MALANGNYA NASIB MAHASISWA PTN-BH

MALANGNYA NASIB MAHASISWA PTN-BH : SERUAN AKSI !!!

2 Mei 2016, sebuah sejarah kemahasiswaan di UGM akan muncul. Pada hari itu direncanakan para mahasiswa berbondong-bondong ke rumah rakyat, rektorat tercinta. Pada hari itu juga mahasiswa menyanyikan lagu-lagu kebanggaan seperti Buruh Tani, Satukanlah, dan lagu-lagu khas mahasiswa pemberontak lainnya, dan tak lupa pula lagu suci Indonesia Raya. Mereka ingin supaya UGM kembali kepada konsep kerakyatannya yang di usung seorang mantan rektor inspiratif, Prof. Koesnadi. Beliau kala itu mencetuskan konsep ini karena mungkin beliau sadar, UGM adalah kampus yang dibangun oleh rakyat, dari rakyat, untuk rakyat. Mahasiswa yang kemudian menyadari kampus ini sudah mlenceng, sangat ingin mengembalikan konsep kerakyatannya dan mendobrak tirani.

Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya sendu, apa yang dihilangkan UGM atas konsep kerakyatannya ?, dari segi mana UGM dikatakan kampus kerakyatan ?. Bosan memang membahas soal kerakyatan, semua bicara tentang rakyat, padahal masih banyak yang harus diurus, entah itu proses akademik, organisasi, dll. Namun bosan tinggal bosan, ketika bosan mulai memuncak, ia akan menjadi suatu hal yang ganas, yang dapat mengganasi siapa saja. Namun keganasan ini hanyalah angin lalu bagi para aristokrat dan birokrat di rektorat. Nah, disaat lengahnya rektorat inilah, kita manfaatkan keganasan yang ada. Konsep kerakyatan adalah konsep yang merakyat. Dalam konteks kampus Gadjah Mada, konsep ini mewajibkan kampus untuk selalu dapat mengakomodir seluruh rakyat dari yang kaya hingga yang miskin, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, dari berbagai macam suku, ras, agama, dan antar golongan. Semua harus dapat diakomodir, terutama daerah 3T (terdepan,tertinggal,terluar). Namun belakangan, mahasiswa yang kritis pasti melihat ada banyak masalah di kampus tercinta ini. Mari kita paparkan bersama.

Pertama, masalah yang paling urgent saat ini adalah permasalahan UKT. Banyak yang mengatakan bahwa UKT di kampus ini sudah tak merefleksikan lagi nilai-nilai kerakyatan. UKT yang mahal dan wacana kenaikannya membuat mahasiswa yang kalang kabut menjadi ingin bersatu dengan keganasan tadi. Mereka mengatakan,” apakah mungkin kita menerima UKT mahal, UKT mau naik, tidak ada penundaan, terlambat bayar sedikit pun tak ada ampun, bahkan sampai UKT tertinggi melebihi BKT”. Maukah kita menerima semua terjadi ? dimana nilai-nilai kerakyatannya ? apakah dengan naiknya UKT mahasiswa dari daerah 3T mampu membayar UKT agar bisa kuliah di kampus ini?

Lalu kemudian masalah TuKin, Tunjangan Kinerja. Tunjangan kinerja ini selayaknya diberikan kepada tenaga pendidik. Besarnya tak terlalu berarti bagi pihak kampus Negara, namun sangat berarti bagi para bapak-ibu tenaga pendidik serta keluarga mereka, yang turut berperan besar dalam kegiatan akademik. Tundik ini sebenarnya hanyalah untuk tenaga pendidik di PTN tanpa embel-embel BH. Perpres No. 138 Tahun 2015 Pasal 3 Ayat 1, mengatakan bahwa pemerintah tidak lagi memberikan tunjangan kinerja bagi PNS Non-Dosen yang bekerja di PTN-BH. Nah, namun peraturan itu diberlakukan per-awal Desember 2015, sedangkan para tenaga pendidik belum merasakan Tukin sejak semester genap 2014 hingga semester genap 2015, bila dihitung itu sekitar 3 Semester. Padahal peraturan tersebut tidaklah berlaku surut. Siapa yang salah ? pihak rektorat berkilah bahwa pencairan ini adalah wewenang pemerintah. Namun para tenaga pendidik menyayangkan sikap rektorat yang kurang menekan pemerintah[1]bahkan dalam Islam diajarkan dalam hadits dari Abdullah bin Umar, Nabi SAW bersabda yang artinya “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering” (HR. Ibnu Majah)

Terakhir namun bukan yang akhir, masalah simbol kerakyatan UGM, Bonbin. Kantin Bonbin dibangun dimasa kepemimpinan rektor Prof.Koesnadi, pengonsep kampus kerakyatan. Beliau menghimpun para pedagang kaki lima di UGM kemudian diberi satu lokasi di sekitaran klaster Soshum. Bonbin milik semua mahasiswa UGM, siapapun dia, bahkan mungkin milik masyarakat Jogja. Namun kenangan manis itu ingin dirobohkan, Bonbin ingin digusur, simbol kerakyatan ingin diganti dengan simbol kapitalis. Kita didongengi dengan keindahan taman, kemolekan lingkungan, namun ternyata menindas kaum marjinal. Kisah cinta Bonbin dengan UGM dipaksa berakhir, berakhir dengan tragis. Simbol kerakyatan UGM tinggalah nama, kisah manis yang ditorehkan pun sekejap menghilang.

Mahasiswa harusnya kritis, apalagi mahasiswa UGM. Mereka adalah orang-orang yang diseleksi secara ketat dan yang lolos yang hebat. Mahasiswa hebat biasanya jiwa kritisnya terpacu cepat. Otaknya yang hebat juga mampu menumbangkan kesewenang-wenangan yang tak merakyat. Harusnya kita dapat bersatu, menumbangkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kesejahteraan rakyat. Buang semua atribut identitas mu dan organisasi mu, karena pada saat itu mahasiswa penerus di Universitas Gadjah Mada hanya menunjukkan bahwa dia adalah mahasiswa yang peduli terhadap rakyat. Lekatkan almamatermu ditubuhmu, singsingkan lengannya, kepalkan tangannya, dan lantamkam suara :

HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!!!

HIDUP RAKYAT INDONESIA !!!!

HIDUP KEADILAN !!!!

GADJAH MADA BERSATU !!!!

Aku akan tetap ada dan berlipat ganda, akan terus memburumu seperti kutukan

-Wiji Thukul

Penulis : Kahfi Adlan Hafiz

(dengan sedikit perubahan)

Departemen Pengkajian dan Wacana

[1] https://m.tempo.co/read/news/2016/03/03/079750249/ribuan-pns-ugm-tuntut-pembayaran-tunjangan-kinerja, diakses pada 01 Mei 2016 pukul 14:41

Islamophobia dalam Kehidupan

Benua Eropa dan negara Amerika merupakan daerah yang notabene penduduknya beragama non-islam. Sejak munculnya tragedi 911 muncul suatu ketakutan yang berlebihan terhadap umat islam sehingga sering disebut-sebut islam merupakan agama pembawa kehancuran dan tidak sesuai jika di terapkan dalam kehidupan baik di bidang sosial, politik, ekonomi. Banyak doktrin-doktrin di dunia untuk takut terhadap islam, bahkan baru-baru ini salah satu partai politik di german yaitu Alternative for Germany mempropagandakan bahwa mereka mendukung Islamophobia. “Islam is a political ideology that is not compatible with the German Constitution,” said AfD deputy leader Beatrix von Storch over the weekend. She went on to state that the AfD is in favor of banning minarets, burkas and mosque calls to prayer”.[1] Jelas terlihat bahwa ini merupakan propaganda agar menarik perhatian warga German untuk memilih partainya dalam pemilihan nanti. Partai ini mendukung pelarangan mengumandangkan adzan untuk sholat, ini sangat tidak mencerminkan kebebasan beragama di German.  Islam selalu menjadi bulan-bulanan ketika umat pemeluk agama Islam melakukan kesalahan terutama masalah teror, hal ini yang paling sering di kaitkan dengan islam. Padahal hal tersebut tidaklah pantas untuk dilakukan karena tidak semua orang yang beragama Islam menebarkan teror, di negaranya sendiri mayoritas muslim German hidup dalam damai dan tidak membuat kekacauan, entah kenapa partai ini mempropagandakan Islamophobia dalam kampanyenya. Semoga tidak banyak yang terpengaruh dengan politik murahan seperti ini.

