Sumpah Pemuda: Sebuah Refleksi Pemuda Muslim

Di tanggal 28 Oktober 1928, terjadi sebuah peristiwa yang menjadi salah satu fundamen perjuangan pemuda dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari negara kolonial. Peristiwa itu adalah Kongres Pemuda yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Sumpah Pemuda. Sejarawan A.M. Suryanegara dalam Bukunya “Api Sejarah” mengatakan bahwa Sumpah Pemuda ini terjadi sebagai jawaban terhadap tantangan sejarah dari dalam maupun luar negeri. Ia merupakan kristalisasi jawaban terhadap penagkapan dan pembuangan ke Boven Digul yang dilakukan pemerinah Kolonial Belanda pada tahun 1927. Kongres Pemuda II ini kemudian menghasilkan keputusan yang dinamakan Sumpah Pemuda. Isinya ada tiga poin yakni pengakuan terhadap tumpah darah yang satu yaitu tanah Indonesia, kemudian berbangsa satu yakni bangsa Indonesia, dan terakhir adalah pengakuan terhadap bahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia.[1]

Sebenarnya, ini merupakan kongres pemuda kedua, yang pertama dilakukan pada tahun 1926, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1926. Namun sebelumnya, telah ada pelopor kongres kepemudaan yakni pada tahun 1925 dengan terselenggaranya Kongres Jong Islamieten Bond (JIB) di Yogyakarta. Saat itu JIB telah memiliki 1000 anggota di 7 cabang, yang menandakan kekuatan pemuda pada saat itu.[2] Disinilah kemudian peran muslim terlihat dalam pergerakan nasional menghadapi kekuatan kolonialisme modern Belanda.

  1. Sjamsoeridjal, merupakan pendiri JIB yang kemudian menggerakkan pemuda untuk melawan kolonialisme. Awalnya, ia merupakan ketua dari Jong Java. Namun ketika melihat sikap dari perkumpulan Boedi Oetomo, organisasi induk Jong Java, yang kooperatif dengan Belanda. Boedi Oetomo, Taman Siswo, dan Jong Java, masih terlalu Jawa-sentris, ini kemudian terlihat dari penggunaan bahasanya yang lebh mengutamakan bahasa jawa sebagai bahasa komunikasi organisasinya, seni budaya, cenderung hanya menguntungkan golongan priyai dan pendidikan jawa serta huruf yang digunakan masih dengan aksara Jawa. Bahkan fakta sejarahnya, keputusan kongres Boedi Oetomo April 1928 kemudian menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia. Kemudian menurut Hadji Agoes Salim, Jong Java hanya mementingkan Djawa Raja, bertujuan untuk menjauhkan pemuda terpelajar dari agama Islam dan politik. Agoes Salim lah yang kemudian menyarankan Sjamsoeridjal meniggalkan Tri Koro Dharmo Jong Java yang sebenarnya motivasi gerakannya tidak jauh beda dengan Boedi Oetomo. [3]

Jong Islamieten Bond kemudian bergerak dengan semangat persatuan Indonesia, nasionalisme, dan ingin melepaskan diri dengan keterikatan dengan garis kedaerahan belajar dari primordialisme Jong Java. Akibatnya, ini kemudian mendorong lahirnya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang beranggotakan mahasiswa rechtshoogeschool dan  Technosche Hoogeschool. Dari sinilah PPPI kemudian berperan di dalam Kongres Sumpah Pemuda bersama Jong Indonesia yang beranggotakan pemuda yang pernah studi di luar negeri.[4] Kemudian melihat keputusan kongres Boedi Oetomo yang menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia, maka PPPI kemudian segera menyelenggarakan kongres Pemuda II. Didalam kongres ini tercatat dalam dokumentasi Yayasan Gedung Bersejarah Jakarta,dihadiri oleh sekitar 750 orang dan perhatian dari organisasi Islam kemudian sangat besar, terlihat dari hadirnya perwakilan Pengurus Besar Partai Sjarikat Islam Indonesia. sementara itu, Jong Java diwakili oleh RM Mas Said sebagai Mantri Polisi, bukan pelajar. Kehadiran ini kemudian memperlihatkan keberpihakan Jong Java kepada pemerintah Belanda yang ada saat itu mempraktikkan indirect rule system, yang disokong oleh Penguasa Pribumi atau Pangreh Praja dan Polisi. Ini kemudian berpengaruh denga jalannya kongres dengan tidak dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dengan liriknya, hanya nada saja.[5]

