Celoteh Bang Agam: “Katanya Toleransi”

Di sebuah malam, malam yang sangat ditunggu oleh pecinta sepak bola Indonesia. Saat itu adalah final melawan negara tetangga.

Kevin seorang mahasiswa tingkat dua mendesah. Menelan kekecawaannya yang tadinya berharap sang garuda muda memenangkan final namun berakhir dengan title runner-up.

“Jangan kecewa begitulah kau,” ucap Bang Agam dengan logat medannya.

“Bagaimana ga kecewa bang. Gua udah berkepala dua, tapi Indonesia selalu mentok di final,”

“Ah, macam tidak tahu saja lah kau. Selain itu, daripada memikirkan bola, lebih baik kau lihat kondisi kita sekarang.”

“Lu benar bang, keuangan gua kurang baik akhir-akhir ini,” ucap Kevin semakin depresi.

Mendengarnya curhatan keuangan Kevin, lelaki yang dipanggil Bang Agam mengusap-usap kepalanya karena Kevin tidak tahu maksud dari ucapannya.

Dia kemudian menyeruput kopi hangat favoritnya.

Agam mendesah. Menikmati panasnya kopi merasuki seluruh tubuhnya. Agam kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Kau tahu apa yang sedang hangat-hangatnya sekarang?” Tanya Agam kepada pemuda yang sibuk mengusap layar smartphone-nya.

“Apa bang?” Kevin bertanya balik.

Agam mengusap kepalanya lagi. Melepas napasnya bersamaan dengan kumpulan emosi yang bisa saja meledak karena tingkah junior-nya tersebut.

“Kau lihat saja itu yang lagi hangat-hangatnya,”

“Indonesia yang barusan kalah ‘kan bang?” Sahut Kevin

“Bisa gila aku,” Balas Agam.

Salah seorang piket poskamling, Pak Reza, duduk dan memesan sebuah kopi hangat.

“Maksud dari Nak Agam itu tentang Rohingya bukan?” Ucap Pak Reza yang nimbrung percakapan antara Agam dan Kevin.

Agam menjetikkan jarinya. “Nah itu pak, itu yang aku maksud. Tapi anak ini tidak nyambung sama sekali,”

Kevin cengegesan. “Harusnya lu ngomong to the point-lah bang, biar ga ambigu,”

“Halah, banyak alasan kau,” Bantah Agam. “Berita tentang ini sudah hangat dan menjalar kemana-mana,”

Agam kemudian menyeruput kopinya sekali lagi. Menikmati hangat yang menjalar. Dia kemudian berdehem mulai menjelaskan.

“Kasus Rohingya telah terjadi semenjak tahun 90an. Bahkan hingga sekarang masih terus berlanjut,”

“Seriusan nak Agam?” Mata Pak Kevin sedikit membesar mendengar pernyataan dari Agam. Televisi yang sedang menyiarkan berita tengah malam sudah tidak mereka perhatikan lagi.

Agam menyeruput kopinya sekali lagi. Lalu kemudian melanjutkan.

“Kalau ditarik lebih jauh maka konflik bermulai sejak tahun 1940an ketika Jepang datang menginvasi Myanmar. Inggris yang sebelumnya menjajah lalu menyerah. Setelah Nasionalis Burma yang sekarang disebut Myanmar menyerang komunitas muslim yang mendapatkan keuntungan dari Inggris. Tensi antara pemerintah Myanmar dan Muslim Rohingya semakin meningkat setiap mereka berselisih. Puncaknya ketika baru-baru ini, kabarnya karena Pasukan Rohingya membunuh 9 orang yang berjaga diperbatasan. Alhasil mereka langsung dicap sebagai teroris oleh pemerintahan. Sedangkan yang dilakukan oleh pihak pemerintah dan oknum pendeta buddhanya jauh lebih mengerikan terhadap muslim Rohingya.

“Namun tidak serta merta kita mencap bahwa seluruh buddhis itu berkelakuan sama, karena ibarat muslim yang tidak mengakui ISIS. Hanya saja, toleransi di sana jauh berbeda dengan yang terjKevin di Indonesia. Jika tidak sudah mati aku sebelum jadi mualaf.”

Agam tertawa, walaupun dalam bayanganya ia bergidik jika hal itu benar-benar terjadi di Indonesia. Cepat-cepat dia menghabiskan kopinya yang mulai mendingin.

“Lalu apa hubungannya dengan kita bang?”

Agam tak sengaja menempeleng Kevin. “Maaf reflek, salah kau karena daritadi bikin aku kesal” Agam kemudian mencodongkan kepalanya. “Balas lah,”

Agam kemudian kembali meluruskan kepalanya karena tidak ada respon dari Kevin.

“Terserah kau kalau tidak ingin membalas. Sampai dimana tadi… ”

Agam hening sejenak. Agam kemudian berdehem untuk melanjutkan penjelasannya.

“Untuk bersimpati terhadap muslim Rohingya, kau tidak perlu jadi seorang muslim!” Tegas Agam. “Kau manusia tidak?” Agam menatap tajam Kevin

“T- Tentu saja bang,” Kevin berusaha menjauh.

“Lagipula, sudah dijelaskan di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, kau ingat tidak?”

Kevin hanya berusaha mengelak dari tatapan Agam.

“Dalam kasus Indonesia sempat katanya terjadi krisis toleransi,” Agam menggeleng-gelengkan kepala.

“Waktu Pilkada DKI itu ya nak Agam,” Ucap Pak Reza yang sedari tadi menyimak penjelasan Agam.

Agam menangguk dan menjetikkan jarinya.

“Mereka yang nyinyir soal toleransi sekarang bahkan diam melihat tragedi Rohingya. Tidak hanya itu, bagaimana dengan nasib orang-orang di Syiria dan Palestina?” Agam mengangkat bahunya.

“Mayoritas dari mereka yang nyinyir tersebut bahkan tidak peduli. Sudah ku bilang, tidak perlu menjadi muslim untuk bersimpati. Renungkan saja apakah masih ada rasa kemanusiaan di dalam diri kita? Mereka yang nyinyir aka toleransi hanya memanfaatkan kata itu untuk menyudutkan saja.

“Toleransi katanya …” Agam geleng-geleng kepala. “Jika mereka dibawa ke Rakhine atau tempat-tempat lain mungkin akan langsung ‘balik kanan’ ketika melihat situasi di sana,”

Pak Reza mengangguk menyetujui.

“Jika Indonesia krisis toleransi, maka seharusnya situasi kita tak jauh berbeda dari negara tetangga itu. Kelompok bar-bar katanya,” Lanjut Agam.

“Katanya toleransi, aksi solidaritas saja diperiksa polisi.” Gerutu Agam. “Simpati dikaitkan dengan upaya menjatuhkan pemerintahan,”

Pak Reza ikut geleng-geleng kepala.

Agam menutup mulutnya yang menguap lebar.

Pak Reza tertawa. “Sudah minum kopi masih ngantuk?”

“Kalau sudah ngantuk, minum 100 cangkir kopi pun tidak akan sunggup pak.” Agam ikut tertawa.

“Kau renungkan saja Kevin,” Agam menepuk pundak Kevin. “Makanya kau, kalau ada diskusi di kampus ikutan, jangan menatap layar datar itu saja,”

“Mari Pak,” Pamit Agam pada Pak Reza.

“Eh mas, bayar dulu,” teriak si pemilik warung.

Sontak Agam langsung menghentikan langkahnya. “Itu si Kevin yang bayar,”

Dalam sekejap Agam langsung berlari meninggalkan warung tersebut.

“Yah, yah. Bang, Makasih!” Teriak Kevin. Dia kemudian mengumpat-umpat sambil terpaksa mengeluarkan uang ekstra dompetnya.

Pak Reza yang melihat kelakuan Agam geleng-geleng kepala sambil tertawa.

 

Ditulis oleh:

Fadhil Mu’alim (2016)

Cak Nun dan Relevansi Dakwah Kontemporer

Pulau Jawa, menjadi pulau yang sangat eksotis ketika kita berbicara tentang bagaimana pergolakan pemikiran dan perumusan cara penyampaian agama yang relevan bagi masyarakatnya. Pulau jawa punya sejarah panjang dan kenangan masa lalu yang romantis dengan banyak agama. Hindu menjadi “mantan pertama” Pulau Jawa, awalnya dimulai dengan kerajaan Kutai Kartanegara seperti yang dikatakan buku sejarah SD. Kemudian berkembang pesat di Jawa lewat sistem multi-monarki. Setelah Hindu, Budha kemudian mendekati Jawa dan juga berkembang pesat dengan sistem dan cara yang tak beda jauh dengan Hindu. Kedua agama ini mengakar kuat di masyarakat Jawa yang kemudian mempengaruhi budayanya. Pengaruh besar kedua agama ini pun seakan-akan menciptakan budaya baru masyarakat jawa yang bahkan bertahan sampai sekarang.

Setelah periode Hindu-Budha, Islam datang dengan ajaran yang mendamaikan dan membebaskan hati serta pikiran, jasmani dan rohani. Banyak teori yang menjelaskan bagaimana datangnya Islam ke Pulau Jawa. Ada yang mengatakan dari pedagang Gujarat India, ada juga yang mengatakan dari komunitas syiah Hadramaut Yaman, ada juga yang mengatakan dari jazirah Arabnya langsung, serta banyak teori lagi yang kemudian di politisasi demi sebuah identitas. Namun terlepas dari itu semua, Islam akan sangat sulit membuat kisah romantis dengan Jawa. Ini dikarenakan Islam bukan dari kerajaan dan budaya Islam akan sangat berbeda bila dibandingkan dengan budaya Hindu-Budha yang meresapi hingga kedalam sukma rakyat Jawa. Melihat realita tadi, muncul kelompok yang berdakwah secara kontinu yang biasa kita kenal sebagai Wali Songo atau Sembilan Wali. Wali-wali ini yang kemudian memperkenalkan Islam ke Jawa dan sukses dalam hal kuantitas juga mungkin kualitas. Namun bagaimana kemudian kesuksesan sembilan wali ini terwujud ? sementara realita sosial berkata hampir mustahil meng-Islam-kan Jawa.