Di Indonesia sendiri timbul anggapan bahwa orang yang berjenggot, memakai pakaian jubah, memakai celana kain dan membawa ransel besar sering di identikkan dengan teroris walaupun terkadang ini hanya lelucon saja, tapi tetap hal ini tidak baik jika dilakukan karena akan menimbulkan mindset bahwa yang berpenampilan seperti itu merupakan orang yang melakukan teror bahkan jika lebih ekstrim lagi orang yang sering ke masjid untuk melaksanakan ibadah dicurigai sebagai teroris. Propaganda Islamophobia telah berhasil merasuki masyarakat Indonesia, namun seharusnya kita menyikapinya dengan kepala dingin. Kita harus memberikan contoh perilaku umat Islam yang seharusnya seperti pada zaman Rasulullah SAW, karena Islam itu merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Namun kebencian akan Islam selalu menjadi-jadi banyak propaganda terus diluncurkan sehingga membentuk pemikiran bahwa Islam itu penebar teror dan radikal. Seharusnya kita sebagai orang muslim bisa berpikir jernih dan meneladani nilai-nilai Islam secara keseluruhan, jika tidak maka akan mudah diri kita untuk terombang-ambing mengikuti aliran yang tidak jelas.

Baru-baru ini Indonesia dikagetkan dengan ulah suatu detasemen khusus untuk menanggulangi teror yang selalu menangkap terduga teroris namun belum sempat masuk ke persidangan terduga tersebut sudah menyandang gelar almarhum/almarhumah. Mungkin ini salah satu hasil dari propaganda Islamophobia di negara kita.  Sikap kita sebagai muslim seharusnya mempelajari  terlebih dahulu kelegalan detasemen khusus tersebut, jangan hanya menyikapi dengan aksi penolakan terhadap detasemen tersebut, lakukanlah kajian yang lebih mendalam terlebih dahulu, kritisi Surat Keputusan Pembentukan detasemen tersebut, jangan sampai kita ikut-ikutan untuk melakukan aksi tapi tanpa paham akar permasalahannya, karena kebanyakan dari kita sekarang mengikuti aksi tapi tidak tahu permasalahannya sehingga hanya melakukan aksi buta saja, semoga kita semua tidak termasuk orang yang demikian. Betapa sudah mendarah dagingnya Islamophobia bahkan tidak untuk negara barat saja untuk lingkungan yang mayoritas orang yang beragama Islam pun masih saling curiga satu sama lain. Terakhir untuk menutup tulisan ini, sebagai seorang muslim saya mengajak kita semua untuk berkaca diri apakah kita sudah menjadi pribadi muslim yang baik? Apakah kita juga terpengaruh akan propaganda Islamophobia? Sudah seharusnya kita membuktikan bahwa Islam itu bukanlah agama yang menebarkan teror dimana-mana dimulai dengan berperilaku yang baik dan menerapkan nilai-nilai Islam di kehidupan sehari-hari kita seperti saling memberi, terbuka dalam pemikiran, dan meneladani Rasulullah SAW, dan jangan memecah belah di dalam umat muslim sendiri, hargailah perbedaan yang ada jangan mengutuk perbedaan dan menganggap diri kita paling benar. InsyaAllah pengaruh dari Islamophobia yang telah dipropagandakan oleh kaum yang tidak senang apabila Islam berjaya di muka bumi ini akan hilang dengan sendirinya.

 

 

Husni Muhammad F

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

[1] http://www.huffingtonpost.com/entry/germans-muslims-condemn-afd_us_57166eece4b0018f9cbb41ae, diakses pada 30 April 2016 pukul 7:35 WIB

Tokoh, Kaum Minoritas, dan Pemimpin Berkualitas

Tulisan ini ditujukan pada umat Muslim !!!

Pilkada terpenting di Indonesia masih satu tahun lagi, namun para cawagub dan parpol-parpol sudah bermanuver kemana-mana. Ajang pilkada ibukota paling disorot media ketika kaum minoritas, yang memiliki tokoh mempunya elektabilitas tinggi. Bukan bermaksud rasis, tapi ini realita yang ada, kaum minoritas punya suara. Pilkada mendapat perhatian dari banyak kalangan, sehingga pilkada terpenting ini terpublikasi secara luas diselingi propaganda media. Ini juga ajang bagi parpol untuk melebarkan sayapnya, kemudian mendukung orang-orang yang dianggap populis dan dapat menaikkan citra partai. Kelihatan memang manuver-manuver politik oleh para parpol, entah itu demi kemaslahatan masyarakat atau hanya sekedar mencari popularitas, demi Pemilu 2019.

Terdengar hingar bingar nama bakal calon gubernur, dan ada satu nama yang menyembul sendiri, yang punya elektabilitas tinggi dan tak terkalahkan. Peristiwa yang unik memang ketika kita lihat latar belakang tokoh tersebut yang merupakan seorang beretnis Tiong Hoa, yang merupakan kaum minoritas di Indonesia. Kenapa unik, yang pertama ia seorang minoritas di tengah ibukota yang plural namun konservatif, sulit bagi kaum minoritas untuk berpolitik disana, entah itu etnis Tiong Hoa, Arab, India, bahkan orang luar Jawa. Yang kedua adalah, masih sering kita temui sentiment-sentimen ketidak-suka-an terhadap etnis Tiong Hoa, namun tokoh tersebut tetap berhasil mengambil hati rakyat ibukota. Tokoh itu yang sekarang menjadi Plt Gubernur DKI Jakarta semenjak ditinggal kawan lamanya nyapres, dianggap seorang yang prestatif, tegas, dan solutif dalam menyelesaikan dinamika dan problematika ibukota yang kompleks. Padahal pendapat itu tidak sepenuhnya benar, hanya pandangan segelintir orang yang subjektif. Pelabelan-pelabelan ini merupakan peran penting dari media yang dengan gencar mempropagandakan kehebatan tokoh tersebut.

Namun, bagaimanapun populisnya orang, pasti ada saja yang mengusik ketenangannya untuk berkampanye ria. Pengusik itu kebanyakan berasal dari golongan Islam konservatif, paguyuban-paguyuban Betawi dan kaum-kaum marjinal. Golongan Islam konservatif seperti FPI dan kawan-kawan jelas menolak mentah-mentah tokoh itu sebagai pemimpin, mereka menolak kepemimpinan dari yang bukan penganut dari agama mereka, karena Islam pun mendoktrin penganutnya untuk memilih pemimpin seiman bukan pemimpin yang beda iman yang akan membawa ke-mudharat-an lebih banyak. Lalu kemudian paguyuban-paguyuban Betawi, mereka menganggap tokoh tersebut sudah mengusik ketenangan mereka dan mengusir mereka dari kampung-kampung mereka secara tak langsung, mereka lebih suka dengan orang Betawi asli yang kuat agamanya. Fenomena ini mengejutkan semua pihak memang. Seorang Tiong Hoa bisa menarik hati warga yang mayoritas Muslim dan Pribumi. Namun sebuah fakta yang memang tidak dapat dipungkiri, masyarakat sedang haus akan seorang pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi serta tegas terhadap semua problematika ibukota. Ketika datang seorang tokoh yang menawarkan konsep itu (anggapan media dan masyarakat) langsung disanjung semua kalangan. Namun anggapan hanyalah anggapan. peristiwa baik yang dilakukan oleh seorang tokoh tersebut yang dipublikasikan berulang-ulang akan dianggap sebagai indikator bahwa tokoh itu memang baik dan benar padahal tidak sedikit juga media yang menunjukkan kelemahan dari tokoh tersebut namun masyarakat suka mengesampingkan hal tersebut. Sebuah realita didalam masyarakat Indonesia.

