Notulensi Diskusi Warkop #3 : Relasi Islam dan Sosialisme

 

Telah diselenggarakan Diskusi Warung Kopi yang bertemakan Relasi Islam dan Sosialisme. Diskusi ini diadakan di Warkop Shine Caffe pada hari Kamis, 28 Oktober 2017 ba’da Isya dan dipantik oleh Mas Melfin Zaenuri, mahasiswa dari Fakultas Filsafat UGM.

Diskusi dibuka dengan pertanyaan bagaimana konteks Islam dan sosialisme itu sendiri. Sosialisme seringkali diidentikkan dengan komunisme, mungkin karena memang lahir dari rahim yang sama. Alhasil, ketika komunisme kemudian menjadi hantu dan musuh bersama bagi elite-elite indonesia, sosialisme pun ikut-ikutan terkena dampak. Lebih lucu lagi ketika umat Islam yang kemudian tergiring opini publik untuk membenci komunisme dan PKI saat bulan-bulan panas ini, malah jadi tergiring juga untuk membenci sosialisme. Ini yang kemudian adanya urgensi untuk sejenak melupakan dulu dendam terhadap komunisme karena PKI. Karena PKI dan komunisme adalah dua entitas yang berbeda.

Bila berbicara dalam konteks Islam, sosialisme sendiri merupakan salah satu nilai yang ada dalam ajaran Islam. Namun, karena ke-identik-an komunisme dan sosialisme karena lair dalam rahim yang sama, maka filsafatnya yakni materialisme dialektika ditolak habis-habisan oleh ajaran Islam. Saat masa kolonial, dimana keduanya sama-sama tertindas, muncul kemudian wacana untuk meng-kolaborasi-kannya menjadi sebuah kekuatan melawan penjajahan. Apa lagi pada saat itu, kongres Islam sedunia di Saudi gagal dilaksanakan.

Wacana kolaborasi ini dibuka oleh dari kedua kubu, diawali dengan salah satu tokoh pemikir Islam Hindia Belanda, H.O.S. Tjokroaminoto. Tjokro menulis satu buku yang berjudul “Islam dan sosialisme”. Buku ini kemudian menjelaskan bagaimana sebenarnya relasi antara kedua entitas itu sendiri. Kemudian dari kubu sebelah, diawali kritik Tan Malaka kepada Komintern. Tan Malaka mengkritik Komintern yang tidak mau membuka diri kepada kekuatan Pan-Islamisme pada saat itu, padahal keduanya sama-sama merupakan gerakan atas respon dari kolonialisme Eropa.

Menurut Mansur Faqih, ada empat paradigma umat Islam dalam merespon sosialisme yakni :

  1. Respon Islam Tradisionalis : respon ini ditujukkan oleh kalangan tradisionalis sebab sosialisme dapat merusak kearifan dan budaya lokal.
  2. Respon Islam Revivalis : respon ini ditunjukkan oleh organisasi-organisasi masyarakat seperti FPI atau HTI. Mereka menolak sosialisme dan sejenisnya, namun gerakan yang mereka perjuangkan secara substansi sebenarnya sama denan sosialisme seperti penolakan terhadap sistem ekonomi kapitalisme dan neo-liberalisme.
  3. Respon Islam Liberal : paradigma pemikiran liberal ini seperti namanya berarti bebas. Jadi dalam merespon sosialisme, hanya membebaskan golongannya mau menanggapinya seperti apa. Namun sayangnya, liberalisme ini kemudian mengafirmasi adanya kapitalisme yang tumbuh subur di dalam pemikiran seperti ini. Ini dikarenakan masyarakat liberal termasuk Islam liberal itu sendiri, melihat masyarakat sebagai individu dan tidak melihatnya secara kolektif. Ii juga yan menimbulkan individualisme dalam manusia.
  4. Respon Islam Transformatif : respon ini dimunculkan oleh golongan Islam yang biasa kita kenal sebagai Islam transformatif atau Islam progresif. Golongan ini merespon sosialisme dengan keterbukaan dan melihat bahwa wacana Islam dan sosialisme ini bisa menjadi pondasi untuk mencari formulasi bagaimana caranya untuk melindungi kaum mustadh’afin. Dalam melihat problema ini, biasanya golongan ini menggunakan teologi pembebasan. Kemudian menafsirkan ayat-ayat Tuhan secara progresif dan kontekstual serta sesuai dengan apa yang diperjuangkan.