Wali Songo merupakan simbol penyebaran Islam di Indonesia khususnya di Jawa. Merekalah yang kemudian berperan menyebarkan Islam secara masif dan bekesinambungan. Mereka pula yang berperan besar mengkulturkan Islam di tanah Jawa dan melahirkan banyak kerajaan Islam yang berpengaruh di Nusantara. Ada satu cerita dari wali songo yang menggambarkan bagaimana cara memperkenalkan Islam ke tanah Jawa. Dari Sunan Gresik, beliau melihat banyak rakyat yang tersisih dari Majapahit dan kemudian menjadi golongan mustadh’afin. Disini beliau dengan cepat melihat peluang bagaimana caranya menarik hati dari golongan tersisih ini, diajarilah mereka cara bertani dan merangkul mereka akibat krisis ekonomi dan perang saudara akibat runtuhnya Majapahit. Kemudian dari Sunan Bonang yang memperkenalkan Islam lewat kesenian. Ini menarik, Sunan Bonang sudah Mampu berpikiran jauh dengan gagasan relevansi Islam atau kontekstualisasi ajaran Islamnya. Ditengah kentalnya budaya Hindu-Budha di Jawa berikut dengan keseniannya, Sunan Bonang masuk dengan seninya yang disesuaikan dengan Islam dan budaya Jawa. Budaya yang disakralkan dalam masyarakat Jawa, ketika Islam masuk, perlahan di de-sakrali-sasi lewat cara-cara para wali termasuk dengan cara Sunan Bonang. Drs. Tafsir M.Ag dalam buku Muhammadiyah & Wahabisme : Mengurai Tititk Temu dan Seteru, mengatakan bahwa dakwah model ini sama dengan gerakan pembaharuan Muhammadiyah, dalam konteks budaya lokal dengan lebih empatik dalam mengapresiasi budaya masyarakat yang akan menjadi sasaran dakwah, sembari tetap mengaktualisasikan Islam secara kaffah dengan proses Islamisasi budaya yang perlahan.

Cak Nun dan Dakwah Kontemporernya

Cak Nun, merupakan seorang budayawan, sastrawan, serta ulama yang sekarang ini cukup digandrungi masyarakat, khususnya daerah Jawa bagian tengah dan timur. Dengan gayanya yang eksentrik serta berambut panjang layaknya pujangga, ia lalu lalang berdakwah melintasi Jawa khususnya bagian tengah dan timur. Majelisnya pun senantiasa didatangi banyak orang, setiap majelisnya selalu ramai oleh setiap kalangan. Hampir semua kalangan, baik tua muda, pria wanita, kelas menengah atas-bawah, yang berpenampilan borjuis hingga yang bergaya gondes dan mendes (sebutan Bahasa Jawa untuk remaja alay). Bahkan anda bebas menghisap dan mengepulkan asap rokok anda, walau agak sedikit menjauhi keramaian.

Menarik untuk menganalisis metode Cak Nun yang bisa menggandeng semua kalangan untuk menikmati ceramah-ceramahnya. Metodenya kurang lebih sama dengan walisongo saat menggandeng masyarakat Jawa Hindu-Budha, yakni dengan pendekatan kultural. Bedanya hanya penyesuaian dengan zaman semata. Kenapa beda, ini yang unik, bila dahulu walisongo seperti Sunan Bonang meng-Islam-kan dan men-deskralisasi seni musik gamelan yang biasanya dikeramatkan, Cak Nun me-modernisasi alat musiknya dengan menambahkan gitar, drum, bahkan keyboard. Lagu yang dimainkan pun unik bahkan sampai membuat kita mengernyitkan dahi, bagaimana tidak, dalam satu majelis Cak Nun dan grup musiknya Kyai Kanjeng malah memainkan lagu Maroon 5 seperti One More Night dan Payphone. Ini mungkin yang kemudian menarik banyak massa datang sekedar ikut sinau bareng Cak Nun. Bahkan sampai ada yang membawa bendera OI atau Slankers.

Kebanyakan hadirin majelis Cak Nun berasal dari kalangan masyarakat pinggiran. Banyak pula yang berpendidikan namun tidak sampai mengenyam bangku perguruan tinggi. Dan mayoritasnya pun dari kalangan menengah. Namun bila kita perhatikan lagi ceramah Cak Nun yang sangat sufistik, banyak substansi-substansi yang berat, bahkan bagi mahasiswa sekalipun. Ceramah Cak Nun juga sangat filosofis dan penggunaan diksi yang relatif tinggi, hanya biasa digunakan di lingkungan akademik. Di tiap majelis, tujuannya selalu berbunyi “melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metode perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.”

Lalu, apa yang ditangkap oleh mayoritas audiens majelis ? apakah audiens sudah paham benar tentang dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai ? sementara hal-hal yang simbolik ke-Cak Nun-an masih sangat digandrungi. Apa pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat sudah selesai ?. Dapatkah audiens menangkap tujuan Cak Nun tadi ? sangat disayangkan bila audiens menghadiri majelis Cak Nun hanya karena mencari hiburan lewat lagu-lagu yang dimainkan ataupun Ludruk Jawa yang khas dengan lawakannya atau bahkan hanya sekekdar guyonan khas Cak Nun. Padahal substansi ceramah intelek Cak Nun sangat luas dan mendalam. Analisis beliau terhadap ayat-ayat Tuhan merupakan salah satu yang terbaik, dimana beliau membedah kalamullah itu dari sisi esensi dan filosofi.

Sebenarnya tidak salah bila audiens menghadiri majelis Cak Nun hanya tertarik dengan hiburan-hiburan yang disuguhkan atau lebih baik lagi dengan sholawatan yang dilantunkan dengan berbagai cara. Namun disini harus ada proses agar substansi ceramah Cak Nun diterima secara komprehensif dan baiknya lagi di amalkan. Disini sang budayawan punya peran besar untuk sekedar merelevansikan pemikiran dan penyampaiannya kepada khalayak ramai audiensnya dengan latar belakang masing-masing.

Kembali ke zaman walisongo tadi, kita sadari, dakwah para sunan belum selesai, bahkan sempat terhenti akibat datangnya kolonial negeri Eropa. Akhirnya dakwah walisongo hanya sampai tahap mengIslamkan rakyat sahaja, belum dalam tahap menghilangkan budaya yang tak sesuai ajaran Islam. Oleh sebab itu, sering kita dengar cerita-cerita tentang walisongo yang bisa terbang, menghilang, dan lainnya yang sifatnya takhayul dan tak substantif dari ajarannya. Sementara budaya yang diadopsi untuk menyampaikan Islam malah diinterpretasikan lain, yakni diskaralisasi. Inilah yang kemudian dianggap belum selesai.

Cak Nun seringkali dalam ceramahnya membedah Surat Al-Ikhlas yang mengajarkan hal paling fundamental yakni ketauhidan. Dari ajaran ketauhidan ini lah yang kemudian pengupayan solusi-solusi masalah masyarakat dari dimensi Islam bisa terwujud. Ini karena konsep ketauhidan dari kalimat “la ilaha illallah” mengandung gagasan pembebasan. Menurut Nurcholis Madjid dalam buku Islam Doktrin dan Peradaban, kalimat tersebut mengandung penegasian dan pengkonfirmasian atau biasa masyhur dikenal sebagai Al-Nafy wa Al-Itsbat, dimana diawal kita membebaskan diri dari segala bentuk penyembahan terhadap Tuhan kemudian mengkonfirmasi kita tetap menyatakan Allah sebagai Tuhan yang disembah. Bagi Cak Nur, panggilan akrab Nurcholis Madjid, tidaklah cukup hanya mengimani adanya Tuhan yang satu, namun saat bersamaan juga menjadikan sesuatu yang bukan Tuhan itu sendiri yang tidak memiliki sifat ke-ilahi-an sebagai tuhannya yang dalam konteks agama dikatakan sebagai musyrik. Dari sini kita bisa pahami masalah-masalah takhayul dan musyrik tadi bisa diatasi dengan ajaran-ajaran keilahian Cak Nun.

Walisongo dan Cak Nun merupakan agen dakwah yang sangat unik, cerdas dan ciamik. Keduanya patut diberikan apresiasi karena dapat mengkontekstualisasi dan merelevansikan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam suatu komunitas yang didakwahinya. Namun terlepas dari itu semua, Cak Nun sebagai penerus walisongo yang dakwahnya sempat terhenti dan akhirnya terjadi misinterpretasi terhadap ajarannya kemudian punya peran besar dalam meluruskan pandangan masyarakat agar terwujudnya purifikasi ajaran Islam di Jawa. Namun langkah awalnya, butuh dorongan agar para audiens Cak Nun masuk ke tahapan selanjutnya, yakni memahami dan meresapi substansi keilahian a la Cak Nun.

 

Kahfi Adlan Hafiz

Mahasiswa FH UGM, Kader KMFH UGM

Perppu Ormas Anti-Pancasila yang Tidak Pancasilais : Rilis Sikap Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM

Beberapa waktu yang lalu pemerintah menerbitkan Perppu yang mengganti beberapa pasal UU tentang Ormas. Alasannya sederhana, UU Ormas tidak mengakomodir ketentuan larangan organisasi masyarakat yang tidak pancasilais. Di bagian konsideran dikatakan bahwa UU tentang Organisasi Kemasyarakatan mendesak untuk segera dilafnrkan perubahan karena belum mengatur secara komprehensif mengenai ormas yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sehingga terjadi kekosongan hukum dalam hal penerapan sanksi yang efektif. Klausula “sanksi yang efektif” jadi penekanan.

Masih di bagian konsideran, di huruf (d) bahwa terdapat organisasi kemasyarakatan tertentu yang dalam kegiatannya tidak sejalan dengan asas organisasi kemasyarakatan sesuai dengan anggaran dasar organisasi kemasyarakatan yang telah terdaftar dan telah disahkan Pemerintah, dan bahkan secara faktual terbukti ada asas organisasi kemasyarakatan dan kegiatannya yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Serta di huruf (e) bahwa Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan belum menganut asas contrarius actus sehingga tidak efektif untuk menerapkan sanksi terhadap organisasi kemasyarakatan. Terlihat pemerintah menghadapi masalah serius mengenai ormas yang dianggap tidak pancasilais. Pun terlihat pula pemerintah ingin melegitimasi tindakannya dalam menilai ormas layak dibubarkan atau tidak dengan asas contratrius actus.

Sangat mudah sebenarnya dalam melihat apa yang diinginkan pemerintah bila kita lihat beberapa waktu kebelakang. Pemerintah mengumumkan pembubaran salah satu ormas Islam, Hizbut Tahrir cabang Indonesia. pembubaran secara sporadis dan sepihak ini kemudian menjadi persoalan serius. Pemerintah dianggap sebagai penguasa yang otoriter karena tidak mengindahkan peraturan yang ada. Di UU Ormas sebelumnya, di Pasal 68 ayat (2) menyatakan pencabutan status badan hukum ormas hanya bisa dilakukan setelah adanya putusan pengadilan. Pencabutan status badan hukum sebelum legalnya perppu ormas ini akhirnya cacat hukum dan HTI selamat.