Mari kita mengkritisi sikap masyarakat. Masyarakat ibukota mayoritas Muslim, mereka di doktrin untuk tidak memilih pemimpin yang beda iman. Doktrin ini sangat kuat, karena berasal dari Al-Qur’an yang diyakini sebagai kebenaran absolut dari Tuhan, dan penulis sendiri meyakini ini dengan mantap. Namun kenapa elektabilitas tokoh yang notabene non-Muslim menjulang tinggi, di media sosial misalkan yang berjilbab pun mengelu-elukan tokoh tersebut, bahkan salah satu penggerak komunitas dari tokoh tersebut adalah seorang wanita berhijab. Namun kita juga tidak bisa menyalahkan mereka, tokoh itu adalah seorang yang tegas lagi bijaksana, setelah menampilkan ketegasannya, keberaniannya, serta integritasnya, Cuma sayang dalam penyampaiannya tidak mencerminkan bahwa dia merupakan pemimpin. Kerap kali tokoh tersebut mengucapkan kata-kata kasar dalam menyampaikan ketegasannya, namun masyarakat lebih suka melihat pemimpin yang melakukan aksi konkrit dan mengesampingkan sifat individu dari para insan tersebut. Padahal sebagai muslim seharusnya jika meneladani sifat rasulullah SAW seharusnya pemimpin juga mempunyai sikap yang baik karena pemimpin tersebut akan menjadi tauladan bagi pengikutnya. Kita tidak bisa salahkan masyarakat yang begini. Rakyat sudah terlalu lama memimpikan pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi. Sehingga ketika ada tokoh yang muncul dengan popularitasnya di media, rakyat langsung terpana dan mudah di kendalikan opininya melalui media-media.

Masalah lainnya adalah krisis pemimpin dari kalangan umat Islam. Sangat banyak orang-orang yang berjiwa pemimpin dari kalangan Islam, namun tak mau muncul kepermukaan. Sangat disayangkan memang pemimpin dari kalangan Muslim yang berjiwa ksatria tidak maju dalam bursa calon pemimpin daerah Ibukota. Masalah lainnya (lagi) adalah, kurang dekatnya masyarakat dengan agama. Sosok pemuka agama dalam hal ini Ustad, kurang menghadirkan diri lagi kepada masyarakat awam. Masyarakat awam pun kurang berminat lagi pada pengajian-pengajian yang digelar dan walaupun hadir hanya sebatas hadir. Masyarakat modern sudah menerima mentah-mentah paham sekularisme, hingga agama pun tidak hadir lagi dalam hidupnya, sehingga apa yang dikatakan Tuhan dalam kitab suci-Nya pun tidak di-implementasi-kan lagi pada hidupnya. Tugas mereka yang paham agama kemudian menghadirkan lagi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam agama, namun ingat, harus dengan metode pendekatan yang preventif.

Terakhir (mungkin), mindset masyarakat yang sebagian besar sudah mulai terpengaruhi oleh media hingga mereka tak bisa memikirkan lagi mana haq dan mana yang bathil. Media berperan penting disini, mereka selalu meliput hasil kerja tokoh itu mulai dari normalisasi Kali Ciliwung hingga penertiban Kali Jodo. Bahkan ketika tokoh tersebut marah-marah pun, media membangun opini publik bahwa marah-marah itu sebuah simbol dari ketegasan. Sehingga seolah-olah tokoh itu tidak pernah salah, tegas, inovatif, solutif, inspiratif dan sebagainya. Yah walaupun saya sendiri belum pernah merasakan “hasil kerja tokoh itu”.

Memang walau mayoritas, Muslim tidak punya banyak kekuatan media yang pengaruhnya besar, walau sebagian besar pekerja media juga Muslim. Namun umat Muslim harus bergerak, jangan sampai dilangkahi orang-orang yang punya kepentingan. Jangan sampai Muslimin juga ditunggangi kepentingan belaka. Umat Muslim harus punya sosok baru yang mengatasnamakan Islam sebagai kebenaran hakiki. Harus ada yang mewakili suara-suara Muslim yang dapat memajukan Islam dan Indonesia. Caranya dengan menyadari bahwa kita harus kembali menghadirkan agama pada diri kita, agamawan menghadirkan dirinya pada khalayak ramai, bergerak maju dan bersatu-padu dalam merebut kemenangan. Maka dari itu seharusnya kaum muslimin sudah menyadari betapa peliknya permasalahan ini dan memahamkan masyarakat yang belum paham. Jadi intinya harus mulai dari diri kita sendiri untuk introspeksi diri apakah kita sudah menjadi manusia yang sepenuhnya telah menjalankan syariat Islam secara keseluruhan, sehingga menjadi pribadi yang baik. Kalau dari diri kita sendiri masih banyak kekurangan maka perbaikilah diri kita sendiri baru kita perbaiki orang lain. Sekian tulisan ini dibuat bertujuan untuk menyentuh hati dan menyadarkan orang muslim agar lebih berhati-hati dalam bertindak.

 

 

Kahfi Adlan Hafiz

Departemen Pengkajian dan Wacana

Oprasi (Opini dan Propaganda Islami)

BBM (Bahan Bakar Manusia)

Baru-baru ini pemerintah kembali menaikkan harga BBM atau bahan bakar minyak. Hal ini menimbulkan polemik sendiri di masyarakat. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Bagi yang setuju mereka beranggapan bahwa inilah saatnya Indonesia mulai lepas dari ketergantungan subsidi BBM yang menyedot anggaran APBN sangat besar. Lagi pula tidak semua orang menikmati subsidi BBM ini. Bisa dibilang subsidi BBM salah sasaran.

Mereka yang tidak setuju berpendapat dengan kenaikan BBM ini masyarakatlah yang akan kembali dirugikan. Kenaikan harga BBM akan menyebabkan efek domino terhadap kenaikan harga-harga bahan pokok lainnya. Tentunya ini akan menyulitkan bagi mereka yang berpendapatan rendah.

Tentunya kenaikan harga BBM ini akan mempengaruhi kenaikan harga kebutuhan pokok. Bayangkan saja, semisal untuk mereka yang berpendapatan tiga puluh ribu rupiah per hari. Beban hidup yang mereka harus pikul akan menjadi lebih berat. Uang yang mereka dapatkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sehari-hari. Bagaimana dengan pendidikan mereka, bagaimana dengan kesehatan mereka. Faktanya di luar sana masih banyak orang yang berpendapatan kurang dari tiga puluh ribu sehari.

Memang pemerintah memiliki beberapa program guna mensejahterakan masyarakat kurang mampu. Seperti kartu indonesia sehat, kartu indonesia sejahtera, kartu indonesia pintar yang gunanya sebagai implementasi konstitusi UUD 1945 pasal 28 H. Pemerintah juga memberikan BLT (bantuan langsung tunai) yang berupa untuk keluarga tidak mampu.

Pada kenyataanya, lihat disekitar kita. Apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan apa yang diangankan?
Apakah warga kurang mampu dapat dengan mudah mendapat perawatan yang layak ketika mereka sedang sakit? Apakah anak-anak mereka dapat menempuh pendidikan yang layak? Apakah bantuan yang diberikan oleh pemerintah tersebut sudah diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan?

Memang tidak patut kita menyalahkan pemerintah yang sudah bekerja sepenuh hati demi melaksanakan cita-cita mulia Bangsa Indonesia. Kita juga patut sadar banyak tindakan kita yang secara sadar maupun tidak turut ambil bagian dari kenaikan harga BBM ini.

