Aksioma Literasi Payung Peradaban

Di payung pradaban nan sentosa penuh diskusi dan pertukaran gagasan praksis kehukuman. Oleh segenap mahasiswa Fakultas Hukum yang acap kali berkolaborasi dalam iba dan simpati untuk memperjuangkan amar makruf dan nahi munkar. Dalam dakwah yang –semoga- tiada henti bersemayam dalam dada. Jiwa dakwah bak lanar di tepian pantai mengendap dalam perasaan ukhuwah. Tidak pernah usang dan tak akan pernah hilang. Lebih dari wadah. Lebih dari sekedar lembaga. Tanpa disangka disana terdapat keluarga.
Keluarga Muslim Fakultas Hukum, sebuah wadah kekeluargaan progresif lingkup fakultas yang akan selalu tenteram dijumpai. Perasaan damai penuh hormat antar sesama bersemi. Merumung pelosok kampus yang tak jarang ramai. Entitas awal dari sebuah pergerakan da’awy.
Pentingnya sebuah gerakan dakwah tak perlu ditanyakan lagi. Sepak terjang manfaat dan barakah sudah mudah dijumpai mengingat semakin banyak orang akan mengetahui Islam lewat gerakan dakwah. Namun, ada yang dua aspek penting disini, yaitu pengorganisasian dan budaya literasi.
Seorang Imam Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan dengan mudah dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir”. Mudah saja kita mengambil sebuah pelajaran; untuk melakukan kebaikan, kita seyogyanya melakukannya dengan rapi (terorganisir), apabila tidak, maka kebaikan yang kita lakukan akan dikalahkan oleh keburukan, meski keburukan itu tidak dalam keadaan rapi. Di sini berlaku aturan, keburukan dan kebaikan akan selalu ada. Karena keduanya mengisi ruang dan waktu. Sederhananya, kita tidak akan bisa mengharapkan sirnanya keburukan dengan kebaikan yang kita lakukan.
Lebih jauh, kita memandang fenomena kebobrokan umat sebagai tantangan aktifis dakwah. Ketika adab pergaulan antara ikhwan-akhwat sudah tidak dipedulikan lagi -melainkan sedikit saja-, ketika panji kepemimpinan muda Islami sudah tak dapat bersaing di pentas perpolitikan kampus lagi -melainkan sedikit saja-, dan ketika keilmuan asasi Hukum Islam sudah tak banyak diminati lagi -melainkan sedikit saja-, dan juga standar lumbung kreatifitas cocok tanam penerus estafet dakwah yang kian menipis. Apakah kita akan diam saja? Sepertinya tidak bisa. Oleh karenanya, memulai pengorganisasian kebaikan dalam dakwah menjadi amat sangat penting untuk dikerjakan.
Peluang menarik kita dapatkan dari payung peradaban. Sebuah tempat nongkrong santai di timur mushola. Di sini kita dapat membangun –jika tidak dibilang berlebihan- sebuah peradaban yang madani di kampus fakultas hukum UGM. Sesuai dengan namanya, Payung Peradaban.
Beberapa abad silam, umat muslim menyibukkan dirinya dalam pergumulan ilmu. Tujuannya tak lain adalah untuk membangun peradaban Islami. Bidang keilmuan lah yang menjadi pondasi utama umat Islam terdahulu dalam membangun peradaban. Sehingga tercetaklah generasi yang memahami konsep ilmu dalam Islam, tidak sekedar mengetahui akan tetapi juga mengilmui. Keilmuan Islam itu juga pasti berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Salah satu contoh yang menjadi bukti kegemilangan keimuan zaman itu adalah dipakainya Al Qonun Fi At tibbi (buku kedokteran) karya Ibnu Sina di eropa, penemuan bilangan ‘nol’ oleh Al Khawarizmi, ditemukannya konsep pesawat terbang oleh Ibnu Firnas, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, kita dapat membangun sebuah peradaban dengan cara yang sederhana, memulainya dari diri sendiri dan kampus, yaitu melanjutkan budaya keilmuan yang selama ini hilang dari dunia Islam, melaikan sedikit saja. Dan di era sekarang kita dapat menyebut budaya keilmuan itu dengan budaya literasi di dunia pendidikan yang juga hilang darirealitasnya. Membaca, menulis, dan yang terpenting berdiskusi dengan sesama anggota. Tanpa rasa canggung, tanpa ketawa ketiwi. Namun, keceriaan dari sebuah diskusi pun bakal kita dapatkan. Pastinya, misi yang demikian itu semua kita lakukan di payung peradaban tempat nongkrong itu.

 

Oleh: Habib Haidar Pradana Effendi, Departemen Syiar dan Takmir, FH UGM 2015

Muslimah Membangun Peradaban

Assalamualaykum Wr.Wb
(notulensi kantinjus)
02 September 2016

🌺Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah🌺

Hai para sholihaatt.. Ada release notulensi kantinjus yang pertama nih setelah setengah kepwngurusan berjalan.. Yuk yg mau jadi muslimah pembangun peradaban simak yaa notulensinyaa. Heehee

