MALANGNYA NASIB MAHASISWA PTN-BH

MALANGNYA NASIB MAHASISWA PTN-BH : SERUAN AKSI !!!

2 Mei 2016, sebuah sejarah kemahasiswaan di UGM akan muncul. Pada hari itu direncanakan para mahasiswa berbondong-bondong ke rumah rakyat, rektorat tercinta. Pada hari itu juga mahasiswa menyanyikan lagu-lagu kebanggaan seperti Buruh Tani, Satukanlah, dan lagu-lagu khas mahasiswa pemberontak lainnya, dan tak lupa pula lagu suci Indonesia Raya. Mereka ingin supaya UGM kembali kepada konsep kerakyatannya yang di usung seorang mantan rektor inspiratif, Prof. Koesnadi. Beliau kala itu mencetuskan konsep ini karena mungkin beliau sadar, UGM adalah kampus yang dibangun oleh rakyat, dari rakyat, untuk rakyat. Mahasiswa yang kemudian menyadari kampus ini sudah mlenceng, sangat ingin mengembalikan konsep kerakyatannya dan mendobrak tirani.

Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya sendu, apa yang dihilangkan UGM atas konsep kerakyatannya ?, dari segi mana UGM dikatakan kampus kerakyatan ?. Bosan memang membahas soal kerakyatan, semua bicara tentang rakyat, padahal masih banyak yang harus diurus, entah itu proses akademik, organisasi, dll. Namun bosan tinggal bosan, ketika bosan mulai memuncak, ia akan menjadi suatu hal yang ganas, yang dapat mengganasi siapa saja. Namun keganasan ini hanyalah angin lalu bagi para aristokrat dan birokrat di rektorat. Nah, disaat lengahnya rektorat inilah, kita manfaatkan keganasan yang ada. Konsep kerakyatan adalah konsep yang merakyat. Dalam konteks kampus Gadjah Mada, konsep ini mewajibkan kampus untuk selalu dapat mengakomodir seluruh rakyat dari yang kaya hingga yang miskin, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, dari berbagai macam suku, ras, agama, dan antar golongan. Semua harus dapat diakomodir, terutama daerah 3T (terdepan,tertinggal,terluar). Namun belakangan, mahasiswa yang kritis pasti melihat ada banyak masalah di kampus tercinta ini. Mari kita paparkan bersama.

Pertama, masalah yang paling urgent saat ini adalah permasalahan UKT. Banyak yang mengatakan bahwa UKT di kampus ini sudah tak merefleksikan lagi nilai-nilai kerakyatan. UKT yang mahal dan wacana kenaikannya membuat mahasiswa yang kalang kabut menjadi ingin bersatu dengan keganasan tadi. Mereka mengatakan,” apakah mungkin kita menerima UKT mahal, UKT mau naik, tidak ada penundaan, terlambat bayar sedikit pun tak ada ampun, bahkan sampai UKT tertinggi melebihi BKT”. Maukah kita menerima semua terjadi ? dimana nilai-nilai kerakyatannya ? apakah dengan naiknya UKT mahasiswa dari daerah 3T mampu membayar UKT agar bisa kuliah di kampus ini?

Lalu kemudian masalah TuKin, Tunjangan Kinerja. Tunjangan kinerja ini selayaknya diberikan kepada tenaga pendidik. Besarnya tak terlalu berarti bagi pihak kampus Negara, namun sangat berarti bagi para bapak-ibu tenaga pendidik serta keluarga mereka, yang turut berperan besar dalam kegiatan akademik. Tundik ini sebenarnya hanyalah untuk tenaga pendidik di PTN tanpa embel-embel BH. Perpres No. 138 Tahun 2015 Pasal 3 Ayat 1, mengatakan bahwa pemerintah tidak lagi memberikan tunjangan kinerja bagi PNS Non-Dosen yang bekerja di PTN-BH. Nah, namun peraturan itu diberlakukan per-awal Desember 2015, sedangkan para tenaga pendidik belum merasakan Tukin sejak semester genap 2014 hingga semester genap 2015, bila dihitung itu sekitar 3 Semester. Padahal peraturan tersebut tidaklah berlaku surut. Siapa yang salah ? pihak rektorat berkilah bahwa pencairan ini adalah wewenang pemerintah. Namun para tenaga pendidik menyayangkan sikap rektorat yang kurang menekan pemerintah[1]bahkan dalam Islam diajarkan dalam hadits dari Abdullah bin Umar, Nabi SAW bersabda yang artinya “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering” (HR. Ibnu Majah)

Terakhir namun bukan yang akhir, masalah simbol kerakyatan UGM, Bonbin. Kantin Bonbin dibangun dimasa kepemimpinan rektor Prof.Koesnadi, pengonsep kampus kerakyatan. Beliau menghimpun para pedagang kaki lima di UGM kemudian diberi satu lokasi di sekitaran klaster Soshum. Bonbin milik semua mahasiswa UGM, siapapun dia, bahkan mungkin milik masyarakat Jogja. Namun kenangan manis itu ingin dirobohkan, Bonbin ingin digusur, simbol kerakyatan ingin diganti dengan simbol kapitalis. Kita didongengi dengan keindahan taman, kemolekan lingkungan, namun ternyata menindas kaum marjinal. Kisah cinta Bonbin dengan UGM dipaksa berakhir, berakhir dengan tragis. Simbol kerakyatan UGM tinggalah nama, kisah manis yang ditorehkan pun sekejap menghilang.

Mahasiswa harusnya kritis, apalagi mahasiswa UGM. Mereka adalah orang-orang yang diseleksi secara ketat dan yang lolos yang hebat. Mahasiswa hebat biasanya jiwa kritisnya terpacu cepat. Otaknya yang hebat juga mampu menumbangkan kesewenang-wenangan yang tak merakyat. Harusnya kita dapat bersatu, menumbangkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kesejahteraan rakyat. Buang semua atribut identitas mu dan organisasi mu, karena pada saat itu mahasiswa penerus di Universitas Gadjah Mada hanya menunjukkan bahwa dia adalah mahasiswa yang peduli terhadap rakyat. Lekatkan almamatermu ditubuhmu, singsingkan lengannya, kepalkan tangannya, dan lantamkam suara :

HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!!!

HIDUP RAKYAT INDONESIA !!!!

HIDUP KEADILAN !!!!

GADJAH MADA BERSATU !!!!

Aku akan tetap ada dan berlipat ganda, akan terus memburumu seperti kutukan

-Wiji Thukul

Penulis : Kahfi Adlan Hafiz

(dengan sedikit perubahan)

Departemen Pengkajian dan Wacana

[1] https://m.tempo.co/read/news/2016/03/03/079750249/ribuan-pns-ugm-tuntut-pembayaran-tunjangan-kinerja, diakses pada 01 Mei 2016 pukul 14:41

You may also like

Leave a comment