Menggunakan BBM secara tidak bijak mungkin salah satunya, tanpa sadar sering diantara kita menggunakan kendaraan bermotor untuk pergi ke suatu tempat yang jaraknya terlampau dekat. Ini mungkin sesuatu yang sederhana yang banyak orang mengacuhkannya. Mungkin jika yang melakukan satu dua orang itu bukan masalah yang berarti. Hitung saja seratus orang yang melakukan hal tersebut. Jika digabungkan mungkin ada satu liter bensin yang digunakan. Berarti artinya dari seratus orang tersebut ada tiga ribu rupiah subsidi yang digunakan. Bayangkan jika 1000, 10000, 100000 atau mungkin satu juta orang yang melakukannya. Berapa subsidi BBM yang hilang percuma yang harusnya itu bisa bermanfaat untuk mereka yang tidak mampu.

Marilah kita sebagai generasi muda, generasi “pengganti” bangsa untuk sadar mulai sekarang. Dan melakukan upaya-upaya kecil yang sebenarnya bermanfaat untuk orang lain. Misalkan, mematikan mesin ketika antri mengisi bahan bakar karena upaya kecil kita in sha Allah akan bermanfaat untuk orang banyak.

Penulis:

Nuzula F. Sulaiman

DPW 2014

NUZULA

Teladan itu Bernama Hoegeng

“Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang tidak bisa disuap: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng” – Gus Dur

A4nJPcGCQAAcJhu

Dewasa ini kepercayaan masyarakat di negeri ini kepada instansi kepolisian bisa dikatakan telah berada pada titik terendah. Hal ini menjadi wajar terjadi apabila kita melihat begitu banyak terjadinya kasus-kasus korupsi yang melibatkan oknum-oknum kepolisian. Mulai dari hal yang kecil saja, di jalanan sudah menjadi rahasia umum di tengah-tengah masyarakat terkait eksisnya praktik uang damai yang dimintakan oleh polisi lalu lintas apabila terjadi tilang. Hingga yang terjadi dalam skala besar adalah korupsi simulator SIM oleh salah satu perwira tinggi POLRI dan juga dugaan korupsi yang dilakukan oleh oknum polisi di Sorong yang “hanya” berpangkat Aiptu namun memiliki uang di rekening sejumlah Rp 1,5 Triliun.

Tentu saja realitas ini menimbulkan paradigma di masyarakat bahwasanya tidak ada lagi polisi yang benar-benar tulus mengabdi bagi bangsa dan negara. Lantas muncul pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa masih banyak oknum kepolisian yang berlaku curang dan koruptif dalam menjalankan profesinya

Hemat penulis, hal ini terjadi karena tidak adanya sosok yang dapat menjadi teladan bagi para polisi dalam menjalankan profesinya. Betapa tidak, prilaku koruptif dan curang mulai menjangkiti instansi kepolisian mulai dari petinggi-petinggi kepolisian. Kita bisa melihat hal ini pada kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan seorang perwira tinggi polisi sebagai tersangka utama. Hal ini apabila diteruskan tentu akan menjadi kontra produktif, karena otomatis seorang bawahan akan menjadikan atasannya sebagai refleksi atau teladan dan ketika atasan mereka melakukan tindakan-tindakan koruptif tentu saja besar kemungkinan akan diikuti oleh para bawahan mereka. Ironi inilah yang terjadi di tubuh kepolisian di negara ini pada saat ini.

Lebih lanjut, muncul pertanyaan, adakah tokoh kepolisian yang masih bisa dijadikan contoh atau teladan? Penulis meyakini tentu saja masih banyak polisi-polisi yang jujur dan benar-benar tulus mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negara. Salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki oleh bangsa ini adalah Hoegeng. Kredibilitas Hoegeng sebagai seorang polisi yang jujur dan berintegritas telah mendapat pengakuan dari banyak pihak. Tentu salah satu yang fenomenal adalah pernyataan dari mantan presiden Republik Indonesia Gus Dur yang telah dikutip pada awal tulisan ini. “Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang tidak bisa disuap: patung polisi, polisi tidur, Hoegeng”. Mungkin pernyataan ini sedikit berlebihan, namun menjadi wajar ketika kita melihat realitas yang terjadi saat ini.

Hoegeng adalah mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dari tahun 1966-1971. Jika kita melihat sepak terjang Hoegeng selama menjalankan profesinya sebagai polisi, maka tidak salah ketika kita menjadikan Hoegeng sebagai teladan yang dapat dijadikan contoh oleh para polisi pada masa sekarang ini.

Integritas Hoegeng sudah mulai terlihat saat ia ditugaskan menjadi Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal pada Kantor Kepolisian Provinsi Sumatera Utara. Pada saat itu sudah menjadi rahasia umum bahwasanya kota Medan terkenal dengan banyaknya kasus penyelundupan barang oleh pengusaha-pengusaha yang parahnya di-backing oleh aparat kepolisian. Sebagaimana tertulis dalam buku Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan, baru saja Hoegeng dan keluarga tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, dia langsung disambut oleh pengusaha keturunan Cina yang telah menyediakan rumah, kendaraan berikut fasilitas untuk Hoegeng dan keluarganya selama bertugas di Medan. Namun, dengan tegas Hoegeng menolak semua itu dan memilih untuk tinggal di rumah dinasnya.

Integritas dan ketegasan Hoegeng kembali terlihat saat ia tanpa pandang bulu saat ia melakukan penyergapan pada pelaku penyelundupan dan perjudian. Pada penyergapan yang dipimpin langsung oleh Hoegeng turut tertangkap pula oknum polisi yang mem-back up para pengusaha tersebut, tanpa pandang bulu Hoegeng langsung menindak rekan satu profesinya tersebut.

Idealisme dan integritas Hoegeng terus terpelihara saat dia ditugaskan menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Sebagaimana diceritakan dalam buku Hoegeng, Polisi dan Menteri Teladan, Hoegeng menolak saat diberikan kiriman dua buah motor baru yang dikirimkan oleh orang tidak dikenal ke rumahnya. Langsung saja Hoegeng menolak dan mengembalikan kedua motor itu. Tercermin bahwa Hoegeng sangat berhati-hati dalam menjaga integritasnya, dia tidak mau menerima hadiah dari orang yang tidak jelas juntrungannya.

Dari pemaparan di atas tentu dapat disimpulkan betapa jujur dan berintegritas seorang Hoegeng. Tentunya masyarakat Indonesia sangat merindukan adanya sosok seperti Hoegeng ini hadir di instansi Kepolisian untuk menjadi teladan bagi bawahannya. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Hoegeng dalam buku Hoegeng, Polisi dan Menteri Teladan:

“Kalau mau menghilangkan korupsi di negara ini gampang, ibarat mandi, harus mulai dari atas ke bawah. Membersihkan korupsi juga demikian harus dari pejabat di atas dulu hingga ke pegawai bawah.”

Pada akhirnya, kita semua berharap agar keteladanan polisi Hoegeng dapat dicontoh oleh segenap pihak dalam instansi kepolisian, utamanya oleh para pimpinan-pimpinan kepolisian karena keteladanan merupakan cara paling efektif untuk mengubah seseorang. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Hoegeng, apabila atasan bersih tentu bawahan akan ikut bersih juga. Semoga instansi kepolisian yang bersih di negeri ini tidak hanya menjadi harapan kosong belaka namun dapat segera terwujud.

Penulis:

Zil Aidi, SH
Alumni FH UGM Angkatan 2010, Ex-Kepala Departemen Jaringan KMFH UGM 2012

zil

Aku Untuk Indonesiaku

Padamu negeri, kami berjanji. Padamu negeri, kami berbakti.

Padamu negeri, kami mengabdi. Bagimu negeri, jiwa raga kami.

Barangkali inilah sebuah lirik lagu nasional ciptaan Kusbini yang senantiasa menyiratkan makna pengabdian dan pembaktian diri terhadap negeri. Tidak jarang lagu ini kita dengar pada upacara bendera maupun upacara kenegaraan lainnya, namun betapa sedikit manusia yang mampu mengambil makna yang terkandung di dalamnya.

