Rilis dan Pernyataan Sikap Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM : Penyerangan Terhadap Penyidik KPK dan Sengkarut Pemberantasan Korupsi di Indonesia

 

Senin pagi kita dikejutkan dengan kabar tidak menyedapkan yang datang dari penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Menurut kabar yang beredardi media, Novel Baswedan yang baru saja pulang dari Mesjid yang berada dekat rumahnya di bilangan Kelapa Gading, Jakarta tiba-tiba didekati oleh dua orang yang tak dikenal dengan menggunakan sepeda motor. Saat Novel berjalan pulang kerumahnya, dua orang tadi mendekatinya dan kemudian langsung menyiramkan air keras ke wajahnya sehingga mengenai matanya. Novel yang pada saat itu berusaha menghindar pun tak pelak terkena siraman air keras tersebut dan mengenai matanya serta kemudian membentur pohon yang ada di dekatnya. Beliau pun merintih kesakitan sehingga terdengar oleh warga yang berada tak jauh dari situ.”Mereka langsung menyiram dengan menggunakan air keras dan mengenai mukanya,” demikian keterangan resmi polisi. Kemudian pelaku melarikan diri.

Penyidik KPK Novel Baswedan yang sebelumnya dirawat di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta Utara akibat disiram air keras akan dipindahkan ke RS Mata Jakarta Eye Center (JEC) Menteng Jakarta Pusat. “Siang ini akan dibawa ke JEC untuk ditangani lebih lanjut. Memang ada perawatan untuk bagian mata, karena dalam perjalanan dari masjid ke rumah yang bersangkutan ada yang menyiram di bagian mata. Terkait penyakit secara teknis dokter yang akan jelaskan,” kata Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah, di Jakarta, Selasa (11/4).

Seperti yang kita ketahui, Novel Baswedan merupakan seorang penyidik senior KPK yang saat ini sedang berusaha menguak kasus mega-korupsi e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah. Novel sebenarnya sudah dikenal publik semenjak menangani kasus simulator SIM dan tak segan-segan menggiring senior angkatannya yakni Djoko Susilo yang pada saat itu menjadi Kepala Korps Lalu Lintas Polri ke meja hijau. Novel terkenal idealis dan tak pandang bulu dalam menyelesaikan kasus-kasus korupsi. Ini yang kemudian membuat sebagian koruptor kalang kabut bila menemui dirinya menjadi salah seorang penyidik. Kejadian ini mungkin hal biasa bagi dirinya, karena tercatat sudah 5 kali upaya teror dilakukan kepadanya. Terakhir tentu kita mengingat bagaimana upaya kriminalisasi terhadap dirinya dengan menungkit kasus masa lalunya pada saat bertugas di Bengkulu. Ditakutkan upaya teror ini juga sebagai bentuk penyerangan psikologis terhadap penyidik KPK yang lain dan masyarakat pada umumnya.

Di sini ada beberapa hal yang kami soroti, petama adalah masalah upaya pelemahan KPK. Banyak upaya-upaya yang diduga dilakukan untuk melemahkan KPK. Beberapa diantaranya adalah Revisi UU KPK. Terlihat jelas bagaimana kemudian kewenangan penyadapan yang dikebiri dan kewenangan menyelesaikan kasus korupsi yang awalnya hanya yangbernilai 1 miliar Rupiah menjadi 50 miliar Rupiah. Kemudian banyak pula pembangunan opini-opini oleh media yang ditujukan mereduksi pengaruh KPK terhadap upaya pemberantasan korupsi. Banyak pula upaya teror yang dilakukan terhadap penyidik KPK bahkan pimpinan KPK.

Sorotan kedua adalah regulasi dan mekanisme pengamanan terhadap penyidik KPK. Di sini yang dipertanyakan adalah bagaimana SOP pengamanan penyidik KPK. Bila mengutip perkataan Pimpinan KPK, La Ode Muhammad Syarif, beliau mengatakan bahwa “Dulu penjagaan kan, on-off ya. Kalau lagi ada tugas ada penjagaan (diamankan), tapi tadi itu habis salat Subuh, pulang dari masjid ada orang naik motor disiram ke mukanya. Ya, jadi gitu,” ujarnya. Untuk itu, kejadian yang menimpa Novel menjadi pembelajaran bagi KPK dalam mengevaluasi sistem pengamanan terhadap para penyidiknya agar lebih ditingkatkan ke depannya bersama pihak kepolisian. DPR pun sudah buka suara mengenai mekanisme pengamanan ini melalui Asrul Sani, anggota Komisi III DPR RI. Ia meminta agar KPK me-review kembali SOP pengamanan terhadap penyidik KPK yang pekerjaannya sangat beresiko.

