Bratayuda Jayabinangun: Filosofi Perang Penundukkan Hawa Nafsu

Bagaimana mungkin pementasan wayang kulit yang dilaksanakan semalam suntuk, dapat membuat penontonnya tetap melek dan tidak bosan?

Pementasan wayang kulit yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh PBB ini lambat laun mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Banyak yang tidak tahu, bahwa pementasan wayang kulit bukanlah sekadar haha hihi belaka, namun pementasan wayang kulit banyak mengandung filosofi mendalam mengenai nilai-nilai kehidupan dan agama. Wayang, yang dulunya dijadikan salah satu media dakwah oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa, memiliki banyak corak. Namun yang paling terkenal adalah wayang kulit.

Ada dua alasan mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Scara normatif, Sunan Kalijaga telah mengajarkan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang untuk memeluk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkolerasi dengan nilai Islam. Sehingga tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Secara kreatif, para tokoh wayang diganti nama dengan rukun Islam yang ada lima jumlahnya. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) bernama Jamus Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Dimana shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa. Dimana puasa identik dengan proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat serta duniawi. Kemudian Nakula dan Sadewa merupakan simbolisasi dari zakat dan haji.

Perang Bratayuda Jayabinangun memiliki makna yang mendalam mengenai pedoman hidup, dan bagi sebagian orang yang diberkahi kapabilitas untuk dapat menerima dan memahami akan hal ini, perang ini kerap dijadikan sebagai ideologi terbuka. S.Haryanto, dalam bukunya yang berjudul “Bayang-Bayang Adiluhung” (1995), memaparkan bahwa makna Perang Bratayuda adalah perang batin melawan keruwetan hidup (brata= ruwet, yuda= perang) dimana yang dimaksud lebih jauh bahwa banyak orang dalam menghayati dan menghadapi kenyataan hidup yang serba ruwet, mengakibatkan frustasi dan putus asa karenanya. Hal itu berbeda dengan cara orang beriman, yakni senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, dimana itulah satu-satunya jalan untuk menyelematkan diri dari situasi yang ruwet dalam kehidupan.

Perang Bratayuda Jayabinangun antara Pandhawa dan Kurawa, jika dilihat dari konteks spiritual, mengisyaratkan simbolisasi ‘perang’ melawan hawa nafsu dirinya sendiri. Nafsu ammarah (nafsu yang mengajak keburukan atau angkara murka) harus dikalahkan serta tidak diberi tempat untuk berekspresi. Begitu pula dengan nafsu lawwamah (nafsu yang menyesal dan mencela) dan nafsu supiyah atau mulhimah (bisikan-bisikan hati) serta nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang) harus dikendalikan atau ditempatkan secara proporsional.

Dalam perang ini, diceritakan pengendalinya adalah Sri Bathara Kresna, yang tugasnya memang memelihara perdamaian dan kelestarian alam, memayu hayuning bawana atau rahmatan lil ‘alamin.

Menurut Imam Al-Ghazali, musuh utama yang paling sulit untuk ditundukkan manusia adalah hawa nafsu. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa An-Nafs (nafsu) mempunyai dua arti; 1) arti yang mencakup kekuatan amarah, syahwat dan sifat-sifat tercela. Sebagaimana yang dimaksud dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Musuhmu yang paling jahat ialah nafsu yang berada di rongga badanmu.” Dimana kita harus memerangi nafsu dan menundukkanya; 2) bisikan Rabbani yang merupakan salah satu makna roh, hati dan jiwa pula.

Nafsu, yang identik dengan kebiasaan selalu meminta lebih, harus dikendalikan secara profesional agar mendapatkan bagian proporsional. Maka dari itu, para ahli sufi memberikan tips agar manusia dapat menundukkan hawa nafsunya, yaitu dengan 4 cara: diam (tidak banyak bicara), berada di tempat yang sunyi, bangun malam (mengurangi tidur) dan dalam keadaan lapar.

Secara singkat, dalam perang ini diceritakan bahwa Pandhawa yang dikenal sebagai sosok protagonis harus berhadapan dengan sang guru, Begawan Durna. Begitu pula dengan sosok Resi Bhisma, yang merupakan simbolisasi dari rasa takut dan kekhawatiran dalam diri manusia dan Prabu Salya, yang melambangkan ingsun/ego yang berada dalam jiwa manusia. Serta harus melawan saudara sendiri, Adhipati Karna, yaitu putera Dewi Kunthi Talibranta dengan Bathara Surya, yang melambangkan angkara/kejahatan, dimana apabila bisa mengalahkan Adhipati Karna, berarti sanggup mengendalikan angkaranya dan para Kurawa yang dikenal sebagai sosok antagonis. ‘Saudara sendiri’ yang dimaksud adalah hawa nafsu, yang senantiasa hidup dalam diri kita. Begitulah kiasan seseorang yang sedang berjuang di jalan Tuhan: hatinya harus tertuju dan terniatkan pada satu hal, yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun, tidak boleh tergoda oleh suatu hal apapun.

Seseorang yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsu  pada hakikatnya telah berhasil memenangkan perang yang agung. Hal ini bukan berarti ketika memerangi hawa nafsu, seseorang akan berdiam diri dan tidak melakukan suatu hal apapun. Tetapi justru menyumbangkan segala pikiran, tenaga dan kontribusi maksimal kepada masyarakat dan kehidupan sosial, itulah yang dapat dikatakan sebagai agen dakwah, yang siap berkorban dengan segala yang dimilikinya.

Dalam buku berjudul Dhalang, Wayang dan Gamelan karya Wawan Susetya, dikatakan bahwa makna dari Bratayuda adalah senang berperang melawan hawa nafsu, sedangkan Jayabinangun adalah membangun kejayaan atau kelanggengan manusia di alam kelanggengan (akhirat).

Wayang merupakan karya seni para pendahulu, dan oleh para pendakwah Islam dijadikan sebagai instrumen atau media dakwah. Karena dalam berdakwah, Allah SWT menyerukan dengan cara, metode dan pendekatan yang bijaksana, nasihat yang baik dan diskusi dengan cara yang lebih baik. Sesuai yang termaktub dalam Surat An-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah meeka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Islam itu melindungi dan mengayomi. Islam mengajarkan harmoni dan keindahan. Mari kita tingkatkan ibadah ritual-vertikal kepada Allah, dan tuangkan dalam wujud nyata dalam ibadah sosial-horizontal kepada sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya mulia. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik atau shaleh amal perbuatannya. Semoga Allah meringankan dan menolong kita untuk beramal shaleh, guna masa depan kita. Allah al-musta’an, Allah tempat memohon pertolongan. Allah a’lam bi al-shawab.

 

Ditulis oleh: Nova Alfie Annisa (2015)

You may also like

Leave a comment