Berbagi Nasi di Terminal

IMG_8858

“Sebungkus nasi tidak akan merubah kehidupan seseorang, tapi dari sebungkus nasi kita diajarkan cara bersyukur dan lebih peduli kepada sesama.”

Setelah beberapa bulan lalu suskes dengan acara “Berbagi Nasi”, Departemen Pelayanan Umat (DPU) KMFH kembali mengadakan acara tersebut. Namun dalam penyelenggaraannya kali ini, KMFH tidak bekerjasama dengan LO/LSO lain. Diadakannya kembali acara tersebut, selain karena merupakan program rutin dari Departemen Pelayanan Umat (DPU) KMFH sendiri tetapi juga karena antusiasme dari teman-teman KMFH. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah peserta yang mengikuti acara tersebut lumayan banyak sekitar 25 orang.

Pada Jum’at, 15 Mei 2015, “Berbagi Nasi” diadakan di sekitar Terminal Giwangan. Pukul 16.00 WIB, para peserta berkumpul di FH UGM. Sebelum berangkat ke tempat tujuan, mereka mendapatkan briefing terlebih dahulu dari Kepala Departemen DPU KMFH. Setelah itu, para peserta berangkat bersama-sama ke tempat tujuan. Sesampainya disana, mereka dibagi menjadi 2 kelompok besar agar pembagian nasi bisa merata ke seluruh penjuru terminal dan juga untuk mempersingkat waktu. Sambutan baik dari warga maupun para pekerja di sekitar Terminal Giwangan membuat acara ini berjalan sukses dan lancar. Menjelang maghrib, para perserta telah berkumpul kembali dan acara tersebut ditutup dengan sholat maghrib dan foto bersama.

Kajian di Rumah Dosen

Sabtu, 9 Mei 2015

Sekitar pukul 15.30 WIB, hujan mengguyur kota Jogja tepatnya di Fakultas Hukum (FH) UGM. Di sekre KMFH tampak beberapa anak sudah berkumpul untuk mengikuti kajian di rumah dosen. Kali ini, Pak Muhaimin, dosen Hukum Islam FH UGM berkesempatan menjadi tuan rumah acara tersebut. Hujan yang tak kunjung berhenti tidak mematahkan semangat peserta. Dengan sabar, mereka menunggu kondisi yang memungkinkan untuk berangkat. Meski rintik hujan masih berjatuhan, para peserta sepakat untuk segera menuju rumah Pak Muhaimin yang terletak di Jalan Magelang.

Selama perjalanan rintik hujan itu berubah menjadi hujan yang lebat. Namun para peserta tetap melanjutkan perjalanan. Berkunjung ke rumah Pak Muhaimin adalah kali pertama bagi kepengurusa KMFH 2015 sehingga para peserta sedikit lama sampai ke tempat tujuan. Setelah bertanya-tanya pada satpam setempat, mereka pun akhirnya sampai di rumah Pak Muhaimin. Namun rumah yang bertempat di Jalan Magelang ini bukanlah rumah asli Pak Muhaimin melainkan sebuah rumah dinas. Kedatangan peserta disambut hangat oleh Pak Muhaimin. Para peserta dipersilahkan masuk dan tak lupa hidangan makanan pun diberikan. Acara dibuka oleh ketua KMFH, Andi Ari Setiawan, dan dilanjutkan sambutan oleh Pak Muhaimin sendiri selaku tuan rumah. Sesudah itu, Uztad Elan (Alumni KMFH) membuka kajian dengan sedikit bercerita tentang pengalamannya selama di KMFH. Ramadhan menjadi topik yang dibicarakan pada kajian tersebut dan lebih khususnya membahas mengenai Al-Qur’an. Ditemani suara hujan dan hidangan makanan, kajian berjalan dengan penuh hikmat.

Acara yang berlangsung kurang lebih satu jam itu tidak hanya membahas kajian, tetapi juga saling sharing dan merekatkan ukhuwah baik antar peserta maupun dengan dosen. Saking asyiknya mengobrol, tak terasa matahari sudah mulai tenggelam. Adzan maghrib yang berkumandang mengakhiri acara pada senja itu. Para peserta, Pak Muhaimin dan Uztad Elan pun melaksanakan shalat maghrib bersama di sebuah mushola dekat lokasi.