Pemerintah mungkin mempunyai motto “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, oleh karena itu, belajarlah dari kegagalan”. Maka dari itu, akibat gagalnya pemerintah membubarkan ormas, diproduksilah Perppu Ormas. Dengan sanksi berat dan kewenangan dalam menilai sendiri kadar ke-pancasila-an ormas, HTI langsung bubar jalan. HTI dinilai pemerintah (lewat kewenangan yang diberikan oleh asas contratius actus) sebagai organisasi masyarakat yang bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 1945 karena mengusung ideologi khilafah kalau kata Jenderal Wiranto, padahal entah kapan ada ideologi khilafah.

Melalui asas contratius actus, pemerintah dalam Perppu Ormas ini menegasikan langsung ketentuan mengenai proses pengadilan dalam pencabutan izin Perppu. alasannya melalui penuturan Jaksa Agung, HM Prasetyo yang juga politisi Nasdem, pemerintah sangat mustahil membubarkan ormas lewat pengadilan, karena kan pengadilan ada tahapan-tahapannya. Sementara keadaan mendesak dan darurat. Ada peraturan UU yang mengatur masalah ormas, tapi peraturan tersebut gak memadai,” katanya.[1]

Tidak Demokratis

Bila melihat pencitraannya di media mainstream, Perppu ini seakan-akan ingin menghadirkan negara dalam perlindungan dari tindakan diskriminasi atas dasar SARA, seolah-olah pula ingin menindak ormas-ormas yang mengganggu ketertiban umum seperti tindakan persekusi dan penistaan terhadap agama, pemerintah pun seolah-olah ingin menciptakan kesan sebagai penyelamat Pancasila dari rong-rongan ormas transnasional. Namun, secara prosedural hukum, Perppu tersebut tidak memenuhi 3 syarat yang ditetapkan oleh Putusan MK dalam putusan No. 38/PUU-VII/2009 yaitu adanya kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah hukum berdasarkan undang-undang, adanya kekosongan hukum karena undang-undang belum memadai, dan kekosongan hukum tidak dapat diatasi dengan prosedur pembuatan undang-undang yang normal[2]. Tidak terpenuhinya ini dikarenakan UU Ormas sebenarnya sudah memadai bahkan lebih komprehensif dibandingkan dengan Perppu Ormas yang terlalu eksekutif-sentris. Bahkan Perppu Ormas hanya merusak UU Ormas dengan menghapus banyak pasal yang sudah sedemikian sistematis pengaturannya.

Perppu Ormas juga mengancam kebebasan berserikat, ini dibuktikan dengan arogansi pemerintah yang memberikan kewenangan kepada dirinya sendiri untuk menilai sendiri suatu ormas, apakah membahayakan Pancasila atau tidak berkat doktrin asas contrario actus. Namun, pakar hukum tata negara, Prof. Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa asas ini sebenarnya hanya digunakan untuk kasus administrasi yang kaitannya dengan pengangkatan, pemberhentian seseorang dalam jabatan kepegawaian. “Status badan hukum itu baru bisa kalau dibawa ke pengadilan. Bahkan, parpol didirikan pakai akta notaris disahkan Menkumham. UUD mengatakan parpol hanya bisa dibubarkan MK. Kalau parpol hanya bisa dibubarkan oleh MK, maka terhadap ormas hanya bisa dibubarkan oleh pengadilan,”[3] ujarnya lagi saat hendak  judicial review Perppu ini ke MK.

Menurut kajian dari Pusat Studi HTN UI demikian, penerapan asas ini menunjukkan pemerintah belum paham perbedaan antara izin dan pengesahan. Dalam penerbitan izin memang penerbit izin dapat langsung membatalkan izin tersebut dengan syarat tertentu. Berbeda dengan pengesahan, instansi yang mengesahkan tidak dapat serta merta mencabutnya kembali, apalagi dengan tafsir subjektif dan politis. Bila tafsir salah kaprah ini masih berlaku, maka bukan tidak mungkin partai politik yang juga disahkan Menkumham juga akan secara sewenang-wenang dibubarkan tanpa melewati MK.[4]

Perppu Ormas kini juga dianggap sebagai “senjata pemusnah masal” terhadap hak politik warga yang tidak hanya berimplikasi pada pembubaran ormas, namun juga sangat mungkin terjadi adanya kriminalisasi anggota dari ormas tersebut. Ini diakibatkan ada pasal baru yakni Pasal 82A. Di ayat (2) dikatakan bahwa “Setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (3) huruf a dan huruf b, dan ayat (4) dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Ada yang kejanggalan di pasal ini. Pertama, adanya kesalahan pemahaman dalam hal pemidanaan, ini dikarenakan klausula “setiap anggota dan/atau pengurus Ormas yang sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan……” menghukum orang yang bisa saja tidak melakukan pelanggaran, bukan hanya menghukum ormasnya saja (lihat penjelasan Pasal 82A. Padahal pemidanaan hanya pemberian nestapa bagi pelanggarnya semata. Jangan sampai dengan pasal ini, banyak kriminalisasi kepada kritikus terjadi

Pembatalan Perppu

Peraturan pemerintah pengganti undang-undang dalam hierarki peraturan perundang-undangan menurut UU No. 12 Tahun 2011, setingkat dengan undang-undang. Perppu merupakan privilege yang didapat oleh pemerintah untuk mengganti undang-undang dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, yang memang lumrah di negara bersistem presidensial. Kewenangan ini sifatnya politis dan subjektif asalkan memenuhi rumusan “hal ihwal kegentingan memaksa”. Sangkin subjektifnya, rumusan tadi juga atas penafsiran subjektif dari presiden seorang. Memang, MK sebagai the interpreter of constitution telah menafsirkan klausula yang diamanatkan oleh konstitusi tadi naun juga belum terlalu konkrit. Rasio pemerintah kemudian menerbitkan Perppu ini ada di bagian konsideran yang tadi telah dijabarkan diatas. Namun, Perppu hanya berlaku terbatas karena nantinya dalam waktu dekat akan diuji secara objektif oleh DPR lewat paripurna.

Namun, sebelum itu diuji secara objektif, Perppu Ormas sudah maka korban duluan. Salah satunya adalah HTI, yang sudah bubar jalan lantaran beberapa hari setelah Perppu di terbitkan, pemerintah langsung mencabut status badan hukum HTI yang dalam Perppu otomatis membubarkan ormas yang bersangkutan. HTI kemudian menguji materi Perppu ke MK lewat senjata utamanya, pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra.

Kuasa hukum HTI Yusril Ihza Mahendra mengatakan, seluruh pasal dalam Perppu tersebut akan dilakukan uji materi ke MK. Pihaknya mengajukan permohonan agar MK membatalkan seluruh isi dari Perppu Nomor 2 Tahun 17 lantaran dinilai bertentangan dengan UUD 1945. Ia juga menganggap Perppu ini tak punya kepentingan mendesak sehingga klausula “hal ihwal kegentingan yang memaksa” tidak terpenuhi.[5] Memang seperti yang kita ketahui, MK bewenang menguji Perppu terhadap konstitusi, dan tindakan HTI sangat jantan dengan melakukan cara yang konstitusional.

Adapun cara lain adalah pembatalan Perppu oleh DPR. Di Pasal 52 Undang-undang No. 11 Tahun 2012 ayat (1), dikatakan bahwa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut. Dibagian penjelasan, maksud dari Pasal 52 adalah masa sidang pertama DPR setelah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditetapkan. Bila tidak disetujui, maka Perppu tersebut harus dicabut. Ketika Perppu dicabut, perbuatan hukum yang berlandaskan Perppu tadi juga dinyatakan batal demi hukum. Artinya SK pencabutan status badan hukum HTI yang dibubarkan atas dasar pasal 61 ayat (3) juga tidak mempunyai kekuatan hukum lagi.

Menebak Langkah Politik Pemerintah

Diawal ketika melihat bagian konsideran Perppu Ormas ini, dikatakan telah nyata ada organisasi yang menentang pancasila dan berusaha menggantinya dengan ideologi lain. Karena mungkin terdesak, kemudia pemerintah mengeluarkan Perppu Ormas. Kita bisa langsung menebak, ormas mana yang dimaksud pemerintah, ia sama dengan yang menggugat Perppu ke MK. HTI yang dianggap sebagai pengancam kedaulatan Indonesia, mereka di labeli sedemikian rupa oleh pemerintah dengan label anti-pancasila.

Namun bila kita lihat kiprah HTI di Indonesia, ternyata di banyak praktik berorganisasi dan dalam tataran idealita, HTI organisasi yang pancasilais. Mereka bergerak dengan gaung penolakan terhadap swatanisasi dan kapitalisasi perekonomian Indonesia serta mengharapkan hadirnya pemerintah yang kemudian menjalankan amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. HTI pun acapkali memberikan kritik terhadap pemerintah.

Memang, HTI pun bukan tak punya keliru. Ideologi Negara Islamnya dan penolakan terhadap demokrasi dianggap sebagai penolakan Pancasila dan bentuknya pun sudah gerakan organisasi bukan lagi dalam tataran idealita. Bahkan Majlis Ulama Indonesia (MUI) pun mempertanyakan komitmen kebangsaan dari HTI. Dan bukan maksud untuk menyetujui gerakan HTI, namun kami mempertanyakan penilaian organisasi anti pancasila oleh pemerintah lewat kemenkumham.

Di sisi lain, fenomena Perppu ini juga sangat menyita perhatian. Bagaimana tidak, dimasa Presiden J. Widodo yang baru berusia tiga tahun, sudah enam Perppu diterbitkan. Kita harus ingat lagi apa syarat penerbitan Perppu, yakni ada “hal ihwal kegentingan memaksa”. Berarti dalam tiga tahun terakhir sudah ada enam “kegentingan Memaksa” (tafsiran subjektif-politis Presiden) yang singgah di Indonesia. Apakah artinya negara sudah dalam bahaya ? atau kurangnya harmonisnya hubungan antara legislatif dan eksekutif. Karena Perppu mengesankan bentuk koordinasi yang berjalan kurang baik antara DPR dan pemerintah, sehingga pemerintah mengambil jalan singkat yang tak perlu persetujuan DPR terlebih dahulu.

Oleh karena itu, atas kajian yang kami lakukan dan penuturan-penuturan diatas. KMFH UGM sebagai wadah aspirasi civitas akademika muslim di lingkup fakultas hukum UGM merasa perlu untuk memberikan pernyataan sikap atas permasalahan kisruh Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat ini.

