Rilis dan Pernyataan Sikap Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM : Penyerangan Terhadap Penyidik KPK dan Sengkarut Pemberantasan Korupsi di Indonesia

 

Senin pagi kita dikejutkan dengan kabar tidak menyedapkan yang datang dari penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Menurut kabar yang beredardi media, Novel Baswedan yang baru saja pulang dari Mesjid yang berada dekat rumahnya di bilangan Kelapa Gading, Jakarta tiba-tiba didekati oleh dua orang yang tak dikenal dengan menggunakan sepeda motor. Saat Novel berjalan pulang kerumahnya, dua orang tadi mendekatinya dan kemudian langsung menyiramkan air keras ke wajahnya sehingga mengenai matanya. Novel yang pada saat itu berusaha menghindar pun tak pelak terkena siraman air keras tersebut dan mengenai matanya serta kemudian membentur pohon yang ada di dekatnya. Beliau pun merintih kesakitan sehingga terdengar oleh warga yang berada tak jauh dari situ.”Mereka langsung menyiram dengan menggunakan air keras dan mengenai mukanya,” demikian keterangan resmi polisi. Kemudian pelaku melarikan diri.

Penyidik KPK Novel Baswedan yang sebelumnya dirawat di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta Utara akibat disiram air keras akan dipindahkan ke RS Mata Jakarta Eye Center (JEC) Menteng Jakarta Pusat. “Siang ini akan dibawa ke JEC untuk ditangani lebih lanjut. Memang ada perawatan untuk bagian mata, karena dalam perjalanan dari masjid ke rumah yang bersangkutan ada yang menyiram di bagian mata. Terkait penyakit secara teknis dokter yang akan jelaskan,” kata Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah, di Jakarta, Selasa (11/4).

Seperti yang kita ketahui, Novel Baswedan merupakan seorang penyidik senior KPK yang saat ini sedang berusaha menguak kasus mega-korupsi e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah. Novel sebenarnya sudah dikenal publik semenjak menangani kasus simulator SIM dan tak segan-segan menggiring senior angkatannya yakni Djoko Susilo yang pada saat itu menjadi Kepala Korps Lalu Lintas Polri ke meja hijau. Novel terkenal idealis dan tak pandang bulu dalam menyelesaikan kasus-kasus korupsi. Ini yang kemudian membuat sebagian koruptor kalang kabut bila menemui dirinya menjadi salah seorang penyidik. Kejadian ini mungkin hal biasa bagi dirinya, karena tercatat sudah 5 kali upaya teror dilakukan kepadanya. Terakhir tentu kita mengingat bagaimana upaya kriminalisasi terhadap dirinya dengan menungkit kasus masa lalunya pada saat bertugas di Bengkulu. Ditakutkan upaya teror ini juga sebagai bentuk penyerangan psikologis terhadap penyidik KPK yang lain dan masyarakat pada umumnya.

Di sini ada beberapa hal yang kami soroti, petama adalah masalah upaya pelemahan KPK. Banyak upaya-upaya yang diduga dilakukan untuk melemahkan KPK. Beberapa diantaranya adalah Revisi UU KPK. Terlihat jelas bagaimana kemudian kewenangan penyadapan yang dikebiri dan kewenangan menyelesaikan kasus korupsi yang awalnya hanya yangbernilai 1 miliar Rupiah menjadi 50 miliar Rupiah. Kemudian banyak pula pembangunan opini-opini oleh media yang ditujukan mereduksi pengaruh KPK terhadap upaya pemberantasan korupsi. Banyak pula upaya teror yang dilakukan terhadap penyidik KPK bahkan pimpinan KPK.