Inilah Indonesiaku, negeri nan hijau dan elok, bagai zamrud yang terhampar indah di atas bumi khatulistiwa. Negeriku ini adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari dari puluhan ribu pulau, termasuk ribuan pulau yang belum diberi nama dan  yang tidak berpenghuni, semuanya terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Amat subur dan nyaman iklimnya, amat kaya sumber daya alamnya, amat strategis posisi geopolitiknya. Di sinilah aku dilahirkan dan menapaki kehidupan, mengabdi pada Ibu Pertiwi.

Inilah persada nusantaraku, terdiri atas luasnya lautan biru nan indah menghubungkan pulau-pulau menjadi satu kesatuan dengan perairannya mencakup 75% dari luas keseluruhannya dan panjang pantainya hampir 25% panjang pantai di dunia, sebagai negara bahari di silang benua dan samudera sebagai transpolitik-ekonomi dan kultural postmodernisme dan masa depan, maka karena itulah negeriku disebut negara maritim.

Inilah tanah airku, negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, di Papua saja terdapat 270 suku. Menggunakan 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa tersebut. Segala keanekaragaman ini disatukan dibawah naungan Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Keindahan tiada terkira dari negeri ini bahkan menginspirasi Koes Plus, sebuah band Indonesia yang populer pada tahun 70-an, menuliskannya dalam lirik lagu mereka: “Hutannya lebat seperti… rambutku, gunungnya tinggi seperti… hatiku, lautnya luas seperti… jiwaku, alamnya ramah seperti… senyumku”.

Tetapi dibalik eloknya Indonesiaku ini, tetap ada yang memprihatinkan dan memiriskan hati. Fakta terbaru menunjukkan Indonesia termasuk 15 besar negara di dunia dengan pendapatan perkapita penduduk tertinggi dengan pendapatan US$3900. Namun mirisnya, sekitar 17,8% dari 238 juta penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan.

Indonesia kaya akan kearifan lokal, budaya, dan kesenian daerah, tetapi terus “dicuri” oleh negara lain. Seakan-akan Indonesia diam tidak berdaya membela hak miliknya ketika dirampas oleh pihak lain.

Indonesia melimpah akan minyaknya dengan cadangan minyak sebanyak 9,7 juta barel dan cadangan gas alam sebanyak 146,7 triliun kaki kubik, tapi tak dapat dipungkiri seringkali Indonesia krisis BBM yang seharusnya itu tak pernah terjadi.

Volume air tawar Indonesia ada di peringkat 3 dunia, namun air sulit ditemukan di sebagian wilayah Indonesia. Produksi berasnya pun yang menduduki peringkat ke-3 terbesar dunia pun tidak menjamin Indonesia sebagai salah satu negara agraris terbesar  bebas dari busung lapar dan krisis bahan pangan seperti beras sehingga harus mengimpornya dari negara lain. Yang diimpor bukan hanya beras, hampir sebagian besar kebutuhan pangan seperti jagung dan kedelai pun ikut diimpor, padahal Indonesia merupakan salah satu negara penghasil pangan terbesar.

Ada apa dengan negeriku ini? “Seperti ayam dilumbung mati kelaparan”, beginilah perumpamaan nasib Indonesia saat ini. Sumber daya yang melimpah justru tidak dimanfaatkan dengan baik untuk pemenuhan kebutuhan dan pembangunan, malah rakyat Indonesia sendiri yang terlantar dan menderita karena ketidakmampuan dalam mengolah sumber daya yang ada.

Akankah Indonesia tetap seperti ini? Haruskah kita melihat Ibu Pertiwi terus berlinang air mata? Pada siapa negeri ini harus mengadu dan siapakah yang mampu mengubah semua ini? Dimanakah anak bangsa yang selama ini dinanti keberadaannya? Jawabannya ada pada diri kita, generasi muda Indonesia. Kita yang akan menentukan masa depan Indonesia nantinya. Siapkan dirimu, mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Pemimpin masa depan Indonesia

Aku teringat pada penggalan pidato upacara bendera senin yang disampaikan oleh kepala sekolahku, semangat yang membara tersirat dalam getaran suaranya yang tenang. “Jangan pernah kalian berpikir bahwa pemimpin dewasa ini dan masa yang akan datang akan terlahir dari rahim seorang wanita semata, melainkan pemimpin terbentuk dari sebuah proses yang panjang!”

Ini berarti seorang pemimpin tidak sebatas dilahirkan, tetapi dia harus dididik, dilatih, dan ditempa, dengan susah payah dan proses yang lama sehingga menjadi “the real leader” bagi dirinya sendiri maupun orang-orang yang dipimpinnya.

Aku terkesan dengan sebuah buku yang menceritakan perjalanan hidup seonggok tanah liat utuk menjadi sebuah gelas cantik yang sekaligus membenarkan apa yang diucapkan kepala sekolahku.

“Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu”, kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat, “ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya. Perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari, ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak. Tetapi orang itu berkata “belum!”, lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop!, teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum!”. Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin.

Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak. Wanita itu berkata “belum!”. Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. Tolong! Hentikan penyiksaan ini! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena dihadapanku berdiri sebuah cangkir ysng begitu cantik. Semua kesakitan dan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Demikian halnya seorang pemimpin yang dalam perjalanan hidupnya selalu mendapat tempaan yang panjang. Pemimpin senantiasa menjadi dambaan dan tumpuan umat sepanjang zaman, justru setiap pemimpin wajiib melekat pada dirinya setidaknya ada tiga kriteria.

Pertama, cerdas secara intelektual (IQ), merupakan kemampuan intelektual, analisa, logika, dan rasio. Dapat dikatakan ini adalah kecerdasan seperti yang kita pahami sehari-hari. Kecerdasan ini dibutuhkan agar tidak terjadi kesalahan dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan pengetahuan.

Kedua, cerdas secara emosional (EQ), merupakan kemampuan sosial dan merupakan kemampuan merespon lingkungan secara tepat. Hal ini dibutuhkan dalam  menyelesaikan masalah secara bijaksana tidak terpancing emosi dan suasana sehingga dapat memutuskan secara arif dan adil.

Ketiga, cerdas secara  spiritual (SQ), merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan tindakan, sehingga setiap keputusan didasarkan atas apa yang diyakini benar dan salah di dalam agama.

Dengan kata lain SQ (spiritual qoutient) mengajarkan interaksi manusia dengan Tuhannya, sementara IQ (intellectual quotient) dan EQ (emotional quotient) mengajarkan interaksi manusia dengan dirinya dan alam di sekitarnya. Tanpa ketiganya bekerja proporsional, maka manusia tidak akan dapat menggapai statusnya sebagai “khalifah” di muka bumi.

Ketiga kecerdasan ini nantinya akan saling mendukung terbentuknya profil kepribadian yang utuh, yang kemudian menghasilkan sifat keteladanan dalam diri seorang pemimpin. Dimana keteladanan merupakan syarat mutlak bagi seorang pemimpin dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Sehingga seorang pemimpin haruslah seorang yang terbaik dari golongannya agar menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Contoh yang sangat baik bagi penerapan ketiga konsep kecerdasan tadi ialah Nabi Muhammad saw. Salah satunya dikisahkan bagaimana Nabi Muhammad saw. menyelesaikan persengketaan peletakan batu Hajarul Aswad yang karenanya hampir terjadi pertumpahan darah di kalangan Bani Quraisy sendiri. Hingga akhirnya beliau memutuskan mengambil sorbannya dan meletakkan Hajarul Aswad di atasnya, lalu meminta setiap perwakilan yang bertikai untuk memegang salah satu ujung sorban beliau untuk mengangkat Hajarul Aswad ke tempatnya secara bersama-sama.

