KMFH UGM “Nandur Bibit” di Jojoran Kulon

Pada tanggal 30 April 2017 lalu, Keluarga Muslim Fakultas Hukum melalui program kerja Departemen Pelayanan Umat menyelenggarakan kegiatan bertajuk ‘Nandur Bibit’ di Desa Jojoran Kulon, Bantul, DIY yang merupakan desa binaan KMFH. Kegiatan Nandur Bibit ini bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Serayu Opak Progo, Yogyakarta. Sebanyak 2.500 bibit pohon yang terdiri dari 500 bibit pohon Jabon Merah dan 2.000 bibit pohon Jati telah dibagikan kepada warga serta sebagian ditanam di dua titik di wilayah desa Jojoran Kulon.

1

2

Kegiatan Nandur Bibit ini diikuti oleh warga desa Jojoran Kulon yang didominasi dari kalangan bapak-bapak, serta para anggota aktif Keluarga Muslim Fakultas Hukum. Kegiatan ini diawali dengan acara sambutan, tausyiah kemudian mengobrol santai sambil menikmati hidangan makanan kecil.

3

 

Kemudian, kegiatan langsung dilanjutkan pada sesi menanam dan membagikan bibit pohon. Seluruh warga bersama dengan anggota KMFH saling bahu-membahu untuk menanam bibit pohon. Banyak pengetahuan dan pengalaman yang kami dapatkan langsung dari para warga, mulai dari bagaimana cara menanam pohon yang benar, hingga petuah-petuah yang secara spontan terucapkan. Disini, nilai kekeluargaan benar-benar terasa.

4

Kegiatan ditutup dengan sesi foto dan makan siang bersama di salah satu rumah warga. Semoga pohon-pohon yang telah ditanam ini dapat memayungi para warga serta bermanfaat, aamiin ya robbal alamin.

6

Aksi Global Long March to Yerussalem

Mading KMFH edisi Mei 2012

oleh: Manda (staff Departemen Jurnalistik)

Manakah yang lebih mulia; mengalah untuk kebahagiaan banyak pihak dengan jalan perdamaian atau kah menjadi pemenang dalam peperangan dimana harus terjadi pertumpahan darah yang tak diinginkan? Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujuraat: 13)Masih hangat membekas di telinga kita tentang berita yang terjadi pada akhir bulan Maret yang lalu dimana puluhan ribu mahasiswa, organisasi kemasyarakatan (ormas), maupun lembaga sosial masyarakat (LSM) tumpah ruah ke jalan untuk menentang kebijakan pemerintah tersebut. Menjelang awal April, berita tentang aksi penolakan yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia semakin membanjiri media massa, baik media cetak maupun media elektronik berlomba-lomba mengabarkan berita terbaru dari pergolakan aksi penolakan kenaikan BBM. Mereka bersama sama memperjuangkan hak rakyat miskin untuk memperoleh kehidupan yang layak dan baik, sesuai yang diamanahkan oleh UUD 1945. Namun, di tengah kondisi masyarakat yang disibukkan dengan berita kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diikuti dengan naiknya harga bahan pokok makanan, ada aksi besar-besaran yang tak kalah ramai di belahan bumi bagian timur tengah sana. Aksi tersebut adalah aksi global yang digalang oleh masyarakat dunia yang meneriakkan kedaimaian untuk masyarakat Palestina.

 

Sama halnya dengan puluhan ribu orang yang turun ke jalan-jalan di Indonesia, adakah sahabat-sahabat muslim sekalian mendengar kabar serupa dari belahan bumi di bagian timur tengah itu? Aksi ribuan relawan yang berasal dari beberapa  negara di dunia yang menyerukan perdamaian di tanah Palestina! Tepatnya pada tanggal 30 Maret yang lalu yang bertepatan dengan Hari Bumi Palestina adalah  puncak dari “Global March to Jerussalem” atau yang lebih dikenal dengan Aksi Damai Untuk Palestina. Aksi ini adalah aksi damai yang diorganisir oleh International Committee of the Global March sejak dua bulan lalu dengan slogan “Freedom for Jerusalem, No Occupation, No Ethnic Cleansing and Segregation, No for Judaising of Palestine, its land and holy sites” atau jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia berarti adalah Kebebasan untuk Yerusalem, Tidak ada Pekerjaan, Tidak ada Pembersihan Etnis dan Segregasi, Tidak untuk Judaising Palestina, ini tanah dan tempat suci). Aksi yang diikuti oleh kurang lebih 80 negara di dunia ini pada intinya bertujuan untuk mengingatkan kembali masyarakat dunia tentang tragedi kemanusiaan yang terjadi di tanah Palestina. Aksi solidaritas ini dilakukan dalam wujud “Long March” yang nantinya akan berpusat pada empat negara yang berbatasan dengan Palestina. Seperti Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon.