Bangsa Ini Masih Subuh

Bangsa ini masih subuh. Ia bagai seorang balita yang sedang merangkak namun ada orang tua yang mematahkan kakinya. Sebenarnya tak ada beda dengan bangsa lain. Bangsa yang sama-sama memiliki tanah, pemerintah dan rakyat. Tapi ada sebuah rahasia yang membuat bangsa ini masih subuh.

Telingaku selalu terngiang mendengar ucapan ayah kala itu. Sebuah ucapan yang baru kumengerti setelah terjadi suatu peristiwa. Ya, peristiwa itu memang sangat membekas seperti luka bakar yang mencokol dalam kulit tipis pipiku. Perih. Pedih.

Dibawah raja surya yang menyengat, kubiarkan lengan mungil ini bermain di jalanan. Tangan kanan kupegang kecrekan yang sengaja dibuat dari kayu lalu di sisi kanan dan kirinya menempel bekas tutup botol minuman. Ada sebuah plastik bekas bungkus permen yang tergenggam di tangan kiriku. Bermodalkan itu tangan mungilku mulai bergerak. Seiring berdendangnya lagu yang kunyanyikan, kecrek di tangan kanan semakin kencang kupukulkan ke tangan kiri. Sudah tak kupedulikan surya yang kian memabakar kulit tubuh. Semangatku berkobar seperti Soekarno yang saat itu ingin memerdekakan bangsa ini.

Setiap hari begitulah kerjaanku. Tak ada hari yang lebih indah selain dari bernyanyi di jalanan, di setiap sudut lampu merah. Mengamen. Untuk anak seusiaku mungkin ini tak wajar, sangat tidak wajar sepertinya. Tapi apalah daya bagi aku dan ayahku yang hanya mempunyai satu kaki. Bukan hanya hilang satu kaki, bahkan ia pun tak sanggup melihat dengan mata dzohirnya. Ayahku hanya bisa melihat dengan batinnya saja, tak lebih.

Setiap sore sekitar pukul lima aku kembali ke tempat berteduhku Selalu saat akan pulang, sekolahan di dekat rumahku terlewati.. Dan selalu ada yang membuat ulu hati tersentuh. Ada bagian yang ingin aku miliki dari sekolah itu. Bukan bangkunya, tidak gurunya juga bukan seragam merah-putih yang kuinginkan tapi kain merah-putih yang terus dikibarkan di tiang halaman sekolah. Aku pun sungguh tak mengerti mengapa diri ini ingin memilikinya secara pribadi. Merahnya mempesona. Putihnya berwibawa. Aku suka dan sangat ingin menjamahnya.

“Ayah, aku ingin beli bendera,” pintaku setiba di rumah.

“Bendera apa, Nak?”

“Merah-putih, Yah,” aku melihat ke arah wajahnya pertanda memohon. “Bendera Indonesia, boleh, ya?”

Dia, lelaki yang paling kucintai di dunia ini tak menjawab apa-apa. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya walau hanya satu kata. Hanya anggukan dengan seulas senyum yang diberikan. Dirabanya tanganku lalu naik ke pundak dan tibalah di ujung kepalaku. Ia belai rambut pirangku dengan kasih. Sentuhannya hangat kurasa. Walau sebenarnya kasar, tapi bagiku tangannya lembut, melebihi kelembutan apapun.

“Akan ayah usahakan, ya, Nak,”

Setiap hari selalu kuimpikan memeluk kain merah putih yang mempesona itu. Dalam mimpiku sudah tergambar jelas, nantinya akan ada tiang di depan rumah dan di atasnya benderaku berkibar indah. Seraya menikmati mimpi, di sisi lain aku sadar bahwa ini harus diusahakan. Karenanya, tanganku semakin kencang memukulkan kecrekan, suaraku semakin lantang mendendangkan bermacam nyanyian. Hariku kini penuh semangat.