Sikap dan tuntutan tersebut antara lain :

  1. Menolak segala bentuk pengekangan dan represifitas oleh pemerintah
  2. Meminta DPR untuk menolak Perppu Ormas saat diadakannya paripurna
  3. Berharap agar MK mengabulkan uji materi Perppu Ormas yang saat ini tengah berlangsung
  4. Berharap agar MK untuk kembali menafsirkan lebih jelas mengenai kewenangan pemerintah menerbitkan Perppu
  5. Menuntut dikembalikannya kewenangan Pengadilan dalam hal pembubaran Ormas

Sekian rilis sikap atas hasil kajian kami tulis. Semoga ini menjadi upaya awal dalam menghilangkan upaya-upaya pengekangan dalam berserikat yang mulai muncul kembali pasca-reformasi di Indonesia. semoga Allah SWT memberkahi langkah kita. Aamiin

Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM

Kabinet Payung Peradaban

[1] Fikri Faqih, Pembelaan Pemerintah Terbitkan Perppu Pembubaran Ormas, Merdeka https://www.merdeka.com/peristiwa/pembelaan-pemerintah-terbitkan-perppu-pembubaran-ormas.html diakses tgl 24 juli 2017, pukul 11.36

[2] YLBHI Bersama 15 Kantor LBH se-Indonesia, Pernyataan sikap terkait Penerbitan Perppu No. 2 Tahun 2017, Jakarta

[3] Noer Ardiansyah, Yusril: Asas Contrario Actus Tidak Tepat Diterapkan Kepada Ormas, Merah Putih, https://merahputih.com/post/read/yusril-asas-contrario-actus-tidak-tepat-diterapkan-kepada-ormas diakses tgl 24 Juli 2017, pukul 15.03

[4] Pusat Studi Hukum Tata Negara FHUI, Rilis Media : Perppu Ormas kemunduran proses panjang reformasi

[5] Fakhrizal Fahri, Ajukan Uji Materi Perppu : Ini Alasan HTI, Okezone http://news.okezone.com/read/2017/07/18/337/1739324/ajukan-uji-materi-perppu-ormas-inilah-alasan-dari-hti, diakses tanggal 25 Juli 2017, pukul: 15.07

KPK Dalam Pusaran Hak Angket Politis Rilis Sikap Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” QS.61:2

Komisi anti-rasuah satu-satunya yang dimiliki oleh Indonesia sedang berada dalam ancaman Hak Angket DPR. Ini setelah Novel Baswedan, seorang penyidik KPK menyebut beberapa nama anggota Komisi III DPR di persidangan kasus korupsi e-KTP, yang kemudian keberatan dan mengajukan Hak Angket. Kemudian dalam rapat dengar pendapat dengan KPK, Komisi III DPR meminta KPK membuka rekaman pemeriksaan BAP Miryam. La Ode M. Syarif, salah seorang komisioner KPK, menyampaikan bahwa KPK menolak untuk memberikan rekaman tersebut dikarenakan kasus e-KTP masih berjalan persidangannya. Seperti yang dikutip dari liputan6.com La Ode mengatakan bahwa “karena keterangan Novel Baswedan disampaikan di pengadilan, persidangan e-KTP masih berjalan, bahkan penyidikan dengan tersangka MSH sedang kita lakukan, maka KPK menyatakan tidak bisa menyerahkan bukti-bukti yang terkait dengan kasus ini,” ia menambahkan bahwa  jika bukti-bukti dibuka, KPK khawatir akan menghambat proses hukum dan dapat berdampak pada penanganan kasus e-KTP.[1] Seperti yang di katakan La Ode tadi, kasus mega-korupsi proyek e-KTP akan terhambat.

Sebenarnya, Hak Angket ini apa dan untuk apa ? mari kita pahami lebih lanjut. Dalam UU tentang Susdukor MPR, DPR, dan DPD yang biasa kita kenal dengan UU MD3, disebutkan hak DPR pada Pasal 79, salah satunya adalah Hak Angket yang diatur pada Ayat (3). Dikatakan di ayat (3) bahwa “Hak Angket adalah  hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan”. Di Pasal 199 ayat (1) dikatakan bahwa Hak Angket minimal diajukan oleh 25 orang anggota DPR, dan bila kemudian disetujui oleh sidang paripurna, maka akan ditindak lanjuti dengan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket. Lebih lengkap tentang Hak Angket bisa lihat di UU MD3 bagian kesepuluh paragraf kedua.

Alasan DPR untuk mengaktifkan Hak Angket ini awalnya sederhana, hanya ingin dilibatkan dalam proses penyelidikan kasus e-KTP. Namun lambat laun, setelah Pansus Hak Angket terbentuk dan mulai bekerja, malah ditemukan banyak penyimpangan dari peraturan yang dilakukan KPK. lihat kasus ”masih”  dugaan korupsi di PT. Pelindo II, Bos Pelindo II saat itu, R. J. Lino, dihadiahi status tersangka oleh KPK, dan semua mengapresiasi KPK atas penetapan tersangka orang dekat Jusuf Kalla itu. Namun kemudian, setelah berjalan selama 1,5 tahun, R.J. Lino tetap berstatus tersangka dan terlihat tak ada progres disaat R.J. Lino sukses membawa PT. Pelindo II berjaya bisnis pelayaran nasional. Disini kinerja KPK dipertanyakan setelah belum terbuktinya dugaan korupsi bos Pelindo II yang citranya sudah buruk duluan. Lantas dipertanyakan juga, apakah KPK benar tak perlu kewenangan SP3.

Ini Ditambah juga sejumlah anggota Pansus angket menduga ada indikasi kerugian negara atas penggunaan anggaran dan kinerja KPK yang menurut mereka ada dalam ‎laporan BPK tahun 2015 yang berujung pemanggilan BPK oleh DPR yang meminta audit investigatif. Memang terlihat ada sedikit upaya oleh DPR untuk memolitisasi perseteruan antara KPK dan BPK beberapa waktu lalu perihal dugaan Mark-up pembelian lahan RS Sumber Waras. Terakhir sebuah penuturan oleh Arteria Dahlan, anggota Pansus Hak Angket DPR dari fraksi PDIP, di ILC episode “KPK vs DPR : Semakin Runcing”. Ia menuturkan bagaimana para terduga korupsi diintimidasi, disuruh mengaku dan lain sebagainya, serta mengesankan seolah-olah penghuni hotel prodeo yang “di-inap-kan” KPK sebagai korban keserakahan KPK. Ini merupakan hasil dari sowan anggota Pansus ke LP Sukamiskin, Bandung. Sebagai yang kita ketahui, di “hotel” ini (kenapa hotel ? karena beberapa ruang disana kabarnya sudah disulap menjadi kamar ber-AC bagaikan hotel berbintang) banyak penghuni akibat kasus korupsi.

Namun KPK pun bukan punya senjata, senjata yang dipakai merupakan suara rakyat. Tampaknya KPK sangat mendalami ungkapan bahasa latin, “Vox Populi, Vox Dei” yang artinya suara rakyat adalah suara Tuhan, siapa yang bisa melawan ketika Tuhan sudah bersuara. Banyak aksi yang kemudian mendukung KPK, Bahkan sampai Asosiasi Pengajar HTN-HAN merilis sikap mereka untuk mendukung KPK dan menolak Hak Angket.

Dapatkah KPK “Di-angket” ?

Dalam konteks ke-tata negara-an, KPK merupakan lembaga independen yang berada di luar eksekutif, legislatif, dan yudikatif seperti dalam teori trias politica a la seorang filsuf Prancis, Montesquieu. Namun sekarang yang menjadi problem adalah, walaupun teori Montesquieu tadi sangat progresif dan bisa relevan di masa yang lama, namun teori ini sekarang sudah tidak terlalu relevan di sistem pembagian kekuasaan dibanyak negara termasuk Indonesia. Di banyak negara, sudah banyak yang mempunyai lembaga independen seperti KPK, yang kewenangannya tidak bisa di intervensi oleh lembaga lain, bahkan yang dibentuk oleh konstitusi. Di Pasal 3 UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyatakan bahwa KPK dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya secara independen dan tanpa intervensi dari luar. Jadi sudah jelas bahwa KPK merupakan entitas yang tak masuk dalam ranah eksekutif.

Sementara itu, di sisi lain, Hak Angket menurut Pasal 79 ayat (3) UU MD3 adalah hak investigatif yang dimiliki DPR untuk menyelidiki pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Penting sebenarnya meneliti unsur-unsur di Pasal ini. Pertama mengenai kalimat “kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting…..”. Ada dua interpretasi mengenai kebijakan “Pemerintah”. Interpretasi pertama “Pemerintah” diartikan sebagai eksekutif murni, tanpa melihat arti luas dan sempit, dalam artian ini merupakan kekuasaan dari presiden ke bawah. Dalam teori ini, KPK sangat jelas berada diluar kekuasaan eksekutif karena ia merupakan lembaga independen, dan konsep lembaga independen ini sudah marak semenjak abad ke-21. Kemudian interpretasi kedua datang dari penuturan Prof. Yusril Ihza Mahendra, pakar hukum tata negara dari Universitas Indonesia, di program ILC edisi “KPK vs DPR : Makin Meruncing”, bahwa KPK masuk dalam ranah eksekutif walaupun ia independen. Eksekutif dalam arti luas, karena pada kata “Pemerintah” huruf pertamanya kapital, menurut Yusril, ini berarti pemerintahan yang juga diluar kekuasaan presiden namun masuk dalam cabang  kekuasaan eksekutif. Ini berarti KPK masuk kedalam kategori eksekutif dalam artian luas dan dapat diangket. DPR pun juga berlindung dibalik kalimat “…..menyelidiki pelaksanaan suatu undang-undang…..”. disini KPK juga dianggap sebagai entitas yang masuk dalam kuasa eksekutif karena melaksanakan (execute) undang-undang.

Teori ini kemudian dibantah oleh pakar hukum tata negara lainnya dari UGM, Prof. Denny Indrayana. Dalam kultwitnya di media sosial Twitter, ia menuturkan bahwa tidak ada kuasa legislatif yang berada diluar kuasa presiden, presiden itu chief of executive dan semua lembaga eksekutif berada di bawah presiden”

Hak Angket terhadap KPK juga ternyata cacat hukum, ini berdasarkan hasil kajian dari Asosiasi Pengajar HTN-HAN dan Pusat Studi Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas. Selain dari cacat hukum secara subjeknya yakni KPK, seperti yang sudah dijelaskan tadi, ternyata Hak Angket ini juga cacat hukum secara objek. Berdasarkan Pasal 79 UU MD3, objek yang hendak diselidiki haruslah memenuhi tiga kriteria yakni (i) hal penting, (ii) strategis dan, (iii) berdampak luas pada kehidupan bermasayarakat, berbangsa dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Ketiga syarat ini sifatnya kumulatif karena menggunakan kata “dan”, artinya ketiga syarat ini harus dipenuhi secara kolektif. Lantas apakah Hak Angket ini diaktifkan sudah memenuhi syarat tersebut ? kita perlu melihat latar belakang dari pengusulan hingga pengaktifan Hak Angket ini[2].

