Lebaran, Munajat, Halal Bi Halal

H

“Cinta hendaknya untuk merasa bahagia

Jika nurani berkata

Akal sehat berkuasa

Hidayah Ilahi nuansakan surga

Tuhan ada di semua umat-Nya

Bergegaslah luapkan kata maaf

Seiring doa

Hamba dengungkan takbir Ilahi

Allahu Akbar Walillailham

Bedug pun ditabuh

Menandakan hari kemenangan telah tiba

Insan manusia bergembira

Sambut lebaran milik kita.”

            (Lebaran Milik Kita, merupakan sepenggal puisi karya Dewantara Soepardi, yang dapat menginspirasi kita semua untuk lebih berusaha, dibalik diagnosa brain injured (cerebral palsy tipe quadriplegia) terhadapnya).

Tak terasa bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat ini hampir berakhir. Bulan dimana umat muslim wajib berpuasa, berlomba-lomba khatam Al Qur’an, melakukan shalat malam, dan berbagai ritual agama lainnya, yang semua dilaksanakan untuk meraih ridha dan pahala dari Allah SWT.

Hari Raya Idul Fitri atau yang lebih akrab disebut Lebaran, adalah hal yang selalu dinantikan oleh umat Muslim. Hari kemenangan, merayakan “kemenangan” umat muslim setelah sebulan berpuasa, menahan nafsu, menjaga hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang buruk dan dilarang oleh Allah SWT. Semua orang berkumpul. Saling melempar senyum dan bersalaman sambil berkata, “Ngaturaken Sugeng Riyadi nggih Pak, Bu…” (terjemahan: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak, Bu..”) atau mengirimkan pesan singkat bertuliskan, “Taqabbalallahu minkum ahyaakumullah li amtsaalihi kulla ‘aamiin wa antum bi khair” – Semoga Allah menerima (amal) kalian semua. Semoga Allah memanjangkan umur kalian di tahun-tahun yang sama, dan kalian senantiasa dalam keadaan baik.”

Di Indonesia yang tercinta ini, banyak tradisi yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari tradisi beli baju dan alat ibadah baru (atau bahkan kembaran satu keluarga), memasak lontong opor lengkap dengan kerupuk, camilan kue kaleng dari parcel yang akan menjadi hiasan di meja tamu selama sebulan ke depan, tradisi terima tunjangan hari raya bagi kaum muda, tradisi sungkeman dengan anggota keluarga, tradisi copy paste dan kirim SMS pantun atau puisi yang diawali dengan frasa “air tak selalu jernih..” berkedok meminta maaf hingga tradisi halal bi halal.

Tradisi halal bi halal seperti menjadi annual event yang dilaksanakan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari perkumpulan alumni sekolah, keluarga mahasiswa, perkumpulan pegawai kantor hingga paguyuban di kampung.

Penggagas istilah halal bi halal itu sendiri adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Sedikit bercerita, pada tahun 1948, Indonesia sempat dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar dan tidak mau duduk dalam satu forum. Kemudian, Ir. Soekarno yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI, meminta pendapat dari KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang sedang tidak sehat. Kebetulan pada waktu itu mendekati datangnya Hari Raya Idul Fitri, sehingga KH Abdul Wahab Chasbullah memberikan saran kepada Ir. Soekarno untuk mengadakan silaturrahim. Namun Ir Soekarno menginginkan istilah lain itu menggantikan terminologi silaturrahim.

Kemudian, KH Abdul Wahab Chasbullah menjelaskan, ”Para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu berdosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halal bi halal.

Tradisi halal bi halal ini kemudian diikuti masyarakat muslim secara luas. Sebenarnya, kegiatan yang mirip dengan halal bi halal ini sudah dilaksanakan sejak era kepemimpinan KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa, namun beliau belum menyebut kegiatan tersebut dengan istilah halal bi halal, meskipun esensinya sudah ada.

Istilah halal bi halal ini secara nyata dicetuskan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halal bi thariqin halal) adalah mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisa kedua (halal yujza’u bi halal) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Terlepas dari segala keberagaman pendapat mengenai halal bi halal, bukankah suatu hal yang sangat baik apabila kita masih bisa berkumpul dengan kawan lama, saling meminta maaf, saling bercerita, hingga saling bermunajat untuk kebaikan satu sama lain?

Sebagai contoh, Halal Bi Halal alumni SMP Negeri X Angkatan 1980.

Kalau bukan karena halal bi halal, mungkin saja angkatan yang sudah berusia lebih dari 30 tahun itu tidak akan berkumpul bersama dan bertemu, bahkan saling mengirim pesan atau surat pun belum tentu. Bagaimana ya kabar si X teman sebangku waktu sekolah dulu? atau Bagaimana ya kabar si Y yang pernah menolongku ketika kesusahan? Padahal kita sebagai umat muslim, memiliki kewajiban untuk menjaga tali silaturahmi dan ukhuwah yang telah dibangun. Melalui kegiatan halal bi halal tersebut, banyak kata maaf dan memaafkan yang terucap, banyak tawa bahagia hingga air mata yang menetes akibat pengakuan kesalahan, hingga banyak doa-doa baik yang terpanjatkan untuk Allah SWT.