Sorotan terakhir adalah counter attack terhadap KPK. Sudah menjadi hal lumrah ketika lembaga anti rasuah hampir di setiap negara itu untuk dibunuh, begitulah kira-kira salah satu perkataan yang ia tuliskan dalam sebuah buku berjudu, Jangan Bunuh KPK.Demikian pula dikatakan oleh mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto dalam sebuah seminar bahwa akan selalu ada counter attack dan fight back dari koruptor ketika KPK sudah masuk ke dalam episentrum pemerintahan yang selama ini menjadi objek pemberantasan korupsi oleh KPK. ini sebenarnya merupakan sebuah efek psikologis dari koruptor, koruptor yang biasanya merupakan pejabat tinggi pasti mempunyai power.Power inilah yang kemudian melegitimasi mereka untuk melakukan teror dan upaya-upaya pelemahan pemberantasan korupsi lainnya. Penyerangan yang sedemikian masif inilah yang menjadi perhatian kita bersama-sama, jangan sampai penyerangan ini malah mempersulit gerak KPK dalam upaya pemberantasan korupsi. Upaya penyerangan ini haruslah kemudian pula dilakukan pencegahan, salah satunya adalah peningkatan pengamanan tadi. Ini juga dilakukan agar kejujuran, keberanian, dan ke-idealis-an yang menjadi ciri khas penyidik KPK tetap terjaga dan tetap memberikan dampak positif bagi upaya pemberantasan korupsi oleh KPK.

KPK saat ini masih terjebak dalam pusaran ironi. Ironi mental oknum pejabat yang notabene mempunyai power dan cenderung menyalahgunakan hal tersebut demi kepentingannya sendiri. Di sini perlu dilakukan penguatan elemen-elemen yang ada di dalam komisi anti-rasuah ini. Jangan sampai upaya penyerangan balik oleh koruptor ini malah makin memelihara mental koruptif dan mendarah daging-kan mental ini dalam masyarakat. Oleh karena itu kami, Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, dengan ini menyatakan sikap :

  1. Mengutuk keras tindakan penyerangan terhadap Novel Baswedan dan kegiatan anti korupsi lainnya.
  2. Menuntut polisi untuk mengusut tuntas kasus penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan.
  3. Menuntut pemerintah untuk membuat regulasi yang komprehensif sebagai insturmen pengaturan dan peningkatan pengamanan terhadap penyidik KPK.
  4. Menghimbau kepada masyarakat umum untuk tidak gentar terhadap segala upaya teror kepada upaya pemberantasan korupsi.

Referensi

  1. http://www.msn.com/id-id/berita/nasional/detik-detik-penyiraman-air-keras-ke-wajah-novel-baswedan/ar-BBzGobx?li=BBsX6vh&ocid=spartandhp
  2. https://malangtoday.net/flash/nasional/novel-baswedan-segera-pindah-rumah-sakit/
  3. http://nasional.inilah.com/read/detail/2371949/kpk-akan-evaluasi-pengamanan-terhadap-penyidik#sthash.ER4CQGIg.dpuf
  4. Denny Indrayana, Jangan Bunuh KPK, Jakarta: ICW, 2016.

 

Yogyakarta, 12 April 2017

Kabinet Payung Peradaban

Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Muslimah Membangun Peradaban

Assalamualaykum Wr.Wb
(notulensi kantinjus)
02 September 2016

🌺Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah🌺

Hai para sholihaatt.. Ada release notulensi kantinjus yang pertama nih setelah setengah kepwngurusan berjalan.. Yuk yg mau jadi muslimah pembangun peradaban simak yaa notulensinyaa. Heehee

Tema: Muslimah Mrmbangun Peradaban

Tentunya kita sebagai wanita nantinya akan mnjadi seorang ibu bagi anak-anak kita, peradaban masa depan terletak pada bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Tangan kitalah yg nantinya akan memiliki pengaruh besar terhadap peradaban islam kedepan karena sejatinya kita adalah calon ibu, dan ibu adalah tempat atau madrasah pertama agi anak-anak kita karena Al umahat madrasatun uula.
Ibu adalah sekolah bagi anak2ny
Seorang ibu harus mempunyai bekal akhlaq, perilaku, fiqh, dan juga adab. Bgaimana perilaku anak kita dibentuk, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh perilaku atau bagaimana seorang ibu mendidik anak. Bukan kewajiban sekolah formal, pendidikan itu diberikan. Namun, pendidikan tersebut merupakan sebuah kewajiban bagi seorang ibu.
Wanita haruslah mempunyai filter agar tidak tergoyahkan, filter tersebut berupa mengaji dan belajar
Seperti dalam kisah Rabi’ah adawiyah yaitu seorang janda yang dilamar oleh Syech Hasan Al Basri. Rabi’ah mengatakan bahwa Ia sedang memikirkan tentang bagaimana Ia akan meninggal nantinya, Khusnul khatimah atau su’ul khotimah. Tidak ada pemikiran untuk menikah lagi.
Manusia diciptakan untuk beribadah.
Hilangkan persepsi bahwa menikah adalah sumber kenikmatan. Jangan menikah karena nafsu. Tapi jadikan pernikahan sebagai sarana beribadah kepada Allah. Menikah itu tentang kita menentukan sebuah pilihan. Jadi, sebelum kita menikah, maka jadilah pribadi yg berkualitas, karena wanita adalah pembangun peradaban, dan seorang ibu nantinya. Semoga bermanfaat kedepannya.

*simak edisi kantinjus berikutnya ya.. Edisi berikutnya adalah tentang fiqih wanita.

Wassalamualaykum Wr.Wb

*Departemen keputrian KMFH
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Keutamaan Sholatnya Wanita Di Dalam Rumah

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu’alaikum Wr.Wb
(29 April 2016)
————————————

“Keutamaan Sholatnya Wanita Di Dalam Rumah”

Pembicara: Ustadzah Nurus Sa’diyyah (Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta).

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (Abu Dawud dan At Tirmidzi)

– Wanita adalah perhiasan yang tampak, oleh karena itu wanita harus tahu posisinya jika ingin keluar rumah.

