Lebaran, Munajat, Halal Bi Halal

H

“Cinta hendaknya untuk merasa bahagia

Jika nurani berkata

Akal sehat berkuasa

Hidayah Ilahi nuansakan surga

Tuhan ada di semua umat-Nya

Bergegaslah luapkan kata maaf

Seiring doa

Hamba dengungkan takbir Ilahi

Allahu Akbar Walillailham

Bedug pun ditabuh

Menandakan hari kemenangan telah tiba

Insan manusia bergembira

Sambut lebaran milik kita.”

            (Lebaran Milik Kita, merupakan sepenggal puisi karya Dewantara Soepardi, yang dapat menginspirasi kita semua untuk lebih berusaha, dibalik diagnosa brain injured (cerebral palsy tipe quadriplegia) terhadapnya).

Tak terasa bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat ini hampir berakhir. Bulan dimana umat muslim wajib berpuasa, berlomba-lomba khatam Al Qur’an, melakukan shalat malam, dan berbagai ritual agama lainnya, yang semua dilaksanakan untuk meraih ridha dan pahala dari Allah SWT.

Hari Raya Idul Fitri atau yang lebih akrab disebut Lebaran, adalah hal yang selalu dinantikan oleh umat Muslim. Hari kemenangan, merayakan “kemenangan” umat muslim setelah sebulan berpuasa, menahan nafsu, menjaga hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang buruk dan dilarang oleh Allah SWT. Semua orang berkumpul. Saling melempar senyum dan bersalaman sambil berkata, “Ngaturaken Sugeng Riyadi nggih Pak, Bu…” (terjemahan: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Pak, Bu..”) atau mengirimkan pesan singkat bertuliskan, “Taqabbalallahu minkum ahyaakumullah li amtsaalihi kulla ‘aamiin wa antum bi khair” – Semoga Allah menerima (amal) kalian semua. Semoga Allah memanjangkan umur kalian di tahun-tahun yang sama, dan kalian senantiasa dalam keadaan baik.”

Di Indonesia yang tercinta ini, banyak tradisi yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari tradisi beli baju dan alat ibadah baru (atau bahkan kembaran satu keluarga), memasak lontong opor lengkap dengan kerupuk, camilan kue kaleng dari parcel yang akan menjadi hiasan di meja tamu selama sebulan ke depan, tradisi terima tunjangan hari raya bagi kaum muda, tradisi sungkeman dengan anggota keluarga, tradisi copy paste dan kirim SMS pantun atau puisi yang diawali dengan frasa “air tak selalu jernih..” berkedok meminta maaf hingga tradisi halal bi halal.

Tradisi halal bi halal seperti menjadi annual event yang dilaksanakan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari perkumpulan alumni sekolah, keluarga mahasiswa, perkumpulan pegawai kantor hingga paguyuban di kampung.

Penggagas istilah halal bi halal itu sendiri adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Sedikit bercerita, pada tahun 1948, Indonesia sempat dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar dan tidak mau duduk dalam satu forum. Kemudian, Ir. Soekarno yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI, meminta pendapat dari KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang sedang tidak sehat. Kebetulan pada waktu itu mendekati datangnya Hari Raya Idul Fitri, sehingga KH Abdul Wahab Chasbullah memberikan saran kepada Ir. Soekarno untuk mengadakan silaturrahim. Namun Ir Soekarno menginginkan istilah lain itu menggantikan terminologi silaturrahim.

Kemudian, KH Abdul Wahab Chasbullah menjelaskan, ”Para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu berdosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halal bi halal.

Tradisi halal bi halal ini kemudian diikuti masyarakat muslim secara luas. Sebenarnya, kegiatan yang mirip dengan halal bi halal ini sudah dilaksanakan sejak era kepemimpinan KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa, namun beliau belum menyebut kegiatan tersebut dengan istilah halal bi halal, meskipun esensinya sudah ada.

