Aksioma Literasi Payung Peradaban

Di payung pradaban nan sentosa penuh diskusi dan pertukaran gagasan praksis kehukuman. Oleh segenap mahasiswa Fakultas Hukum yang acap kali berkolaborasi dalam iba dan simpati untuk memperjuangkan amar makruf dan nahi munkar. Dalam dakwah yang –semoga- tiada henti bersemayam dalam dada. Jiwa dakwah bak lanar di tepian pantai mengendap dalam perasaan ukhuwah. Tidak pernah usang dan tak akan pernah hilang. Lebih dari wadah. Lebih dari sekedar lembaga. Tanpa disangka disana terdapat keluarga.
Keluarga Muslim Fakultas Hukum, sebuah wadah kekeluargaan progresif lingkup fakultas yang akan selalu tenteram dijumpai. Perasaan damai penuh hormat antar sesama bersemi. Merumung pelosok kampus yang tak jarang ramai. Entitas awal dari sebuah pergerakan da’awy.
Pentingnya sebuah gerakan dakwah tak perlu ditanyakan lagi. Sepak terjang manfaat dan barakah sudah mudah dijumpai mengingat semakin banyak orang akan mengetahui Islam lewat gerakan dakwah. Namun, ada yang dua aspek penting disini, yaitu pengorganisasian dan budaya literasi.
Seorang Imam Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan dengan mudah dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir”. Mudah saja kita mengambil sebuah pelajaran; untuk melakukan kebaikan, kita seyogyanya melakukannya dengan rapi (terorganisir), apabila tidak, maka kebaikan yang kita lakukan akan dikalahkan oleh keburukan, meski keburukan itu tidak dalam keadaan rapi. Di sini berlaku aturan, keburukan dan kebaikan akan selalu ada. Karena keduanya mengisi ruang dan waktu. Sederhananya, kita tidak akan bisa mengharapkan sirnanya keburukan dengan kebaikan yang kita lakukan.
Lebih jauh, kita memandang fenomena kebobrokan umat sebagai tantangan aktifis dakwah. Ketika adab pergaulan antara ikhwan-akhwat sudah tidak dipedulikan lagi -melainkan sedikit saja-, ketika panji kepemimpinan muda Islami sudah tak dapat bersaing di pentas perpolitikan kampus lagi -melainkan sedikit saja-, dan ketika keilmuan asasi Hukum Islam sudah tak banyak diminati lagi -melainkan sedikit saja-, dan juga standar lumbung kreatifitas cocok tanam penerus estafet dakwah yang kian menipis. Apakah kita akan diam saja? Sepertinya tidak bisa. Oleh karenanya, memulai pengorganisasian kebaikan dalam dakwah menjadi amat sangat penting untuk dikerjakan.
Peluang menarik kita dapatkan dari payung peradaban. Sebuah tempat nongkrong santai di timur mushola. Di sini kita dapat membangun –jika tidak dibilang berlebihan- sebuah peradaban yang madani di kampus fakultas hukum UGM. Sesuai dengan namanya, Payung Peradaban.
Beberapa abad silam, umat muslim menyibukkan dirinya dalam pergumulan ilmu. Tujuannya tak lain adalah untuk membangun peradaban Islami. Bidang keilmuan lah yang menjadi pondasi utama umat Islam terdahulu dalam membangun peradaban. Sehingga tercetaklah generasi yang memahami konsep ilmu dalam Islam, tidak sekedar mengetahui akan tetapi juga mengilmui. Keilmuan Islam itu juga pasti berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Salah satu contoh yang menjadi bukti kegemilangan keimuan zaman itu adalah dipakainya Al Qonun Fi At tibbi (buku kedokteran) karya Ibnu Sina di eropa, penemuan bilangan ‘nol’ oleh Al Khawarizmi, ditemukannya konsep pesawat terbang oleh Ibnu Firnas, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, kita dapat membangun sebuah peradaban dengan cara yang sederhana, memulainya dari diri sendiri dan kampus, yaitu melanjutkan budaya keilmuan yang selama ini hilang dari dunia Islam, melaikan sedikit saja. Dan di era sekarang kita dapat menyebut budaya keilmuan itu dengan budaya literasi di dunia pendidikan yang juga hilang darirealitasnya. Membaca, menulis, dan yang terpenting berdiskusi dengan sesama anggota. Tanpa rasa canggung, tanpa ketawa ketiwi. Namun, keceriaan dari sebuah diskusi pun bakal kita dapatkan. Pastinya, misi yang demikian itu semua kita lakukan di payung peradaban tempat nongkrong itu.

 

Oleh: Habib Haidar Pradana Effendi, Departemen Syiar dan Takmir, FH UGM 2015

You may also like

Leave a comment