Tema: Muslimah Mrmbangun Peradaban

Tentunya kita sebagai wanita nantinya akan mnjadi seorang ibu bagi anak-anak kita, peradaban masa depan terletak pada bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Tangan kitalah yg nantinya akan memiliki pengaruh besar terhadap peradaban islam kedepan karena sejatinya kita adalah calon ibu, dan ibu adalah tempat atau madrasah pertama agi anak-anak kita karena Al umahat madrasatun uula.
Ibu adalah sekolah bagi anak2ny
Seorang ibu harus mempunyai bekal akhlaq, perilaku, fiqh, dan juga adab. Bgaimana perilaku anak kita dibentuk, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh perilaku atau bagaimana seorang ibu mendidik anak. Bukan kewajiban sekolah formal, pendidikan itu diberikan. Namun, pendidikan tersebut merupakan sebuah kewajiban bagi seorang ibu.
Wanita haruslah mempunyai filter agar tidak tergoyahkan, filter tersebut berupa mengaji dan belajar
Seperti dalam kisah Rabi’ah adawiyah yaitu seorang janda yang dilamar oleh Syech Hasan Al Basri. Rabi’ah mengatakan bahwa Ia sedang memikirkan tentang bagaimana Ia akan meninggal nantinya, Khusnul khatimah atau su’ul khotimah. Tidak ada pemikiran untuk menikah lagi.
Manusia diciptakan untuk beribadah.
Hilangkan persepsi bahwa menikah adalah sumber kenikmatan. Jangan menikah karena nafsu. Tapi jadikan pernikahan sebagai sarana beribadah kepada Allah. Menikah itu tentang kita menentukan sebuah pilihan. Jadi, sebelum kita menikah, maka jadilah pribadi yg berkualitas, karena wanita adalah pembangun peradaban, dan seorang ibu nantinya. Semoga bermanfaat kedepannya.

*simak edisi kantinjus berikutnya ya.. Edisi berikutnya adalah tentang fiqih wanita.

Wassalamualaykum Wr.Wb

*Departemen keputrian KMFH
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Lagi-lagi Ulah Media

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di dunia, karena banyak sekali keistimewaannya, tak terkecuali bagi para pemeluk agama Islam di Indonesia juga sangat menantikan datangnya bulan Ramadhan ini yang mana datang hanya sekali dalam setahun. Para umat muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa di bulan suci ini sebagaimana yang telah di firmankan oleh Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Jadi puasa dalam bulan Ramadhan ini bagi umat muslim wajib hukumnya dan jika ditelaah kembali ternyata kewajiban untuk berpuasa bukan hanya ditujukan kepada umat muslim saja tetapi juga kepada umat sebelum adanya umat muslim.

Tahun ini merupakan tahun 1437 H, di Indonesia sendiri yang notabene penduduknya beragama Islam dengan suka cita menyambut bulan Ramadhan ini, namun yang harus kita waspadai adalah banyak para pihak yang ingin memecah belah umat Islam. Tentu kita masih ingat bagaimana kasus yang viral diberitakan oleh media mainstream yaitu kasus yang terjadi di Serang, Banten ibu Saeni dengan Satpol PP dan terus menjadi bahan perbincangan netizen di media sosial, saling lempar komentarpun terjadi, ada yang pro dan ada yang kontra perihal razia tersebut. berdasarkan Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat Satpol PP di Serang Banten melakukan Razia terhadap warung makan yang tetap beroperasi dibulan Ramadhan, padahal sudah ada Surat Edaran yang menguatkan peraturan tersebut. Pada Perda tersebut sudah jelas menyatakan dalam Pasal 3 ayat (2) bahwa kategori penyakit masyarakat meliputi pelacuran dan penyimpangan seksual, waria yang menjajakan diri, minuman beralkohol, gelandangan dan pengemis, anak jalanan serta kegiatan yang dilarang pada bulan Ramadhan.

Kegiatan yang dilarang pada bulan Ramadhan itu mengacu pada Pasal 10 ayat (1) yaitu setiap orang dilarang merokok, makan atau minum di tempat umum atau tempat yang dilintasi oleh umum pada siang hari di bulan Ramadhan. Pada bagian penjelasan disebutkan yang dimaksud siang hari adalah waktu pelaksanaan ibadah puasa. Diperjelas dengan ayat (3) pada Pasal yang sama disebutkan, setiap pengusaha restoran atau rumah makan atau warung dan pedagang makanan dilarang menyediakan tempat dan melayani orang menyantap makanan dan minuman pada siang hari. Jika ditelaah lebih lanjut maka insiden Razia tersebut memang sudah berlandaskan hukum yang berlaku dan juga dilakukan oleh oknum yang berwenang karena dalam Pasal 15 disebutkan, Satpol PP berwenang melakukan razia terhadap tempat atau rumah, tempat usaha, jalan atau tempat umum, yang digunakan atau mempunyai indikasi atau bukti yang kuat, sehingga patut diduga tempat tersebut digunakan sebagai tempat kegiatan penyakit masyarakat. Namun patut disayangkan ketika media mainstream menayangkan berita yang menyulut emosi netizen sehingga banyak yang melemparkan komentar hujatan tanpa tahu peristiwa yang sebenarnya.

Pemerintah Daerah memiliki kewenangan dalam membuat Peraturan Daerah hal ini berlandaskan pada Pasal 18 ayat (5) dan (6) Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang memberikan kewenangan bagi daerah dalam menjalankan otonomi daerah yang seluas-luasnya termasuk dalam membuat peraturan daerah tetapi otonomi daerah harus dijalankan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku diatasnya dan tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang telah berlaku sebelumnya. Jikalau masyarakat menanyakan Perda Banten ini tercium rasis dan mendukung agama tertentu maka hal ini juga telah dibenarkan dalam Undang-undang bahwa salah satu bentuk otonomi daerah yaitu adanya peraturan daerah. Pembentukan suatu peraturan daerah haruslah tidak bertentangan dengan peraturan yang diatasnya, apa sajakah peraturan tersebut? peraturan yang diatasnya itu mengcu pada hierarki peraturan perundang-undangan yang tertuang dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-undang No. 12 tahun 2011 yaitu: Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:

  1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
  2. Ketetapan Majelis Permusyawaratak Rakyat
  3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
  4. Peraturan Pemerintah
  5. Peraturan Presiden
  6. Peraturan Daerah Provinsi dan
  7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

Kemudian dalam Pasal 9 ayat (2) pada Undang-undang yang sama menyatakan bahwa dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-undang diduga bertentangan dengan Undang-undang, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung, oleh karena itu jikalau perda tersebut dianggap bertentangan maka yang berhak membatalkan adalah Mahkamah Agung bukanlah Pemerintah Pusat ataupun Menteri itupun juga harus melalui mekanisme pengujian terlebih dahulu tidak bisa membatalkan secara sepihak.