Seperti sabda Rasulullah SAW, “Allah merahmati seorang hamba yang pernah berbuat dzalim terhadap harta dan kehormatan saudaranya, lalu ia datang kepada saudara yang didzaliminya itu untuk minta kehalalannya sebelum ajal menjemput.” (HR Tirmidzi dan Abu Hurairah)

Setiap orang hampir bisa dipastikan pernah berbuat salah dan khilaf. Rasulullah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa semua bani adalah khattha’un, adalah yang banyak berbuat dosa dan maksiat. Dan sebaik-baik khattha’un adalah at-tawwabun, yaitu orang yang banyak bertaubat.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Anas bin Malik RA.

Sehingga, bukanlah suatu hal yang memalukan (aib) apabila kita mengakui kekhilafan dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita perbuat kepada saudara kita, tetangga kita, atau bahkan teman kerja/kuliah kita yang bahkan jarang bertegur sapa dengan kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memiliki tanggungan kedzaliman terhadap saudaranya, entah dalam hal kehormatan atau pun hartanya, maka hendaklah meminta kehalalannya hari ini. Sebelum datang hari (kiamat) di mana tidak berguna lagi dirham dan dinar. Pada hari kiamat nanti, bila seseorang yang mendzalimi belum meminta kehalalan dari saudaranya, maka bila ia memiliki amal kebaikan, sebagian amal kebaikannya itu diambil sekadar kedzaliman yang ia lakukan untuk diserahkan kepada orang yang sudah pernah ia dzalimi. Bila ia sudah tidak memiliki sisa amal kebaikan, maka dosa yang dimiliki orang yang pernah ia dzalimi di dunia akan dilimpahkan kepadanya senilai kedzaliman yang pernah ia lakukan. (HR Bukhari dan Abu Hurairah RA)

Maka, jangan sampai dosa-dosa yang kita punya akibat berbuat khilaf tersebut dibawa mati hanya karena kita merasa gengsi untuk meminta maaf. Karena sebagai ganti dari kedzaliman yang belum diminta kehalalannya, dosa orang yang kita dzalimi akan dialihkan menjadi tanggungan kita.

Walaupun kegiatan halal bi halal memang sudah banyak dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat di Indonesia, akan tetapi, bukan halal bi halal itu sendiri yang wajib untuk dilaksanakan, melainkan saling meminta maaf, bersilaturrahim dan menjaga ukhuwah itulah yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.

*cerita mengenai latar belakang lahirnya istilah Halal Bi Halal didapat dari KH Masdar Farid Mas’udi.

Ditulis oleh:

Nova Alfie Annisa (2015)

Rilis dan Pernyataan Sikap Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM : Penyerangan Terhadap Penyidik KPK dan Sengkarut Pemberantasan Korupsi di Indonesia

 

Senin pagi kita dikejutkan dengan kabar tidak menyedapkan yang datang dari penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Menurut kabar yang beredardi media, Novel Baswedan yang baru saja pulang dari Mesjid yang berada dekat rumahnya di bilangan Kelapa Gading, Jakarta tiba-tiba didekati oleh dua orang yang tak dikenal dengan menggunakan sepeda motor. Saat Novel berjalan pulang kerumahnya, dua orang tadi mendekatinya dan kemudian langsung menyiramkan air keras ke wajahnya sehingga mengenai matanya. Novel yang pada saat itu berusaha menghindar pun tak pelak terkena siraman air keras tersebut dan mengenai matanya serta kemudian membentur pohon yang ada di dekatnya. Beliau pun merintih kesakitan sehingga terdengar oleh warga yang berada tak jauh dari situ.”Mereka langsung menyiram dengan menggunakan air keras dan mengenai mukanya,” demikian keterangan resmi polisi. Kemudian pelaku melarikan diri.

Penyidik KPK Novel Baswedan yang sebelumnya dirawat di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta Utara akibat disiram air keras akan dipindahkan ke RS Mata Jakarta Eye Center (JEC) Menteng Jakarta Pusat. “Siang ini akan dibawa ke JEC untuk ditangani lebih lanjut. Memang ada perawatan untuk bagian mata, karena dalam perjalanan dari masjid ke rumah yang bersangkutan ada yang menyiram di bagian mata. Terkait penyakit secara teknis dokter yang akan jelaskan,” kata Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah, di Jakarta, Selasa (11/4).

Seperti yang kita ketahui, Novel Baswedan merupakan seorang penyidik senior KPK yang saat ini sedang berusaha menguak kasus mega-korupsi e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah. Novel sebenarnya sudah dikenal publik semenjak menangani kasus simulator SIM dan tak segan-segan menggiring senior angkatannya yakni Djoko Susilo yang pada saat itu menjadi Kepala Korps Lalu Lintas Polri ke meja hijau. Novel terkenal idealis dan tak pandang bulu dalam menyelesaikan kasus-kasus korupsi. Ini yang kemudian membuat sebagian koruptor kalang kabut bila menemui dirinya menjadi salah seorang penyidik. Kejadian ini mungkin hal biasa bagi dirinya, karena tercatat sudah 5 kali upaya teror dilakukan kepadanya. Terakhir tentu kita mengingat bagaimana upaya kriminalisasi terhadap dirinya dengan menungkit kasus masa lalunya pada saat bertugas di Bengkulu. Ditakutkan upaya teror ini juga sebagai bentuk penyerangan psikologis terhadap penyidik KPK yang lain dan masyarakat pada umumnya.