Kembali ke awal, Hak Angket ini diaktifkan lantaran terkuaknya kasus e-KTP, dimana kasus ini menyeret banyak anggota pewakil rakyat ini. Bahkan, Setya Novanto, yang dikatakan Donald Trump sebagai pria yang powerful di Indonesia secara politik dan juga ketua DPR sekarang, juga telah ditetapkan tersangka oleh KPK. ini juga mengindikasikan adanya konflik kepentingan dalam pengaktifan Hak Angket yang politis. Disini bisa dilihat objek yang ingin di-investigasi, yakni penyelidikan kasus e-KTP yang belum bisa terlihat memenuhi ketiga kondisi tadi. Hak Angket DPR ini pun bukan tanpa cacat prosedural, menurut kajian dan sikap akademik APHTN-HAN, putusan mengenai Hak Angket ini persetujuannya bahkan tidak sampai 240 orang yang artinya belum mencapai syarat.

Hak Angket membutuhkan panitia khusus. Tanpa ada panitia khusus/ panitia angket maka Hak Angket seharusnya tidak berfungsi apa-apa. Di paripurna sendiri ketika DPR setuju untuk menggunakan angket, maka sesungguhnya persetujuan angket ternyata hanya sebatas aktivasi semata, sedangkan Hak Angket tersebut menjadi suatu yang bersifat in concreto melalui kegiatan yang dilakukan oleh panitia angket[3]. Ini pula sejalan dengan amanat Pasal 201 ayat (2), bahwa “Dalam hal DPR menerima usul Hak Angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1), DPR membentuk panitia khusus yang dinamakan panitia angket yang keanggotaannya terdiri atas semua unsur fraksi DPR”.

Namun menurut kajian dari APHTN-HAN dengan PusaKo Universitas Andalas, pembentukan pansus ini pun cacat prosedural karena tidak sejalan dengan yang diamanatkan oleh UU MD3. Kembali ke Pasal 201 ayat (2), dikatakan bahwa Pansus harus dari semua unsur fraksi DPR. Sementara seperti yang kita ketahui, salah satu partai di DPR, PKS, merupakan partai yang tidak sama sekali mengirimkan kadernya kedalam tim Pansus tersebut[4]. Dan Fahri Hamzah, salah satu “dedengkot angket” sudah tidak diakui lagi oleh PKS.

Pengawasan KPK

DPR dalam melancarkan Hak Angket kepada KPK bukan tanpa alasan. Ini semata-mata juga untuk menjalankan fungsi pengawasan kepada KPK. Arteria Dahlan, anggota DPR dari fraksi PDIP, di program ILC dengan episode yang sama dengan penuturan Prof. Yusril diatas, menyatakan bahwa “ada sekitar 36 tersangka kasus korupsi, bahkan 1 tersangka pun juga belum disentuh oleh KPK. Saya tidak mengada-ada, ini semua ada buktinya. Silahkan yang mau menuntut saya dengan pencemaran nama baik, silahkan. Apabila terbukti saya salah, saya siap untuk dituntut. Namun bila saya terbukti benar, ya tolong kinerja KPK sama-sama kita perbaiki. Tidak dibubarkan kok”. Selain penuturan tadi, ia juga mengatakan bahwa “ada tersangka yang ditawari untuk bisa pulang ke rumah temuin istri dan anak, serta hukumannya diringankan. Tetapi dengan syarat membantu memberikan informasi siapa saja yang melakukan korupsi serupa. Itu kan jelas gak benar. Bahkan lebih parahnya, bila mau membantu cuman divonis 3 bulan dan bila tidak mau membantu memberikan informasi divonis 10 tahun. Ini fakta, saya ada buktinya. Jadi silahkan bila tidak mau mengakuinya, nanti tinggal kita buka bersama bukti-buktinya,”. Kemudian, “”Masak tersangka dilarang untuk ditemani oleh pengacaranya? Itu pelanggran hak asasi,” tegas Arteria.

Walaupun fakta-fakta tadi didapatkan dari hasil sowan ke LP Sukamiskin, tempat dimana koruptor dibina menjadi manusia yang lebih beradab. Namun, itu harusnya jadi bahan refleksi KPK, bagaimana kualitas kinerjanya serta seberapa independen kah KPK sekarang. Yakinkah KPK tidak butuh mekanisme pengawasan yang lebih konkrit. Jangan sampai ada lembaga superpower yang kemudian dipolitisasi seperti masa orde baru

Membatalkan Hak Angket KPK

Selama ini tampak KPK menunjukkan sikap ketidaksetujuannya kepada Hak Angket dan terus-terusan menggalang dukungan politis sipil. Ini wajar karena Hak Angket merupakan hak politis yang dimiliki DPR. Maka dibatalkannya pun dengan cara yang politis pula.

Namun, Prof. Yusril dalam tulisannya berpendapat lain, ia mengatakan KPK merupakan lembaga (dibentuk berdasarkan) hukum harus memberikan perlawanan dengan cara yang berdasarkan hukum juga, bukan dengan cara-cara politis seperti membangun opini dan menggalang dukungan massa sipil. “Bertarung di pengadilan. Argumentatif kita di situ nah menurut saya itu yang fair. Sebagai satu lembaga hukum ya kita melakukan perlawanan pakai cara-cara hukum juga, bukan cara politik” tuturnya lagi.[5] Secara tidak langsung, Yusril menginginkan KPK agar pakai jalur pengadilan. Secara berurutan kemudian banyak ahli lain yang sependapat

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, pengadilan mana yang kompetensinya mengakomodir kasus yang seperti ini. Konflik antar lembaga sebenarnya masuk dalam kompetensi Mahkamah Konstitusi, namun sayangnya, menurut Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 hanya menghendaki MK untuk  memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang Dasar. Sementara KPK hanya dibentuk oleh undang-undang. Kemudian ada PTUN, yang berfungsi untuk memutus sengketa tata usaha negara atau kebijakan pemerintah. Sayangnya DPR merupakan organ diluar kekuasaan pemerintah/eksekutif. Kemudian PN, dalam UU No. 8 Tahun 2004 Pasal 52 ayat (1) dan ayat (2) menyatakan : Pengadilan dapat memberikan keterangan, pertimbangan dan nasehat tentang hukum kekpada instansi pemerintah didaerahnya, apabila diminta dan selain bertugas dan kewenangan tersebut dalam Pasal 50 dan 51, Pengadilan dapat diserahi tugas dan kewenangan lain atau berdasarkan Undang-Undang. Bisa kita simpulkan bahwa belum ada kompetensi pengadilan yang cocok dengan kasus ini.

Oleh karena itu, atas kajian yang kami lakukan dan penuturan-penuturan diatas. KMFH UGM sebagai wadah aspirasi civitas akademika muslim di lingkup fakultas hukum UGM merasa perlu untuk memberikan pernyataan sikap atas permasalahan kisruh Hak Angket ini.

Sikap dan tuntutan tersebut antara lain :

  1. Menyatakan bahwa menolak segala bentuk pengekangan terhadap upaya pemberantasan korupsi
  2. Menolak Hak Angket beserta Pansus Hak Angket DPR kepada KPK
  3. Mengembalikan fungsi, tugas serta wewenang KPK dan menolak segala bentuk intervensi kepada KPK
  4. Memperjelas kembali kompetensi Hak Angket sehingga tidak terjadi lagi mis-interpretasi dikemudian hari

Terakhir, kami juga sedikit menyayangkan oleh orasi-orasi mahasiswa saat menggelar aksi di depan gedung KPK yang meneriakkan kalimat, “yang setuju Hak Angket sama dengan membela koruptor !!!”. Ini dikarenakan pada dasarnya perbedaan pendapat mengenai Hak Angket dikalangan akademisi adalah hal yang wajar terjadi, sebab masing-masing opini punya landasannya sendiri. Jadi, diharapkan bagi kita semua untuk saling menghargai hak kebebasan berpendapat sesama.

Sekian rilis sikap atas hasil kajian kami tulis. Semoga ini menjadi upaya awal dalam memberantas korupsi yang sudah semakin mengakar di Indonesia. semoga Allah SWT memberkahi langkah kita. Aamiin

Wassalam

Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM

Kabinet Payung Peradaban

[1] Fachrur Rozie, hak angket disetujui ini tanggapan KPK, liputan 6, diakses http://news.liputan6.com/read/2935065/hak-angket-disetujui-dpr -ini-tanggapan-kpk pada tanggal 10 Juli 2017, pukul 09.52

[2] Asosiasi Pengajar HTN-HAN dan PusaKo Unand, Rilis Media, sikap akademik “CACAT HUKUM PEMBENTUKAN PANITIA ANGKET”

[3] Istigfaro Anjaz, Angket KPK overacting and unreviewable, http://istigfaroanjaz.web.ugm.ac.id/2017/06/15/angket-kpk-overacting-dan-unreviewable/ , diakses pada 18 Juli 2017,pukul : 08.00

[4] Raynaldo Ghiffari Lubabah, sikap PKS tak berubah tak kirim anggota ke pansus angket KPK, Merdeka, diakses https://www.merdeka.com/politik/sikap-pks-tak-berubah-tak-kirim-anggota-ke-pansus-angket-kpk.html , pada tanggal 18 Juli 2017, pukul : 08.15

[5] Nabilla Tashandra, Yusril : kalau KPK tidak setuju angket bawa saja ke pengadilan, Kompas, diakses http://nasional.kompas.com/read/2017/07/10/19191801/yusril.kalau.kpk.tak.setuju.angket.bawa.saja.ke.pengadilan, pada tanggal 18 Juli 2017, pukul : 09.47

Lebaran, Munajat, Halal Bi Halal

H

“Cinta hendaknya untuk merasa bahagia

Jika nurani berkata

Akal sehat berkuasa

Hidayah Ilahi nuansakan surga

Tuhan ada di semua umat-Nya

Bergegaslah luapkan kata maaf

Seiring doa

Hamba dengungkan takbir Ilahi

Allahu Akbar Walillailham

Bedug pun ditabuh

Menandakan hari kemenangan telah tiba

Insan manusia bergembira

Sambut lebaran milik kita.”

            (Lebaran Milik Kita, merupakan sepenggal puisi karya Dewantara Soepardi, yang dapat menginspirasi kita semua untuk lebih berusaha, dibalik diagnosa brain injured (cerebral palsy tipe quadriplegia) terhadapnya).

Tak terasa bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat ini hampir berakhir. Bulan dimana umat muslim wajib berpuasa, berlomba-lomba khatam Al Qur’an, melakukan shalat malam, dan berbagai ritual agama lainnya, yang semua dilaksanakan untuk meraih ridha dan pahala dari Allah SWT.