Dari Sumpah Pemuda kita kemudian diperlihatkan adanya kesediaan pemuda untuk mempersatukan diri dengan bahasa yang satu, bahasa Indonesia. Bahasa ini dikenal dengan sebutan bahasa melayu pasar dan dipakai oleh rakyat nusantara apalagi di daerah pesisir dan jalur perdagangan pantai timur Sumatra dan pantai utara Jawa. Bahasa ini juga merupakan simbol persatuan kaum pribumi tertindas yang dilarang menggunakan bahasa Belanda. Komitmen penggunaan bahasa yang lain dari bahasa ibu para peserta kongres ini menandai transformasi dari nasionalisme kultural menuju nasionalisme politik. Gerakan kebangkitan yang semula lebih berbasis etno-religius dan etno-sentris serta cenderung ter-fragmentasi antar kelas, mulai mempertautkan diri ke dalam komunitas politik impian yang bersifat lintas-kultural, bernama indonesia. nasionalisme politik ini kemudian timbul dari proses transendensi ikatan warga dengan simbol-simbol promordialnya. Lantas fantasi non-kooperatif modern dihidupkan berdasarkan konsepsi kewarganegaraan berdasarkan teritorial, kemudian menjalin solidaritas dengan berdasarkan kesamaan tumpah darah Indonesia.[6] Melalui sumpah pemuda tadi, kesadaran kaum muda untuk melepaskan diri dari jerat primordialisme dan etno-sentris muncul dan ini merupakan dasar terciptanya persatuan yang lebih universal. Persatuan ini yang kemudian memotori perjuangan merebut kemerdekaan dari belanda. Karena pada hakikatnya, manusia merupakan makhluk yang bebas.

Pemuda “Zaman Now”

Seorang revolusioner dari Iran, Ali Syariati, mengamati kondisi sosial masyarakat pada saat itu, dan kiranya ini masih relevan. Hasilnya ia mengatakan bahwa “manusia sekarang jauh lebih hebat dari pendahulunya, nenek moyangnya, dapat membangun manusia namun kurang tahu apa yang ia bangun. Berkenaan dalan hidup, ia dapat hidup dari kehidupan macam apapun yang ia senangi, tetapi ia tidak tahu bagaimana, sebab ia tidak tahu mengapa”. Kemudian relevan juga bila kutipan dari Alexis Carrel diberikan, bahwa “sejauh manusia tenggelam dalam dunia luar dan telah mencapai kemajuan disana, sejauh itu pula ia terasing dari dirinya dan hakikatnya sendiri”.[7] Ini relevan dengan realita pemuda dewasa ini. Cenderung lupa akan hakikat dirinya dan pergerakannya serta hanya mementingkan nilai guna yang terpengaruh gejala pragmatisme.

Di era pra-kemerdekaan, pergerakan pemuda khususnya mahasiswa memang secara ideologis telah memiliki banyak perbedaan. Kita tahu bagaimana Bung Hatta dan Semaun misalnya, seorang federalis yang cenderung sedikit liberal dengan seorang komunis tulen. Keduanya bertemu dalam satu konvensi di Den Haag, Belanda. Ini bahkan jadi dasar Belanda untuk menangkap dan mengasingkan Hatta, karena dituduh telah bersekongkol dengan golongan revolusioner.[8] Keduanya mungkin punya cara pandang dan solusi yang berbeda bila berbicara mengenai masalah kemerdekaan, namun keduanya tetap memahami tujuan dari perjuangannya masing-masing sehingga saling kerjasama walau secara ideologis atau agama berbeda untuk mencapai tujuan tadi. Sesuai dengan sumpah pemuda yang berorientasi pada persatuan.