Propaganda yang dilakukan oleh media mainstream tersebut menuai sukses besar untuk memecah belah umat karena terjadi perdebatan yang tiada habisnya antara yang pro dengan yang kontra dengan argumennya masing-masing. Maka perlulah kita untuk bertabayun terlebih dahulu dalam menyikapi suatu isu, sangat disayangkan ketika kita terpancing oleh media mainstream yang ingin memecah belah umat dengan berbagai cara. Banyak orang Islam yang terpancing sehingga melemparkan pernyataan bahwa ketika orang berpuasa meminta untuk dihormati maka juga hormati orang yang tidak berpuasa. Sebuah logika yang agak melenceng sedang mencoba dibangun, umat Islam di Indonesia lupa bahwa mereka adalah kaum mayoritas. Umat Islam di Banten masih menjadi mayoritas berbeda dengan halnya dengan di Bali yang mana umat Islam menjadi minoritas disana dan mentaati hukum yang berlaku di sana karena itulah suatu peraturan yang berlaku di daerah Bali yang dituangkan dalam Perda begitu pula Banten yang telah menjalankan salah satu bentuk otonominya yaitu menjalankan Perda tetapi malah di hujat habis-habisan oleh umat Islam sendiri, tetapi banyak juga yang menghormatinya seperti pengusaha restoran KFC yang ikut menyesuaikan jam operasional di Banten pada bulan Ramadhan. Jika ingin melihat tulisan yang lebih komprehensif mengenai logika masyarakat Indonesia maka silahkan googling akan banyak ditemukan penulis-penulis yang menyatakan bahwa logika yang dipakai oleh masyarakat Indonesia dalam menanggapi isu ini salah kaprah.

Perlulah kita sebagai umat Islam yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk tidak mudah terpancing oleh propaganda murahan seperti ini. Media mainstream sekarang sudah tidak bisa diharapkan, lalu cara kita untuk meminimalisir agar tidak terjadi hal seperti ini lagi. Beberapa cara untuk melihat isu secara obyektif yaitu dengan cara melihat dari berbagai sisi, pertama-tama carilah media yang menginformasikan dari satu sisi dan kemudian carilah media yang menginformasikan dari sisi yang lain kalau perlu media yang menginformasikan dari sis yang bertentangan dengan media mainstream lalu barulah ditelaah lebih lanjut dengan melakukan survei lapangan sehingga kita dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana seharusnya sikap kita. Meskipun hal ini tidak menjamin keobyektifan secara 100% tetapi setidaknya kita telah mencoba untuk melakukan pandangan yang subyektif tetapi yang mendekati obyektif. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini agar kita tidak mudah terpecah belah dengan propaganda media mainstream. Akhir kata untuk menutup tulisan ini maka apabila ada kekeliruan dalam tulisan ini silahkan di caci maki tetapi dengan mengindahkan norma yang hidup di masyarakat.

 

Husni Muhammad F

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

Keutamaan Sholatnya Wanita Di Dalam Rumah

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu’alaikum Wr.Wb
(29 April 2016)
————————————

“Keutamaan Sholatnya Wanita Di Dalam Rumah”

Pembicara: Ustadzah Nurus Sa’diyyah (Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta).

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (Abu Dawud dan At Tirmidzi)

– Wanita adalah perhiasan yang tampak, oleh karena itu wanita harus tahu posisinya jika ingin keluar rumah.

1. Harus ada mahramnya (teman wanita, keluarga)
Wanita bisa keluar rumah jika dalam posisi aman. Lebih baik wanita shalat di dalam rumah, sebab sholat berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah bagi laki-laki. Artinya ketika laki-laki sudah mengerjakan sholat jama’ah dimasjid, maka gugur bagi wanita untuk melakukan shalat berjama’ah di masjid. Karena sebaiknya sholatnya wanita dirumah. Tapi dengan kondisi kita sebagai mahasiswi maka dioerbolehkan bagi kita untuk sholat berjamaah di kampus/luar rumah asalkan kia bisa menjaga diri kita.
2. Tidak boleh memakai perhiasan yang berlebihan
Dimanapun kita berada, sebaiknya kita tidak memakai perhiasan yang berlebihan, terutama ketika memasuki Rumah Allah (Masjid). Hal ini terdapat dalam hadist nabi yang melarang wanita memakai perhiasan berlebihan ketika memasuki masjid
3. Tidak boleh memakai wangi-wangian yang baunya menyengat/tercium baunya ke lawan jenis. Boleh memakai parfum/deodoran namun secukupnya saja.
4. Ketika keluar rumah, syaitan mengikutinya.
Syaitan akan gembira jika wanita keluar rumah dan senang untuk menggodanya karena wanita adalah aurat. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk menutup aurat.
5. Bagi wanita hamil akan mendapat pahala apabila suami ridha. Hal tersebut diibaratkan wanita yang berpuasa yang mana dia sedang berperang fi sabilillah.

Wassalamu’alaikum wr.wb..

Tunggu edisi katinjus selanjutnya…. !!!
Semoga bermanfaat..

Wudhu

Kajian Rutin Fiqh

  1.  Pengertian
    1. Dalam bahasa arab, wudhu berarti suci.
    2. Sedangkan menurut istilah, wudhu memiliki arti mengalirkan air ke anggota badan yang telah ditentukan oleh syariat disertai dengan niat tertentu.

 

  1. Syarat sah wudhu
    1. Beragama islam
      syarat mutlak orang sah wudhunya itu beragama islam. Seandainya orang non-Islam mempraktikan wudhu, hal tersebut hanya membersihkan tubuh saja, tidak ada fadhilah lainnya (seperti menghilangkan dosa, dan lain-lain).
    2. Akil Baligh
      artinya adalah orang yang berakal.
    3. Tamyiz
      bisa membedakan antara yang haq dan yang batil.
    4. Tidak ada penghalang antara kulit dengan air
      dilihat terlebih dahulu di tangannya ada cat, oli, tato, minyak dan lain-lain atau tidak. Sebaiknya segala sesuatu yang dapat menghalangi masuknya air ke dalam kulit dibersihkan terlebih dahulu sampai benar-benar bersih.

