Celoteh Bang Agam: “Katanya Toleransi”

Di sebuah malam, malam yang sangat ditunggu oleh pecinta sepak bola Indonesia. Saat itu adalah final melawan negara tetangga.

Kevin seorang mahasiswa tingkat dua mendesah. Menelan kekecawaannya yang tadinya berharap sang garuda muda memenangkan final namun berakhir dengan title runner-up.

“Jangan kecewa begitulah kau,” ucap Bang Agam dengan logat medannya.

“Bagaimana ga kecewa bang. Gua udah berkepala dua, tapi Indonesia selalu mentok di final,”

“Ah, macam tidak tahu saja lah kau. Selain itu, daripada memikirkan bola, lebih baik kau lihat kondisi kita sekarang.”

“Lu benar bang, keuangan gua kurang baik akhir-akhir ini,” ucap Kevin semakin depresi.

Mendengarnya curhatan keuangan Kevin, lelaki yang dipanggil Bang Agam mengusap-usap kepalanya karena Kevin tidak tahu maksud dari ucapannya.

Dia kemudian menyeruput kopi hangat favoritnya.

Agam mendesah. Menikmati panasnya kopi merasuki seluruh tubuhnya. Agam kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Kau tahu apa yang sedang hangat-hangatnya sekarang?” Tanya Agam kepada pemuda yang sibuk mengusap layar smartphone-nya.

“Apa bang?” Kevin bertanya balik.

Agam mengusap kepalanya lagi. Melepas napasnya bersamaan dengan kumpulan emosi yang bisa saja meledak karena tingkah junior-nya tersebut.

“Kau lihat saja itu yang lagi hangat-hangatnya,”

“Indonesia yang barusan kalah ‘kan bang?” Sahut Kevin

“Bisa gila aku,” Balas Agam.

Salah seorang piket poskamling, Pak Reza, duduk dan memesan sebuah kopi hangat.

“Maksud dari Nak Agam itu tentang Rohingya bukan?” Ucap Pak Reza yang nimbrung percakapan antara Agam dan Kevin.

Agam menjetikkan jarinya. “Nah itu pak, itu yang aku maksud. Tapi anak ini tidak nyambung sama sekali,”

Kevin cengegesan. “Harusnya lu ngomong to the point-lah bang, biar ga ambigu,”

“Halah, banyak alasan kau,” Bantah Agam. “Berita tentang ini sudah hangat dan menjalar kemana-mana,”

Agam kemudian menyeruput kopinya sekali lagi. Menikmati hangat yang menjalar. Dia kemudian berdehem mulai menjelaskan.

“Kasus Rohingya telah terjadi semenjak tahun 90an. Bahkan hingga sekarang masih terus berlanjut,”

“Seriusan nak Agam?” Mata Pak Kevin sedikit membesar mendengar pernyataan dari Agam. Televisi yang sedang menyiarkan berita tengah malam sudah tidak mereka perhatikan lagi.

Agam menyeruput kopinya sekali lagi. Lalu kemudian melanjutkan.

“Kalau ditarik lebih jauh maka konflik bermulai sejak tahun 1940an ketika Jepang datang menginvasi Myanmar. Inggris yang sebelumnya menjajah lalu menyerah. Setelah Nasionalis Burma yang sekarang disebut Myanmar menyerang komunitas muslim yang mendapatkan keuntungan dari Inggris. Tensi antara pemerintah Myanmar dan Muslim Rohingya semakin meningkat setiap mereka berselisih. Puncaknya ketika baru-baru ini, kabarnya karena Pasukan Rohingya membunuh 9 orang yang berjaga diperbatasan. Alhasil mereka langsung dicap sebagai teroris oleh pemerintahan. Sedangkan yang dilakukan oleh pihak pemerintah dan oknum pendeta buddhanya jauh lebih mengerikan terhadap muslim Rohingya.

“Namun tidak serta merta kita mencap bahwa seluruh buddhis itu berkelakuan sama, karena ibarat muslim yang tidak mengakui ISIS. Hanya saja, toleransi di sana jauh berbeda dengan yang terjKevin di Indonesia. Jika tidak sudah mati aku sebelum jadi mualaf.”