1. Harus ada mahramnya (teman wanita, keluarga)
Wanita bisa keluar rumah jika dalam posisi aman. Lebih baik wanita shalat di dalam rumah, sebab sholat berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah bagi laki-laki. Artinya ketika laki-laki sudah mengerjakan sholat jama’ah dimasjid, maka gugur bagi wanita untuk melakukan shalat berjama’ah di masjid. Karena sebaiknya sholatnya wanita dirumah. Tapi dengan kondisi kita sebagai mahasiswi maka dioerbolehkan bagi kita untuk sholat berjamaah di kampus/luar rumah asalkan kia bisa menjaga diri kita.
2. Tidak boleh memakai perhiasan yang berlebihan
Dimanapun kita berada, sebaiknya kita tidak memakai perhiasan yang berlebihan, terutama ketika memasuki Rumah Allah (Masjid). Hal ini terdapat dalam hadist nabi yang melarang wanita memakai perhiasan berlebihan ketika memasuki masjid
3. Tidak boleh memakai wangi-wangian yang baunya menyengat/tercium baunya ke lawan jenis. Boleh memakai parfum/deodoran namun secukupnya saja.
4. Ketika keluar rumah, syaitan mengikutinya.
Syaitan akan gembira jika wanita keluar rumah dan senang untuk menggodanya karena wanita adalah aurat. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk menutup aurat.
5. Bagi wanita hamil akan mendapat pahala apabila suami ridha. Hal tersebut diibaratkan wanita yang berpuasa yang mana dia sedang berperang fi sabilillah.

Wassalamu’alaikum wr.wb..

Tunggu edisi katinjus selanjutnya…. !!!
Semoga bermanfaat..

Wudhu

Kajian Rutin Fiqh

  1.  Pengertian
    1. Dalam bahasa arab, wudhu berarti suci.
    2. Sedangkan menurut istilah, wudhu memiliki arti mengalirkan air ke anggota badan yang telah ditentukan oleh syariat disertai dengan niat tertentu.

 

  1. Syarat sah wudhu
    1. Beragama islam
      syarat mutlak orang sah wudhunya itu beragama islam. Seandainya orang non-Islam mempraktikan wudhu, hal tersebut hanya membersihkan tubuh saja, tidak ada fadhilah lainnya (seperti menghilangkan dosa, dan lain-lain).
    2. Akil Baligh
      artinya adalah orang yang berakal.
    3. Tamyiz
      bisa membedakan antara yang haq dan yang batil.
    4. Tidak ada penghalang antara kulit dengan air
      dilihat terlebih dahulu di tangannya ada cat, oli, tato, minyak dan lain-lain atau tidak. Sebaiknya segala sesuatu yang dapat menghalangi masuknya air ke dalam kulit dibersihkan terlebih dahulu sampai benar-benar bersih.

 

  1. Air terbagi atas 4
    1. Air mutlak
      1. Air yang suci dan menyucikan serta tidak makruh untuk bersuci.
    2. Air musyammas
      1. Air suci dan menyucikan yang makruh.
    3. Air musta’mal
      1. Air suci namun tidak menyucikan, dan air yang berubah karena bercampur dengan benda-benda suci lainnya.
    4. Air najis
      1. Air yang bercampur benda najis dan jumlahnya tidak sampai dua qullah, atau mencapai dua qullah namun berubah. Ukuran dua qullah air kira-kira berjumlah limar ratus liter Baghdad berdasarkan pendapat paling benar.

 

  1. Wajib wudhu
    1. Niat
      1. “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. …”
        (H.R. Bukhari Muslim)
      2. Secara bahasa, niat berarti menyengaja.
  • Secara istilah, niat berarti menyengaja suatu hal apapun berbarengan dengan amal yang kita lakukan.
  1. Niat itu ada di dalam hati, apapun ibadahnya
  2. Terdapat perbedaan/far’iyah tentang sebaiknya niat itu cukup di dalam hati saja atau juga diucapkan di lisan. Alangkah baiknya perbedaan ini tidak dilebarkan biar tidak memecah belah umat.
    1. Menurut Mazhab Imam Syafi’i, niat sunnah untuk dilafalkan. Dijelaskan oleh Imam Nawawi bahwa hal ini dilakukan untuk mengingatkan hati dan pikiran mengenai apa yang hendak dilakukan.
    2. Menurut Mazhab lainnya tidak perlu diucapkan di lisan.
  3. Niat dalam wudhu dilakukan dilakukan ketika membasuh muka. Apabila niat dilakukan saat sedang tidak membasuh muka kebanyakan ulama tidak membolehkannya, dengan alasan niat itu dilakaukan ketika awal melakukan perbuatan.
  1. Membasuh muka
    1. ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,” (Qs al-Maidah ayat:6)
  2. Membasuh kedua tangan sampai siku
    1. ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,” (Qs al-Maidah ayat:6)
    2. Lebih baik jika dibasuh sampai atas siku
  3. Mengusap kepala
    1. “dan sapulah kepalamu”.
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
    2. Batas kepala adalah lingkar tumbuhnya rambut yang ada di kepala
  4. Membasuh kedua kaki sampai dua mata kaki
    1. “dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
  5. Tertib
    1. Tertib artinya teratur seperti membasuh muka dahulu baru tangan, tidak boleh sebaliknya.