Sorotan kedua adalah regulasi dan mekanisme pengamanan terhadap penyidik KPK. Di sini yang dipertanyakan adalah bagaimana SOP pengamanan penyidik KPK. Bila mengutip perkataan Pimpinan KPK, La Ode Muhammad Syarif, beliau mengatakan bahwa “Dulu penjagaan kan, on-off ya. Kalau lagi ada tugas ada penjagaan (diamankan), tapi tadi itu habis salat Subuh, pulang dari masjid ada orang naik motor disiram ke mukanya. Ya, jadi gitu,” ujarnya. Untuk itu, kejadian yang menimpa Novel menjadi pembelajaran bagi KPK dalam mengevaluasi sistem pengamanan terhadap para penyidiknya agar lebih ditingkatkan ke depannya bersama pihak kepolisian. DPR pun sudah buka suara mengenai mekanisme pengamanan ini melalui Asrul Sani, anggota Komisi III DPR RI. Ia meminta agar KPK me-review kembali SOP pengamanan terhadap penyidik KPK yang pekerjaannya sangat beresiko.

Sorotan terakhir adalah counter attack terhadap KPK. Sudah menjadi hal lumrah ketika lembaga anti rasuah hampir di setiap negara itu untuk dibunuh, begitulah kira-kira salah satu perkataan yang ia tuliskan dalam sebuah buku berjudu, Jangan Bunuh KPK.Demikian pula dikatakan oleh mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto dalam sebuah seminar bahwa akan selalu ada counter attack dan fight back dari koruptor ketika KPK sudah masuk ke dalam episentrum pemerintahan yang selama ini menjadi objek pemberantasan korupsi oleh KPK. ini sebenarnya merupakan sebuah efek psikologis dari koruptor, koruptor yang biasanya merupakan pejabat tinggi pasti mempunyai power.Power inilah yang kemudian melegitimasi mereka untuk melakukan teror dan upaya-upaya pelemahan pemberantasan korupsi lainnya. Penyerangan yang sedemikian masif inilah yang menjadi perhatian kita bersama-sama, jangan sampai penyerangan ini malah mempersulit gerak KPK dalam upaya pemberantasan korupsi. Upaya penyerangan ini haruslah kemudian pula dilakukan pencegahan, salah satunya adalah peningkatan pengamanan tadi. Ini juga dilakukan agar kejujuran, keberanian, dan ke-idealis-an yang menjadi ciri khas penyidik KPK tetap terjaga dan tetap memberikan dampak positif bagi upaya pemberantasan korupsi oleh KPK.

KPK saat ini masih terjebak dalam pusaran ironi. Ironi mental oknum pejabat yang notabene mempunyai power dan cenderung menyalahgunakan hal tersebut demi kepentingannya sendiri. Di sini perlu dilakukan penguatan elemen-elemen yang ada di dalam komisi anti-rasuah ini. Jangan sampai upaya penyerangan balik oleh koruptor ini malah makin memelihara mental koruptif dan mendarah daging-kan mental ini dalam masyarakat. Oleh karena itu kami, Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, dengan ini menyatakan sikap :

  1. Mengutuk keras tindakan penyerangan terhadap Novel Baswedan dan kegiatan anti korupsi lainnya.
  2. Menuntut polisi untuk mengusut tuntas kasus penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan.
  3. Menuntut pemerintah untuk membuat regulasi yang komprehensif sebagai insturmen pengaturan dan peningkatan pengamanan terhadap penyidik KPK.
  4. Menghimbau kepada masyarakat umum untuk tidak gentar terhadap segala upaya teror kepada upaya pemberantasan korupsi.

Referensi

  1. http://www.msn.com/id-id/berita/nasional/detik-detik-penyiraman-air-keras-ke-wajah-novel-baswedan/ar-BBzGobx?li=BBsX6vh&ocid=spartandhp
  2. https://malangtoday.net/flash/nasional/novel-baswedan-segera-pindah-rumah-sakit/
  3. http://nasional.inilah.com/read/detail/2371949/kpk-akan-evaluasi-pengamanan-terhadap-penyidik#sthash.ER4CQGIg.dpuf
  4. Denny Indrayana, Jangan Bunuh KPK, Jakarta: ICW, 2016.

 

Yogyakarta, 12 April 2017

Kabinet Payung Peradaban

Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

You may also like

Leave a comment