Agam tertawa, walaupun dalam bayanganya ia bergidik jika hal itu benar-benar terjadi di Indonesia. Cepat-cepat dia menghabiskan kopinya yang mulai mendingin.

“Lalu apa hubungannya dengan kita bang?”

Agam tak sengaja menempeleng Kevin. “Maaf reflek, salah kau karena daritadi bikin aku kesal” Agam kemudian mencodongkan kepalanya. “Balas lah,”

Agam kemudian kembali meluruskan kepalanya karena tidak ada respon dari Kevin.

“Terserah kau kalau tidak ingin membalas. Sampai dimana tadi… ”

Agam hening sejenak. Agam kemudian berdehem untuk melanjutkan penjelasannya.

“Untuk bersimpati terhadap muslim Rohingya, kau tidak perlu jadi seorang muslim!” Tegas Agam. “Kau manusia tidak?” Agam menatap tajam Kevin

“T- Tentu saja bang,” Kevin berusaha menjauh.

“Lagipula, sudah dijelaskan di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, kau ingat tidak?”

Kevin hanya berusaha mengelak dari tatapan Agam.

“Dalam kasus Indonesia sempat katanya terjadi krisis toleransi,” Agam menggeleng-gelengkan kepala.

“Waktu Pilkada DKI itu ya nak Agam,” Ucap Pak Reza yang sedari tadi menyimak penjelasan Agam.

Agam menangguk dan menjetikkan jarinya.

“Mereka yang nyinyir soal toleransi sekarang bahkan diam melihat tragedi Rohingya. Tidak hanya itu, bagaimana dengan nasib orang-orang di Syiria dan Palestina?” Agam mengangkat bahunya.

“Mayoritas dari mereka yang nyinyir tersebut bahkan tidak peduli. Sudah ku bilang, tidak perlu menjadi muslim untuk bersimpati. Renungkan saja apakah masih ada rasa kemanusiaan di dalam diri kita? Mereka yang nyinyir aka toleransi hanya memanfaatkan kata itu untuk menyudutkan saja.

“Toleransi katanya …” Agam geleng-geleng kepala. “Jika mereka dibawa ke Rakhine atau tempat-tempat lain mungkin akan langsung ‘balik kanan’ ketika melihat situasi di sana,”

Pak Reza mengangguk menyetujui.

“Jika Indonesia krisis toleransi, maka seharusnya situasi kita tak jauh berbeda dari negara tetangga itu. Kelompok bar-bar katanya,” Lanjut Agam.

“Katanya toleransi, aksi solidaritas saja diperiksa polisi.” Gerutu Agam. “Simpati dikaitkan dengan upaya menjatuhkan pemerintahan,”

Pak Reza ikut geleng-geleng kepala.

Agam menutup mulutnya yang menguap lebar.

Pak Reza tertawa. “Sudah minum kopi masih ngantuk?”

“Kalau sudah ngantuk, minum 100 cangkir kopi pun tidak akan sunggup pak.” Agam ikut tertawa.

“Kau renungkan saja Kevin,” Agam menepuk pundak Kevin. “Makanya kau, kalau ada diskusi di kampus ikutan, jangan menatap layar datar itu saja,”

“Mari Pak,” Pamit Agam pada Pak Reza.

“Eh mas, bayar dulu,” teriak si pemilik warung.

Sontak Agam langsung menghentikan langkahnya. “Itu si Kevin yang bayar,”

Dalam sekejap Agam langsung berlari meninggalkan warung tersebut.

“Yah, yah. Bang, Makasih!” Teriak Kevin. Dia kemudian mengumpat-umpat sambil terpaksa mengeluarkan uang ekstra dompetnya.

Pak Reza yang melihat kelakuan Agam geleng-geleng kepala sambil tertawa.

 

Ditulis oleh:

Fadhil Mu’alim (2016)

You may also like

Leave a comment