Berhari-hari sudah kukumpulkan sekeping rupiah. Sebenarnya uang di kantongku sudah cukup, namun karena banyaknya kebutuhan rumah, berkuranglah jumlahnya.

“Pekerjaan apa yang bisa cepat menghasilkan uang dengan satu kaki, Nak?”

Melihat kedalaman sorot matanya, aku terdiam, tak bisa berkata. “Jika mau cepat, nanti ayah belikan yang murah saja. Di pasar loakkan mungkin banyak,” saran ayah saat itu.

“Tak mau, Yah. Aku ingin yang bagus, biar mahal akan tetap kubeli. Biarlah aku menunggu sampai uangnya terkumpul. Kalau ayah tak sanggup membelinya, aku mau ngamen sampai malam, biar uangnya cepat banyak.” suaraku naik turun, menggebu-gebu.

Ayah yang semula murung dan mengeluhkan kakinya, tiba-tiba bersemangat mencari pekerjaan ke sana ke mari. Tanpa sepengetahuanku, ia tanyakan harga bendera termahal ke seluruh pasar yang bisa ia kunjungi. Walau lelah demi cita-cita anaknya akan tetap dilakukan. Cita-cita anakku berarti cita-citaku juga. Ucap ayah lirih.

Malam semakin kelabu. Gelapnya malam tak menggetarkanku untuk kembali ke rumah seorang diri. Setiba di gubuk, kulihat ayah sudah terlelap di ranjang bututnya. Seperti biasa, pulang ngamen kuhitung penghasilanku saat itu juga. Lalu kusatukan dengan uang di celengan. Kuhitung seluruhnya dan sepertinya sudah cukup. Besok, aku akan beli benderaku, bendera Indonesia.

Adanya bendera di halaman ruamah jadi kebanggaan tersendiri bagiku. karena di sekitar gubukku hanya aku yang memilikinya. Mereka lebih senang mengumpulkan uang untuk beli baju-baju mahal di pasar sana, dan mereka bangga mengenakan baju bermerk luar itu.

Pagi hari akhirnya tiba juga. Tak sabar dengan rencana hari ini, aku bergegas mandi. Uang sudah di kantong, dan kaki sudah melangkah melewati pintu rumah.

Hiduplah bangsaku, hiduplah negeriku untuk Indonesia raya …. Kulihat ayah sedang menyanyikan lagu Indonesia raya dengan posisi hormat.

“Ah ayah, baru saja mau kubeli bendera ini,” ucapku sembari memeluknya. Pelukannya semakin erat. Ayah berlalu setelah ia memelukku. Ia membiarkanku menikmati bendera yang kini sudah bertengger indah di halaman.

“Serang … serang …” tiba-tiba suara terdengar dari ujung timur. Mereka berlari saling berkejaran. Di tangan mereka tergenggam batu dan berbagai alat pertanian. Mereka saling berteriak, berkejaran dan saling menyerang. “Serang … serang …” gerombolan berseragam putih-abu melewatiku yang asyik menatap sang saka. Saat kubalikkan badan mencari apa yang sedang terjadi, mereka menghadangku, melindas tiang bendera dan merobek bendera dengan goloknya. Tubuhku terkulai lemah mempertahankan bendera.

Sering ayah berkata “Nak, bangsa ini masih subuh.” Terheran aku dibuatnya. Dulu aku bertanya dan selalu bertanya maksudnya apa. Sobekan bendera tergenggam ditangan, kulihatnya lamat-lamat, air tumpah membanjiri pipi. Jejak langkah mereka masih tercium. Karena tawuran mereka benderaku robek dan karenanya juga dulu ayahku harus bergantung pada tongkat. Tawuran itu kini meremukkan tulang belulangku.

Aku, seorang bocah yang hanya ingin mengibarkan merah-putih di halaman rumahku, harus hilang kesadaran akibat mempertahankannya agar tak diinjak mereka. Benar katamu ayah, bangsa ini masih subuh.