Beginilah bukti kecerdasan beliau dalam menyelesaikan permasalahan sehingga Bani Quraisy sendiri terkagum-kagum dengan kecerdasannya Nabi Muhammad dan menggelarinya “Al-Amin” yang berarti “dapat dipercaya”. Perseteruan itu berakhir tanpa pertumpahan darah dan dengan cara yang disenangi oleh semua pihak dari Bani Quraisy yang berseteru.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, seperti apa sebaiknya pemimpin masa depan Indonesia nanti? Ibarat pepatah mengatakan, “Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya”. Ungkapan ini seyogyanya juga berlaku dalam dunia kepemimpinan. Maka dari itu, dapat dikatakan pemimpin yang terbaik bagi Indonesia ialah mereka yang dilahirkan dan hidup di lingkungan Indonesia. Pemimpin Indonesia itu lahir dari tatanan budaya, norma masyarakat, dan aturan agama yanag ada dalam lingkungan masyarakat Indonesia.  Sehingga ketika terdapat problematik, mereka tahu solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahannya itu. Maka pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang inilah yang akan menjawab semua pertanyaan atas ketidakmampuan Indonesia.

Sekarang tinggal pada kita sendiri, pada generasi muda negeri ini sebagai pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia semuanya bertumpu, apa yang dapat kita lakukan bagi negeri ini. Dan aku, sebagai generasi muda Indonesia, pemimpin masa depan Indonesia, pelanjut tongkat estafet perjuangan untuk mengisi kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita pendiri-pendiri bangsa ini untuk terus mengabdi dan berbakti pada Ibu Pertiwi.

Kembali penulis mengutip sepenggal lirik lagu Koes Plus yang menggambarkan   semangat pengabdian dan bakti pada Indonesia tercinta,

Desah nafasku detak jantungku … hanya untuk nusantaraku,

Merah darahku putih tulangku … hanya untuk nusantaraku.”

Mari pemuda-pemudi Indonesia, saatnya bangkit dari tempat dudukmu,  berdirilah di puncak genggam erat tangan-tangan perjuangan, melangkah bersama untuk menggebrak pintu  kemajuan dan perubahan yang ada di hadapan kita, satukan hati dan pikiran kita, bakar semangat perjuangan dan pengorbananmu, lalu katakan pada dunia dengan suara lantang, ”Inilah aku, untuk Indonesiaku!!!”

***

Oleh:
EndriKetua Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM 2014

Endri

Unregistered Marriage

nikah

Definition of Unregistered Marriage
Unregistered Marriage, literally in bahasa called “nikah siri” or “nikah di bawah tangan”. The word “sirri” is derived from Arabic which means “secret”. Unregistered marrriage is a legitimate marriage according to Islam but it is illegitimate under the laws since the unresgistered marriage is not registered within Religous Affairs Ministry.

The Requirements Of Unregistered Marriage
Generally, unregistered marriage is carried out between the bride and the groom in front of the cleric and witnesses (if there’s any) but it will not be declared publicly since its nature of being secret. Basically, the requirements of unregistered marriage are almost the same with the common marriage. It requires a legitimate guardian, witnesses, and ijab-qabul. Nevertheless, it is illegal according to the Law number 1/1974 concerning Marriage Law and also in Compilation Islamic Law.

Reasons of Having Unregistered Marriage
Unregistered marriage has been a controversial issue since 2009. There are several reasons why certain parties persist with unregistered marriage. Some people committed unregistered marriage in order to avoid adultery. They thought that it would be better if they get married under the unregistered marriage rather than committing sexual intercourse without any prior lawful relationship of religion’s point of view. Some spouses do not acquire any permissions from their parents, their guardians, or any other parties who allegedly may interfere the spouses’ intention for getting married. Some people perceive that marriage requires an expensive cost. Therefore, people determined to comply with unregistered marriage as the best effort to deal with.

What The Islamic Law, Islam and Marriage Law Said Concerning Unregistered Marriage
ISLAM: according to Islam, unregistered marriage is allowed and legal as long as it complies with its requirements: a legitimate guardian, witnesses, and ijab-qabul. It is intended to avoid adultery since Islam obviously prohibit having a sexual intercourse out of wedlock. Thus, one of the ways to be considered as lawful in line with Islam is by having unregistered marriage.
ISLAMIC LAW: according to Compilation of Islamic Law, a marriage shall be registered within Ministry of Religious Affairs and it shall be recorded by as well as under the supervision of the Registrar of Marriage. Thus, unregistered marriage constitutes an illegal marriage under the Islamic Law due to its nature of being secret and unregistered or unofficial.
MARRIAGE LAW: according to Law number 1/1974 regarding Marriage Law, unregistered marriage is deemed to be illegal. A marriage requires to be registered based on applicable laws. Consequently, unregistered marriage consitutes illegitimate marriage according to Marriage Law and it may have impacts to their children and properties.

The Legal Consequences Of Unregistered Marriage
There are some legal consequences may occur within unregistered marriage. According to Marriage Law, a legitimate child is a child of legitimate marriage which means a child as a result of registered marriage. A child of unregistered marriage is regarded to be not legitimate but this child still obtains the civil relationship with her/his mother and his/mother’s family. Furthermore, the child can not acquire birth certificate and inherit his/her father’s properties since their illegitimate status under the applicable laws and neither does with the wife. Basically, under the unregistered marriage, the wife has no rights of the properties of her husband and vice versa. Therefore, if the husband or the wife has passed away, they have no rights of their properties.

Should The Unregistered Marriage Be Banned? If It Does, How The Future Would Be?
Many protests encountered against this cirscumstance from among parties in society such as woman activist, National Child Protection Commission, Association of Indonesian Women for Justice and particularly is women. They believe that unregistered marriage leads to polygami which highly assumed be detrimental to women and children. Islamic Law and Marriage Law allow and legalize polygamy unless it is in line with requirements which are stipulated in Islamic Law and Marriage Law.

So then, They urge the goverment to amend the laws concerned in order to provide women and children protection. In responding the protest, the goverment would pass the bill which set out the punishment up to 3 months imprisonment and Rp 5 million fines for those who committed unregistered marriage, polygamy, and contractual marriage. But up until now, there is no legal enforcement to implement the bill.

Nevertheless, all parties as well as women, children, men, and the society shall know what the consequences especially the legal consequences of unregistered marriage. They should do understand what the impacts may occur if they are strongly persistent committing unresgistered marriage so that they shall determine in what they dealed with, whether or not it brings a good future for the next time.

(JURNALISTIK KMFH)

Menuju Indonesia Madani, Mungkinkah?

miskin

Perbincangan mengenai Indonesia Madani sebenarnya sudah dimulai sejak awal tahun 90an. Hal ini tentu merupakan impian semua orang, tetapi banyaknya permasalahan membuat cita-cita untuk menciptakan masyarakat madani terkesan hanya merupakan keinginan dan wacana semata. Memang, untuk menciptakan masyarakat madani tidak semudah membalikan telapak tangan ataupun mengedipkan mata. Butuh keinginan yang kuat, kerja keras, waktu lama, dan tentu saja kesadaran setiap warganya untuk maju ke arah yang lebih baik.

Masyarakat madani merupakan masyarakat yang berbudaya, yang mampu berinteraksi dengan dunia luar dengan kemandiriannya, menyadari hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara, menjunjung tinggi hak asasi manusia, masyarakat yang menjunjung tinggi moral dan agama, menjamin keseimbangan antara kehidupan bermasyarakat dan individu, dan masyarakat mempunyai motivasi untuk terus berkembang maju. Singkatnya, masyarakat madani merupakan masyarakat yang berperadaban tinggi dan maju yang berdasar pada nilai-nilai, norma, hukum, moral dan keimanan, menghormati pluralisme, gotong royong, bersikap terbuka dan demokratis. Dari uraian tersebut, bayangan tentang masyarakat madani merupakan bayangan masyarakat terbaik yang dapat dibayangkan saat ini. Di mana kesejahteraan baik lahir maupun batin terpenuhi tanpa ada kekhawatiran sedikit pun. Lalu pertanyaannya, mampukah Indonesia berkembang dan menuju ke arah Indonesia Madani?