 

  1. Air terbagi atas 4
    1. Air mutlak
      1. Air yang suci dan menyucikan serta tidak makruh untuk bersuci.
    2. Air musyammas
      1. Air suci dan menyucikan yang makruh.
    3. Air musta’mal
      1. Air suci namun tidak menyucikan, dan air yang berubah karena bercampur dengan benda-benda suci lainnya.
    4. Air najis
      1. Air yang bercampur benda najis dan jumlahnya tidak sampai dua qullah, atau mencapai dua qullah namun berubah. Ukuran dua qullah air kira-kira berjumlah limar ratus liter Baghdad berdasarkan pendapat paling benar.

 

  1. Wajib wudhu
    1. Niat
      1. “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. …”
        (H.R. Bukhari Muslim)
      2. Secara bahasa, niat berarti menyengaja.
  • Secara istilah, niat berarti menyengaja suatu hal apapun berbarengan dengan amal yang kita lakukan.
  1. Niat itu ada di dalam hati, apapun ibadahnya
  2. Terdapat perbedaan/far’iyah tentang sebaiknya niat itu cukup di dalam hati saja atau juga diucapkan di lisan. Alangkah baiknya perbedaan ini tidak dilebarkan biar tidak memecah belah umat.
    1. Menurut Mazhab Imam Syafi’i, niat sunnah untuk dilafalkan. Dijelaskan oleh Imam Nawawi bahwa hal ini dilakukan untuk mengingatkan hati dan pikiran mengenai apa yang hendak dilakukan.
    2. Menurut Mazhab lainnya tidak perlu diucapkan di lisan.
  3. Niat dalam wudhu dilakukan dilakukan ketika membasuh muka. Apabila niat dilakukan saat sedang tidak membasuh muka kebanyakan ulama tidak membolehkannya, dengan alasan niat itu dilakaukan ketika awal melakukan perbuatan.
  1. Membasuh muka
    1. ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,” (Qs al-Maidah ayat:6)
  2. Membasuh kedua tangan sampai siku
    1. ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,” (Qs al-Maidah ayat:6)
    2. Lebih baik jika dibasuh sampai atas siku
  3. Mengusap kepala
    1. “dan sapulah kepalamu”.
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
    2. Batas kepala adalah lingkar tumbuhnya rambut yang ada di kepala
  4. Membasuh kedua kaki sampai dua mata kaki
    1. “dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
  5. Tertib
    1. Tertib artinya teratur seperti membasuh muka dahulu baru tangan, tidak boleh sebaliknya.

 

  1. Yang membatalkan Wudhu
    1. Keluarnya sesuatu dari dubur dan qubul
      1. “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”
        (Qs Al-Maidah ayat: 6)
      2. Dari Abu Hurairah ra. Rasulallah saw bersabda “Tidaklah batal wudhu seseorang kecuali keluar suara atau bau (dari aurat belakang)
        (HR at-Tirmidzi)
  • Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad ra, Rasulallah saw bersabda: “tentang mazi, hendaknya ia membasuh kemaluannya lalu berwudhu”
    (HR Bukhari Muslim)
  1. Hilangnya akal karena mabuk, gila, pingsan dan tidur
    1. Dari Aisyah ra ia berkata: “Sesungguhnya Nabi saw pernah pingsan lalu sadar, maka beliau mandi”
      (HR Bukhari Muslim)
  1. Tidur berat jika dilakukan dengan berbaring membatalkan wudhu.
    Dari Ali Bin Abi Thalib ra, Rasulullah saw. bersabda, “Mata adalah tali dubur, maka barang siapa yang tidur hendaknya berwudu.”
    (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  • Sedangkan tidur sambil duduk (dengan mantap) kemudian bangun, boleh mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi.
    1. Menurut Anas bin Malik, sahabat-sahabat Nabi pun terkadang tidur sambil duduk sampai kepala mereka tertunduk untuk menanti datangnya shalat Isya. Kemudian mereka mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi.
      (Hadits ini diriwayatkan oleh Syafi’i, Imam Muslim, Abu Daud, dan at-Tirmidzi)
  • Bersentuhan kulit laki laki dan perempuan dewasa yang bukan mahram tanpa pembalut hukumnya batal wudhu penyetuh dan yang disentuh karena keduanya merasakan kelezatan sentuhan
    1. Allah berfirman: ”atau menyentuh perempuan” ,
      (Qs Al-Maidah ayat: 6)
    2. Bersentuhan dengan mahram atau anak kecil hukumnya tidak membatalkan wudhu, begitu pula menyentuh rambut, gigi dan kuku karena tidak merasakan kelezatan sentuhan
  • Menyentuh aurat (kemaluan) dan dubur belakang dengan telapak tangan.
    1. Sesuai dengan sabda Rasulallah saw: “Jika seseorang menyentuh dzakarnya (dengan telapak tangan) maka hendaknya ia berwudhu, dalam riwayat lain: barang siapa menyentuh kemaluannya maka hendaknya ia berwudhu”
      (HR. Malik, Syafie, Abu Daud dll dengan sanad-sanad shahih)
    2. Hadits lainya, dari Abu Hurairah, Rasulallah saw bersabda: “Jika seseorang menyentuh kemaluanya (dengan telapak tangan) tanpa hijab dan pembalut maka wajib baginya wudhu”
      (HR Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi dan at-Thabrani)

 

 

Sumber:

1. Kajian Rutin Fiqh, Mukhammad Bisri, Lc.,KMFH UGM

2. Fiqh Nabi, oleh Hasan Husen Assagaf

3. At-Tadzib fi Adillat Matan Al-Ghayat wa At-Taqrib Al-Masyur bi Matan Abi Syuja’ fi Al-Fiqh Asy-Syafi’ie, oleh Dr. Musthafa Diib Al-Bugha

MALANGNYA NASIB MAHASISWA PTN-BH

MALANGNYA NASIB MAHASISWA PTN-BH : SERUAN AKSI !!!