Yogyakarta, Mei 2015

 

BIODATA PENULIS

Penulis kelahiran Ciamis-Jawa Barat ini mempunyai nama lengkap Rena Rizki Nurfauzi. Perempuan yang mempunyai hobi membaca ini adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini sedang menggeluti perkuliahan jenjang S1 di jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain aktif di bangku kuliah, perempuan berdarah Sunda ini juga aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma dan kebetulan diamanahi sebagai pimpinan Redaksi masa bakti 2015/12016. Alamat domisili saat ini ada di JL. K.H Wahid Hasyim No.38 Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta 55283. Penulis bisa dihubungi melalui nomor telepon 087728003487 atau renanurfauzi@gmail.com

 

Pengumuman Lomba Cerpen Muslimah “Aku dan Indonesia”

Assalamualaikum para muslimah!

Akhirnya kita sampai pada saat yang paling dinanti-nanti oleh para peserta Lomba Cerpen Muslimah KMFH UGM 2015, yaitu pengumuman pemenang lomba.

Sangatlah sulit bagi panitia dan juri dalam proses penilaian karena penulis begitu kreatif. Namun  melihat antusias para peserta yang sangat peduli pada Indonesia maka baik pihak panitia maupun juri akhirnya telah memilih satu naskah terbaik dari sekian banyak naskah yang  diterima.

Tak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah berpartisipasi dan mengirimkan karyanya selama periode lomba yang berakhir pada 17 Mei 2015. Semoga para muslimah akan selalu berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

NASKAH TERBAIK LOMBA CERPEN MUSLIMAH 2015

RENA RIZKI NURFAUZI

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Karya: Bangsa ini Masih Subuh

note: untuk pengambilan hadiah dan sertifikat, pemenang akan dihubungi oleh panitia

Muhasabah Cinta : Al-Quran Jalan Hidupku

al-qur'an

Al-Quran merupakan salah satu mukjizat yang diturunkan oleh Allah swt. ke rasul Muhammad SAW yang hingga saat ini kita gunakan sebagai pedoman hidup. Al-Quran selalu menjadi rujukan andalan untuk segala perihal kehidupan manusia, mulai dari masalah ketuhanan hingga kehidupan sosial. Ada banyak sekali keistimewaan yang dimilikinya. Para ilmuwan masa lampau memiliki kebiasaan untuk memahami sesuatu dari pengertiannya, dan jika diaplikasikan kepada Al-Quran akan memiliki beberapa ciri tersebut :

  • Merupakan kalamullah, dapat dilihan dari makna, pilihan kata, dan diksi-diksinya yang tiada bandingannya sebagai tanda benar-benar dari Allah. Sudah ada banyak sekali kasus di masa lampau di mana para pembawa ajaran sesat berusaha untuk membuat ayat-ayat yang dimaksudkan untuk menyamai gaya bahasa Al-Quran tanpa ada hasil yang mereka inginkan. Hal ini juga membuktikan bahwa Al-Quran bukan merupakan cultural product.
  • Al Munzzal, diturunkan kepada Rasul Muhammad SAW dan sifatnya kewahyuan nya masih melekat dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Al-Quran juga mempunyai keistimewaan lain; ‘mengkonfirmasi isi kitab-kitab sebelumnya sekaligus membantah’, menunjukkan bahwa Al-Quran menerapkan segala kebaikan yang telah diajarkan kepada umat manusia sebelumnya dan meng-upgrade nya untuk masa kini dan masa yang akan datang.
  • Diturunkan dengan perantara malaikat Jibril. Di dalam satu kesempatan rasulullah berbicara dengan Allah pada malam Isra Mi’raj, kalam-Nya tidak termasuk dalam Al-Quran.
  • Membacanya merupakan ibadah, bahkan mendengar orang yang membacanya pun akan mendapatkan pahala yang nilainya sama dengan orang yang membacanya.
  • Mukjiz; melampaui kemampuan manusia, terlihat dari tantangan dan peringatan yang sudah disebutkan di dalam Al-Quran. Bukti-bukti lain dapat dilihat pada keseimbangan jumlah kata layl >< nahar (malam >< siang), baik >< buruk, yaum (hari) yang berjumlah 360, yaumain yang berjumlah 30, dan ayyam yang berjumlah 12. Keseimbangan kata-kata ini menandakan keseimbangan jiwa seseorang, sehingga membacanya dapat membantu kita mencapai keadaan jiwa yang seimbang dan tenang sehingga juga membantu menjernihkan pikiran