Bagaimana dengan pemuda khususnya mahasiswa era post-reformation ? pasca jatuhnya Orde Baru, pergerakan mahasiswa kemudian mendapatkan angin segar yakni kebebasan yang lebih dan represifitas pemerintah lambat laun mulai menghilang walau masih sering terjadi. Namun, angin segar ini kemudian menyamankan pemuda yang akhirnya mencari musuh bersama masing-masing, agar ada alasan untuk bergerak. Sankin semangatnya mencari musuh, akhirnya gesekan antar mahasiswa terjadi. Saat ini mahasiswa ter-polarisasi berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan, baik golongan antar kelas, maupun golongan yang berbasis ideologi. Ternyata gejala etno-sentrisme, primordialisme, etno-religius, dan pemisahan antar kelas masih bisa masuk kedalam tataran mahasiswa.

Ini yang menjadi pertanyaan bagi kita semua, pemuda yang diwakili oleh golongan intelektual seperti mahasiswa kemudian bertarung antar golongannya sendiri. Persatuan sulit dicapai ketika egosentrisme mahasiswa ini masih besar. Masalahnya pertarungan ini didasari hal-hal yang ideologis, namun sayangnya masing-masing pihak lupa apa hakikat mahasiswa sebagai agent of change atau agen perubahan. Misalnya, mahasiswa dalam satu kampus terfragmentasi berdasarkan ideologi ataupun agama, kemudian terlalu asyik bertarung di politik kampus dengan wacana-wacana persatuan. Namun, hakikat akan mahasiswa yakni menjadi pengkritik setia pemerintah dilupakan.

Dari sini kita perlu untuk merefleksikan kembali sumpah pemuda dalam pergrakan mahasiswa, khususnya mahasiswa muslim. Problem pergerakan mahasiswa muslim sekarang adalah gerakannya terlalu eksklusif dan terlalu etno-religius. Masing-masing gerakan muslim pun terpecah hanya karena perbedaan firqah dan furu’iyah. Nampaknya kita kurang belajar dari Persjarikatan Moehammadijah, Nahdlatoel Ulama, Perti dan Persis yang punya peran besar dalam kemerdekaan. Mungkin kita ingat juga pada saat perumusan Pancasila, saat itu ada perdebatan antara kaum agamis dengan kaum nasionalis mengenai sila pertama. Perdebatan tujuh kata yakni kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya”, akhirnya dihilangkan atas ke-legowo-an Ki Bagoes Hadi Koesoemo dan KH Hasyim Ashari dengan dasar persatuan indonesia. artinya kita selain melakukan persatuan dengan sesama muslim, juga melakukan fusi kepada golongan lainnya.

Hendaknya persatuan ini kemudian diutamakan agar terjadinya check and balances oleh mahasiswa sebagai kelompok pengkritik kepada pemerintah yang menjalankan kekuasaan. Kemudian mengenai bahasa persatuan, dewasa ini pemuda kurang gemar dan bangga dengan bahasanya, bila ingin dikatakan gaul, maka gunakanlah bahasa Inggris dan bila ingin dikatakan sholeh maka gunakanlah bahasa Arab. Kita bisa lihat negara-negara yang kemudian maju karena bangga akan bahasanya seperti Prancis, Jerman, Spanyol, dan di Asia ada Jepang. Penggunaan bahasa nasional juga sebagai simbol dari superioritas sebuah bangsa. Bahasa juga menjadi kunci dalam penghayatan akan sumpah pemuda yang ternyata masih relevan dengan kondisi pemuda Indonesia.

Referensi:

[1] AM Suryanegara, Api sejarah, Penerbit Salamadani, Bandung, 2013

[2] Ibid

[3] Ahmaddani, G. Martha, Christanto Wibisono, Yozar Azwar, Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa, Kurnia Esa, Jakarta, 1995.

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Yudi Latif, Negara paripurna, Kompas Gramedia, Jakarta, 2011

[7] Ali Syari’ati, Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat pikir Barat Lainnya, Penerbit Mizan, Bandung, 1983

[8] Dedi Ahimsa Riyadi, Hatta : Hikayat Cinta dan Kemerdekaan, Penerbit Edelweiss, Depok, 2010

Ditulis oleh:

Kabinet Payung Peradaban

Keluarga Muslim Fakultas Hukum

Universitas Gadjah Mada

You may also like

Leave a comment