Istilah halal bi halal ini secara nyata dicetuskan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halal bi thariqin halal) adalah mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisa kedua (halal yujza’u bi halal) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Terlepas dari segala keberagaman pendapat mengenai halal bi halal, bukankah suatu hal yang sangat baik apabila kita masih bisa berkumpul dengan kawan lama, saling meminta maaf, saling bercerita, hingga saling bermunajat untuk kebaikan satu sama lain?

Sebagai contoh, Halal Bi Halal alumni SMP Negeri X Angkatan 1980.

Kalau bukan karena halal bi halal, mungkin saja angkatan yang sudah berusia lebih dari 30 tahun itu tidak akan berkumpul bersama dan bertemu, bahkan saling mengirim pesan atau surat pun belum tentu. Bagaimana ya kabar si X teman sebangku waktu sekolah dulu? atau Bagaimana ya kabar si Y yang pernah menolongku ketika kesusahan? Padahal kita sebagai umat muslim, memiliki kewajiban untuk menjaga tali silaturahmi dan ukhuwah yang telah dibangun. Melalui kegiatan halal bi halal tersebut, banyak kata maaf dan memaafkan yang terucap, banyak tawa bahagia hingga air mata yang menetes akibat pengakuan kesalahan, hingga banyak doa-doa baik yang terpanjatkan untuk Allah SWT.

Seperti sabda Rasulullah SAW, “Allah merahmati seorang hamba yang pernah berbuat dzalim terhadap harta dan kehormatan saudaranya, lalu ia datang kepada saudara yang didzaliminya itu untuk minta kehalalannya sebelum ajal menjemput.” (HR Tirmidzi dan Abu Hurairah)

Setiap orang hampir bisa dipastikan pernah berbuat salah dan khilaf. Rasulullah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa semua bani adalah khattha’un, adalah yang banyak berbuat dosa dan maksiat. Dan sebaik-baik khattha’un adalah at-tawwabun, yaitu orang yang banyak bertaubat.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari Anas bin Malik RA.

Sehingga, bukanlah suatu hal yang memalukan (aib) apabila kita mengakui kekhilafan dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita perbuat kepada saudara kita, tetangga kita, atau bahkan teman kerja/kuliah kita yang bahkan jarang bertegur sapa dengan kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memiliki tanggungan kedzaliman terhadap saudaranya, entah dalam hal kehormatan atau pun hartanya, maka hendaklah meminta kehalalannya hari ini. Sebelum datang hari (kiamat) di mana tidak berguna lagi dirham dan dinar. Pada hari kiamat nanti, bila seseorang yang mendzalimi belum meminta kehalalan dari saudaranya, maka bila ia memiliki amal kebaikan, sebagian amal kebaikannya itu diambil sekadar kedzaliman yang ia lakukan untuk diserahkan kepada orang yang sudah pernah ia dzalimi. Bila ia sudah tidak memiliki sisa amal kebaikan, maka dosa yang dimiliki orang yang pernah ia dzalimi di dunia akan dilimpahkan kepadanya senilai kedzaliman yang pernah ia lakukan. (HR Bukhari dan Abu Hurairah RA)

Maka, jangan sampai dosa-dosa yang kita punya akibat berbuat khilaf tersebut dibawa mati hanya karena kita merasa gengsi untuk meminta maaf. Karena sebagai ganti dari kedzaliman yang belum diminta kehalalannya, dosa orang yang kita dzalimi akan dialihkan menjadi tanggungan kita.

Walaupun kegiatan halal bi halal memang sudah banyak dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat di Indonesia, akan tetapi, bukan halal bi halal itu sendiri yang wajib untuk dilaksanakan, melainkan saling meminta maaf, bersilaturrahim dan menjaga ukhuwah itulah yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.

*cerita mengenai latar belakang lahirnya istilah Halal Bi Halal didapat dari KH Masdar Farid Mas’udi.

Ditulis oleh:

Nova Alfie Annisa (2015)

You may also like

Leave a comment