Untuk mencapai suatu masyarakat yang madani, ada beberapa syarat yang harus terpenuhi, yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar dari setiap individu di lapisan masyarakat, berkembangnya modal sosial dan modal manusia untuk melaksanakan tugas kehidupan dan menjalin kepercayaan antar kelompok sosial, tidak ada diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan, adanya hak, kemauan dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga untuk terlibat dalam isu maupun kebijakan publik, tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antar budaya dan kebudayaan, adanya sistem pemerintahan yang membuat lembaga ekonomi, hukum dan sosial berjalan dengan produktif dan adanya jaminan kepastian dan kepercayaan antar masyarakat.

Kemudian dari terpenuhinya syarat tersebut nantinya akan muncul pemerintahan dan masyarakat yang demokratis, inilah sebenarnya tujuan dari masyarakat madani. Tanpa terpenuhinya syarat tersebut, impian akan masyarakat madani yang selama ini di idamkan hanya tinggal menjadi penyedap dalam dinamika kehidupan politik bangsa ini.

Saat ini, apabila kita melihat perkembangan Indonesia pascareformasi, keinginan untuk terciptanya masyarakat madani masih sebatas jalan ditempat. Dengan banyaknya permasalahan, seperti masih rendahnya kesejahteraan masyarakat, tingkat pendidikan yang masih rendah, kesadaran akan toleransi yang kurang, rasa nasionalisme yang semakin terkikis dan diperburuk dengan moral yang semakin merosot dan kehidupan bermasyarakat yang semakin jauh dari nilai-nilai agama yang baik, rasanya untuk mencapai masyarakat madani yang sebenarnya masih menjadi tugas yang berat untuk negeri ini.

Dengan melihat kenyataan bahwa bangsa ini masih jauh untuk dapat mencapai suatu masyarakat madani, bukan rasa pesimistik yang harus kita tumbuhkan, tetapi optimis yang berlipat ganda. Karena pada dasarnya apabila ada kemauan dari setiap warga untuk mencapai cita-cita masyarakat madani yang sejahtera, maka itu bukan suatu kemustahilan.

Bagaimana Rosululloh menciptakan masyarakat madani?

Sebenarnya madani itu berasal dari bahasa arab yaitu m-d-n yang berarti suatu tempat. Dari kata inilah nantinya tercipta kata “madinah” yang berarti kota atau tempat tinggal sekelompok orang. Hanya saja dalam perkembangannya kata madani ini digunakan oleh orang arab untuk menerjemahkan istilah bahasa inggris civilization. Kata civilization inilah nantinya justru digunakan dalam perbincangan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam kontek ini, kata madani sudah beralih arti menjadi masyarakat sipil, dalam kata lain adalah masyarakat yang bukan militer.

Ada dua masyarakat madani dalam islam yang terekam dalam sejarah. Yang pertama adalah masyarakat Saba’, yaitu masyarakat dimasa Nabi Sulaiman dan yang kedua adalah masyarakat madani yang terjadi setelah traktat atau Perjanjian Madinah antara tiga masyarakat yaitu Rosulullah bersama dengan umat islam dengan penduduk madinah yang beragama yahudi dan beragama watsani dari kaum Aus dan Khazraj. Perjanjian ini berisi kesepakatan untuk saling menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial, menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan Rosulullan sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap keputusan-keputusannya dan memberikan kebebasan bagi penduduk untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajarannya.

Untuk mencapai masyarakat madani, Rosulullah telah meletakkan tiga hal penting, yaitu memperkokoh hubungan manusia dengan Tuhannya dengan pembangunan masjid, memperkokoh hubungan antar masyarakatnya dengan mempersaudarakan kaum pendatang Muhajirin dengan kaum Ansor, dan mengatur hubungan umat islam dengan umat lainnya dengan jalan mengadakan perjanjian. Melalui tiga hal inilah, Rosulullah berhasil membangun masyarakat madani.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah mengapa hal pertama yang dilakukan rosulullah adalah membangun masjid? Karena sesungguhnya kekuatan masyarakat madani yang hendak dibangun oleh Rosulullah adalah imannya. Masjid akan menjadi tempat yang paling tepat untuk memperkokoh iman masyarakat madani, menjadi tempat pembinaan dan acuan peristilahan bagi masyarakat madani. Lalu dilanjutkan dengan kekuatan persaudaraan dengan memusnahkan sikap egois antar individu dan menumbuhkan semangat pengabdian tanpa saling bermusuhan. Terakhir adalah memelihara hubungan baik dengan kaum non-muslim untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membangun masyarakat Islam yang kuat.

Dari sini maka dapatlah kita tarik pelajaran yang berarti. Bahwa untuk mencapai sebuah kesejahteraan atau masyarakat madani yang kita impikan itu sendiri, hendaklah kita mulai dari hal yang paling di perhatikan oleh Rosulullah, yaitu Iman. Apabila kita beriman, maka kita akan dengan sendirinya memiliki “rasa memiliki” atas apa yang diberikan Allah di dunia, mensyukuri, merawat dan sikap saling membantu dan optimis akan dengan sendirinya terbentuk dari sana.

*JURNALISTIK KMFH

Perbankan Syariah sebagai Solusi Efek Domino Riba

“Ekonomi Islam mempunyai prinsip tidak merugikan orang lain dan tidak boleh berputar di antara orang-orang kaya (saja, -red), maka tidak boleh menimbun harta. Sementara riba tidak memedulikan kerugian orang lain.”

Sayyid Qutub

Muhammad SAW, Adam Smith, ataupun Marx mengikhtiarkan sebuah sistem ekonomi dengan tujuan menyejahterakan subjek yang menjalankannya. Mulai dari sisidampaknya terhadap masyarakat umum, ataupun segelintir orang saja seperti yang disintesis oleh sistem ekonomi kapitalis. Di luar baik atau buruknya sebuah sistem ekonomi (modern), sistem itu mutlak dibutuhkan. Perkembangan zaman sudah tidak memungkinkan lagi metode sederhana seperti barter menjadi tulang punggungperdagangan dunia masa kini.

Pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah, apakah apakah semua inovasi dan kreasi ekonom dalam membangun satu perekonomian ini berdampak positif? Tentu, secara rasional, kita berpikir bahwa tidak ada satu pun sistem buatan manusia yang sempurna. Oleh karena itu, mari kita perhatikan penjelasan mengenai salah satu aspek dalam ekonomi, bunga bank.

Dalam bukunya Politics, Aristoteles pun menjadi pihak yang menentang adanya konsep riba. Ia menyebutkan, uang adalah alat untuk jual beli, sementara hutang merupakan hasil dari jual beli itu. Sedang bunga (rente) adalah uang yang lahir dari uang.

Dalam wawancara dengan salah satu peserta Sekolah Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Sharia Economy Forum (SEF) Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Zil Aidi, diperoleh keterangan bahwa bunga bank perlu dihindari dengan alasan logis dan syari. Di samping karena dilarang oleh Allah, bunga bank pun akan menghancurkan ekonomi dengan mengekskalasi harga-harga. Jadi peningkatan yang diakibatkan oleh bunga bank itu bersifat semu dan sementara, karena pihak yang “dirugikan” pun akan turut meningkatkan harga jualnya. Pada intinya, mereka bersepakat untuk menaikkan harga-harga kebutuhan hidupnya. Ibarat pepatah, mencekik leher sendiri.

Ulama Sayyid Qutub berkata, Ekonomi Islam mempunyai prinsip tidak merugikan orang lain dan tidak boleh berputar di antara orang-orang kaya (saja, -red), maka tidak boleh menimbun harta. Sementara riba tidak memedulikan kerugian orang lain. Selanjutnya, Qutub menambahkan, dengan sistem ekonomi riba, kekayaan akan berputar di kalangan orang kaya saja. Hal ini disebabkan oleh range bunga yang akan selalu menguntungkan pemegang modal.