 

  1. Yang membatalkan Wudhu
    1. Keluarnya sesuatu dari dubur dan qubul
      1. “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”
        (Qs Al-Maidah ayat: 6)
      2. Dari Abu Hurairah ra. Rasulallah saw bersabda “Tidaklah batal wudhu seseorang kecuali keluar suara atau bau (dari aurat belakang)
        (HR at-Tirmidzi)
  • Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad ra, Rasulallah saw bersabda: “tentang mazi, hendaknya ia membasuh kemaluannya lalu berwudhu”
    (HR Bukhari Muslim)
  1. Hilangnya akal karena mabuk, gila, pingsan dan tidur
    1. Dari Aisyah ra ia berkata: “Sesungguhnya Nabi saw pernah pingsan lalu sadar, maka beliau mandi”
      (HR Bukhari Muslim)
  1. Tidur berat jika dilakukan dengan berbaring membatalkan wudhu.
    Dari Ali Bin Abi Thalib ra, Rasulullah saw. bersabda, “Mata adalah tali dubur, maka barang siapa yang tidur hendaknya berwudu.”
    (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  • Sedangkan tidur sambil duduk (dengan mantap) kemudian bangun, boleh mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi.
    1. Menurut Anas bin Malik, sahabat-sahabat Nabi pun terkadang tidur sambil duduk sampai kepala mereka tertunduk untuk menanti datangnya shalat Isya. Kemudian mereka mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi.
      (Hadits ini diriwayatkan oleh Syafi’i, Imam Muslim, Abu Daud, dan at-Tirmidzi)
  • Bersentuhan kulit laki laki dan perempuan dewasa yang bukan mahram tanpa pembalut hukumnya batal wudhu penyetuh dan yang disentuh karena keduanya merasakan kelezatan sentuhan
    1. Allah berfirman: ”atau menyentuh perempuan” ,
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
    2. Bersentuhan dengan mahram atau anak kecil hukumnya tidak membatalkan wudhu, begitu pula menyentuh rambut, gigi dan kuku karena tidak merasakan kelezatan sentuhan
  • Menyentuh aurat (kemaluan) dan dubur belakang dengan telapak tangan.
    1. Sesuai dengan sabda Rasulallah saw: “Jika seseorang menyentuh dzakarnya (dengan telapak tangan) maka hendaknya ia berwudhu, dalam riwayat lain: barang siapa menyentuh kemaluannya maka hendaknya ia berwudhu”
      (HR. Malik, Syafie, Abu Daud dll dengan sanad-sanad shahih)
    2. Hadits lainya, dari Abu Hurairah, Rasulallah saw bersabda: “Jika seseorang menyentuh kemaluanya (dengan telapak tangan) tanpa hijab dan pembalut maka wajib baginya wudhu”
      (HR Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi dan at-Thabrani)

 

 

Sumber:

1. Kajian Rutin Fiqh, Mukhammad Bisri, Lc.,KMFH UGM

2. Fiqh Nabi, oleh Hasan Husen Assagaf

3. At-Tadzib fi Adillat Matan Al-Ghayat wa At-Taqrib Al-Masyur bi Matan Abi Syuja’ fi Al-Fiqh Asy-Syafi’ie, oleh Dr. Musthafa Diib Al-Bugha

Wanita Idaman Masa Depan

💐💐💐💐💐💐💐💐
Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu’alaikum wr.wb😊
🌾Notulens Kantinjus🌾
(18 Maret 2016)
———————————————-
Tema: Wanita Idaman Masa Depan
Pembicara: Ustadzah Nurus Sa’diyyah

~Kitab Keluarga Sakinah~
(Uqudullujain dan Mar’atussholihah)

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.”
(HR. Muslim No. 1467)

Pada dasarnya wanita itu tertarik pada hal yang berhias.
seorang wanita boleh menjadi wanita karier, melakukan pekerjaan seperti laki laki, what ever do you want to be . Tapi harus tetap kembali dan ingat kewajibannya sebagai wanita.

Istri yang sholehah adalah istri yang bisa mendukung suaminya untuk melakukan kebaikan.

Wanita memang makluk yang lemah tetapi ia dituntut sbg penyemangat bagi suaminya.

ciri wanita sholehah:
1.Bijak memberi semangat dan menemani suaminya salat jamaah.
2. Menghindari sesuatu yang tidak direstui Allah
3. Ketika diuji oleh Allah kita harus ridhlo

Wassalamu’alaikum wr.wb..

Tunggu edisi katinjus selanjutnya…. !!!
Semoga bermanfaat..
💐💐💐💐💐💐💐💐💐

Persiapan Menjadi Istri Idaman

💐💐💐💐💐💐💐💐
Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu’alaikum wr.wb😊
🌾Notulens Kantinjus🌾
(04 Maret 2016)
———————————————–
Tema: Persiapan Menjadi Istri Idaman
Pembicara: Ustadzah Nurus Sa’diyyah

~Kitab Keluarga Sakinah~

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.”
(HR. Muslim No. 1467)

Jadilah kita wanita yang bisa membuat bidadari surga cemburu

Ar-rijalu qawwamuna ‘ala nisa’ –> Seorang laki- laki adalah pemimpin bagi wanita. Bukan sebagai pemimpin yg otoriter, bukan hanya memimpin tapi juga mengayomi dan membimbing, ibarat orang tua bagi istrinya.

Kiat menjadi istri yang baik:
1. Kita harus mengetahui diri kita sendiri. Bahwa wanita adalah seseorang yg dipimpin. Kita harus taat/patuh pada suami asalkan itu sesuai dg syariat islam. Kalau perintah suami itu berat, maka anggaplah hal tersebut adalah perintah agama.

