rutin Jumat Siang) yang diadakan oleh Departemen Keputrian KMFH kembali hadir. Kantinjus yang bertemakan “Mengenal Syiah dan Sunni” diadakan di Mushola Fakultas Hukum UGM dan dimulai sekitar pukul 12.00. Acara yang dimoderatori oleh Ade menghadirkan Mbak Iim, seorang mahasiswa FTP angkatan 2010, sebagai pemateri. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Milana, Mbak Iim pun mulai menyampaikan materi.

Syiah dan Sunni adalah dua golongan besar dalam Islam. Adapun perbedaan di antara keduanya ialah:

1. Perbedaan yang paling mendasar dari Syiah dengan Sunni ialah Syiah sangat mengagungkan Ali bin Abi Thalib. Syiah lahir ketika Ustman bin Affan meninggal dunia sementara beliau belum sempat menunjuk khalifah selanjutnya. Kemudian terjadilah perseturuan penentuan khalifah yang mengakibatkan timbulnya beberapa golongan. Syiah merupakan salah satu dari golongan tersebut.

2. Golongan Syiah tidak menyukai Aisyah. Mereka menganggap Aisyah sebagai orang yang fasik dan hina. Dalam suatu riwayat, Aisyah dikatakan sebagai pelacur.

3. Al-Qur’an oleh Syiah dianggap tidak benar karena tidak menyebutkan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Selain itu, surah Al-Ikhlas diganti menjadi surah Al-Assad
surah al ikhlas diubah
(gambar diambil dari www.bringislam.web.id)

4. Mengkafirkan umat Islam yang bukan golongan Syiah. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa mereka berhak membunuh orang Islam yang bukan Syiah.

5. Memperbolehkan nikah mut’ah (nikah kontrak). Perbuatan ini oleh Syiah dianggap sebagai ibadah. Ada suatu kasus dimana seorang perempuan Syiah mengidap penyakit kelamin. Setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata perempuan tersebut melakukan nikah mut’ah dan menganggapnya sebagai ibadah.

6. Meratapi kematian Hasan dan Husein (cucu Nabi Muhammah saw). Pada hari karbala, golongan Syiah merayakannya dengan melukai diri mereka sebagai aksi simpati kepada Hasan dan Husein.

Adapun golongan Syiah ini paling banyak terdapat di Iran. Demikianlah materi yang disampaikan Mbak Iim. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan yang membacanya.

Jatuh Cinta dan Manajemen Perasaaan

Cinta; hal yang paling sering ada di pikiran kita. Hampir semua hal kita atas namakan cinta. Cinta yang begini, cinta yang begitu. Apa sih cinta itu? Terus kalau kita jatuh cinta, kita harus gimana? Terkadang kita banyak bicara cinta, mengaku-ngaku jatuh cinta, tanpa tahu apa yang kita bicarakan. Nah, siang ini (18/10), KANTINJUS di Mushola Baitul Hakim FH UGM sedang membahas soal cinta. Pembicaranya Mbak Ardhiyani, mahasiswi Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2010.

Sebenarnya, apa itu cinta? Menurut Mbak Ardiyani, setiap orang memiliki definisi sendiri tentang cinta. Cinta itu tidak dapat didefinisikan dengan kata, karena cinta itu hanya dirasa oleh hati. Cinta sendiri ada tiga macamnya. Yuk, kita bahas satu-satu!

1. Cinta karena nafsu
Cinta yang didasari oleh nafsu tidak pernah menuju pada kebaikan, meskipun melalui cara-cara yang baik. Contohnya; pacaran. Walaupun pacaran dengan cara-cara seperti belajar bareng atau apapun, tapi tetap saja pacaran tidak baik.

2. Cinta karena akal
Ciri-ciri cinta yang satu ini adalah membuat tertarik pada kebaikan tapi tidak membuat kita berbuat baik. Misalnya, kita diingatkan untuk shalat oleh seseorang yang kita sukai. Kita akan tertarik untuk shalat, tapi lihat dulu niatnya deh. Kita shalat karena ingin beribadah kepada Allah atau karena diingatkan seseorang yang membuat kita jatuh cinta?

3. Cinta karena hati
Nah, cinta yang ini nih yang paling bener. Perasaan cinta yang satu ini membuat kita selalu ingin yang terbaik untuk orang yang kita cinta. Cinta yang paling tulus, tanpa ada pretensi. Contoh yang paling nyata adalah cinta seorang ibu terhadap anaknya. Meski sekarang banyak sekali kasus kekerasan yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya, tapi di hati kecil seorang ibu pasti ada rasa ingin melindungi anaknya.