Al-Quran juga tidak diturunkan secara semerta-merta. Semua disesuaikan dengan keadaan umat manusia pada masa jahiliyyah dan agar dapat lebih mudah untuk diterima. Pada fase pertama (makkiyyah), ayat-ayat yang diturunkan lebih banyak menyangkut soal Allah dan Aqidah ketimbang aturan-aturan syariah. Hal ini pun diturunkan dengan prinsip tadarruj atau kebertahapan juga, seperti yang terjadi soal pelarangan khamr. Pada fase kedua (madaniyyah) ayat-ayat yang diturunkan banyak menyangkut tentang ibadah, menuntut ilmu, ekonomi, politik, dan hal muamalat serta syariah lainnya. Al-Quran berisi juga tentang ramalan kerusakan umat yang berhubungan erat dengan Al-Quran; menyia-nyiakan Al-Quran dengan tidak membacanya, tidak mendengarnya, tidak mengamalkannya, tidak merenunginya, tidak mau mncari obat darinya, dan hal yang terpenting bagi para mahasiswa hukum adalah meninggalkan proses pengambilan hukum dari Al-Quran.
Hal ini merupakan hal yang amat sangat miris dan patut kita takuti mengingat betapa pentingnya kitab suci tersebut dalam hidup kita. Kemungkinan terjadi nya hal tersebut selalu ada dan lambat laun akan terjadi, tetapi kita dapat berusaha untuk mencegah atau paling tidak memperlambatya, dengan melakukan hal-hal berikut :

  1. Belajar membaca Al-Quran, lalu memperbaikinya dengan tahsin, serta lebih baik lagi ditambah dengan sanadnya/
  1. Mempunyai wiridnya / amalan sunnah yang khas. Para ulama pada masa lampau berkata; semakin serius kita mempelajari suatu ilmu, jangan sekali-sekali meninggalkan Al-Quran, karena Al-Quran justru akan melipatgandakan ilmu tersebut untuk kita. Dengan adanya wirid khusus tersebut, akan sangat membantu melipatgandakan dan membiasakan kita untuk selalu menyertakan Al-Quran dalam perjalanan penuntutan ilmu kita.
  1. Setelah kedua hal tersebut tercapai, maka beranjaklah lebih lanjut; pahami maksud dari ayat-ayatnya. Selalu ada asbabun nuzul, sejarah, pesan, cerita, dan hal lain yang dapat kita ambil pelajarannya dari setiap ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.
  2. AL-Quran berisi perintah-perintah dan larangan-larangan yang ditujukan untuk kemaslahatan manusia, sehingga pengamalannya akan sangat bermanfaat bagi hidup kita. Untuk membantu mengamalkannya, kita dapat juga membuka kitab-kitab hadist dan mengamalkannya.
  3. Mencari inspirasi dari Al-Quran dengan merenunginya. Sang Pencipta alam semesta tentu mempunyai kehebatan yang tak terhingga, maka gunakanlah kalam-Nya sebagai bahan renungan yang kelak dapat memberi kita inspirasi dalam menjalani hidup dan perjuangan menuntut ilmu.
  4. Jika sudah merasa memiliki dasar yang kuat, maka coba untuk mem-breakdown key concept yang ada di dalam Al-Quran. Hal ini merupakan level yang sangat tinggi dari pemahaman Al-Quran dan membutuhkan dasar ilmu yang sangat kuat, tetapi memahami sesuatu dengan menggolongkan konsep-konsep dasarnya merupakan hal yang sangat bermanfaat.
  5. Mulai menggunakan Al-Quran pada penyembuh, baik fisik maupun rohani.
  6. Menggunakan hukum atau proses pengambilan hukum yang ada di Al-Quran. Sebagai mahasiswa hukum, hal ini tentu saja tidak dapat kita lupakan. Kita dapat mulai dengan mempelajarinya di mata kuliah hukum Islam. Akan tetapi kelak janganlah kita melupakan hukum Allah tersebut dan berusaha untuk selalu menegakkan hukum yang telah disebutkan di dalam Al-Quran karena hukum Allah merupakan hukum yang sangat adil, fleksibel sekaligus tegas dan ditujukan untuk ketertiban hidup umat manusia.