Progresivitas Islam

Saat ini agama menjadi sebuah hal yang kembali mendapatkan perhatian. Agama sekarang bermain dalam ranah populisme. Misal saja, Aksi Bela Islam yang sampai punya beberapa episode. Aksi ini mampu menebar keresahan yang sedemikian rupa sehingga bisa menggaet massa yang sedemikian besar, bahkan konon katanya bisa sampai tujuh juta demonstran. Namun sayangnya adalah, dari permainan para golongan revivalis ini kemudian memunculkan pendapat bahwa Islam hanyalah agama yang tidak boleh dihina, dan akhirnya aksi bela kendeng ataupun konflik agraria lainnya dimana Islam bisa sangat berperan disana, menjadi tidak populer. Padahal, kaum mustadh’afin yang benar nyata adalah orang-orang yang hidup dipusaran konflik agraria tadi.

Permasalahan diatas tadilah yang kemudian memunculkan gagasan Islam progresif. Gagasan Islam progresif yang dicetuskan oleh Muhammad Al-Fayyadl ini kemudian menolak adanya kapitalisme, hampir sama sebenarnya dengan golongan revivalis. Perbedaannya adalah Islam progresif lebih terbuka terhadap segala bentuk pemikiran yang progresif seperti wacana kolaborasi Islam dan sosialisme. Islam progresif juga sebenarnya sedikit identik dengan kelompok Islam liberal, sama-sama terbka dalam melihat sebuah pemikiran. Perbedaannya kemudian adalah Islam progresif ini kemudian melihat sebuah tatanan masyarakat sebagai sebuah kolektivitas atau kelompok dan komunal, sedangkan Islam liberal melihat suatu masyarakat secara terpisah-pisah dan melihat secara individual. Islam liberal kemudian mendukung kebebasan manusia secara individu, ini yang kemudian menumbuhkan bibit-bibit kapitalisme dalam perekonomian dan individualisme dalam kehidupan bermasyarakat.

Bila kita melihat dari perspektif historis dan dalam konteks indonesia, wacana Islam progresif ini hampir tidak bisa muncul kepermukaan. Pasca kemerdekaan, wacana Islam progresif ini sangat sulit untuk berkembang dan masuk dalam arena politik. Ini dikarenakan sibuknya rezim untuk mengendalikan masyarakat agar tidak ada perlawanan. Alhasil, rezim boleh sedikit bersahabat dengan Islam, namun yang ditonjolkan hanya dari segit ritus semata.

Pasca reformasi kemudian muncul lagi gerakan-gerakan Islam yang progresif baik dari tataran pemikiran hingga tataran gerakan. Disini, penting untuk kemudian pemain-pemain Islam progresif untuk turun bermain pula politik praktis. Karena jangan sampai kalangan Islam revivalis dan liberalis memonopoli istilah Islam dalam pertarungan politik nasional. Islam politik harus ada Islam progresif, agar dapat menyuarakan kaum mustadh’afin.

Penutup

Kembali lagi kepada wacana kolaborasi Islam dan sosialisme, menjadi penting kemudian untuk kita pahami secara komprehensif. Islam bisa dianggap sebagai konsep, serta dianalisis menggunakan analisis Marxis mengenai sosialisme yang merupakan fenomena atas respon dari ketertindasan. Kedua entitas ini punya sejarah dan keterkaitan yang sangat besar. Keduanya pula punya nilai-nilai yang sebenarnya hampir sama. Tujuannya pun sama, sebagai respon dari ketertindasan dan keterkekangan.

Islam sendiri merupakan agama yang sangat lengkap dan sempurna, ia mengatur keseluruhan aspek kehidupan. Islam juga merupakan agama pembebasan, yang membebaskan bukan hanya umatnya semata, namun juga seluruh umat manusia dari segala keterkekangan dan keterpurukan. Kita ingat kisah  Nabi SAW yang dengan ajaran Islamnya dapat me-revolusi tatanan masyarakat arab yang sangat etno-sentris, kapitalis, dan jahiliyah pada saat itu menjadi masyarakat madani yang punya piagam HAM pertama di dunia. Dengan tafsir progresif dan kontekstual serta relevan sesuai ruang dan waktu ala kaum Islam transformatif atau progresif, maka ayat-ayat Tuhan bisa digunakan untuk memperbaiki dunia menjadi lebih baik.

You may also like

Leave a comment