Di sini ada beberapa hal yang kami soroti, petama adalah masalah upaya pelemahan KPK. Banyak upaya-upaya yang diduga dilakukan untuk melemahkan KPK. Beberapa diantaranya adalah Revisi UU KPK. Terlihat jelas bagaimana kemudian kewenangan penyadapan yang dikebiri dan kewenangan menyelesaikan kasus korupsi yang awalnya hanya yangbernilai 1 miliar Rupiah menjadi 50 miliar Rupiah. Kemudian banyak pula pembangunan opini-opini oleh media yang ditujukan mereduksi pengaruh KPK terhadap upaya pemberantasan korupsi. Banyak pula upaya teror yang dilakukan terhadap penyidik KPK bahkan pimpinan KPK.

Sorotan kedua adalah regulasi dan mekanisme pengamanan terhadap penyidik KPK. Di sini yang dipertanyakan adalah bagaimana SOP pengamanan penyidik KPK. Bila mengutip perkataan Pimpinan KPK, La Ode Muhammad Syarif, beliau mengatakan bahwa “Dulu penjagaan kan, on-off ya. Kalau lagi ada tugas ada penjagaan (diamankan), tapi tadi itu habis salat Subuh, pulang dari masjid ada orang naik motor disiram ke mukanya. Ya, jadi gitu,” ujarnya. Untuk itu, kejadian yang menimpa Novel menjadi pembelajaran bagi KPK dalam mengevaluasi sistem pengamanan terhadap para penyidiknya agar lebih ditingkatkan ke depannya bersama pihak kepolisian. DPR pun sudah buka suara mengenai mekanisme pengamanan ini melalui Asrul Sani, anggota Komisi III DPR RI. Ia meminta agar KPK me-review kembali SOP pengamanan terhadap penyidik KPK yang pekerjaannya sangat beresiko.

Sorotan terakhir adalah counter attack terhadap KPK. Sudah menjadi hal lumrah ketika lembaga anti rasuah hampir di setiap negara itu untuk dibunuh, begitulah kira-kira salah satu perkataan yang ia tuliskan dalam sebuah buku berjudu, Jangan Bunuh KPK.Demikian pula dikatakan oleh mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto dalam sebuah seminar bahwa akan selalu ada counter attack dan fight back dari koruptor ketika KPK sudah masuk ke dalam episentrum pemerintahan yang selama ini menjadi objek pemberantasan korupsi oleh KPK. ini sebenarnya merupakan sebuah efek psikologis dari koruptor, koruptor yang biasanya merupakan pejabat tinggi pasti mempunyai power.Power inilah yang kemudian melegitimasi mereka untuk melakukan teror dan upaya-upaya pelemahan pemberantasan korupsi lainnya. Penyerangan yang sedemikian masif inilah yang menjadi perhatian kita bersama-sama, jangan sampai penyerangan ini malah mempersulit gerak KPK dalam upaya pemberantasan korupsi. Upaya penyerangan ini haruslah kemudian pula dilakukan pencegahan, salah satunya adalah peningkatan pengamanan tadi. Ini juga dilakukan agar kejujuran, keberanian, dan ke-idealis-an yang menjadi ciri khas penyidik KPK tetap terjaga dan tetap memberikan dampak positif bagi upaya pemberantasan korupsi oleh KPK.

KPK saat ini masih terjebak dalam pusaran ironi. Ironi mental oknum pejabat yang notabene mempunyai power dan cenderung menyalahgunakan hal tersebut demi kepentingannya sendiri. Di sini perlu dilakukan penguatan elemen-elemen yang ada di dalam komisi anti-rasuah ini. Jangan sampai upaya penyerangan balik oleh koruptor ini malah makin memelihara mental koruptif dan mendarah daging-kan mental ini dalam masyarakat. Oleh karena itu kami, Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, dengan ini menyatakan sikap :

  1. Mengutuk keras tindakan penyerangan terhadap Novel Baswedan dan kegiatan anti korupsi lainnya.
  2. Menuntut polisi untuk mengusut tuntas kasus penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan.
  3. Menuntut pemerintah untuk membuat regulasi yang komprehensif sebagai insturmen pengaturan dan peningkatan pengamanan terhadap penyidik KPK.
  4. Menghimbau kepada masyarakat umum untuk tidak gentar terhadap segala upaya teror kepada upaya pemberantasan korupsi.

Referensi

  1. http://www.msn.com/id-id/berita/nasional/detik-detik-penyiraman-air-keras-ke-wajah-novel-baswedan/ar-BBzGobx?li=BBsX6vh&ocid=spartandhp
  2. https://malangtoday.net/flash/nasional/novel-baswedan-segera-pindah-rumah-sakit/
  3. http://nasional.inilah.com/read/detail/2371949/kpk-akan-evaluasi-pengamanan-terhadap-penyidik#sthash.ER4CQGIg.dpuf
  4. Denny Indrayana, Jangan Bunuh KPK, Jakarta: ICW, 2016.