Hari Raya Idul Fitri atau yang lebih akrab disebut Lebaran, adalah hal yang selalu dinantikan oleh umat Muslim. Hari kemenangan, merayakan “kemenangan” umat muslim setelah sebulan berpuasa, menahan nafsu, menjaga hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang buruk dan dilarang oleh Allah SWT. Semua orang berkumpul. Saling melempar senyum dan bersalaman sambil berkata, “Ngaturaken Sugeng Riyadi nggih Pak, Bu…” (terjemahan: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak, Bu..”) atau mengirimkan pesan singkat bertuliskan, “Taqabbalallahu minkum ahyaakumullah li amtsaalihi kulla ‘aamiin wa antum bi khair” – Semoga Allah menerima (amal) kalian semua. Semoga Allah memanjangkan umur kalian di tahun-tahun yang sama, dan kalian senantiasa dalam keadaan baik.”

Di Indonesia yang tercinta ini, banyak tradisi yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari tradisi beli baju dan alat ibadah baru (atau bahkan kembaran satu keluarga), memasak lontong opor lengkap dengan kerupuk, camilan kue kaleng dari parcel yang akan menjadi hiasan di meja tamu selama sebulan ke depan, tradisi terima tunjangan hari raya bagi kaum muda, tradisi sungkeman dengan anggota keluarga, tradisi copy paste dan kirim SMS pantun atau puisi yang diawali dengan frasa “air tak selalu jernih..” berkedok meminta maaf hingga tradisi halal bi halal.

Tradisi halal bi halal seperti menjadi annual event yang dilaksanakan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari perkumpulan alumni sekolah, keluarga mahasiswa, perkumpulan pegawai kantor hingga paguyuban di kampung.

Penggagas istilah halal bi halal itu sendiri adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Sedikit bercerita, pada tahun 1948, Indonesia sempat dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar dan tidak mau duduk dalam satu forum. Kemudian, Ir. Soekarno yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI, meminta pendapat dari KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang sedang tidak sehat. Kebetulan pada waktu itu mendekati datangnya Hari Raya Idul Fitri, sehingga KH Abdul Wahab Chasbullah memberikan saran kepada Ir. Soekarno untuk mengadakan silaturrahim. Namun Ir Soekarno menginginkan istilah lain itu menggantikan terminologi silaturrahim.

Kemudian, KH Abdul Wahab Chasbullah menjelaskan, ”Para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu berdosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halal bi halal.

Tradisi halal bi halal ini kemudian diikuti masyarakat muslim secara luas. Sebenarnya, kegiatan yang mirip dengan halal bi halal ini sudah dilaksanakan sejak era kepemimpinan KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa, namun beliau belum menyebut kegiatan tersebut dengan istilah halal bi halal, meskipun esensinya sudah ada.

Istilah halal bi halal ini secara nyata dicetuskan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halal bi thariqin halal) adalah mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisa kedua (halal yujza’u bi halal) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Terlepas dari segala keberagaman pendapat mengenai halal bi halal, bukankah suatu hal yang sangat baik apabila kita masih bisa berkumpul dengan kawan lama, saling meminta maaf, saling bercerita, hingga saling bermunajat untuk kebaikan satu sama lain?

Sebagai contoh, Halal Bi Halal alumni SMP Negeri X Angkatan 1980.

Kalau bukan karena halal bi halal, mungkin saja angkatan yang sudah berusia lebih dari 30 tahun itu tidak akan berkumpul bersama dan bertemu, bahkan saling mengirim pesan atau surat pun belum tentu. Bagaimana ya kabar si X teman sebangku waktu sekolah dulu? atau Bagaimana ya kabar si Y yang pernah menolongku ketika kesusahan? Padahal kita sebagai umat muslim, memiliki kewajiban untuk menjaga tali silaturahmi dan ukhuwah yang telah dibangun. Melalui kegiatan halal bi halal tersebut, banyak kata maaf dan memaafkan yang terucap, banyak tawa bahagia hingga air mata yang menetes akibat pengakuan kesalahan, hingga banyak doa-doa baik yang terpanjatkan untuk Allah SWT.

Seperti sabda Rasulullah SAW, “Allah merahmati seorang hamba yang pernah berbuat dzalim terhadap harta dan kehormatan saudaranya, lalu ia datang kepada saudara yang didzaliminya itu untuk minta kehalalannya sebelum ajal menjemput.” (HR Tirmidzi dan Abu Hurairah)

Setiap orang hampir bisa dipastikan pernah berbuat salah dan khilaf. Rasulullah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa semua bani adalah khattha’un, adalah yang banyak berbuat dosa dan maksiat. Dan sebaik-baik khattha’un adalah at-tawwabun, yaitu orang yang banyak bertaubat.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Anas bin Malik RA.

Sehingga, bukanlah suatu hal yang memalukan (aib) apabila kita mengakui kekhilafan dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita perbuat kepada saudara kita, tetangga kita, atau bahkan teman kerja/kuliah kita yang bahkan jarang bertegur sapa dengan kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memiliki tanggungan kedzaliman terhadap saudaranya, entah dalam hal kehormatan atau pun hartanya, maka hendaklah meminta kehalalannya hari ini. Sebelum datang hari (kiamat) di mana tidak berguna lagi dirham dan dinar. Pada hari kiamat nanti, bila seseorang yang mendzalimi belum meminta kehalalan dari saudaranya, maka bila ia memiliki amal kebaikan, sebagian amal kebaikannya itu diambil sekadar kedzaliman yang ia lakukan untuk diserahkan kepada orang yang sudah pernah ia dzalimi. Bila ia sudah tidak memiliki sisa amal kebaikan, maka dosa yang dimiliki orang yang pernah ia dzalimi di dunia akan dilimpahkan kepadanya senilai kedzaliman yang pernah ia lakukan. (HR Bukhari dan Abu Hurairah RA)

Maka, jangan sampai dosa-dosa yang kita punya akibat berbuat khilaf tersebut dibawa mati hanya karena kita merasa gengsi untuk meminta maaf. Karena sebagai ganti dari kedzaliman yang belum diminta kehalalannya, dosa orang yang kita dzalimi akan dialihkan menjadi tanggungan kita.

Walaupun kegiatan halal bi halal memang sudah banyak dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat di Indonesia, akan tetapi, bukan halal bi halal itu sendiri yang wajib untuk dilaksanakan, melainkan saling meminta maaf, bersilaturrahim dan menjaga ukhuwah itulah yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.

*cerita mengenai latar belakang lahirnya istilah Halal Bi Halal didapat dari KH Masdar Farid Mas’udi.

Ditulis oleh:

Nova Alfie Annisa (2015)

Rilis dan Pernyataan Sikap Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM : Penyerangan Terhadap Penyidik KPK dan Sengkarut Pemberantasan Korupsi di Indonesia

 

Senin pagi kita dikejutkan dengan kabar tidak menyedapkan yang datang dari penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Menurut kabar yang beredardi media, Novel Baswedan yang baru saja pulang dari Mesjid yang berada dekat rumahnya di bilangan Kelapa Gading, Jakarta tiba-tiba didekati oleh dua orang yang tak dikenal dengan menggunakan sepeda motor. Saat Novel berjalan pulang kerumahnya, dua orang tadi mendekatinya dan kemudian langsung menyiramkan air keras ke wajahnya sehingga mengenai matanya. Novel yang pada saat itu berusaha menghindar pun tak pelak terkena siraman air keras tersebut dan mengenai matanya serta kemudian membentur pohon yang ada di dekatnya. Beliau pun merintih kesakitan sehingga terdengar oleh warga yang berada tak jauh dari situ.”Mereka langsung menyiram dengan menggunakan air keras dan mengenai mukanya,” demikian keterangan resmi polisi. Kemudian pelaku melarikan diri.

Penyidik KPK Novel Baswedan yang sebelumnya dirawat di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta Utara akibat disiram air keras akan dipindahkan ke RS Mata Jakarta Eye Center (JEC) Menteng Jakarta Pusat. “Siang ini akan dibawa ke JEC untuk ditangani lebih lanjut. Memang ada perawatan untuk bagian mata, karena dalam perjalanan dari masjid ke rumah yang bersangkutan ada yang menyiram di bagian mata. Terkait penyakit secara teknis dokter yang akan jelaskan,” kata Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah, di Jakarta, Selasa (11/4).

Seperti yang kita ketahui, Novel Baswedan merupakan seorang penyidik senior KPK yang saat ini sedang berusaha menguak kasus mega-korupsi e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah. Novel sebenarnya sudah dikenal publik semenjak menangani kasus simulator SIM dan tak segan-segan menggiring senior angkatannya yakni Djoko Susilo yang pada saat itu menjadi Kepala Korps Lalu Lintas Polri ke meja hijau. Novel terkenal idealis dan tak pandang bulu dalam menyelesaikan kasus-kasus korupsi. Ini yang kemudian membuat sebagian koruptor kalang kabut bila menemui dirinya menjadi salah seorang penyidik. Kejadian ini mungkin hal biasa bagi dirinya, karena tercatat sudah 5 kali upaya teror dilakukan kepadanya. Terakhir tentu kita mengingat bagaimana upaya kriminalisasi terhadap dirinya dengan menungkit kasus masa lalunya pada saat bertugas di Bengkulu. Ditakutkan upaya teror ini juga sebagai bentuk penyerangan psikologis terhadap penyidik KPK yang lain dan masyarakat pada umumnya.

Di sini ada beberapa hal yang kami soroti, petama adalah masalah upaya pelemahan KPK. Banyak upaya-upaya yang diduga dilakukan untuk melemahkan KPK. Beberapa diantaranya adalah Revisi UU KPK. Terlihat jelas bagaimana kemudian kewenangan penyadapan yang dikebiri dan kewenangan menyelesaikan kasus korupsi yang awalnya hanya yangbernilai 1 miliar Rupiah menjadi 50 miliar Rupiah. Kemudian banyak pula pembangunan opini-opini oleh media yang ditujukan mereduksi pengaruh KPK terhadap upaya pemberantasan korupsi. Banyak pula upaya teror yang dilakukan terhadap penyidik KPK bahkan pimpinan KPK.

Sorotan kedua adalah regulasi dan mekanisme pengamanan terhadap penyidik KPK. Di sini yang dipertanyakan adalah bagaimana SOP pengamanan penyidik KPK. Bila mengutip perkataan Pimpinan KPK, La Ode Muhammad Syarif, beliau mengatakan bahwa “Dulu penjagaan kan, on-off ya. Kalau lagi ada tugas ada penjagaan (diamankan), tapi tadi itu habis salat Subuh, pulang dari masjid ada orang naik motor disiram ke mukanya. Ya, jadi gitu,” ujarnya. Untuk itu, kejadian yang menimpa Novel menjadi pembelajaran bagi KPK dalam mengevaluasi sistem pengamanan terhadap para penyidiknya agar lebih ditingkatkan ke depannya bersama pihak kepolisian. DPR pun sudah buka suara mengenai mekanisme pengamanan ini melalui Asrul Sani, anggota Komisi III DPR RI. Ia meminta agar KPK me-review kembali SOP pengamanan terhadap penyidik KPK yang pekerjaannya sangat beresiko.