Sekarang ini banyak sekali orang yang bingung tentang cinta, meski mereka mengaku paham dengan cinta. Hanya segelintir orang yang paham bagaimana mengelola cinta. Sebenarnya, jatuh cinta itu tidak dilarang kok. Mencintai orang lain juga tidak dilarang. Justru jika cinta tidak bisa datang, harus dipertanyakan hatinya sekeras apa sih? Namun ketidakpahaman orang tentang cinta dan cara mengelola cinta itulah yang membuat jatuh cinta seolah-olah dilarang.

Sebenarnya kita memiliki teladan dalam problematika cinta. Sebut saja kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Ali adalah pemuda miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Sedangkan Fatimah Az Zahra adalah putri Rasulullah saw. Ali mencintai Fatimah sejak Fatimah masih kecil. Namun Ali tidak memiliki keberanian untuk melamar Fatimah, apalagi ada beberapa sahabat Rasulullah saw melamar Fatimah. Jodoh tidak kemana. Semua lamaran dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan ditolak semua. Ketika Ali memberanikan diri untuk melamar Fatimah, lamaran Ali lah yang diterima.

Cinta itu pengorbanan dan  mengambil kesempatan yang ada. Itulah cinta Ali kepada Fatimah.
Orang yang sedang jatuh cinta itu berbahaya, karena ia memiliki energi yang sangat besar. Jika ia tidak tahu bagaimana mengelolanya, maka ia akan benar-benar terjatuh tanpa cinta. Ada sebuah kisah tentang kekuatan orang yang jatuh cinta. Seorang ulama Mesir pernah jatuh cinta dengan seorang wanita. Namun sayangnya wanita itu telah memiliki suami. Ulama tersebut melampiaskan perasaannya dengan cara menulis sebuah buku dalam semalam. Dan pagi harinya, buku itu jadi. Betapa besar energi orang yang sedang jatuh cinta, bukan?

Ketika kita sedang jatuh cinta, nikmatilah perasaan itu tapi jangan dirawat. Teruslah berusaha menjaga agar cinta tetap ada tanpa memperburuk ibadah kita.

Nah, Mbak Ardiyani memberikan beberapa tips untuk orang yang sedang jatuh cinta. Simak ya!

1. Salurkan cinta dengan cara yang kita suka
Setiap orang pasti memiliki hobi, salurkan perasaan cinta kita yang sedang menggebu itu dengan melakukan hobi. Tujuannya agar kita tidak terlalu posesif dan agresif terhadap orang yang kita cinta. Bagaimanapun, jatuh cinta ada tata kramanya.

2. Jangan mengindari orang yang kita cintai
Menghindar adalah sifat pengecut. Jika kita menghindari orang yang kita cinta dan kita berhasil melupakan perasaan kita, kemudian suatu saat kita bertemu dengan orang itu lagi, akan tumbuh perasaan baru yang energinya lebih besar.

3. Jangan reaktif
Seseorang yang sedang jatuh cinta adalah orang paling reaktif dan sensitif sedunia. Cuma disapa, rasanya seperti dipuja-puja. Kayak kita orang yang satu-satunya disapa aja. Ditanyain kabar, rasanya menjadi orang yang paling diperhatikan. Padahal dia menanyakan kabar ke semua orang.

4. Buatlah jarak, tapi jangan memutus komunikasi
Bagaimanapun memutus silaturahim itu tidak dibenarkan. Jaga komunikasi dengan baik.
Jatuh cinta tidak salah, tapi jangan diekspresikan dengan cara yang salah. Tidak usah menggebu-gebu, karena jodoh kita bukan sandal yang akan tertukar dengan milik orang lain.

Jangan memaksa seseorang yang sedang jatuh cinta untuk menghapus bersih semua perasaannya. Terimalah, karena dengan mengikhlaskan semuanya akan terasa lebih mudah. Jagalah perasaan cinta yang sedang kita miliki sekarang. Jangan sampai perasaan kita sekarang melukai perasaan seseorang-di-masa-depan kita nanti. Yakinlah bahwa sebuah perasaan adalah fitrah dan bukan sesuatu yang hina.

(KANTINJUS 18 Oktober 2013)

Tawazun, Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Jumat,  11 Oktober 2013

 

 

DSC_0513

Tawazun, Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Departemen Keputrian KMFH UGM seperti biasa di hari Jumat tidak absen untuk mengadakan Kantinjus. Kajian rutin Jumat siang ini diikuti oleh para akhwat dengan antusias. Hal ini terlihat dari akhwat yang berkumpul kurang lebih ada 25 orang. Bertempat di Mushalla Baitul Hakim, dan dimoderatori oleh Maya, Kantinjus kali ini mengangkat tema Tawazun: manajemen diri dan hati yang disampaikan oleh Mbak Raisatun Nisa, mahasiswi berprestasi dari Fakultas Farmasi UGM angkatan 2010.