2 Mei 2016, sebuah sejarah kemahasiswaan di UGM akan muncul. Pada hari itu direncanakan para mahasiswa berbondong-bondong ke rumah rakyat, rektorat tercinta. Pada hari itu juga mahasiswa menyanyikan lagu-lagu kebanggaan seperti Buruh Tani, Satukanlah, dan lagu-lagu khas mahasiswa pemberontak lainnya, dan tak lupa pula lagu suci Indonesia Raya. Mereka ingin supaya UGM kembali kepada konsep kerakyatannya yang di usung seorang mantan rektor inspiratif, Prof. Koesnadi. Beliau kala itu mencetuskan konsep ini karena mungkin beliau sadar, UGM adalah kampus yang dibangun oleh rakyat, dari rakyat, untuk rakyat. Mahasiswa yang kemudian menyadari kampus ini sudah mlenceng, sangat ingin mengembalikan konsep kerakyatannya dan mendobrak tirani.

Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya sendu, apa yang dihilangkan UGM atas konsep kerakyatannya ?, dari segi mana UGM dikatakan kampus kerakyatan ?. Bosan memang membahas soal kerakyatan, semua bicara tentang rakyat, padahal masih banyak yang harus diurus, entah itu proses akademik, organisasi, dll. Namun bosan tinggal bosan, ketika bosan mulai memuncak, ia akan menjadi suatu hal yang ganas, yang dapat mengganasi siapa saja. Namun keganasan ini hanyalah angin lalu bagi para aristokrat dan birokrat di rektorat. Nah, disaat lengahnya rektorat inilah, kita manfaatkan keganasan yang ada. Konsep kerakyatan adalah konsep yang merakyat. Dalam konteks kampus Gadjah Mada, konsep ini mewajibkan kampus untuk selalu dapat mengakomodir seluruh rakyat dari yang kaya hingga yang miskin, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, dari berbagai macam suku, ras, agama, dan antar golongan. Semua harus dapat diakomodir, terutama daerah 3T (terdepan,tertinggal,terluar). Namun belakangan, mahasiswa yang kritis pasti melihat ada banyak masalah di kampus tercinta ini. Mari kita paparkan bersama.

Pertama, masalah yang paling urgent saat ini adalah permasalahan UKT. Banyak yang mengatakan bahwa UKT di kampus ini sudah tak merefleksikan lagi nilai-nilai kerakyatan. UKT yang mahal dan wacana kenaikannya membuat mahasiswa yang kalang kabut menjadi ingin bersatu dengan keganasan tadi. Mereka mengatakan,” apakah mungkin kita menerima UKT mahal, UKT mau naik, tidak ada penundaan, terlambat bayar sedikit pun tak ada ampun, bahkan sampai UKT tertinggi melebihi BKT”. Maukah kita menerima semua terjadi ? dimana nilai-nilai kerakyatannya ? apakah dengan naiknya UKT mahasiswa dari daerah 3T mampu membayar UKT agar bisa kuliah di kampus ini?

Lalu kemudian masalah TuKin, Tunjangan Kinerja. Tunjangan kinerja ini selayaknya diberikan kepada tenaga pendidik. Besarnya tak terlalu berarti bagi pihak kampus Negara, namun sangat berarti bagi para bapak-ibu tenaga pendidik serta keluarga mereka, yang turut berperan besar dalam kegiatan akademik. Tundik ini sebenarnya hanyalah untuk tenaga pendidik di PTN tanpa embel-embel BH. Perpres No. 138 Tahun 2015 Pasal 3 Ayat 1, mengatakan bahwa pemerintah tidak lagi memberikan tunjangan kinerja bagi PNS Non-Dosen yang bekerja di PTN-BH. Nah, namun peraturan itu diberlakukan per-awal Desember 2015, sedangkan para tenaga pendidik belum merasakan Tukin sejak semester genap 2014 hingga semester genap 2015, bila dihitung itu sekitar 3 Semester. Padahal peraturan tersebut tidaklah berlaku surut. Siapa yang salah ? pihak rektorat berkilah bahwa pencairan ini adalah wewenang pemerintah. Namun para tenaga pendidik menyayangkan sikap rektorat yang kurang menekan pemerintah[1]bahkan dalam Islam diajarkan dalam hadits dari Abdullah bin Umar, Nabi SAW bersabda yang artinya “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering” (HR. Ibnu Majah)

Terakhir namun bukan yang akhir, masalah simbol kerakyatan UGM, Bonbin. Kantin Bonbin dibangun dimasa kepemimpinan rektor Prof.Koesnadi, pengonsep kampus kerakyatan. Beliau menghimpun para pedagang kaki lima di UGM kemudian diberi satu lokasi di sekitaran klaster Soshum. Bonbin milik semua mahasiswa UGM, siapapun dia, bahkan mungkin milik masyarakat Jogja. Namun kenangan manis itu ingin dirobohkan, Bonbin ingin digusur, simbol kerakyatan ingin diganti dengan simbol kapitalis. Kita didongengi dengan keindahan taman, kemolekan lingkungan, namun ternyata menindas kaum marjinal. Kisah cinta Bonbin dengan UGM dipaksa berakhir, berakhir dengan tragis. Simbol kerakyatan UGM tinggalah nama, kisah manis yang ditorehkan pun sekejap menghilang.

Mahasiswa harusnya kritis, apalagi mahasiswa UGM. Mereka adalah orang-orang yang diseleksi secara ketat dan yang lolos yang hebat. Mahasiswa hebat biasanya jiwa kritisnya terpacu cepat. Otaknya yang hebat juga mampu menumbangkan kesewenang-wenangan yang tak merakyat. Harusnya kita dapat bersatu, menumbangkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kesejahteraan rakyat. Buang semua atribut identitas mu dan organisasi mu, karena pada saat itu mahasiswa penerus di Universitas Gadjah Mada hanya menunjukkan bahwa dia adalah mahasiswa yang peduli terhadap rakyat. Lekatkan almamatermu ditubuhmu, singsingkan lengannya, kepalkan tangannya, dan lantamkam suara :

HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!!!