2. Ketika kita tidak menyukai sikap suami, jaga lisan kita. Jangan sampai mwngucakpkan yang tidak-tidak. Ex: minta cerai. Karena sesungguhnya wanita yg minta cerai tidak akan pernah mencium bau surga.

Sesungguhnya Allah tidak akan memandang wanita yang tidak mau bersyukur atas suaminya.

Kita harus tetap bersyukur berapapun penghasilan suami. Karena kita telah memilihnya untuk menjadi pendamping kita. Jika kita sulit untuk bersyukur, maka carilah calon suami yang memiliki kualitas lebih dibanding kita.

Kenali ego diri kita sendiri dalam menyeleksi calon suami kita nanti. Terima bagaimanapun suami kita nanti.

🌹Jika Belum Siap Maka Jangan Berpikir Untuk Menikah LebiDulu🌹

4 golongan wanita yang akan dimasukkan dalam surga Allah:

1. Wanita yang bisa menjaga dirinya untuk taat pada Allah

2. Wanita yang sabar dan menerima apa adanya pasangan.

3. Wanita yang ketika ditinggal suami dapat menjaga diri sendiri dan harta suami. Kalau kita ingin menggunakan harta suami maka IZIN terlebih dahulu. Ex: sedekah dll.

4. Wanita yg bisa menjaga lisannya. Ex: tdak gossip.

4 golongan wanita yang akan dimasukkan dalam neraka Allah:

1. Wanita yang suka bicara buruk. Membicarakan kejelekan suami.
Ketika kita membuka aib suami = Membuka aib diri kita sendiri.

2. Wanita yang tidak bisa menjaga diri saat suami tidak ada.

3. Wanita yang suka memperlihatkan perhiasannya. Karena akan meninbulkan keceburuan sosial yg berujung fitnah.

4. Wanita yang malas beribadah. Maka dari itu solusinya adalah cari suami yang bisa mengingatkan kita untuk selalu beribadah pada Allah.

Wassalamu’alaikum wr.wb..

Tunggu edisi katinjus selanjutnya…. !!!
Semoga bermanfaat..
💐💐💐💐💐💐💐💐💐

Pemahaman Sahabat Mengenai Hadits Rasulullah S.A.W. tentang Sunnah dan Bid’ah

Pemahaman Sahabat Mengenai

Hadits Rasulullah S.A.W. tentang Sunnah dan Bid’ah

(Rilis kajian yang diisi oleh Ustadz Ismail)

 

“Disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW pada suatu saat (beliau) menyampaikan suatu pesan yang mana menyentuh sekali terhadap hati-hati para sahabat, yang menyebabkan para sahabat ingin menangis mendengarkan nasihat ini. Sehingga ada salah seorang sahabat kemudian bertanya: Ya Rasulullah, seolah-seolah pesan ini merupakan pesan yang terakhir, bahkan perpisahan antara kami dengan engkau Ya Rasulullah, maka berwasiatlah engkau kepada kami Ya Rasulullah?” Beliau, Rasulullah SAW pun bersabda; Aku mewasiatkan kepada engkau agar senantiasa bertakwa kepada Allah Azza Wa jalla, kemudian agar engkau senantiasa taat terhadap pemimpin kalian, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba Habsy (Ethiopia/hamba yang berkulit hitam – seorang budak yang berkulit hitam kalian harus tetap taat), dan sesungguhnya esok orang yang akan hidup setelah aku, ia akan melihat banyak sekali perbedaan, maka hendaknya kalian senantiasa berpegang kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin dan Nahdliyin. Peganglah agama itu dengan kuat-kuat, dan janganlah kalian ini mendekati perkara-perkara yang baru dari urusan agama. Karena sesungguhnya perkara yang baru yang tidak ada dasarnya adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah itu adalah suatu kesesatan.”[1]

Banyak diantara masyarakat yang salah dalam memahami hadit ini, khususnya pada kalimat “Kullu bid’atin dholalah”.

Apa itu bid’ah? Bagaimana pemahaman para sahabat terkait Bid’ah?

Menurut pemahaman para sahabat, bid’ah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah bid’ah secara syar’iyyah atau bid’ah secara istilah yang bermakna suatu amalan yang dikerjakan yang mana amalan itu tidak ada dasarnya sama sekali baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Sehingga, yang dimaksud bukalah pemahaman bahwa semuanya yang tidak ada dalil dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits maka tidak boleh dikerjakan atau dinamakan bid’ah seperti anggapan bid’ah terhadap do’a setelah shalat.

Dalam suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Jarir Ibnu Abdullah ra. dijelaskan bahwa; “Barangsiapa yang membuat suatu sunnah kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala dari amalan itu dan pahala dari orang-orang yang mengerjakannya setelah sepeninggalnya tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakan tersebut. Dan barang siapa yang membuat suatu sunnah keburukan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa-dosa para pelakunya tersebut.”[2]

Seperti halnya sunnah, yang bisa bermakna sunnah baik, namun bisa juga bermakna sunnah buruk. Bid’ah pun juga bisa bermakna bid’ah baik yang dinamakan “Bid’ah hasanah”, namun ada juga bid’ah buruk yang dinamakan “Bid’ah dholalah”. Meskipun bid’ah adalah lawan kata dari sunnah.