 

Yogyakarta, 12 April 2017

Kabinet Payung Peradaban

Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Modernisasi : Elegi Kemanusiaan dan Kebangkrutan Sosial

 

“Kalau dahulu banyak luka kemanusiaan dalam perjalanan sebuah peradaban berpangkal pada sikap chauvinis yang berlebihan. Kini tampaknya egoisme mengambil alih.”

….

Sejarah peradaban manusia telah mengalami percepatan sedemikian rupa. Kita hidup di era dimana kemajuan di berbagai bidang tersosialisasikan dengan mudahnya. Percepatan dan segala kemajuan di berbagai bidang ini pun tentu sangat mempengaruhi pola interaksi antar-manusia yang tampak lebih condong kearah destruktif.

Ada satu pesan khusus yang dapat kita tangkap dari sebuah kemajuan, bahwasanya kita akan segera memasuki dunia yang serba ekstrim di masa depan apabila manusia kehilangan respons terhadap rasa kemanusiaannya. Namun tanda-tanda ini nampaknya mulai tumbuh dalam pola interaksi masyarakat. Sebut saja yang terkini yakni semakin sering disebarnya fitnah dan hoax di media sosial yang mempengaruhi mental masyarakat. Dan entah secara sadar atau tidak telah membuat masyarakat mengorbankan jati diri kemanusiaannya.

Berbagai kemajuan dan segala implikasinya dapat melipat potensi kemanusiaan dalam diri. Berbagai anstisipasi demi mempertahankan kemanusiaan mesti dilakukan. Harus ada sebuah pemahaman mendalam dan penanaman budaya kritis di titik ini. Namun tak hanya sampai disitu, secara esensial haruslah dapat tercapai sebuah tindakan sosial yang didasari rasa kasih sayang/emosi (Affectual Effect).

Pemaknaan kemanusiaan dapat kita temukan dalam salah satu ajaran Gandhi, yakni ahimsa. Ahimsa tidak sebatas hanya pada keyakinan atau sikap saja, ia meliputi segala pikiran, tindakan, dan ucapan. Ahimsa pun mencakup seluruh ciptaan, itu artinya bahwa orang harus berlaku secara ahimsa kepada siapa pun. Ahimsa ditujukan agar kita mempunyai keteguhan jiwa. Pemaknaan tersebut dapat dijelaskan bahwa makna ahimsa lebih menekankan pada makna penolakan atau penghindaran secara total terhadap segenap keinginan, kehendak atau tindakan yang mengarah pada bentuk penyerangan atau melukai siapa pun. Inilah kemanusiaan.

Islam, Kemanusiaan, dan Permasalahan Sosial

Praktek beragama menjadi jalan paling efektif dan solutif untuk menumbuhkan kemanusiaan dalam diri seseorang, agama apa pun itu, tentu mengajarkan segala hal tentang kebaikan dan salah satunya tentang kemanusiaan. Kesalehan individual yang diajarkan dalam beragama selalu melahirkan efek-efek kesalehan sosial. Apabila tidak, dapatlah dikatakan bahwa telah terjadi kebangkrutan sosial.

Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW pernah menyinggung masalah ini,

“Apakah kalian tahu siapakah sebenarnya orang yang bangkrut? Para sahabat nabi mengatakan: ”orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan harta benda”. Nabi bersabda: “Bukan demikian. Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa dan zakat. Tetapi pada saat yang sama dia juga datang sebagai orang yang pernah mencaci-maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka para orang lain (korban) tersebut akan diberikan pahala kebaikan dia (pelaku/al-muflis). Ketika seluruh kebaikannya habis sebelum dia dapat menebusnya, maka dosa-dosa korban akan ditimpakan kepadanya (pelaku), kemudian dia (pelaku) dilemparkan ke dalam neraka”. (H.R. Imam Muslim, Imam Ahmad dan Tirmizi).

….

Berbagai kemajuan telah membawa kita ke dua tempat, ke arah pembangunan dan kehancuran sekaligus. Modernisasi harus disikapi dalam sebaik-baik bentuk dan prasangka, tanpa harus melupakan keburukan-keburukan yang selalu bersamanya.

Kemanusiaan menjadi barang mahal di era ini. Lalu kenapa mesti kemanusiaan? Ya, sebab ia seperti mutiara, meski di lumpur sekalipun, ia tetaplah mutiara dengan segala keindahannya. Yang pasti manusia lah titik sentralnya. Ia subyek sekaligus objek perubahan, bahwa dalam perubahan, kemajuan dan pembangunan apapun itu, dimensi manusia harus tetap dikedepankan.

 

Ditulis oleh : Rakha Gurand (2016)

Bratayuda Jayabinangun: Filosofi Perang Penundukkan Hawa Nafsu

Bagaimana mungkin pementasan wayang kulit yang dilaksanakan semalam suntuk, dapat membuat penontonnya tetap melek dan tidak bosan?