Sorotan terakhir adalah counter attack terhadap KPK. Sudah menjadi hal lumrah ketika lembaga anti rasuah hampir di setiap negara itu untuk dibunuh, begitulah kira-kira salah satu perkataan yang ia tuliskan dalam sebuah buku berjudu, Jangan Bunuh KPK.Demikian pula dikatakan oleh mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto dalam sebuah seminar bahwa akan selalu ada counter attack dan fight back dari koruptor ketika KPK sudah masuk ke dalam episentrum pemerintahan yang selama ini menjadi objek pemberantasan korupsi oleh KPK. ini sebenarnya merupakan sebuah efek psikologis dari koruptor, koruptor yang biasanya merupakan pejabat tinggi pasti mempunyai power.Power inilah yang kemudian melegitimasi mereka untuk melakukan teror dan upaya-upaya pelemahan pemberantasan korupsi lainnya. Penyerangan yang sedemikian masif inilah yang menjadi perhatian kita bersama-sama, jangan sampai penyerangan ini malah mempersulit gerak KPK dalam upaya pemberantasan korupsi. Upaya penyerangan ini haruslah kemudian pula dilakukan pencegahan, salah satunya adalah peningkatan pengamanan tadi. Ini juga dilakukan agar kejujuran, keberanian, dan ke-idealis-an yang menjadi ciri khas penyidik KPK tetap terjaga dan tetap memberikan dampak positif bagi upaya pemberantasan korupsi oleh KPK.

KPK saat ini masih terjebak dalam pusaran ironi. Ironi mental oknum pejabat yang notabene mempunyai power dan cenderung menyalahgunakan hal tersebut demi kepentingannya sendiri. Di sini perlu dilakukan penguatan elemen-elemen yang ada di dalam komisi anti-rasuah ini. Jangan sampai upaya penyerangan balik oleh koruptor ini malah makin memelihara mental koruptif dan mendarah daging-kan mental ini dalam masyarakat. Oleh karena itu kami, Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, dengan ini menyatakan sikap :

  1. Mengutuk keras tindakan penyerangan terhadap Novel Baswedan dan kegiatan anti korupsi lainnya.
  2. Menuntut polisi untuk mengusut tuntas kasus penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan.
  3. Menuntut pemerintah untuk membuat regulasi yang komprehensif sebagai insturmen pengaturan dan peningkatan pengamanan terhadap penyidik KPK.
  4. Menghimbau kepada masyarakat umum untuk tidak gentar terhadap segala upaya teror kepada upaya pemberantasan korupsi.

Referensi

  1. http://www.msn.com/id-id/berita/nasional/detik-detik-penyiraman-air-keras-ke-wajah-novel-baswedan/ar-BBzGobx?li=BBsX6vh&ocid=spartandhp
  2. https://malangtoday.net/flash/nasional/novel-baswedan-segera-pindah-rumah-sakit/
  3. http://nasional.inilah.com/read/detail/2371949/kpk-akan-evaluasi-pengamanan-terhadap-penyidik#sthash.ER4CQGIg.dpuf
  4. Denny Indrayana, Jangan Bunuh KPK, Jakarta: ICW, 2016.

 

Yogyakarta, 12 April 2017

Kabinet Payung Peradaban

Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Modernisasi : Elegi Kemanusiaan dan Kebangkrutan Sosial

 

“Kalau dahulu banyak luka kemanusiaan dalam perjalanan sebuah peradaban berpangkal pada sikap chauvinis yang berlebihan. Kini tampaknya egoisme mengambil alih.”

….

Sejarah peradaban manusia telah mengalami percepatan sedemikian rupa. Kita hidup di era dimana kemajuan di berbagai bidang tersosialisasikan dengan mudahnya. Percepatan dan segala kemajuan di berbagai bidang ini pun tentu sangat mempengaruhi pola interaksi antar-manusia yang tampak lebih condong kearah destruktif.

Ada satu pesan khusus yang dapat kita tangkap dari sebuah kemajuan, bahwasanya kita akan segera memasuki dunia yang serba ekstrim di masa depan apabila manusia kehilangan respons terhadap rasa kemanusiaannya. Namun tanda-tanda ini nampaknya mulai tumbuh dalam pola interaksi masyarakat. Sebut saja yang terkini yakni semakin sering disebarnya fitnah dan hoax di media sosial yang mempengaruhi mental masyarakat. Dan entah secara sadar atau tidak telah membuat masyarakat mengorbankan jati diri kemanusiaannya.

Berbagai kemajuan dan segala implikasinya dapat melipat potensi kemanusiaan dalam diri. Berbagai anstisipasi demi mempertahankan kemanusiaan mesti dilakukan. Harus ada sebuah pemahaman mendalam dan penanaman budaya kritis di titik ini. Namun tak hanya sampai disitu, secara esensial haruslah dapat tercapai sebuah tindakan sosial yang didasari rasa kasih sayang/emosi (Affectual Effect).

Pemaknaan kemanusiaan dapat kita temukan dalam salah satu ajaran Gandhi, yakni ahimsa. Ahimsa tidak sebatas hanya pada keyakinan atau sikap saja, ia meliputi segala pikiran, tindakan, dan ucapan. Ahimsa pun mencakup seluruh ciptaan, itu artinya bahwa orang harus berlaku secara ahimsa kepada siapa pun. Ahimsa ditujukan agar kita mempunyai keteguhan jiwa. Pemaknaan tersebut dapat dijelaskan bahwa makna ahimsa lebih menekankan pada makna penolakan atau penghindaran secara total terhadap segenap keinginan, kehendak atau tindakan yang mengarah pada bentuk penyerangan atau melukai siapa pun. Inilah kemanusiaan.

Islam, Kemanusiaan, dan Permasalahan Sosial

Praktek beragama menjadi jalan paling efektif dan solutif untuk menumbuhkan kemanusiaan dalam diri seseorang, agama apa pun itu, tentu mengajarkan segala hal tentang kebaikan dan salah satunya tentang kemanusiaan. Kesalehan individual yang diajarkan dalam beragama selalu melahirkan efek-efek kesalehan sosial. Apabila tidak, dapatlah dikatakan bahwa telah terjadi kebangkrutan sosial.

Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW pernah menyinggung masalah ini,

“Apakah kalian tahu siapakah sebenarnya orang yang bangkrut? Para sahabat nabi mengatakan: ”orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan harta benda”. Nabi bersabda: “Bukan demikian. Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa dan zakat. Tetapi pada saat yang sama dia juga datang sebagai orang yang pernah mencaci-maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka para orang lain (korban) tersebut akan diberikan pahala kebaikan dia (pelaku/al-muflis). Ketika seluruh kebaikannya habis sebelum dia dapat menebusnya, maka dosa-dosa korban akan ditimpakan kepadanya (pelaku), kemudian dia (pelaku) dilemparkan ke dalam neraka”. (H.R. Imam Muslim, Imam Ahmad dan Tirmizi).

….

Berbagai kemajuan telah membawa kita ke dua tempat, ke arah pembangunan dan kehancuran sekaligus. Modernisasi harus disikapi dalam sebaik-baik bentuk dan prasangka, tanpa harus melupakan keburukan-keburukan yang selalu bersamanya.

Kemanusiaan menjadi barang mahal di era ini. Lalu kenapa mesti kemanusiaan? Ya, sebab ia seperti mutiara, meski di lumpur sekalipun, ia tetaplah mutiara dengan segala keindahannya. Yang pasti manusia lah titik sentralnya. Ia subyek sekaligus objek perubahan, bahwa dalam perubahan, kemajuan dan pembangunan apapun itu, dimensi manusia harus tetap dikedepankan.

 

Ditulis oleh : Rakha Gurand (2016)

Bratayuda Jayabinangun: Filosofi Perang Penundukkan Hawa Nafsu

Bagaimana mungkin pementasan wayang kulit yang dilaksanakan semalam suntuk, dapat membuat penontonnya tetap melek dan tidak bosan?

Pementasan wayang kulit yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh PBB ini lambat laun mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Banyak yang tidak tahu, bahwa pementasan wayang kulit bukanlah sekadar haha hihi belaka, namun pementasan wayang kulit banyak mengandung filosofi mendalam mengenai nilai-nilai kehidupan dan agama. Wayang, yang dulunya dijadikan salah satu media dakwah oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa, memiliki banyak corak. Namun yang paling terkenal adalah wayang kulit.

Ada dua alasan mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Scara normatif, Sunan Kalijaga telah mengajarkan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang untuk memeluk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkolerasi dengan nilai Islam. Sehingga tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Secara kreatif, para tokoh wayang diganti nama dengan rukun Islam yang ada lima jumlahnya. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) bernama Jamus Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Dimana shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa. Dimana puasa identik dengan proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat serta duniawi. Kemudian Nakula dan Sadewa merupakan simbolisasi dari zakat dan haji.

Perang Bratayuda Jayabinangun memiliki makna yang mendalam mengenai pedoman hidup, dan bagi sebagian orang yang diberkahi kapabilitas untuk dapat menerima dan memahami akan hal ini, perang ini kerap dijadikan sebagai ideologi terbuka. S.Haryanto, dalam bukunya yang berjudul “Bayang-Bayang Adiluhung” (1995), memaparkan bahwa makna Perang Bratayuda adalah perang batin melawan keruwetan hidup (brata= ruwet, yuda= perang) dimana yang dimaksud lebih jauh bahwa banyak orang dalam menghayati dan menghadapi kenyataan hidup yang serba ruwet, mengakibatkan frustasi dan putus asa karenanya. Hal itu berbeda dengan cara orang beriman, yakni senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, dimana itulah satu-satunya jalan untuk menyelematkan diri dari situasi yang ruwet dalam kehidupan.

Perang Bratayuda Jayabinangun antara Pandhawa dan Kurawa, jika dilihat dari konteks spiritual, mengisyaratkan simbolisasi ‘perang’ melawan hawa nafsu dirinya sendiri. Nafsu ammarah (nafsu yang mengajak keburukan atau angkara murka) harus dikalahkan serta tidak diberi tempat untuk berekspresi. Begitu pula dengan nafsu lawwamah (nafsu yang menyesal dan mencela) dan nafsu supiyah atau mulhimah (bisikan-bisikan hati) serta nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang) harus dikendalikan atau ditempatkan secara proporsional.

Dalam perang ini, diceritakan pengendalinya adalah Sri Bathara Kresna, yang tugasnya memang memelihara perdamaian dan kelestarian alam, memayu hayuning bawana atau rahmatan lil ‘alamin.