Yang dimaksud Bid’ah Hasanah adalah suatu amalan yang mungkin Nabi tidak pernah mengerjakannya, akantetapi di dalam agama ini ada dasarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan  Bid’ah dholalah adalah setiap perkara yang dikerjakan tanpa ada dasarnya sama sekali.

Lalu, bagaimana para sahabat dalam melakukan amal?

Yang mana, pemahaman sahabat pasti lebih baik daripada pemahaman kita, karena ketika mereka melakukan suatu amalan-amalan langsung mendapatkan pengawasan dari Rasulullah S.A.W. sehingga ketika mereka benar maka disetujui oleh Rasulullah S.A.W., namun apabila amalan mereka tidak benar, makan ditegur dan diluruskan oleh Rasulullah S.A.W.

Para sahabat ini paham dengan perintah Allah S.W.T. dalam Q.S. Al-Hajj ayat 77, Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, Rukulah, sujudlah kamu, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar sekalian kamu menjadi orang-orang yang beruntung.”. Yang mana melalui ayat ini Allah S.W. memerintahkan untuk mengerjakan kebaikan yang sebanyak-banyaknya.

Apa itu kebaikan?

Kebaikan adalah sesuatu yang tidak bertentangan dengan perintah Rasulullah S.A.W. dan yang tidak bertentangan dengan Sunnatullah.

Seperti itulah pemahaman para sahabat, sehingga banyak sekali perbuatan-perbuatan para sahabat yang mereka kerjakan. Akantetapi tidak pernah dikerjakan ataupun diperintahkan oleh Rasulullah S.A.W.

Dalam hal kebaikan, para sahabat sangatlah ‘rakus’, sehingga mereka berusaha agar bagaimana dalam kehidupan di dunia inni selalu mengerjakan suatu kebaikan,walaupun perkara itu tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah S.A.W.

Sebagaimana amalan yang dikerjakan oleh Sayyidina Bilal r.a. (muadzin Baginda Rasulullah SAW). Suatu ketika setelah selesai sholat subuh, Baginda Rasulullah SAW bertanya kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang sering kau kerjakan di dalam Islam ini. Amalan apa yang kamu istimewakan sehingga aku mendengar suara langkah sandalmu sudah sampai di surga. Apa yang kamu kerjakan wahai Bilal?”

Maka, Sayyidina Bilal r.a. menjawab, “Yang aku kerjakan ini Ya Rasulullah, sesungguhnya bila saya berhadats maka saya segera bersuci/berwudhu baik itu malam hari maupun siang hari. Setelah wudhu, lalu saya mengerjakan sholat semampu saya. Itulah amalan yang saya kerjakan.”

Dalam hal ini Bilal r.a. ini mengerjakan suatu amalan yang tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah, akantetapi yang dikerjakan oleh Bilal r.a. ini dipuji oleh Beliau S.A.W.. Maka Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya Bilal r.a. ini bersungguh-sungguh dalam memperbanyak amalan dan ibadah kepada Allah S.W.T.

Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa; “Suatu ketika, ketika Rasulullah SAW sedang mengerjakan sholat, ketika beliau bangkit dari ruku’nya, maka beliau mengatakan membaca; sami’allahu liman hamidah. Lalu dibelakangnya ada orang yang membaca dengan keras; robbana wa lakal hamdu hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiih (suatu bacaan yang Nabi tidak pernah mengajarkan). Maka setelah selesai shalat, Baginda bertanya; Siapakah dia yang membaca doa tadi? Maka sahabat mengatakan; Saya, Ya Rasulullah. Kemudian Nabi berkata; Sesungguhnya tadi saya melihat ada 30 malaikat lebih yang mereka saling berebutan untuk menulis dari apa yang kamu bacakan.” [3]

Padahal Nabi S.A.W. pernah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Akantetapi, dalam hal ini ada seorang sahabat yang menambahi bacaan doanya. Meskipun begitu, Nabi S.A.W. tidak marah dan tidak menyebutnya bid’ah, namun memujunya.

Dalam suatu riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah S.A.W. hanya mengerjakan shalat tarawih sampai malam ke-3 saja, karena beliau khawatir shalat tarawih akan diwajibkan bagi umatnya jika beliau mengerjakannya secara rutin.

Lalu, kenapa pada saat ini kita melaksanakan tarawih selama sebulan penuh?

Apakah tidak menyalahi apa yang Rasulullah S.A.W. contohkan?

Bahkan pada saat Khalifah Umar r.a. orang-orang masih mengerjakan shalat tarawih dengan sendiri-sendiri, ada yang dengan kelompok-kelompok kecil. Kemudian Umar r.a. berpendapat apabila jamaah itu dikumpulkan, maka hal ini akan lebih baik. Lalu, Umar r.a. memerintahkan untuk shalat tarawih di masjid dengan hanya ada satu imam dan ditetapkan rakaat shalat sejumlah 23 rakaat (yakni 20 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir). Lalu beliau berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Mengapa beliau berkata seperti itu? Karena pada zaman Nabi S.A.W. tidak ada shalat tarawih berjama’ah selama sebulan penuh di masjid yang seperti ini.

Sebagaimana sabda Nabi S.A.W.; “Hendaknya kalian senantiasa berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah setelah aku.”[4]

Maka hendaknya kita mengikuti sunna Rasulullah S.A.W. dan sunnah (amalan-amalan yang dikerjakan) oleh Khulafaur Ar-Rasyidin (Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib).