 

Yerussalem atau yang biasa disebut dengan Quds adalah tempat yang dimuliakan oleh milyaran orang di seluruh dunia. Paling tidak, tempat ini adalah tempat yang disucikan oleh tiga agama yang paling banyak penganutnya; yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Di sana terdapat Masjid Al Aqsha yang menjadi masjid terpenting ke tiga bagi umat islam. Ada juga Gereja Makam Suci yang begitu disucikan oleh penganut Kristen Protestan. Sejak dijajah oleh Israel pada tahun 1948 Palestina kian menderita. Bukan hanya teror yang hampir setiap hari diberikan oleh Negara Zionis, tetapi juga blokade ekonomi dan sulitnya mendapatkan bahan makanan untuk makan sehari-hari membuat ribuan warga Palestina memilih untuk mengungsi ke beberapa negara tetangga. Belum selesai dengan ujian yang menimpanya itu, alih-alih di benua lain terdapat negara adidaya (red. Amerika Serikat) dengan dukungan yang begitu kuat terhadap Negara Zionis itu melalui penggunaan hak vetonya di sidang-sidang PBB yang membahas tentang kasus Palestina-Israel. Dengan melihat adanya back up semacam itu dari Amerika Serikat maka alhasil Negara Yahudi itu untuk kian gencar dalam melangsungkan tindakan-tindakan perlawanan dan aksi bombardir di tanah Palestina.

 

Berangkat dari keprihatinan dan kepedulian masyarakat internasional tentang kondisi Palestina inilah aksi “Global Long March to Jerusalem” dibentuk. Gerakan long march ini sebenarnya bukan merupakan gerakan yang pertama kali dilakukan, melainkan sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu setiap tanggal 30 Maret, dimana pada tanggal tersebut merupakan puncak acara. Dari beberapa artikel yang yang dimuat di beberapa media massa, pemerintah Israel sempat beberapa kali menyerukan agar gerakan “Global March to Jerussalem” ini dihentikan. Bahkan setiap mendekati akhir bulan Maret, pemerintah Israel selalu mengerahkan angkatan daratnya untuk melindungi perbatasan dari para relawan yang bergerak mendekati Israel. Pemerintah Israel juga mengirimkan beberapa surat kepada negara-negara barat maupun beberapa  negara timur tengah untuk mengentikan aksi anti-Israel ini untuk menghindari meningkatnya konflik dan meluasnya gerakan anti-Israel.

 

Jangan pernah mengatakan jika ini adalah masalah agama tertentu. Masalah Palestina ini adalah masalah perampasan kemerdekaan dan kemanusiaan, dimana Hak Asasi Manusia (HAM) yang selama ini selalu disuarakan oleh negara-negara barat telah dilanggar. Berapa banyak anak Palestina yang harus kehilangan masa depannya karena perang yang tak kunjung usai? Berapa banyak lagi orang yang harus meninggal karna masalah dua negara –Palestina dan Israel- yang tak kunjung menemukan jalan keluar? Masalah kemanusiaan berdasarkan hak asasi yang dilanggar inilah yang menjadi modal awal para relawan untuk ikut mengingatkan dunia tentang ancaman nyata zionis kepada Palestina dan Yerussalem. Isu Palestina-Israel ini bukan lagi hanya sebagai isu yang bertitik singgung pada masalah agama. Namun lebih dari itu, kini nyata-nyata jutaan hak yang melekat pada tiap jiwa di sana telah tersita, terbelenggu, bahkan terampas. Perlu diketahui bahwa relawan yang selama ini membantu Negara Palestina untuk memperoleh haknya, bukan hanya berasal dari negara-negara Islam. Banyak dari relawan adalah orang Nasrani, bahkan umat Yahudi sendiri yang tidak setuju dengan cara-cara Israel memperlakukan warga Palestina. Untuk sekian banyak kasus pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan yang selama ini terjadi di Negara Palestina, setidaknya saudara-saudara kita ini mempunyai sikap yang sama. Bahwa ini bukan lagi masalah agama, tetapi lebih kepada masalah hak asasi dan kemanusiaan.

 

Menuai hikmah dari peristiwa Palestina ini, maka alangkah bijaknya bagi seluruh masyarakat bumi, khususnya bagi umat muslim yang lebih diuntungkan daripada masyarakat Palestina maupun masyarakat lain yang juga sedang berada di tengah peperangan untuk selalu mensyukuri nikmat Alloh. Lebih dari itu, sebagai umat muslim kita tentu mempunyai kewajiban untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Lalu apa yang sudah kita lakukan, bukan untuk Palestina, setidaknya untuk dirimu dan orang-orang yang ada di sekitar kita? Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. (Manda)