Pementasan wayang kulit yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh PBB ini lambat laun mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Banyak yang tidak tahu, bahwa pementasan wayang kulit bukanlah sekadar haha hihi belaka, namun pementasan wayang kulit banyak mengandung filosofi mendalam mengenai nilai-nilai kehidupan dan agama. Wayang, yang dulunya dijadikan salah satu media dakwah oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa, memiliki banyak corak. Namun yang paling terkenal adalah wayang kulit.

Ada dua alasan mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Scara normatif, Sunan Kalijaga telah mengajarkan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang untuk memeluk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkolerasi dengan nilai Islam. Sehingga tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Secara kreatif, para tokoh wayang diganti nama dengan rukun Islam yang ada lima jumlahnya. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) bernama Jamus Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Dimana shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa. Dimana puasa identik dengan proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat serta duniawi. Kemudian Nakula dan Sadewa merupakan simbolisasi dari zakat dan haji.

Perang Bratayuda Jayabinangun memiliki makna yang mendalam mengenai pedoman hidup, dan bagi sebagian orang yang diberkahi kapabilitas untuk dapat menerima dan memahami akan hal ini, perang ini kerap dijadikan sebagai ideologi terbuka. S.Haryanto, dalam bukunya yang berjudul “Bayang-Bayang Adiluhung” (1995), memaparkan bahwa makna Perang Bratayuda adalah perang batin melawan keruwetan hidup (brata= ruwet, yuda= perang) dimana yang dimaksud lebih jauh bahwa banyak orang dalam menghayati dan menghadapi kenyataan hidup yang serba ruwet, mengakibatkan frustasi dan putus asa karenanya. Hal itu berbeda dengan cara orang beriman, yakni senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, dimana itulah satu-satunya jalan untuk menyelematkan diri dari situasi yang ruwet dalam kehidupan.

Perang Bratayuda Jayabinangun antara Pandhawa dan Kurawa, jika dilihat dari konteks spiritual, mengisyaratkan simbolisasi ‘perang’ melawan hawa nafsu dirinya sendiri. Nafsu ammarah (nafsu yang mengajak keburukan atau angkara murka) harus dikalahkan serta tidak diberi tempat untuk berekspresi. Begitu pula dengan nafsu lawwamah (nafsu yang menyesal dan mencela) dan nafsu supiyah atau mulhimah (bisikan-bisikan hati) serta nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang) harus dikendalikan atau ditempatkan secara proporsional.

Dalam perang ini, diceritakan pengendalinya adalah Sri Bathara Kresna, yang tugasnya memang memelihara perdamaian dan kelestarian alam, memayu hayuning bawana atau rahmatan lil ‘alamin.

Menurut Imam Al-Ghazali, musuh utama yang paling sulit untuk ditundukkan manusia adalah hawa nafsu. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa An-Nafs (nafsu) mempunyai dua arti; 1) arti yang mencakup kekuatan amarah, syahwat dan sifat-sifat tercela. Sebagaimana yang dimaksud dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Musuhmu yang paling jahat ialah nafsu yang berada di rongga badanmu.” Dimana kita harus memerangi nafsu dan menundukkanya; 2) bisikan Rabbani yang merupakan salah satu makna roh, hati dan jiwa pula.

Nafsu, yang identik dengan kebiasaan selalu meminta lebih, harus dikendalikan secara profesional agar mendapatkan bagian proporsional. Maka dari itu, para ahli sufi memberikan tips agar manusia dapat menundukkan hawa nafsunya, yaitu dengan 4 cara: diam (tidak banyak bicara), berada di tempat yang sunyi, bangun malam (mengurangi tidur) dan dalam keadaan lapar.

Secara singkat, dalam perang ini diceritakan bahwa Pandhawa yang dikenal sebagai sosok protagonis harus berhadapan dengan sang guru, Begawan Durna. Begitu pula dengan sosok Resi Bhisma, yang merupakan simbolisasi dari rasa takut dan kekhawatiran dalam diri manusia dan Prabu Salya, yang melambangkan ingsun/ego yang berada dalam jiwa manusia. Serta harus melawan saudara sendiri, Adhipati Karna, yaitu putera Dewi Kunthi Talibranta dengan Bathara Surya, yang melambangkan angkara/kejahatan, dimana apabila bisa mengalahkan Adhipati Karna, berarti sanggup mengendalikan angkaranya dan para Kurawa yang dikenal sebagai sosok antagonis. ‘Saudara sendiri’ yang dimaksud adalah hawa nafsu, yang senantiasa hidup dalam diri kita. Begitulah kiasan seseorang yang sedang berjuang di jalan Tuhan: hatinya harus tertuju dan terniatkan pada satu hal, yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun, tidak boleh tergoda oleh suatu hal apapun.

Seseorang yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsu  pada hakikatnya telah berhasil memenangkan perang yang agung. Hal ini bukan berarti ketika memerangi hawa nafsu, seseorang akan berdiam diri dan tidak melakukan suatu hal apapun. Tetapi justru menyumbangkan segala pikiran, tenaga dan kontribusi maksimal kepada masyarakat dan kehidupan sosial, itulah yang dapat dikatakan sebagai agen dakwah, yang siap berkorban dengan segala yang dimilikinya.

