Dakwah Mahasiswa: Bertahan Tapi Tidak Eksklusif, Terbuka Tapi Tidak Larut

Processed with VSCOcam with hb2 preset

Gambar oleh: Nova Alfie Annisa

 

Lemparan batu itu tak membuatnya tertatih, melainkan tetap tegak berdiri. Darah mengalir di kening kepalanya, namun Ia tak apa. Selebihnya memar merah bercampur bau kotoran ternak menyelimuti tubuhnya. Suasana panas siang menambah kepedihan. Kering, haus, dan dahaga tak menyurutkan semangatnya untuk menyusuri jalan. Jalanan Thaif yang menyimpan murka. Sampai-sampai malaikat menawarkan jasa kepadanya, “Izinkan Ku tenggelamkan dataran mereka!”, “Jangan!”, jawab Ia. “Yakinlah, anak cucu mereka kelak akan perjuangkan agama Tuhan Yang Maha Esa”.

Ialah Muhammad, yang pekan berikutnya menjenguk pemuda jalanan Thaif yang sedang sakit tergeletak di tempat tidur rumahnya. Begitu besar jiwanya. Pemuda Thaif tampak kaget. Lantas yang pertama kali menjenguk adalah Ia yang selama ini dilemparinya batu dan kotoran. Tersentuh hatinya, dan dua kalimat syahadat tak terelakan lagi. Itulah sekelumit kisah kasih dakwah dari sebuah lembah. Berawal dari hinaan hingga kemenangan sosial berucap dua kalimat syahadat saat empat belas abad yang lalu terjadi. Dan itu terjadi lagi kini, di dunia mahasiswa.

Mahasiswa sebagaimana kelompok pemuda lainnya, memiliki dunianya sendiri. Ada di sana berbagai elemen dan diversifitas (keanekaragaman) nya masing-masing. Diantaranya pecinta alam, kelompok studi, klub keilmuan, aktifis organisasi pergerakan, unit kegiatan mahasiswa, minat dan hobi, forum komunikasi dan lain-lain, serta untuk dunia dakwah adalah para aktivis dakwah kampus (ADK) yang memilki ciri khas diasporanya. Untuk jenis terakhir, yang umum didapati adalah adanya lembaga dakwah kampus (LDK) dan lembaga dakwah fakultas (LDF) di tiap universitas, institut atau pun sekolah tinggi.

Sangat menarik apabila kita berbicara soal dakwah mahasiswa ini. Terlebih jika dikaji perpaduan kata antara “Dakwah” dan “Mahasiswa”. Sebagai seorang muslim, kita cukup memandang apa yang das sein Islam memandang. Dalam Islam tidak ada pola pikir dikotomis –yang berasal dari pengalaman keilmuan barat itu- dalam memandang kehidupan. Semua konteks perlu dipandang dengan Islamic Worldview (cara pandang Islam).

Secara sederhana Islam memandang hidup atau dunia ini adalah komprehensif, menyeluruh dan universal. Oleh karenanya, apabila mandat dakwah itu diperuntukan manusia, maka mandat tersebut juga berlaku bagi mahasiswa (pemuda) sebagai unsur manusia. Mahasiswa sebagai unsur masyarakat Islam perlu mengampu soal Dakwah ini. Tidak ada pembedaan dan pemotongan makna antara keduanya. Atau dengan kata lain, ada dikotomi antara makna manusia dan pemuda. Dalam Islam hal ini tidak berlaku.

Di mana pun, kapan pun yang jelas dakwah itu seyogyanya dilaksanakan oleh setiap entitas Muslim, termasuk bagi mahasiswa muslim. Seperti kalimat “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang (umat) yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”, dalam Quran surat Ali Imran ayat 104 telah menunjukkan pembenaran atas mandat tersebut. Namun cara dan strategi di masing-masing individu atau organ dakwah itu boleh berbeda.

Dalam hal ini indikator keberhasilan dakwah adalah apakah dakwah (ajakan) tersebut telah/bisa sampai kepada objek dakwah itu sendiri atau tidak. Dan yang menjadi problema bagi segenap aktifis dakwah kini adalah soal penerimaan. Diterima atau tidak dakwah yang dimaksud itu oleh masyarakat, khalayak atau dunia mahasiswa itu sendiri.

Fenomanya adalah sering kita dapati seorang aktifis dakwah dari kalangan mahasiswa ketika bergaul (menyampaikan dakwah) dalam struktur sosial mahasiswa, tidak diterima, bahkan ditolak sama sekali. Kenapa bisa terjadi demikian. Konon katanya, cara berpakaian dan tutur kata atau model penyampaiannya lah yang menjadi masalah. Atau jangan-jangan dakwah itu sendiri yang tidak sempat disampaikan oleh para aktifis, atau degan kalimat lain, “Dakwah mahasiswa suka tidak menyentuh ranah-ranah yang jauh (berbeda) dari tata cara berpakaian dan tutur kata mereka”.

Dalam hal ini Syeikh Yusuf Qordhowi cukup mengingatkan aktifis dakwah kampus dalam bukunya Prioritas Gerakan Islam dengan sebuah formula sederhana tapi mujarab yaitu; bertahan tapi tidak ekslusif, terbuka tapi tidak larut.

Acap kali kita dapati aktifis yang tidak mau bersentuhan dengan forum-forum non-dakwah. Alasannya “Takut nanti kalo jadi seperti mereka”, tidak memperbaikki malah ngikut katut buruknya. Takut nanti ditolak, takut diusilin, takut kalo diapa-apain, dan beribu takut lainnya. Justru hal ini yang perlu dihilangkan bukan. Sebagai aktifis dakwah itu hendak berdakwah atau didakwahi?, atau sekedar label “aktifis dakwah” saja tanpa ada hasil dari proses dakwah tersebut mengingat arti dakwah secara terminologi adalah mengajak.

Atau karena faktor lingkungan yang cenderung ekslusif (tertutup) sehingga tidak mau membaur dengan organ lain yang menjadi objek dakwahnya. Barangkali yang menjadi dalih adalah soal ketahanan. Baik.

Apabila yang menjadi kendala adalah soal ketahanan, maka yang menjadi solusi adalah bertahan, tapi bertahan di sini tidak menandakan ekslusifisme. Dan solusinya juga keterterbukaan kita, tapi tidak larut, terbuka dalam berbagai hal yang sifatnya muamalah kepada sesama manusia.

Hablun min an Nas (hubungan kepada manusia) termasuk bergaul dan membaur. Sebagaimana Rasulullah Muhammad dalam berdakwah, Beliau tidak serta merta ekslusif (tertutup) dalam seluruh hal, atau terbuka secara mutlak juga tidak baik. Mari kita teladani bagaimana Rasul berdakwah, dan dihina, kemudian menjenguk orang Thaif itu. Cukup mengajarkan umatnya arti bertahan tapi tidak ekslusif, dan terbuka tapi tidak larut.

 

Ditulis oleh: Habib Haidar Perdana Effendi (2015)

You may also like

Leave a comment