Ku Tunggu Janjimu

Kantinjus, 24 April 2015

kantinjus

 

Sebagai seorang muslim, maka satu hal yang pasti adalah kita telah bersyahadat. Syahadat sejatinya adalah ikrar, bentuk perjanjian kita dengan Allah untuk menaati Allah dan menjauhi apa yang Ia larang. Teman-teman pasti sudah sangat familiar dengan ayat ini

“ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ”

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. “

Yap, Az-Dzariyat ayat 56. Allah mengatakan bahwa Ia menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada-Nya karena memang tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Dalam sebuah hadist, Rasulullah mengatakan bahwa sesungguhnya setiap manusia lahir dalam keadaan Islam, yang menjadikannya nasrani, yahudi, atau majusi adalah orang tuanya. Sebagian besar dari kita mungkin terlahir dan dibesarkan di keluarga muslim, sehingga seringkali kita mungkin merasa “biasa saja” dengan kalimat yang selalu kita ikrarkan setiap tasyahud dalam sholat. Padahal, bentuk kita membaca syahadat sebagai ikrar dan persaksian kita bahwa hanya Allah lah ilah yang berhak disembah tidaklah ringan. Kita harus memaknai syahadat kita, juga harus merenungi, apa yang harus kita lakukan setelahnya. Inilah yang disebut dengan komitmen kita sebagai seorang muslim. Komitmen adalah kesepakatan, janji. Maka bila sebuah komitmen diingkari, teman-teman tentu tahu apa akibatnya smile emotikon

Dalam berislam ini, tentu sudah menjadi kewajiban kita untuk terus menggali dan memperdalam ilmunya. Setelah kita memahamkan diri dengan islam, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan .

  1. Mengislamkan akidah kita. Segala hal hanya kita gantungkan pada Allah. Jika selembar daun jatuh dengan takdir Allah, maka segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, yakinkanlah bahwa itu merupakan ketetapanNya dan hanya kepadaNya kita berserah diri. sedetik pun hidup kita tidak boleh tidak kita niatkan melainkan hanya untuk ibadah.
    2. Mengislamkan akhlak. Kita sudah paham akan Rasulullah. Bunda Aisyah menyebutkan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Quran. Ia adalah teladan terbaik. Jika parfum ada yang asli dan kw, maka dekatkanlah diri kita untuk menjadi parfum yang asli, yang benar-benar mencontoh perilaku dan akhlak Rasulullah.
    3. Mengislamkan keluarga. Selalu berbagi nasihat, cerita yang indah, islami dan menenangkan dengan orang-orang terdekat.
    4. Yakin bahwa masa depan milik Islam, bukan milik yang lain. Ini adalah salah satu konsekuensi kita sebagai muslim, meyakini bahwa kita adalah umat terbaik, sehingga masa depan adalah milik kita, umat Islam.

Jika ke empat hal itu sudah tertanam, maka langkah yang harus kita jalani sepanjang hayat kita adalah menyeru kepada kebaikan. Menebarkan nilai-nilai Islam kepada semua. Manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang saling menasihati. Dimana pun teman-teman berada, proses menebar kebaikan ini harus selalu dilakukan. Itulah mengapa, hal ini membutuhkan komitmen, karena ia adalah serangkain proses yang harus dijalani dengan istiqomah. Jika kita berhanti, bagaimana keyakinan kita akan kejayaan Islam akan terbukti?