Seperti yang disebutkan sumber militanindonesia.com, sistem ekonomi Indonesia yang berjalan saat ini diakibatkan peran Mafia Berkeley di zaman Soekarno dahulu. Keberadaan kapitalisme yang kini berjalan juga berkenaan dengan bunga bank. Penting sekali mengetahui bahwa bank rate itu tidak pernah setara antara yang diberikan kepada nasabah dengan yang bank tarik dari debitur. Biasanya, bank memberi range yang lebar antara yang ditarik dengan yang diberikan. Salah satu bank swasta Indonesia memberikan bunga sekitar 1 persen kepada nasabahnya sambil menarik bunga sebesar 9.5 persen dari debiturnya. Sebuah perbandingan yang disebut orang Jawa, njomplang tenan.

Semakin tinggi suku bunga, maka investasi semakin menurun. Jika investasi menurun, produksi juga menurun. Jika produksi menurun, maka akan meningkatkan angka pengangguran.Teori ekonomi juga mengajarkan bahwa suku bunga akan secara signifikan menimbulkan inflasi. Inflasi yang disebabkan oleh bunga adalah inflasi yang terjadi akibat ulah tangan manusia. Inflasi seperti ini sangat dibenci Islam, sebagaimana ditulis Dhiayauddin Ahmad dalam buku Al-Quran dan Pengentasan Kemiskinan. Inflasi akan menurunkan daya beli atau memiskinkan rakyat dengan dasar ceteris paribus.

Sistem ekonomi ribawi juga telah menjerumuskan negara-negara berkembang kepada debt trap (jebakan hutang) yang dalam, sehingga untuk membayar bunga saja mereka kesulitan, apalagi bersama hutang pokoknya.

Dalam konteks Indonesia, dampak bunga tidak hanya sebatas itu, tetapi juga berdampak terhadap pengurasan dana APBN. Bunga telah membebani APBN untuk membayar bunga obligasi kepada perbankan konvensional yang telah dibantu dengan BLBI. Selain bunga obligasi juga membayar bunga SBI. Kemungkinan, pembayaran bunga yang besar inilah yang membuat APBN kita defisit setiap tahun.

Setelah melihat dan menimbang dampak-dampak yang diakibatkan bunga bank tadi, kita tentunya dapat memilih sistem ekonomi seperti apa yang pas dan pantas untuk dijalankan. Ekses yang diakibatkan ini bersesuaian dengan larangan Allah mengambil riba, yang tertuang dalam Qur’an Surat Al Baqarah ayat 275. Dalam konteks struktural, mungkin instrumen ekonomi non-riba belum mampu dilaksanakan. Namun, secara kultural dan perorangan, kita bisa mendukung sistem ekonomi yang bebas dari instrumen riba semacam bunga bank, yaitu dengan mulai menabung di bank syariah.

Terlepas dari sumber modalnya yang sebagian masih berasal dari bank konvensional, instrumen dan akad yang diterapkan sudah sesuai dengan syariah. Pembagiannya berdasarkan kesepakatan dan berkeadilan.

“Ya, paling tidak kita sudah berusaha mendekati kondisi ideal perekonomian yang ditetapkan syariat Allah”, tutup Zil dalam wawancaranya.

Penulis:

Hanif Ibrahim Mumtaz
Jurnalistik KMFH

Masjid Ideal Versi Pemuda

Kata ‘masjid’ jarang menimbulkan kesan mengasyikkan di benak anak muda zaman sekarang. Masjid identik dengan tempat untuk beribadah ritual, seperti shalat, mengaji, kajian keislaman, dan sejenisnya. Saat seorang pemuda rata-rata ditanya mengenai tempat favoritnya untuk berkegiatan, jarang sekali yang menyebut masjid sebagai jawabannya. Sehingga tesis awal penulis dalam tulisan ini adalah bahwa rata-rata masjid saat ini belum dapat menjadi sentra kegiatan yang digemari oleh anak muda.

Ada suatu logika populer, yaitu apabila di suatu bangsa pasarnya lebih ramai daripada masjid, “pasar” akan mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap pemerintahan dibandingkan dengan pengaruh “masjid”. Mindset pemerintahan akan menjadi mindset penguasa pasar, bukannya para ulama–yang oleh hadits disebutkan sebagai warasatul anbiya. Ketika pasar mengatur pemerintahan–apalagi bila penguasa pasar adalah orang yang tidak baik–maka pemerintahan yang akan berlangsung adalah yang kapitalistik dan mencekik. Kondisi ini sudah tentu perlu dicegah. Pola pikir “masjid” harus menjadi (atau minimal, mempengaruhi) pola pikir pemerintah.

Didasari semangat revitalisasi tersebut, pemuda yang rindu akan kejayaan agama dan bangsa tentu perlu turut serta dalam progres ini. Jika salah satu permasalahan dasar dari kurang ramainya masjid (beserta kegiatannya) adalah karena rancangan kegiatannya yang monoton dan tidak valid dengan zaman kini, maka solusinya adalah mengemas ulang kegiatan-kegiatan tersebut.

Kegiatan yang monoton berisiko kalah saing dengan acara-acara yang lebih modern dan diminati oleh anak-anak dan pemuda masa kini. Akibat televisi yang kini ada di setiap rumah, mentalitas atau mindset masyarakat adalah apa yang televisi nyatakan–kebanyakan berupa hal duniawi yang menyenangkan. Kegiatan seperti kajian dan diskusi akhirnya menjadi kurang digemari. Butuh inovasi agar pemuda punya keinginan mendekati masjid.

Sebagai contoh, pengalaman penulis pribadi di kampung halaman. Di sekitar tahun 2010 masjid di kampung saya mati suri. Azan hanya kadang-kadang, jamaah shalat pun cukup dibilang dengan jumlah jari tangan seorang manusia. Belakangan ini saya sadari bahwa kemungkinan penyebabnya adalah kekakuan acara-acara yang ada di masjid tersebut. Taman Pendidikan Al Quran (TPA) dan Karang Taruna di sana makin lama semakin berkurang pesertanya. Akibatnya, pengunjung masjid menjadi semakin sepi.

Musik dapat menjadi eye-catcher agar pemuda dekat dengan masjid. Dari zaman ke zaman, musik selalu identik dengan kegemaran anak muda. Dengan menambahkan alat-alat musik seperti rebana, seruling, dan gitar, kegiatan di masjid akan semakin variatif. Kajian-kajian dapat diawali dengan musik yang dilantunkan oleh pemuda warga sekitar.

Proses latihan musik pun dapat menjadi momen yang mengeratkan para pemuda. Selain itu, latihan musik juga merupakan sarana menggunakan waktu secara bermanfaat. Di masjid dekat rumah saya, kehadiran hadroh menjadikan masjid kembali ramai. Pemuda di sana banyak menghampiri masjid karena tertarik dengan kegiatan hadroh tersebut.

Musik hanyalah salah satu cara menarik yang saya ajukan sebagai alternatif menjadikan kembali masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan sesuai dengan kondisi dan minat pemuda di suatu masyarakat.

Jika pemuda sudah tertarik dan terikat hatinya dengan masjid, maka tak ada halangan untuk mengurus secara intens sebuah masjid. Ingatkah kita tentang salah satu golongan yang akan masuk surga, yaitu pemuda yang bersahabat dengan masjid.

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

  1. Pemimpin yang adil.
  2. Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.
  3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga terpisah kecuali karena Allah.
  5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.
  6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
  7. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”

(HR. Al-Bukhari No. 620 dan Muslim No. 1712)

Semoga kita bisa menjadi bagian dari golongan tersebut. Aamiin.

Hanif Ibrahim Mumtaz
KaBKK KMFH UGM – Eks Jurnalistik KMFH UGM