Jadi kesimpulannya, bid’ah itu sendiri menjadi dua, yakni; Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dholalah. Yang dimaksud Bid’ah Hasanah adalah suatu amalan yang mungkin Nabi tidak pernah mengerjakannya, akantetapi di dalam agama ini ada dasarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan  Bid’ah Dholalah adalah setiap perkara yang dikerjakan tanpa ada dasarnya sama sekali.

[1] Hadits riwayat Ibnu Majjah

[2] Hadits Riwayat Muslim

[3] Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

[4] Hadits Riwayat Abu Daud dan Tirmiddzi

Ku Tunggu Janjimu

Kantinjus, 24 April 2015

kantinjus

 

Sebagai seorang muslim, maka satu hal yang pasti adalah kita telah bersyahadat. Syahadat sejatinya adalah ikrar, bentuk perjanjian kita dengan Allah untuk menaati Allah dan menjauhi apa yang Ia larang. Teman-teman pasti sudah sangat familiar dengan ayat ini

“ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ”

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. “

Yap, Az-Dzariyat ayat 56. Allah mengatakan bahwa Ia menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya karena memang tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Dalam sebuah hadist, Rasulullah mengatakan bahwa sesungguhnya setiap manusia lahir dalam keadaan Islam, yang menjadikannya nasrani, yahudi, atau majusi adalah orang tuanya. Sebagian besar dari kita mungkin terlahir dan dibesarkan di keluarga muslim, sehingga seringkali kita mungkin merasa “biasa saja” dengan kalimat yang selalu kita ikrarkan setiap tasyahud dalam sholat. Padahal, bentuk kita membaca syahadat sebagai ikrar dan persaksian kita bahwa hanya Allah lah ilah yang berhak disembah tidaklah ringan. Kita harus memaknai syahadat kita, juga harus merenungi, apa yang harus kita lakukan setelahnya. Inilah yang disebut dengan komitmen kita sebagai seorang muslim. Komitmen adalah kesepakatan, janji. Maka bila sebuah komitmen diingkari, teman-teman tentu tahu apa akibatnya smile emotikon

Dalam berislam ini, tentu sudah menjadi kewajiban kita untuk terus menggali dan memperdalam ilmunya. Setelah kita memahamkan diri dengan islam, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan .

  1. Mengislamkan akidah kita. Segala hal hanya kita gantungkan pada Allah. Jika selembar daun jatuh dengan takdir Allah, maka segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, yakinkanlah bahwa itu merupakan ketetapanNya dan hanya kepadaNya kita berserah diri. sedetik pun hidup kita tidak boleh tidak kita niatkan melainkan hanya untuk ibadah.
    2. Mengislamkan akhlak. Kita sudah paham akan Rasulullah. Bunda Aisyah menyebutkan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Quran. Ia adalah teladan terbaik. Jika parfum ada yang asli dan kw, maka dekatkanlah diri kita untuk menjadi parfum yang asli, yang benar-benar mencontoh perilaku dan akhlak Rasulullah.
    3. Mengislamkan keluarga. Selalu berbagi nasihat, cerita yang indah, islami dan menenangkan dengan orang-orang terdekat.
    4. Yakin bahwa masa depan milik Islam, bukan milik yang lain. Ini adalah salah satu konsekuensi kita sebagai muslim, meyakini bahwa kita adalah umat terbaik, sehingga masa depan adalah milik kita, umat Islam.

Jika ke empat hal itu sudah tertanam, maka langkah yang harus kita jalani sepanjang hayat kita adalah menyeru kepada kebaikan. Menebarkan nilai-nilai Islam kepada semua. Manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang saling menasihati. Dimana pun teman-teman berada, proses menebar kebaikan ini harus selalu dilakukan. Itulah mengapa, hal ini membutuhkan komitmen, karena ia adalah serangkain proses yang harus dijalani dengan istiqomah. Jika kita berhanti, bagaimana keyakinan kita akan kejayaan Islam akan terbukti?

Ingatlah, sejatinya semua makhluk menunggu janji kita kepada Allah, untuk menegakkan kalimatNya, untuk berlomba dalam kebaikan, dan untuk bersama-sama membawa Islam kembali kepada masa emasnya. Jangan tunggu yang lain, jangan tunggu nanti, mari kita mulai dari diri sendiri, sekarang juga J

Psikologi Islam

Jumat, 27 Maret 2015

Mushola Baitul Hakim FH UGM, Yogyakarta

 

kantinjus 27 maret 2015

Apakah anda mengenali diri anda? Pertanyaan yang mudah tetapi tak banyak orang yang dapat menjawabnya dengan tegas. Kantinjus mengajak para muslimah untuk mengenali pribadi masing-masing dengan mengangkat tema Psikologi Islam. Setelah pembacaan tilawah oleh Milana, Mbak Dita (mahasiswa psikologi angkatan 2012) mulai menyampaikan materi.