HIDUP RAKYAT INDONESIA !!!!

HIDUP KEADILAN !!!!

GADJAH MADA BERSATU !!!!

Aku akan tetap ada dan berlipat ganda, akan terus memburumu seperti kutukan

-Wiji Thukul

Penulis : Kahfi Adlan Hafiz

(dengan sedikit perubahan)

Departemen Pengkajian dan Wacana

[1] https://m.tempo.co/read/news/2016/03/03/079750249/ribuan-pns-ugm-tuntut-pembayaran-tunjangan-kinerja, diakses pada 01 Mei 2016 pukul 14:41

Islamophobia dalam Kehidupan

Benua Eropa dan negara Amerika merupakan daerah yang notabene penduduknya beragama non-islam. Sejak munculnya tragedi 911 muncul suatu ketakutan yang berlebihan terhadap umat islam sehingga sering disebut-sebut islam merupakan agama pembawa kehancuran dan tidak sesuai jika di terapkan dalam kehidupan baik di bidang sosial, politik, ekonomi. Banyak doktrin-doktrin di dunia untuk takut terhadap islam, bahkan baru-baru ini salah satu partai politik di german yaitu Alternative for Germany mempropagandakan bahwa mereka mendukung Islamophobia. “Islam is a political ideology that is not compatible with the German Constitution,” said AfD deputy leader Beatrix von Storch over the weekend. She went on to state that the AfD is in favor of banning minarets, burkas and mosque calls to prayer”.[1] Jelas terlihat bahwa ini merupakan propaganda agar menarik perhatian warga German untuk memilih partainya dalam pemilihan nanti. Partai ini mendukung pelarangan mengumandangkan adzan untuk sholat, ini sangat tidak mencerminkan kebebasan beragama di German.  Islam selalu menjadi bulan-bulanan ketika umat pemeluk agama Islam melakukan kesalahan terutama masalah teror, hal ini yang paling sering di kaitkan dengan islam. Padahal hal tersebut tidaklah pantas untuk dilakukan karena tidak semua orang yang beragama Islam menebarkan teror, di negaranya sendiri mayoritas muslim German hidup dalam damai dan tidak membuat kekacauan, entah kenapa partai ini mempropagandakan Islamophobia dalam kampanyenya. Semoga tidak banyak yang terpengaruh dengan politik murahan seperti ini.

Di Indonesia sendiri timbul anggapan bahwa orang yang berjenggot, memakai pakaian jubah, memakai celana kain dan membawa ransel besar sering di identikkan dengan teroris walaupun terkadang ini hanya lelucon saja, tapi tetap hal ini tidak baik jika dilakukan karena akan menimbulkan mindset bahwa yang berpenampilan seperti itu merupakan orang yang melakukan teror bahkan jika lebih ekstrim lagi orang yang sering ke masjid untuk melaksanakan ibadah dicurigai sebagai teroris. Propaganda Islamophobia telah berhasil merasuki masyarakat Indonesia, namun seharusnya kita menyikapinya dengan kepala dingin. Kita harus memberikan contoh perilaku umat Islam yang seharusnya seperti pada zaman Rasulullah SAW, karena Islam itu merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Namun kebencian akan Islam selalu menjadi-jadi banyak propaganda terus diluncurkan sehingga membentuk pemikiran bahwa Islam itu penebar teror dan radikal. Seharusnya kita sebagai orang muslim bisa berpikir jernih dan meneladani nilai-nilai Islam secara keseluruhan, jika tidak maka akan mudah diri kita untuk terombang-ambing mengikuti aliran yang tidak jelas.

Baru-baru ini Indonesia dikagetkan dengan ulah suatu detasemen khusus untuk menanggulangi teror yang selalu menangkap terduga teroris namun belum sempat masuk ke persidangan terduga tersebut sudah menyandang gelar almarhum/almarhumah. Mungkin ini salah satu hasil dari propaganda Islamophobia di negara kita.  Sikap kita sebagai muslim seharusnya mempelajari  terlebih dahulu kelegalan detasemen khusus tersebut, jangan hanya menyikapi dengan aksi penolakan terhadap detasemen tersebut, lakukanlah kajian yang lebih mendalam terlebih dahulu, kritisi Surat Keputusan Pembentukan detasemen tersebut, jangan sampai kita ikut-ikutan untuk melakukan aksi tapi tanpa paham akar permasalahannya, karena kebanyakan dari kita sekarang mengikuti aksi tapi tidak tahu permasalahannya sehingga hanya melakukan aksi buta saja, semoga kita semua tidak termasuk orang yang demikian. Betapa sudah mendarah dagingnya Islamophobia bahkan tidak untuk negara barat saja untuk lingkungan yang mayoritas orang yang beragama Islam pun masih saling curiga satu sama lain. Terakhir untuk menutup tulisan ini, sebagai seorang muslim saya mengajak kita semua untuk berkaca diri apakah kita sudah menjadi pribadi muslim yang baik? Apakah kita juga terpengaruh akan propaganda Islamophobia? Sudah seharusnya kita membuktikan bahwa Islam itu bukanlah agama yang menebarkan teror dimana-mana dimulai dengan berperilaku yang baik dan menerapkan nilai-nilai Islam di kehidupan sehari-hari kita seperti saling memberi, terbuka dalam pemikiran, dan meneladani Rasulullah SAW, dan jangan memecah belah di dalam umat muslim sendiri, hargailah perbedaan yang ada jangan mengutuk perbedaan dan menganggap diri kita paling benar. InsyaAllah pengaruh dari Islamophobia yang telah dipropagandakan oleh kaum yang tidak senang apabila Islam berjaya di muka bumi ini akan hilang dengan sendirinya.

