Modernisasi : Elegi Kemanusiaan dan Kebangkrutan Sosial

 

“Kalau dahulu banyak luka kemanusiaan dalam perjalanan sebuah peradaban berpangkal pada sikap chauvinis yang berlebihan. Kini tampaknya egoisme mengambil alih.”

….

Sejarah peradaban manusia telah mengalami percepatan sedemikian rupa. Kita hidup di era dimana kemajuan di berbagai bidang tersosialisasikan dengan mudahnya. Percepatan dan segala kemajuan di berbagai bidang ini pun tentu sangat mempengaruhi pola interaksi antar-manusia yang tampak lebih condong kearah destruktif.

Ada satu pesan khusus yang dapat kita tangkap dari sebuah kemajuan, bahwasanya kita akan segera memasuki dunia yang serba ekstrim di masa depan apabila manusia kehilangan respons terhadap rasa kemanusiaannya. Namun tanda-tanda ini nampaknya mulai tumbuh dalam pola interaksi masyarakat. Sebut saja yang terkini yakni semakin sering disebarnya fitnah dan hoax di media sosial yang mempengaruhi mental masyarakat. Dan entah secara sadar atau tidak telah membuat masyarakat mengorbankan jati diri kemanusiaannya.

Berbagai kemajuan dan segala implikasinya dapat melipat potensi kemanusiaan dalam diri. Berbagai anstisipasi demi mempertahankan kemanusiaan mesti dilakukan. Harus ada sebuah pemahaman mendalam dan penanaman budaya kritis di titik ini. Namun tak hanya sampai disitu, secara esensial haruslah dapat tercapai sebuah tindakan sosial yang didasari rasa kasih sayang/emosi (Affectual Effect).

Pemaknaan kemanusiaan dapat kita temukan dalam salah satu ajaran Gandhi, yakni ahimsa. Ahimsa tidak sebatas hanya pada keyakinan atau sikap saja, ia meliputi segala pikiran, tindakan, dan ucapan. Ahimsa pun mencakup seluruh ciptaan, itu artinya bahwa orang harus berlaku secara ahimsa kepada siapa pun. Ahimsa ditujukan agar kita mempunyai keteguhan jiwa. Pemaknaan tersebut dapat dijelaskan bahwa makna ahimsa lebih menekankan pada makna penolakan atau penghindaran secara total terhadap segenap keinginan, kehendak atau tindakan yang mengarah pada bentuk penyerangan atau melukai siapa pun. Inilah kemanusiaan.

Islam, Kemanusiaan, dan Permasalahan Sosial

Praktek beragama menjadi jalan paling efektif dan solutif untuk menumbuhkan kemanusiaan dalam diri seseorang, agama apa pun itu, tentu mengajarkan segala hal tentang kebaikan dan salah satunya tentang kemanusiaan. Kesalehan individual yang diajarkan dalam beragama selalu melahirkan efek-efek kesalehan sosial. Apabila tidak, dapatlah dikatakan bahwa telah terjadi kebangkrutan sosial.

Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW pernah menyinggung masalah ini,

“Apakah kalian tahu siapakah sebenarnya orang yang bangkrut? Para sahabat nabi mengatakan: ”orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan harta benda”. Nabi bersabda: “Bukan demikian. Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa dan zakat. Tetapi pada saat yang sama dia juga datang sebagai orang yang pernah mencaci-maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka para orang lain (korban) tersebut akan diberikan pahala kebaikan dia (pelaku/al-muflis). Ketika seluruh kebaikannya habis sebelum dia dapat menebusnya, maka dosa-dosa korban akan ditimpakan kepadanya (pelaku), kemudian dia (pelaku) dilemparkan ke dalam neraka”. (H.R. Imam Muslim, Imam Ahmad dan Tirmizi).

….

Berbagai kemajuan telah membawa kita ke dua tempat, ke arah pembangunan dan kehancuran sekaligus. Modernisasi harus disikapi dalam sebaik-baik bentuk dan prasangka, tanpa harus melupakan keburukan-keburukan yang selalu bersamanya.

Kemanusiaan menjadi barang mahal di era ini. Lalu kenapa mesti kemanusiaan? Ya, sebab ia seperti mutiara, meski di lumpur sekalipun, ia tetaplah mutiara dengan segala keindahannya. Yang pasti manusia lah titik sentralnya. Ia subyek sekaligus objek perubahan, bahwa dalam perubahan, kemajuan dan pembangunan apapun itu, dimensi manusia harus tetap dikedepankan.

 

Ditulis oleh : Rakha Gurand (2016)

You may also like

Leave a comment