Manusia tidak akan pernah lepas dari psikologi. Sebab Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan cara berpikirnya. Seiring dengan berkembangya jaman, Psikologi tidak hanya melihat pada satu individu tetapi sudah masuk ke ranah keilmuan. Banyak umat muslim yang mengacu pada Psikologi Barat padahal Islam pun juga mempelajari Psikologi. Buktinya adalah terdapatnya Rumat Sakit Jiwa di Iran sebelum masa Renaissance. Lalu kemanakah psikologi islam itu? Mereka menghilang begitu saja dan hanya berada di lingkungan mereka. Kondisi ini menjadi hal yang mengkhawatirkan karena ada perbedaan antara psikologi barat dengan psikologi Islam. Berbeda dengan psikologi barat yang hanya berfokus pada keduniaan (fisik), psikologi islam selain mempelajari fisik juga mempelajari ruh dan Tuhan. Hal inilah yang menjadikan banyak orang yang sakit di Barat karena mereka hanya belajar mengenai fisik. Sementara psikologi islam mengajari kita tentang kesabaran dan keikhlasan yang menjadi penawar racun jiwa. Saat ini orang-orang Barat mulai menyadari bahwa ada sesuatu di luar manusia, yaitu Tuhan.

Sabda Rasululah SAW: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya”. Mengapa demikian? Sebagai manusia tentu kita tidak dapat mengendalikan semua hal. Meskipun banyak penemuan-penemuan canggih di era modern ini yang membuat manusia menjadi sombong. Namun ada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia seperti detak jantung. Penting sekali bagi setiap individu untuk dapat mengenali diri mereka.

Ketika seorang manusia menemukan dirinya maka ia akan menemukan bahwa ada kekuatan di luar sana yang mengendalikan ha-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Dengan begitu, kita akan menyadari keberadaan Tuhan dan kita bukanlah pemilik sejati raga ini. Orang-orang yang tidak bisa menemukan siapa dirinya maka ia tidak mempunyai pegangan dan hanya akan terbawa arus. Mereka tidak dapat menyelesaikan masalah yang muncul di lingkungan mereka sehingga mengakibatkan stress. Pada tahap yang sangat parah seseorang yang tidak mengenali diri mereka dapat melakukan tindakan kriminal bahkan dapat menjadi gila.

Johari Window membagi keterbukaan seseorang menjadi empat kelompok, yakni:
1. Open, mengambarkan diri seseorang yang diketahui olehnya dan juga orang lain.
2. Hidden, dimana seseorang itu sendiri yang tahu akan dirinya sementara orang lain tidak.
3. Blind, suatu kondisi saat seseorang tidak tahu dirinya tetapi orang lain tahu.
4. Unknown, baik pribadi itu sendiri maupun orang lain tidak tahu.

johari-window

Jadi, marilah kita mulai mengenali diri kita masing-masing. Awali dengan pertanyaan yang sangat sederhana: Siapa diri kita? Tentu saja pertanyaan ini tidak selesai hanya dengan menjawab saya Islam. Sebagai penutup, Mbak Dita menambahkan bahwa diri manusia ibarat sebuah bumerang. Tanpa mengenali diri maka bumerang itu bisa saja menyerang diri kita sendiri. Oleh karena itu, diperlukannya pemahaman diri oleh masing-masing individu agar mereka dapat mengontrol bumerang tersebut.

Pentingnya Membaca Al-Qur’an

al-qur'an

Kantinjus yang diadakan di mushola FH pada Jumat, 6 Maret 2015 kali ini mengangkat tema “Mengapa sih Kita Harus Membaca Al-Qur’an?”. Pemateri yang didatangkan ialah Mbak Mita, seorang mahasiswa manajemen angkatan 2010. Dibuka dengan game tebak hati, Mbak Mita pun memulai kajian.

Kematian adalah hal yang akan dialami oleh setiap mahluk hidup. Begitu banyak amalan ibadah yang dilakukan manusia agar mereka mendapatkan kehidupan terbaik setelah kematian. Namun tahukah kalian bahwa ada amalan yang mudah dilakukan untuk masuk ke surga-Nya? Jawabannya adalah dengan membaca Al-Qur’an.

1. Membaca Al-Qur’an dapat memberikan sepuluh kebaikan.
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca 1 huruf dari Al Qur’an, maka baginya 1 kebaikan. dan 1 kebaikan dilipat-gandakan 10x lipat. aku tidak mengatakan alif lam miim itu satu huruf, tapi alim satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At Tirmidzi 2910)

2. Al-Qur’an merupakan pedoman segala permasalahan di dunia. Oleh karena itu, dengan membaca Al-Qur’an kita dapat merasakan ketentraman.

3. Al-Qur’an memberikan syafaat pada hari akhir.
Rasulullah SAW bersabda:
اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi shahibul Qur’an” (HR. Muslim 804).

4. Membaca Al-Qur’an dapat menjadi bakti terbaik kita kepada orang tua.
ثم يكسا أبواه إن كانا مسلمين حلة خيراً من الدنيا وما فيها، فيقولان: أنى لنا هذا وما بلغت أعمالنا؟! فيقال: إن ولدكما يقرأ القرآن

“Kemudian kedua orang tuanya, dipakaikan dengan pakaian yang lebih indah daripada dunia dan seisinya.” Kedua orang tuanya berkata,”Apa yang menyebabkan kami mendapatkan hal ini ? Kemudian dikatakan kepada keduanya,”Karena anak kalian berdua membaca Al-Qur’an.”

Adapun cara berinteraksi dengan Al-Qur’an yaitu dengan membaca, memahami, menghafalkan dan mengamalkannya. Selain itu, perlu diperhatikan juga adab-adab membaca Al-Qur’an:
a. Ikhlas;
b. Suci;
c. Menghadap kiblat;
d. Menutup aurat;
e. Diawali dgn ta’awudz.