Ingatlah, sejatinya semua makhluk menunggu janji kita kepada Allah, untuk menegakkan kalimatNya, untuk berlomba dalam kebaikan, dan untuk bersama-sama membawa Islam kembali kepada masa emasnya. Jangan tunggu yang lain, jangan tunggu nanti, mari kita mulai dari diri sendiri, sekarang juga J

Sebungkus Nasi Untuk Mereka

Kesejahteraan merupakan impian setiap masyarakat Indonesia. Adapun salah satu unsur dari kesejahteraan ialah terpenuhinya kebutuhan akan pangan. Di Indonesia sendiri, masih banyak masyarakat yang tidak bisa memenuhi kebutuhan akan pangan sehingga menyebabkan ketidaksejahteraan merajalela di Indonesia. Melihat hal itu, Departemen Pelayanan Umat KMFH bersama Dema Justicia dan Alsa FH UGM mengadakan acara “Berbagi Nasi”. Acara ini diadakan pada tangga 10 April 2015.

Sebelum menuju tempat tujuan, para peserta berkumpul di FH UGM pada pukul 18.30 WIB. Kemudian, dibentuklah beberapa kelompok yang akan berpencar di Malioboro. Satu kelompok terdiri dari anggota KMFH, Dema dan Alsa. Hal ini dilakukan demi memperat hubungan antar tiga lembaga tersebut.

Sesampainya di tempat tujuan, kelompok-kelompok tersebut mulai mencari target yang dituju. Tidak sembarang orang dapat menjadi subjek Berbagi Nasi ini. Hanya para masyarakat yang telah berumur dan memiliki penghasilan yang lebih rendah yang dapat menjadi sasaran Berbagi Nasi. Kegiatan ini berlangsung selama tiga jam dan ditutup dengan foto bareng.

Meriahnya Futsal Bareng KMFH

1429761263130

Keluarga Muslim Fakultas Hukum (KMFH) UGM pada hari Minggu, 19 April 2015 melaksanakan kegiatan olahraga sepak bola. Acara yang lebih dikenal sebagai futsal bareng ini diadakan di Soccer pada pukul 19.00 WIB dan disponsori oleh Biro Khusus Kaderisasi. Banyak anggota KMFH dari berbagai angkatan yang antusias mengikuti kegiatan ini. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah anggota KMFH yang ikut bermain.

Futsal bareng ini bukanlah kali pertama dilakukan oleh KMFH, melainkan merupakan acara turun temurun yang sudah ada sejak dulu. Selain menyalurkan hobi bermain sepak bola, futsal bareng tersebut juga memiliki manfaat tak terlihat yang dirasakan. Salah satunya ialah merekatkan ukhuwah para anggota KMFH. Kegiatan yang pesertanya hanya terdiri dari lelaki ini diperkirakan akan diadakan lagi pada sesi berikutnya.

Sisi Lain Mahasiswa

Rabu, 1 April 2015

sisi lain mahasiswa

Mahasiswa memiliki peranan yang sangat penting dalam melakukan pengawasan terhadap pemerintah. Namun teriakan-teriakan mahasiswa itu kian meredup. Hal ini menjadi pertanyaan yang besar kemanakah peran mahasiswa yang dikenal sebagai agen perubahan? Bahkan ketika para mahasiswa berteriak lantang hukum mati koruptor, mereka sendiri pun tanpa sadar telah menebarkan benih korupsi.

Departemen Pengkajian dan Wacana (DPW) KMFH UGM bersama BPPM Mahkamah mengadakan diskusi publik dengan tema “Sisi Lain Mahasiswa”. Diskusi ini bertempat di selasar gedung I dan dimulai pada pukul 15.30. Pembicara yang dihadirkan ada tiga orang, yakni Fahriz Fahrijan (Pegiat PUKAT), M. Fatahillah Akbar (Dosen FH UGM), Satria Triputra Wisnumurti (Presiden Mahasiswa UGM 2015) dan dimoderatori oleh Jatmiko Wirawan (Mahasiswa FH UGM).

Fahriz Fahrijan sebagai pembicara pertama berpendapat bahwa saat ini pergerakan mahasiswa sering kehilangan arah mengenai posisi mereka dalam masyarakat. Pada jaman dulu, mahasiswa begitu masif dan kolektif tetapi pada masa sekarang kepekaan mahasiswa dalam menanggapi isu berkurang. Padahal dengan melatih kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar dapat menjadi pijakan kuat untuk menghadapi hal yang lebih besar. Dapat ditemukan dalam sejarah bangsa ini bahwa mahasiswa mampu menjatuhkan suatu prinsip. “Kita terbuai dengan pergerakan mahasiswa di 98 tetapi hal itu tidak diikuti lagi setelah Soeharto jatuh”, ujar Fahriz.