 

 

Husni Muhammad F

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

[1] http://www.huffingtonpost.com/entry/germans-muslims-condemn-afd_us_57166eece4b0018f9cbb41ae, diakses pada 30 April 2016 pukul 7:35 WIB

Tokoh, Kaum Minoritas, dan Pemimpin Berkualitas

Tulisan ini ditujukan pada umat Muslim !!!

Pilkada terpenting di Indonesia masih satu tahun lagi, namun para cawagub dan parpol-parpol sudah bermanuver kemana-mana. Ajang pilkada ibukota paling disorot media ketika kaum minoritas, yang memiliki tokoh mempunya elektabilitas tinggi. Bukan bermaksud rasis, tapi ini realita yang ada, kaum minoritas punya suara. Pilkada mendapat perhatian dari banyak kalangan, sehingga pilkada terpenting ini terpublikasi secara luas diselingi propaganda media. Ini juga ajang bagi parpol untuk melebarkan sayapnya, kemudian mendukung orang-orang yang dianggap populis dan dapat menaikkan citra partai. Kelihatan memang manuver-manuver politik oleh para parpol, entah itu demi kemaslahatan masyarakat atau hanya sekedar mencari popularitas, demi Pemilu 2019.

Terdengar hingar bingar nama bakal calon gubernur, dan ada satu nama yang menyembul sendiri, yang punya elektabilitas tinggi dan tak terkalahkan. Peristiwa yang unik memang ketika kita lihat latar belakang tokoh tersebut yang merupakan seorang beretnis Tiong Hoa, yang merupakan kaum minoritas di Indonesia. Kenapa unik, yang pertama ia seorang minoritas di tengah ibukota yang plural namun konservatif, sulit bagi kaum minoritas untuk berpolitik disana, entah itu etnis Tiong Hoa, Arab, India, bahkan orang luar Jawa. Yang kedua adalah, masih sering kita temui sentiment-sentimen ketidak-suka-an terhadap etnis Tiong Hoa, namun tokoh tersebut tetap berhasil mengambil hati rakyat ibukota. Tokoh itu yang sekarang menjadi Plt Gubernur DKI Jakarta semenjak ditinggal kawan lamanya nyapres, dianggap seorang yang prestatif, tegas, dan solutif dalam menyelesaikan dinamika dan problematika ibukota yang kompleks. Padahal pendapat itu tidak sepenuhnya benar, hanya pandangan segelintir orang yang subjektif. Pelabelan-pelabelan ini merupakan peran penting dari media yang dengan gencar mempropagandakan kehebatan tokoh tersebut.

Namun, bagaimanapun populisnya orang, pasti ada saja yang mengusik ketenangannya untuk berkampanye ria. Pengusik itu kebanyakan berasal dari golongan Islam konservatif, paguyuban-paguyuban Betawi dan kaum-kaum marjinal. Golongan Islam konservatif seperti FPI dan kawan-kawan jelas menolak mentah-mentah tokoh itu sebagai pemimpin, mereka menolak kepemimpinan dari yang bukan penganut dari agama mereka, karena Islam pun mendoktrin penganutnya untuk memilih pemimpin seiman bukan pemimpin yang beda iman yang akan membawa ke-mudharat-an lebih banyak. Lalu kemudian paguyuban-paguyuban Betawi, mereka menganggap tokoh tersebut sudah mengusik ketenangan mereka dan mengusir mereka dari kampung-kampung mereka secara tak langsung, mereka lebih suka dengan orang Betawi asli yang kuat agamanya. Fenomena ini mengejutkan semua pihak memang. Seorang Tiong Hoa bisa menarik hati warga yang mayoritas Muslim dan Pribumi. Namun sebuah fakta yang memang tidak dapat dipungkiri, masyarakat sedang haus akan seorang pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi serta tegas terhadap semua problematika ibukota. Ketika datang seorang tokoh yang menawarkan konsep itu (anggapan media dan masyarakat) langsung disanjung semua kalangan. Namun anggapan hanyalah anggapan. peristiwa baik yang dilakukan oleh seorang tokoh tersebut yang dipublikasikan berulang-ulang akan dianggap sebagai indikator bahwa tokoh itu memang baik dan benar padahal tidak sedikit juga media yang menunjukkan kelemahan dari tokoh tersebut namun masyarakat suka mengesampingkan hal tersebut. Sebuah realita didalam masyarakat Indonesia.

Mari kita mengkritisi sikap masyarakat. Masyarakat ibukota mayoritas Muslim, mereka di doktrin untuk tidak memilih pemimpin yang beda iman. Doktrin ini sangat kuat, karena berasal dari Al-Qur’an yang diyakini sebagai kebenaran absolut dari Tuhan, dan penulis sendiri meyakini ini dengan mantap. Namun kenapa elektabilitas tokoh yang notabene non-Muslim menjulang tinggi, di media sosial misalkan yang berjilbab pun mengelu-elukan tokoh tersebut, bahkan salah satu penggerak komunitas dari tokoh tersebut adalah seorang wanita berhijab. Namun kita juga tidak bisa menyalahkan mereka, tokoh itu adalah seorang yang tegas lagi bijaksana, setelah menampilkan ketegasannya, keberaniannya, serta integritasnya, Cuma sayang dalam penyampaiannya tidak mencerminkan bahwa dia merupakan pemimpin. Kerap kali tokoh tersebut mengucapkan kata-kata kasar dalam menyampaikan ketegasannya, namun masyarakat lebih suka melihat pemimpin yang melakukan aksi konkrit dan mengesampingkan sifat individu dari para insan tersebut. Padahal sebagai muslim seharusnya jika meneladani sifat rasulullah SAW seharusnya pemimpin juga mempunyai sikap yang baik karena pemimpin tersebut akan menjadi tauladan bagi pengikutnya. Kita tidak bisa salahkan masyarakat yang begini. Rakyat sudah terlalu lama memimpikan pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi. Sehingga ketika ada tokoh yang muncul dengan popularitasnya di media, rakyat langsung terpana dan mudah di kendalikan opininya melalui media-media.