Dalam buku berjudul Dhalang, Wayang dan Gamelan karya Wawan Susetya, dikatakan bahwa makna dari Bratayuda adalah senang berperang melawan hawa nafsu, sedangkan Jayabinangun adalah membangun kejayaan atau kelanggengan manusia di alam kelanggengan (akhirat).

Wayang merupakan karya seni para pendahulu, dan oleh para pendakwah Islam dijadikan sebagai instrumen atau media dakwah. Karena dalam berdakwah, Allah SWT menyerukan dengan cara, metode dan pendekatan yang bijaksana, nasihat yang baik dan diskusi dengan cara yang lebih baik. Sesuai yang termaktub dalam Surat An-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah meeka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Islam itu melindungi dan mengayomi. Islam mengajarkan harmoni dan keindahan. Mari kita tingkatkan ibadah ritual-vertikal kepada Allah, dan tuangkan dalam wujud nyata dalam ibadah sosial-horizontal kepada sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya mulia. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik atau shaleh amal perbuatannya. Semoga Allah meringankan dan menolong kita untuk beramal shaleh, guna masa depan kita. Allah al-musta’an, Allah tempat memohon pertolongan. Allah a’lam bi al-shawab.

 

Ditulis oleh: Nova Alfie Annisa (2015)

Dakwah Mahasiswa: Bertahan Tapi Tidak Eksklusif, Terbuka Tapi Tidak Larut

Processed with VSCOcam with hb2 preset

Gambar oleh: Nova Alfie Annisa

 

Lemparan batu itu tak membuatnya tertatih, melainkan tetap tegak berdiri. Darah mengalir di kening kepalanya, namun Ia tak apa. Selebihnya memar merah bercampur bau kotoran ternak menyelimuti tubuhnya. Suasana panas siang menambah kepedihan. Kering, haus, dan dahaga tak menyurutkan semangatnya untuk menyusuri jalan. Jalanan Thaif yang menyimpan murka. Sampai-sampai malaikat menawarkan jasa kepadanya, “Izinkan Ku tenggelamkan dataran mereka!”, “Jangan!”, jawab Ia. “Yakinlah, anak cucu mereka kelak akan perjuangkan agama Tuhan Yang Maha Esa”.

Ialah Muhammad, yang pekan berikutnya menjenguk pemuda jalanan Thaif yang sedang sakit tergeletak di tempat tidur rumahnya. Begitu besar jiwanya. Pemuda Thaif tampak kaget. Lantas yang pertama kali menjenguk adalah Ia yang selama ini dilemparinya batu dan kotoran. Tersentuh hatinya, dan dua kalimat syahadat tak terelakan lagi. Itulah sekelumit kisah kasih dakwah dari sebuah lembah. Berawal dari hinaan hingga kemenangan sosial berucap dua kalimat syahadat saat empat belas abad yang lalu terjadi. Dan itu terjadi lagi kini, di dunia mahasiswa.

Mahasiswa sebagaimana kelompok pemuda lainnya, memiliki dunianya sendiri. Ada di sana berbagai elemen dan diversifitas (keanekaragaman) nya masing-masing. Diantaranya pecinta alam, kelompok studi, klub keilmuan, aktifis organisasi pergerakan, unit kegiatan mahasiswa, minat dan hobi, forum komunikasi dan lain-lain, serta untuk dunia dakwah adalah para aktivis dakwah kampus (ADK) yang memilki ciri khas diasporanya. Untuk jenis terakhir, yang umum didapati adalah adanya lembaga dakwah kampus (LDK) dan lembaga dakwah fakultas (LDF) di tiap universitas, institut atau pun sekolah tinggi.

Sangat menarik apabila kita berbicara soal dakwah mahasiswa ini. Terlebih jika dikaji perpaduan kata antara “Dakwah” dan “Mahasiswa”. Sebagai seorang muslim, kita cukup memandang apa yang das sein Islam memandang. Dalam Islam tidak ada pola pikir dikotomis –yang berasal dari pengalaman keilmuan barat itu- dalam memandang kehidupan. Semua konteks perlu dipandang dengan Islamic Worldview (cara pandang Islam).

Secara sederhana Islam memandang hidup atau dunia ini adalah komprehensif, menyeluruh dan universal. Oleh karenanya, apabila mandat dakwah itu diperuntukan manusia, maka mandat tersebut juga berlaku bagi mahasiswa (pemuda) sebagai unsur manusia. Mahasiswa sebagai unsur masyarakat Islam perlu mengampu soal Dakwah ini. Tidak ada pembedaan dan pemotongan makna antara keduanya. Atau dengan kata lain, ada dikotomi antara makna manusia dan pemuda. Dalam Islam hal ini tidak berlaku.

Di mana pun, kapan pun yang jelas dakwah itu seyogyanya dilaksanakan oleh setiap entitas Muslim, termasuk bagi mahasiswa muslim. Seperti kalimat “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang (umat) yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”, dalam Quran surat Ali Imran ayat 104 telah menunjukkan pembenaran atas mandat tersebut. Namun cara dan strategi di masing-masing individu atau organ dakwah itu boleh berbeda.