Menurut Imam Al-Ghazali, musuh utama yang paling sulit untuk ditundukkan manusia adalah hawa nafsu. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa An-Nafs (nafsu) mempunyai dua arti; 1) arti yang mencakup kekuatan amarah, syahwat dan sifat-sifat tercela. Sebagaimana yang dimaksud dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Musuhmu yang paling jahat ialah nafsu yang berada di rongga badanmu.” Dimana kita harus memerangi nafsu dan menundukkanya; 2) bisikan Rabbani yang merupakan salah satu makna roh, hati dan jiwa pula.

Nafsu, yang identik dengan kebiasaan selalu meminta lebih, harus dikendalikan secara profesional agar mendapatkan bagian proporsional. Maka dari itu, para ahli sufi memberikan tips agar manusia dapat menundukkan hawa nafsunya, yaitu dengan 4 cara: diam (tidak banyak bicara), berada di tempat yang sunyi, bangun malam (mengurangi tidur) dan dalam keadaan lapar.

Secara singkat, dalam perang ini diceritakan bahwa Pandhawa yang dikenal sebagai sosok protagonis harus berhadapan dengan sang guru, Begawan Durna. Begitu pula dengan sosok Resi Bhisma, yang merupakan simbolisasi dari rasa takut dan kekhawatiran dalam diri manusia dan Prabu Salya, yang melambangkan ingsun/ego yang berada dalam jiwa manusia. Serta harus melawan saudara sendiri, Adhipati Karna, yaitu putera Dewi Kunthi Talibranta dengan Bathara Surya, yang melambangkan angkara/kejahatan, dimana apabila bisa mengalahkan Adhipati Karna, berarti sanggup mengendalikan angkaranya dan para Kurawa yang dikenal sebagai sosok antagonis. ‘Saudara sendiri’ yang dimaksud adalah hawa nafsu, yang senantiasa hidup dalam diri kita. Begitulah kiasan seseorang yang sedang berjuang di jalan Tuhan: hatinya harus tertuju dan terniatkan pada satu hal, yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun, tidak boleh tergoda oleh suatu hal apapun.

Seseorang yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsu  pada hakikatnya telah berhasil memenangkan perang yang agung. Hal ini bukan berarti ketika memerangi hawa nafsu, seseorang akan berdiam diri dan tidak melakukan suatu hal apapun. Tetapi justru menyumbangkan segala pikiran, tenaga dan kontribusi maksimal kepada masyarakat dan kehidupan sosial, itulah yang dapat dikatakan sebagai agen dakwah, yang siap berkorban dengan segala yang dimilikinya.

Dalam buku berjudul Dhalang, Wayang dan Gamelan karya Wawan Susetya, dikatakan bahwa makna dari Bratayuda adalah senang berperang melawan hawa nafsu, sedangkan Jayabinangun adalah membangun kejayaan atau kelanggengan manusia di alam kelanggengan (akhirat).

Wayang merupakan karya seni para pendahulu, dan oleh para pendakwah Islam dijadikan sebagai instrumen atau media dakwah. Karena dalam berdakwah, Allah SWT menyerukan dengan cara, metode dan pendekatan yang bijaksana, nasihat yang baik dan diskusi dengan cara yang lebih baik. Sesuai yang termaktub dalam Surat An-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah meeka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Islam itu melindungi dan mengayomi. Islam mengajarkan harmoni dan keindahan. Mari kita tingkatkan ibadah ritual-vertikal kepada Allah, dan tuangkan dalam wujud nyata dalam ibadah sosial-horizontal kepada sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya mulia. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik atau shaleh amal perbuatannya. Semoga Allah meringankan dan menolong kita untuk beramal shaleh, guna masa depan kita. Allah al-musta’an, Allah tempat memohon pertolongan. Allah a’lam bi al-shawab.

 

Ditulis oleh: Nova Alfie Annisa (2015)

Dakwah Mahasiswa: Bertahan Tapi Tidak Eksklusif, Terbuka Tapi Tidak Larut

Processed with VSCOcam with hb2 preset

Gambar oleh: Nova Alfie Annisa

 

Lemparan batu itu tak membuatnya tertatih, melainkan tetap tegak berdiri. Darah mengalir di kening kepalanya, namun Ia tak apa. Selebihnya memar merah bercampur bau kotoran ternak menyelimuti tubuhnya. Suasana panas siang menambah kepedihan. Kering, haus, dan dahaga tak menyurutkan semangatnya untuk menyusuri jalan. Jalanan Thaif yang menyimpan murka. Sampai-sampai malaikat menawarkan jasa kepadanya, “Izinkan Ku tenggelamkan dataran mereka!”, “Jangan!”, jawab Ia. “Yakinlah, anak cucu mereka kelak akan perjuangkan agama Tuhan Yang Maha Esa”.

Ialah Muhammad, yang pekan berikutnya menjenguk pemuda jalanan Thaif yang sedang sakit tergeletak di tempat tidur rumahnya. Begitu besar jiwanya. Pemuda Thaif tampak kaget. Lantas yang pertama kali menjenguk adalah Ia yang selama ini dilemparinya batu dan kotoran. Tersentuh hatinya, dan dua kalimat syahadat tak terelakan lagi. Itulah sekelumit kisah kasih dakwah dari sebuah lembah. Berawal dari hinaan hingga kemenangan sosial berucap dua kalimat syahadat saat empat belas abad yang lalu terjadi. Dan itu terjadi lagi kini, di dunia mahasiswa.

Mahasiswa sebagaimana kelompok pemuda lainnya, memiliki dunianya sendiri. Ada di sana berbagai elemen dan diversifitas (keanekaragaman) nya masing-masing. Diantaranya pecinta alam, kelompok studi, klub keilmuan, aktifis organisasi pergerakan, unit kegiatan mahasiswa, minat dan hobi, forum komunikasi dan lain-lain, serta untuk dunia dakwah adalah para aktivis dakwah kampus (ADK) yang memilki ciri khas diasporanya. Untuk jenis terakhir, yang umum didapati adalah adanya lembaga dakwah kampus (LDK) dan lembaga dakwah fakultas (LDF) di tiap universitas, institut atau pun sekolah tinggi.

Sangat menarik apabila kita berbicara soal dakwah mahasiswa ini. Terlebih jika dikaji perpaduan kata antara “Dakwah” dan “Mahasiswa”. Sebagai seorang muslim, kita cukup memandang apa yang das sein Islam memandang. Dalam Islam tidak ada pola pikir dikotomis –yang berasal dari pengalaman keilmuan barat itu- dalam memandang kehidupan. Semua konteks perlu dipandang dengan Islamic Worldview (cara pandang Islam).

Secara sederhana Islam memandang hidup atau dunia ini adalah komprehensif, menyeluruh dan universal. Oleh karenanya, apabila mandat dakwah itu diperuntukan manusia, maka mandat tersebut juga berlaku bagi mahasiswa (pemuda) sebagai unsur manusia. Mahasiswa sebagai unsur masyarakat Islam perlu mengampu soal Dakwah ini. Tidak ada pembedaan dan pemotongan makna antara keduanya. Atau dengan kata lain, ada dikotomi antara makna manusia dan pemuda. Dalam Islam hal ini tidak berlaku.

Di mana pun, kapan pun yang jelas dakwah itu seyogyanya dilaksanakan oleh setiap entitas Muslim, termasuk bagi mahasiswa muslim. Seperti kalimat “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang (umat) yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”, dalam Quran surat Ali Imran ayat 104 telah menunjukkan pembenaran atas mandat tersebut. Namun cara dan strategi di masing-masing individu atau organ dakwah itu boleh berbeda.

Dalam hal ini indikator keberhasilan dakwah adalah apakah dakwah (ajakan) tersebut telah/bisa sampai kepada objek dakwah itu sendiri atau tidak. Dan yang menjadi problema bagi segenap aktifis dakwah kini adalah soal penerimaan. Diterima atau tidak dakwah yang dimaksud itu oleh masyarakat, khalayak atau dunia mahasiswa itu sendiri.

Fenomanya adalah sering kita dapati seorang aktifis dakwah dari kalangan mahasiswa ketika bergaul (menyampaikan dakwah) dalam struktur sosial mahasiswa, tidak diterima, bahkan ditolak sama sekali. Kenapa bisa terjadi demikian. Konon katanya, cara berpakaian dan tutur kata atau model penyampaiannya lah yang menjadi masalah. Atau jangan-jangan dakwah itu sendiri yang tidak sempat disampaikan oleh para aktifis, atau degan kalimat lain, “Dakwah mahasiswa suka tidak menyentuh ranah-ranah yang jauh (berbeda) dari tata cara berpakaian dan tutur kata mereka”.

Dalam hal ini Syeikh Yusuf Qordhowi cukup mengingatkan aktifis dakwah kampus dalam bukunya Prioritas Gerakan Islam dengan sebuah formula sederhana tapi mujarab yaitu; bertahan tapi tidak ekslusif, terbuka tapi tidak larut.

Acap kali kita dapati aktifis yang tidak mau bersentuhan dengan forum-forum non-dakwah. Alasannya “Takut nanti kalo jadi seperti mereka”, tidak memperbaikki malah ngikut katut buruknya. Takut nanti ditolak, takut diusilin, takut kalo diapa-apain, dan beribu takut lainnya. Justru hal ini yang perlu dihilangkan bukan. Sebagai aktifis dakwah itu hendak berdakwah atau didakwahi?, atau sekedar label “aktifis dakwah” saja tanpa ada hasil dari proses dakwah tersebut mengingat arti dakwah secara terminologi adalah mengajak.

Atau karena faktor lingkungan yang cenderung ekslusif (tertutup) sehingga tidak mau membaur dengan organ lain yang menjadi objek dakwahnya. Barangkali yang menjadi dalih adalah soal ketahanan. Baik.

Apabila yang menjadi kendala adalah soal ketahanan, maka yang menjadi solusi adalah bertahan, tapi bertahan di sini tidak menandakan ekslusifisme. Dan solusinya juga keterterbukaan kita, tapi tidak larut, terbuka dalam berbagai hal yang sifatnya muamalah kepada sesama manusia.

Hablun min an Nas (hubungan kepada manusia) termasuk bergaul dan membaur. Sebagaimana Rasulullah Muhammad dalam berdakwah, Beliau tidak serta merta ekslusif (tertutup) dalam seluruh hal, atau terbuka secara mutlak juga tidak baik. Mari kita teladani bagaimana Rasul berdakwah, dan dihina, kemudian menjenguk orang Thaif itu. Cukup mengajarkan umatnya arti bertahan tapi tidak ekslusif, dan terbuka tapi tidak larut.

 

Ditulis oleh: Habib Haidar Perdana Effendi (2015)