Isra’ Mi’raj

Dalam Al Quran, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diceritakan dalam dua surah yang berbeda, yaitu dalam Surah Al Isra’ dan Surah An Najm ayat 1-18. Dari dua surah tersebut, dapat diketahui bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan dua peristiwa, bukan hanya satu peristiwa.

Isra’ secara bahasa berasal dari kata saro yang bermakna perjalanan di malam hari. Secara istilah, isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad S.A.W dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hal ini berdasarkan;

Surah Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)

Sedangkan Mi’raj secara bahasa bermakna suatu alat yang dipakai untuk naik. Secara istilah, Mi’raj berarti perjalanan Nabi Muhammad S.A.W dari bumi naik ke langit ketujuh. Hal ini berdasarkan Al-Qur’an surah An-Najm ayat 1-18.

Surah an Najm ayat 1-18;

وَالنَّجْمِإِذَاهَوَى. مَاضَلَّصَاحِبُكُمْوَمَاغَوَى. وَمَايَنْطِقُعَنِالْهَوَى. إِنْهُوَإِلَّاوَحْيٌيُوحَى. عَلَّمَهُشَدِيدُالْقُوَى. ذُومِرَّةٍفَاسْتَوَى. وَهُوَبِالْأُفُقِالْأَعْلَى. ثُمَّدَنَافَتَدَلَّى. فَكَانَقَابَقَوْسَيْنِأَوْأَدْنَى. فَأَوْحَىإِلَىعَبْدِهِمَاأَوْحَى. مَاكَذَبَالْفُؤَادُمَارَأَى. أَفَتُمَارُونَهُعَلَىمَايَرَى. وَلَقَدْرَآهُنَزْلَةًأُخْرَى. عِنْدَسِدْرَةِالْمُنْتَهَى. عِنْدَهَاجَنَّةُالْمَأْوَى. إِذْيَغْشَىالسِّدْرَةَمَايَغْشَى. مَازَاغَالْبَصَرُوَمَاطَغَى. لَقَدْرَأَىمِنْءَايَاتِرَبِّهِالْكُبْرَى

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)

Sebagian orang meyakini peristiwa yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab, namun tidak ada dasar dalil Al Quran atau Hadits yang kuat memastikan. Ada pula yang berpendapat terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal. Juga terdapat perbedaan pendapat tentang waktu terjadinya Isra’ Mi’raj, apakah terjadi ketika 1 bulan atau 1 tahun atau 5 tahun sebelum Nabi Muhammad S.A.W hijrah.

Diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad S.A.W berada di Masjidil Aqsa, Nabi-nabi sebelumnya dibangkitkan oleh Allah untuk membaiat Nabi Muhammad S.A.W. Agar Nabi Muhammad S.A.W yakin bahwa ia memang benar-benar utusan-Nya yang terakhir. Lalu shalat mengimami Nabi-nabi yang lain (namun di sini tidak diketahui shalat yang seperti apa karena perintah shalat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W belum diberikan).

Dikisahkan melalui riwayat Muslim dalam shahihnya;

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar. Kemudian datang kepadaku Jibril  ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi  khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

 

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam  meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan  Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.  Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata:“Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Adapun dalam riwayat Imam Bukhari dikisahkan bahwa;

Malik bin Sha’sha’ah berkata, Nabi saw bersabda. “Ketika aku berada disisi Baitullah, antara tidur dan sadar,” beliau melanjutkan, “Ada seorang lelaki diantara dua laki-laki yang datang membawa baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan iman. Orang itu lantas membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu ia mencuci perutku dengan air zam-zam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman.

Kemudian aku diberi seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil daripada baghal, tapi leih besar disbanding keledai. Tunggangan itu bernama Al-Buraq. Maka aku berangkat bersama Jibril, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang, sebaik-baik orang yang telah tiba.’

Kemudian aku menemui Adam as dan memberi salam kepadanya. Dia lantas berkata, ‘(Ucapan) selamat datang bagimu dari anak keturunan dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit kedua lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Lalu aku menemui Isa dan Yahya as. Keduanya berkata, ‘Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit ketiga lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Lalu aku menemui Yusuf as dan memberi salam kepadanya. Dia lantas berkata, ‘Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit keempat lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Lalu aku menemui Idris as dan memberi salam kepadanya. Dia lalu berkata, ‘Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit kelima lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Lalu aku menemui Harun as dan memberi salam kepadanya. Dia lalu berkata, ‘Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian kami naik ke langit keenam lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Kemudian aku menemui Musa as dan memberi salam kepadanya. Dia lalu berkata, ‘selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Ketika aku sudah selesai, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan, ‘Mengapa kamu menangis ?’ Musa menjawab, ‘Ya Rabb, anak ini yang diutus setelah aku. Umatnya akan masuk surga dengan kedudukan lebih utama dibanding siapa yang masuk surga dari umatku.’

Kemudian kami naik ke langit ketujuh lalu ditanyakan ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapa orang yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan, ‘Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang.’

Kemudian aku menemui Ibrahim as dan memberi salam kepadanya. Lalu dia lalu berkata, ‘selamat datang bagimu dari saudara dan nabi.’ Kemudian ditampakkan Al-Baitul Makmur kepadaku. Aku bertanya kepada Jibril, lalu ia menjawab, ‘Ini adalah Al-Baitul Makmur. Setiap hari ada 70 ribu malaikat mendirikan shalat di sana. Jika mereka keluar (untuk pergi shalat), tidak ada satupun dari mereka yang kembali.’

Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran). Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab, ‘Adapun Bathinan berada di surga, sedangkan Zhahiran adalah An-Nail dan Al-Furat (dua nama sungai di surga).

Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh kali. Aku menerimanya hingga Musa AS menemuiku dan bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan?’ Aku jawab, ‘Aku diwajibkan shalat lima puluh kali.’ Musa berkata, ‘Aku lah orang yang lebih tau tentang manusia daripada kamu. Aku sudah berusaha menangani Bani Israil dengan sungguh-sunggu. Dan umatmu tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban shalat itu. Maka itu kembalilah kamu kepada Rabbmu dan memintalah (keringanan).’

Maka aku meminta keringanan lalu Alah memberiku 40 kali shalat. Lalu aku menerimanya dan Musa kembali menasihatiku  agar meminta keringanan lagi. Kemudian kejadian berulang seperti itu (nasihat Musa) hingga dijadikan 30 kali. Lalu kejadian berulang seperti itu lagi hingga dijadikan 20 kali. Kemudian kejadian berulang lagi hingga jadi 10 kali. Lalu aku menemui Musa dan dia kembali berkata seperti tadi hingga dijadikan lima waktu.

Aku kemudian menemui Musa dan dia bertanya, ‘Apa yang kamu dapatkan?’ aku jawab, ‘Telah ditetapkan lima waktu.’ Dia pun berkata seperti tadi lagi. Aku katakan, ‘Aku telah menerimanya dengan baik.’ Tiba-tiba ada suara yang berseru, ‘Sungguh, Aku telah putuskan kewajiban dariku ini dan Aku telah ringankan untuk hamba-hamba-Ku. Dan Aku akan balas setiap satu kebaikan (shalat) dengan sepuluh balasan (pahala).’ (H.R Bukhari)

Terkait Surah An Najm dan Hadits di atas, Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa Nabi Muhammad S.A.W melihat Rabb-nya tidak seperti manusia biasa. Kemudian ia menyebutkan perkataan Ibnu Taimiyah mengenai masalah ini. Pada intinya, Nabi Muhammad S.A.W melihat Allah dengan mata telanjang. Namun pendapat ini tidak ada yang menguatkan sama sekali, dan tidak pernah dikatakan oleh seorang sahabat pun. Sedangkan perkataan yang dinukil dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad S.A.W melihat Allah secara mutlak dan beliau melihat-Nya dengan sanubari. Yang pertama tidak menafikan yang kedua. Kemudian ia berkata, “Tentang firman Allah di dalam surat An Najm, ‘Kemudian dia mendekat lalu bertambah dekat lagi’, bukan berkaitan dengan mendekatnya Jibril, sebagaimana yang dikatakan Aisyah dan Ibnu Mas’ud. Sedangkan mendekat dalam peristiwa Isra’ adalah mendekatnya Allah. Jadi tidak ada yang diperselisihkan dalam surat An Najm ini. Bahkan dalam surat ini juga disebutkan, bahwa beliau melihat Jibril dalam rupa aslinya, sekali tatkala di bumi dan sekali tatkala di Sidratul Muntaha, wallahu a’lam.

Hendaknya kita meneladani sifat para sahabat terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.  Mereka mengatakan : “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!” Abu Bakar berkata : “Apa yang beliau ucapkan?”. Orang-orang musyrik berkata : “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam”. Abu Bakar berkata : “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”. Orang-orang musyrik kembali bertanya: “Mengapa demikian?”. Abu Bakar menjawab: “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (Hadits diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha).

Dari kisah Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tersebut, dapat kita ambil teladan untuk kita terapkan dalam menanggapi apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya. Yaitu kita seharusnya langsung membenarkan peristiwa tersebut, meskipun terlihat mustahil dengan teknologi pada zamannya maupun teknologi pada saat ini.

Berikut adalah beberapa faedah yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut;

  • Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam.
  • Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhum. Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.
  • Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
    (QS. Al-Isra` : 1)

Dari kisah Isra’ Mi’raj, kita sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad S.A.W wajib untuk meyakini peristiwa-peristiwa ghaib, keagungan, kebesaran, dan kasih sayang Allah, kebenaran atas Nabi Muhammad S.A.W sebagai Nabi terakhir yang diutus, dan tidak lupa perintah shalat yang harus kita jaga. Dimana melalui peristiwa Isra’ Mi’raj inilah Allah menyampaikan bahwa hamba-hamba-Nya dapat berhubungan langsung dengan-Nya lewat shalat. Sehingga hal yang terpenting dari peringatan Isra’ Mi’raj ini bukan pada harinya, namun peringatan kepada diri sendiri untuk beribadah lebih baik dalam shalat kita. Wallahu a’lam.

 

 

 

 

 

Sumber:

  • Al-Qur’an
  • Al-Hadits
  • Syarh Lum’atil I’tiqaad li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
  • Lihat Syarh Al Ushuul Ats Tsalatsah li Syaikh Shalih Fauzan
  • Ar Rahiqul Makhtum
  • Al Lu’lu’ wal Marjan
  • muslim.or.id

You may also like

Leave a comment