Dalam hal ini indikator keberhasilan dakwah adalah apakah dakwah (ajakan) tersebut telah/bisa sampai kepada objek dakwah itu sendiri atau tidak. Dan yang menjadi problema bagi segenap aktifis dakwah kini adalah soal penerimaan. Diterima atau tidak dakwah yang dimaksud itu oleh masyarakat, khalayak atau dunia mahasiswa itu sendiri.

Fenomanya adalah sering kita dapati seorang aktifis dakwah dari kalangan mahasiswa ketika bergaul (menyampaikan dakwah) dalam struktur sosial mahasiswa, tidak diterima, bahkan ditolak sama sekali. Kenapa bisa terjadi demikian. Konon katanya, cara berpakaian dan tutur kata atau model penyampaiannya lah yang menjadi masalah. Atau jangan-jangan dakwah itu sendiri yang tidak sempat disampaikan oleh para aktifis, atau degan kalimat lain, “Dakwah mahasiswa suka tidak menyentuh ranah-ranah yang jauh (berbeda) dari tata cara berpakaian dan tutur kata mereka”.

Dalam hal ini Syeikh Yusuf Qordhowi cukup mengingatkan aktifis dakwah kampus dalam bukunya Prioritas Gerakan Islam dengan sebuah formula sederhana tapi mujarab yaitu; bertahan tapi tidak ekslusif, terbuka tapi tidak larut.

Acap kali kita dapati aktifis yang tidak mau bersentuhan dengan forum-forum non-dakwah. Alasannya “Takut nanti kalo jadi seperti mereka”, tidak memperbaikki malah ngikut katut buruknya. Takut nanti ditolak, takut diusilin, takut kalo diapa-apain, dan beribu takut lainnya. Justru hal ini yang perlu dihilangkan bukan. Sebagai aktifis dakwah itu hendak berdakwah atau didakwahi?, atau sekedar label “aktifis dakwah” saja tanpa ada hasil dari proses dakwah tersebut mengingat arti dakwah secara terminologi adalah mengajak.

Atau karena faktor lingkungan yang cenderung ekslusif (tertutup) sehingga tidak mau membaur dengan organ lain yang menjadi objek dakwahnya. Barangkali yang menjadi dalih adalah soal ketahanan. Baik.

Apabila yang menjadi kendala adalah soal ketahanan, maka yang menjadi solusi adalah bertahan, tapi bertahan di sini tidak menandakan ekslusifisme. Dan solusinya juga keterterbukaan kita, tapi tidak larut, terbuka dalam berbagai hal yang sifatnya muamalah kepada sesama manusia.

Hablun min an Nas (hubungan kepada manusia) termasuk bergaul dan membaur. Sebagaimana Rasulullah Muhammad dalam berdakwah, Beliau tidak serta merta ekslusif (tertutup) dalam seluruh hal, atau terbuka secara mutlak juga tidak baik. Mari kita teladani bagaimana Rasul berdakwah, dan dihina, kemudian menjenguk orang Thaif itu. Cukup mengajarkan umatnya arti bertahan tapi tidak ekslusif, dan terbuka tapi tidak larut.

 

Ditulis oleh: Habib Haidar Perdana Effendi (2015)