Masalah lainnya adalah krisis pemimpin dari kalangan umat Islam. Sangat banyak orang-orang yang berjiwa pemimpin dari kalangan Islam, namun tak mau muncul kepermukaan. Sangat disayangkan memang pemimpin dari kalangan Muslim yang berjiwa ksatria tidak maju dalam bursa calon pemimpin daerah Ibukota. Masalah lainnya (lagi) adalah, kurang dekatnya masyarakat dengan agama. Sosok pemuka agama dalam hal ini Ustad, kurang menghadirkan diri lagi kepada masyarakat awam. Masyarakat awam pun kurang berminat lagi pada pengajian-pengajian yang digelar dan walaupun hadir hanya sebatas hadir. Masyarakat modern sudah menerima mentah-mentah paham sekularisme, hingga agama pun tidak hadir lagi dalam hidupnya, sehingga apa yang dikatakan Tuhan dalam kitab suci-Nya pun tidak di-implementasi-kan lagi pada hidupnya. Tugas mereka yang paham agama kemudian menghadirkan lagi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam agama, namun ingat, harus dengan metode pendekatan yang preventif.

Terakhir (mungkin), mindset masyarakat yang sebagian besar sudah mulai terpengaruhi oleh media hingga mereka tak bisa memikirkan lagi mana haq dan mana yang bathil. Media berperan penting disini, mereka selalu meliput hasil kerja tokoh itu mulai dari normalisasi Kali Ciliwung hingga penertiban Kali Jodo. Bahkan ketika tokoh tersebut marah-marah pun, media membangun opini publik bahwa marah-marah itu sebuah simbol dari ketegasan. Sehingga seolah-olah tokoh itu tidak pernah salah, tegas, inovatif, solutif, inspiratif dan sebagainya. Yah walaupun saya sendiri belum pernah merasakan “hasil kerja tokoh itu”.

Memang walau mayoritas, Muslim tidak punya banyak kekuatan media yang pengaruhnya besar, walau sebagian besar pekerja media juga Muslim. Namun umat Muslim harus bergerak, jangan sampai dilangkahi orang-orang yang punya kepentingan. Jangan sampai Muslimin juga ditunggangi kepentingan belaka. Umat Muslim harus punya sosok baru yang mengatasnamakan Islam sebagai kebenaran hakiki. Harus ada yang mewakili suara-suara Muslim yang dapat memajukan Islam dan Indonesia. Caranya dengan menyadari bahwa kita harus kembali menghadirkan agama pada diri kita, agamawan menghadirkan dirinya pada khalayak ramai, bergerak maju dan bersatu-padu dalam merebut kemenangan. Maka dari itu seharusnya kaum muslimin sudah menyadari betapa peliknya permasalahan ini dan memahamkan masyarakat yang belum paham. Jadi intinya harus mulai dari diri kita sendiri untuk introspeksi diri apakah kita sudah menjadi manusia yang sepenuhnya telah menjalankan syariat Islam secara keseluruhan, sehingga menjadi pribadi yang baik. Kalau dari diri kita sendiri masih banyak kekurangan maka perbaikilah diri kita sendiri baru kita perbaiki orang lain. Sekian tulisan ini dibuat bertujuan untuk menyentuh hati dan menyadarkan orang muslim agar lebih berhati-hati dalam bertindak.

 

 

Kahfi Adlan Hafiz

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

Menjadi Wanita Inspirasi Keluarga

Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamu’alaikr.Wb..
NotulensiKantinjus
(15 April 2016)
————————————

Tema: Menjadi Wanita Inspirasi Keluarga

Pembicara: Arini Rusydah (Penerima beasiswa LPDP S2 Biotechnology, Hafidzah).

-Khairunnas anfa’uhum linnas “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain” (HR. Bukhari Muslim).

– Pada dasarnya wanita itu sangatlah istimewa. Dari pengertian tema yaitu tentang menjadi wanita inspirasi keluarga, kita bisa menarik sebuah definisi terkait inspirasi. Bahwasannya inspirasi itu merupakan cikal bakal dari motivasi atau petunjuk yang letaknya di dalam hati.

– Setiap orang sudah memiliki bibit inspirasi dalam hati dan dirinya yang bisa menginspirasi keluarga kecil, bahkan keluarga besar kita yaitu keluarga sesama muslim. Karena definisi keluarga itu sangatlah luas. Sesama muslim pun termasuk keluarga kita. Dan itu yang mempersempit pemikiran kita mengenai definisi keluarga.

– Dalam Al Qur’an dijelaskan mengenai wanita-wanita yang menginspirasi. Seperti Maryam (sabar, menjaga kesucian), Ibunda Nabi Musa, Asiyah, Khadijah, Aisyah serta Siti Fatimah. Beliau semua memiliki sifat inspiratif yang dapat kita tiru seperti sifat rela berkorban, sabar dan cerdas.

– Nah, dari inspirasi itulah akan muncul motivasi, ide-ide kreatif yang berujung pada sebuah aksi.

– Tahapan untuk menjadi wanita inspiratif:

1. Karena inspirasi itu tertanam dalam hati, maka untuk menjadi wanita inspiratif kita harus senantiasa menambah keimanan, meminta kepada Allah untuk diberi petunjuk.
2. Kita harus peka tentang apa yang telah diberi oleh Allah.
3. Aksi ( melakukan langkah yang menginspirasi), dalam melakukan aksi jangan terbersit rasa sombong.

-Jadi, tahapannya adalah mulai dari
INSPIRASI–> MOTIVASI–> AKSI
– Cara kita melihat potensi diri kita yaitu dengan memahami diri sendiri, membuat analisis diri. Agar kelemahan kita bisa menjadi kelebihan yaitu dengan cara terus mengasah kelemahan kita.

Wassalamu’alaikum wr.wb..

Tunggu edisi katinjus selanjutnya…. !!!
Semoga bermanfaat..