Selain itu, sistem kapitalis pendidikan juga mempengaruhi pergerakan mahasiswa. Mereka disibukkan dengan tugas, absensi dan sebagainya sehingga tidak dapat berbuat banyak dalam pergerakan. Peran dalam memberikan opini alternatif terhadap pemerintah seharusnya tidak dilupakan oleh mahasiswa. Namun mahasiswa jaman sekarang hanya bertindak sebagai follower bukan leader. Banyak mahasiswa yang hanya melihat isu secara makro (nasional) tetapi tidak melihat secara mikro (lokal).

Permasalahan selanjutnya ialah terjadinya elitis mahasiswa yang sangat kuat di antara organisasi. Fahriz menegaskan bahwa tanpa adanya gerakan kolektif maka mustahil sebuah perubahan akan terjadi. Mahasiswa akan kehilangan daya tawar mereka ketika mereka bergerak sendiri-sendiri.

Lebih lanjut, Fatahillah Akbar juga mengungkapkan perbedaan mahasiswa jaman dulu dengan jaman sekarang. “Mahasiswa jaman dulu memiliki aura atmosfer yang luar biasa. Sementara jaman sekarang bahkan mau ada permira saja hening. PPSMB mau diubah dekanat, mahasiswa biasa saja”, ucapnya.

Fatahillah Akbar pun juga mendukung peran mahasiswa dalam memberikan opini alternatif. Menurutnya, saat ini mahasiswa kurang berpendapat. Walaupun berpendapat tetapi banyak mahasiswa yang hanya menjadi follower saja . Mahasiswa dirasa tidak berani melawan arus.

Ia pun juga menegaskan seharusnya antara akademik dan ekstrakurikuler itu seimbang. “Tidak ada dekanat kita yang mengatakan hanya harus fokus pada nilai akademik saja. Tidak ada halangan bagi mahasiswa untuk mengadakan acara kemahasiswaan. Cuma terkadang kalian memaksakan ekstrakurikuler saja yang menjadi fokus dan akademik kurang diperhatikan”, paparnya. Hal ini juga yang menjadi perbedaan antara mahasiswa jaman dulu dengan jaman sekarang.

Pembicara terakhir, Satria, mengatakan bahwa fenomena yang terjadi sekarang adalah sekelompok mahasiswa yang memperjuangkan suatu hal memaksaan kelompok mahasiswa lain untuk memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan. Fenomena ini terjadi pasca 98 dimana terdapatya kebebasan maka orang-orang bebas memperjuangkan menurut versinya masing-masing. Bahkan dalam tujuan yang sama dapat terjadi saling menyalahkan antar kelompok mahasiswa.

Menurut Satria, seharusnya mahasiswa harus siap untuk mengambil peranannya masing-masing. Orang yang memperjuangkan suatu isu diharuskan siap menjadi leader. Namun leader pun juga harus memiliki keseimbangan antara di dalam dan di luar kelas. Apalagi dengan sistem pendidikan yang tidak memihak kepada mahasiswa tentu membuat mahasiswa harus menemukan rumusan yang baik antara organisasi dengan kuliah.

Satria berpesan agar para mahasiswa siap untuk menjadi leader dan creator. “Negara ini mampu berdiri karena ada dua orang yang mampu bertanggung jawab atas bangsanya”, tegasnya. Ia pun menambahkan agar mahasiswa jangan sekedar memuaskan kepentingan dan kehausan ilmu pengetahuan saja yang hanya akan berakhir pada kepuasan di otak. Jadikanlah kualitas hidup di kampus ini menjadi bekal luar biasa di masa mendatang dan lebih baik dari 18 tahun sebelumnya. “Sesungguhnya bukan usia yang harus ditambah dalam kehidupan tetapi menambah kehidupan dalam usia. Semua bisa menjadi apa saja. Tinggal keberanian kita untuk memilih versi yang mana”, tutur Satria.