Tawazun menurut bahasa berarti keseimbangan. Dapat kita maknai keseimbangan mengejar kepentingan dunia dan akhirat. Dalam Al-Quran surat Al-Mulk ayat 3 Allah SWT. berfirman:

a003

 

Artinya, 67:3. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

Mbak Raisatun Nisa memulai kajian hari ini dengan membaca dan memaknai Surat Al-Mulk ayat 3 bahwa sudah menjadi fitrah manusia untuk seimbang. Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan seimbang, dan tidak ada ciptaan-Nya yang tidak seimbang. Tugas kita sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah SWT adalah menyeimbangkan segala aspek yang telah diberikan Allah SWT.  Seperti tiga aspek penting kehidupan yang telah dianugerahkan Allah SWT pada kita yaitu aspek jasmani, aspek akal dan aspek rohani.

Manusia telah dianugerahi jasmani yang luar biasa oleh Allah SWT. Sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu mensyukuri nikmat Allah yang satu ini, karena dengan tubuh yang kita miliki ini kita dapat melakukan aktifitas sehari-hari dengan baik. Lalu, bagaimana cara kita mensyukurinya? Tentu saja dengan merawat tubuh kita dengan baik, khususnya sebagai seorang muslimah yang nantinya akan menjadi seorang ibu bagi penerus Islam di masa depan. Selain itu juga membawa tubuh kita untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat saja. Mbak Raisatun Nisa juga menekankan pentingnya untuk menjaga makanan yang kita konsumsi agar selalu yang halal. Hal ini karena, sekali saja kita kemasukan makanan yang haram maka bekasnya tidak akan hilang sampai kita mati . Tidak inginkan hidup kita terbayangi oleh dosa karena hal tersebut. Tidak ingin juga kan Jalan kita menuju surga terhalang hanya karena makanan haram yang barang sekali saja kita makan, Nauzu billahi min zalik. Maka itu berhati-hatilah saat memilih makanan yang kita makan. Selain makanan, istirahat yang cukup dan olahraga yang teratur juga perlu supaya tubuh kita senantiasa sehat.

Setelah jasmani, aspek yang harus kita seimbangkan dalam hidup adalah aspek akal. Dalam hal ini akal kita sebaiknya kita selalu pergunakan untuk menambah pengetahuan dengan berlajar berbagai macam ilmu. Sesungguhnya ilmu Allah sangatlah luas, segala aspek dalam kehidupan pasti memiliki ilmu. Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 109;

al-kahfi

18:109. Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimatTuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Sudah menjadi tradisi umat Islam untuk selalu menimba berbagai macam ilmu. Apalagi kita para muslimah, haruslah menjadi muslimah yang cerdas dan kaya ilmu. Sejarah, bahkan telah membuktikan ketika Islam menjadi yang terdepan dalam ilmu pengetahuan, berhasil menemukan berbagai macam hal ketika Eropa masih tenggelam dalam Era Kegelapan. Al Quran adalah sumber dari segala ilmu, tidak hanya ilmu agama namun didalamnya terkandung pula dasar-dasar Ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi muda umat Islam janganlah malas untuk mengkaji Al Quran dan menemukan fakta-fakta baru yang bisa bermanfaat untuk kehidupan. Dan tidak sungkan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang sudah ada agar sebagai muslim atau muslimah kita tidak ketinggalan perkembangan zaman.

Dalam aspek rohani, Mbak Raisatun Nisa menyampaikan beberapa hadits mengenai pentingnya menjaga kebersihan hati (Qalbu). Hadits pertama yang disampaikan Mbak Raisatun Nisa adalah hadits riwayat Ibnu Majah yaitu;

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?” Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat dosa pada dirinya, tidak dholim, tidak iri, dan juga tidak dengki.”HR. Ibnu Majah 4216 dan Ibnu ‘Asakir (17/29/2).

Selain hadits tersebut, Mbak Raisatun Nisa juga menyampaikan hadits lain yaitu;

Dalam shahîh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabî SAW bersabda:”Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati.” (Muttafaqun `Alaihi, dari Nu`man bin Basyîr).

Dari kedua hadits tersebut kita dapat menarik kesimpulan yaitu penting bagi kita untuk selalu menjaga kebersihan dan keikhlasan hati dalam kehidupan kita. Menjadi manusia yang selalu memaafkan, tidak mendendam, ikhlas, dan bertaqwa pada Allah. Niscaya Surga telah menunggu kita di akhirat nanti.

Dengan menyeimbangkan ketiga aspek (Jasmani, Akal dan Rohani) dalam kehidupan kita dan  selalu mengingat Allah dalam segala kesempatan. Insya Allah kita akan selalu merasa tentram, damai, dan di berkahi olehNya baik di dunia maupun ketika Dia telah mengambil kita untuk kembali ke sisiNya, aamiin ya rabbal alamiin.

Laras Putri, Sofia Rahmawati