Aksioma Literasi Payung Peradaban

Di payung pradaban nan sentosa penuh diskusi dan pertukaran gagasan praksis kehukuman. Oleh segenap mahasiswa Fakultas Hukum yang acap kali berkolaborasi dalam iba dan simpati untuk memperjuangkan amar makruf dan nahi munkar. Dalam dakwah yang –semoga- tiada henti bersemayam dalam dada. Jiwa dakwah bak lanar di tepian pantai mengendap dalam perasaan ukhuwah. Tidak pernah usang dan tak akan pernah hilang. Lebih dari wadah. Lebih dari sekedar lembaga. Tanpa disangka disana terdapat keluarga.
Keluarga Muslim Fakultas Hukum, sebuah wadah kekeluargaan progresif lingkup fakultas yang akan selalu tenteram dijumpai. Perasaan damai penuh hormat antar sesama bersemi. Merumung pelosok kampus yang tak jarang ramai. Entitas awal dari sebuah pergerakan da’awy.
Pentingnya sebuah gerakan dakwah tak perlu ditanyakan lagi. Sepak terjang manfaat dan barakah sudah mudah dijumpai mengingat semakin banyak orang akan mengetahui Islam lewat gerakan dakwah. Namun, ada yang dua aspek penting disini, yaitu pengorganisasian dan budaya literasi.
Seorang Imam Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan dengan mudah dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir”. Mudah saja kita mengambil sebuah pelajaran; untuk melakukan kebaikan, kita seyogyanya melakukannya dengan rapi (terorganisir), apabila tidak, maka kebaikan yang kita lakukan akan dikalahkan oleh keburukan, meski keburukan itu tidak dalam keadaan rapi. Di sini berlaku aturan, keburukan dan kebaikan akan selalu ada. Karena keduanya mengisi ruang dan waktu. Sederhananya, kita tidak akan bisa mengharapkan sirnanya keburukan dengan kebaikan yang kita lakukan.
Lebih jauh, kita memandang fenomena kebobrokan umat sebagai tantangan aktifis dakwah. Ketika adab pergaulan antara ikhwan-akhwat sudah tidak dipedulikan lagi -melainkan sedikit saja-, ketika panji kepemimpinan muda Islami sudah tak dapat bersaing di pentas perpolitikan kampus lagi -melainkan sedikit saja-, dan ketika keilmuan asasi Hukum Islam sudah tak banyak diminati lagi -melainkan sedikit saja-, dan juga standar lumbung kreatifitas cocok tanam penerus estafet dakwah yang kian menipis. Apakah kita akan diam saja? Sepertinya tidak bisa. Oleh karenanya, memulai pengorganisasian kebaikan dalam dakwah menjadi amat sangat penting untuk dikerjakan.
Peluang menarik kita dapatkan dari payung peradaban. Sebuah tempat nongkrong santai di timur mushola. Di sini kita dapat membangun –jika tidak dibilang berlebihan- sebuah peradaban yang madani di kampus fakultas hukum UGM. Sesuai dengan namanya, Payung Peradaban.
Beberapa abad silam, umat muslim menyibukkan dirinya dalam pergumulan ilmu. Tujuannya tak lain adalah untuk membangun peradaban Islami. Bidang keilmuan lah yang menjadi pondasi utama umat Islam terdahulu dalam membangun peradaban. Sehingga tercetaklah generasi yang memahami konsep ilmu dalam Islam, tidak sekedar mengetahui akan tetapi juga mengilmui. Keilmuan Islam itu juga pasti berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Salah satu contoh yang menjadi bukti kegemilangan keimuan zaman itu adalah dipakainya Al Qonun Fi At tibbi (buku kedokteran) karya Ibnu Sina di eropa, penemuan bilangan ‘nol’ oleh Al Khawarizmi, ditemukannya konsep pesawat terbang oleh Ibnu Firnas, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, kita dapat membangun sebuah peradaban dengan cara yang sederhana, memulainya dari diri sendiri dan kampus, yaitu melanjutkan budaya keilmuan yang selama ini hilang dari dunia Islam, melaikan sedikit saja. Dan di era sekarang kita dapat menyebut budaya keilmuan itu dengan budaya literasi di dunia pendidikan yang juga hilang darirealitasnya. Membaca, menulis, dan yang terpenting berdiskusi dengan sesama anggota. Tanpa rasa canggung, tanpa ketawa ketiwi. Namun, keceriaan dari sebuah diskusi pun bakal kita dapatkan. Pastinya, misi yang demikian itu semua kita lakukan di payung peradaban tempat nongkrong itu.

 

Oleh: Habib Haidar Pradana Effendi, Departemen Syiar dan Takmir, FH UGM 2015

Muslimah Membangun Peradaban

Assalamualaykum Wr.Wb
(notulensi kantinjus)
02 September 2016

🌺Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah🌺

Hai para sholihaatt.. Ada release notulensi kantinjus yang pertama nih setelah setengah kepwngurusan berjalan.. Yuk yg mau jadi muslimah pembangun peradaban simak yaa notulensinyaa. Heehee

Tema: Muslimah Mrmbangun Peradaban

Tentunya kita sebagai wanita nantinya akan mnjadi seorang ibu bagi anak-anak kita, peradaban masa depan terletak pada bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Tangan kitalah yg nantinya akan memiliki pengaruh besar terhadap peradaban islam kedepan karena sejatinya kita adalah calon ibu, dan ibu adalah tempat atau madrasah pertama agi anak-anak kita karena Al umahat madrasatun uula.
Ibu adalah sekolah bagi anak2ny
Seorang ibu harus mempunyai bekal akhlaq, perilaku, fiqh, dan juga adab. Bgaimana perilaku anak kita dibentuk, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh perilaku atau bagaimana seorang ibu mendidik anak. Bukan kewajiban sekolah formal, pendidikan itu diberikan. Namun, pendidikan tersebut merupakan sebuah kewajiban bagi seorang ibu.
Wanita haruslah mempunyai filter agar tidak tergoyahkan, filter tersebut berupa mengaji dan belajar
Seperti dalam kisah Rabi’ah adawiyah yaitu seorang janda yang dilamar oleh Syech Hasan Al Basri. Rabi’ah mengatakan bahwa Ia sedang memikirkan tentang bagaimana Ia akan meninggal nantinya, Khusnul khatimah atau su’ul khotimah. Tidak ada pemikiran untuk menikah lagi.
Manusia diciptakan untuk beribadah.
Hilangkan persepsi bahwa menikah adalah sumber kenikmatan. Jangan menikah karena nafsu. Tapi jadikan pernikahan sebagai sarana beribadah kepada Allah. Menikah itu tentang kita menentukan sebuah pilihan. Jadi, sebelum kita menikah, maka jadilah pribadi yg berkualitas, karena wanita adalah pembangun peradaban, dan seorang ibu nantinya. Semoga bermanfaat kedepannya.

*simak edisi kantinjus berikutnya ya.. Edisi berikutnya adalah tentang fiqih wanita.

Wassalamualaykum Wr.Wb

*Departemen keputrian KMFH
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