Jihad dan Nasionalisme

Sleman, 10 November 2015

Departemen Syiar dan Takmir (DST) dan Departemen Pengkajian dan Wacana (DPW) Keluarga Muslim Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (KMFH UGM) mengadakan diskusi yang bertepatan pada Hari Pahlawan dengan tema “Semangat Jihad”. Tema tersebut dikaitkan dengan pertempuran yang pernah terjadi di Surabaya. Diskusi yang diadakan di Selasar Gedung I Fakultas Hukum tersebut mendatangkan dua pembicara, yakni Wing Wicaksono dan Ghifari Yuristriadhi serta dimoderatori oleh Ahmad Insani Andalas (mahasiswa Fakultas Hukum 2015).

Mayoritas masyarakat awam beranggapan bahwa jihad selalu berkaitan dengan perang. Namun, hal tersebut diluruskan oleh Wing Wicaksono, S.S, selaku pembicara pertama yang menyampaikan bahwa Jihad tidak selalu dikaitkan dengan pedang, perang, dan pertumpahan darah. Jihad dapat juga diartikan sebagai perilaku sungguh-sungguh dalam melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena sifat dari jihad itu sendiri yaitu lahiriah. Beliau menambahkan bahwa jihad dapat dilakukan dengan berbagai cara, oleh siapapun, baik yang sudah baligh maupun belum baligh. Bagi yang sudah baligh, dapat dilakukan dengan berbagai hal seperti jihad mata (menjaga pandangan), mengorbankan sesuatu untuk kepentingan agama, menahan nafsu, dan juga menutup aurat bagi kaum perempuan.

Selain untuk agama, Jihad juga dapat dilakukan untuk membela negara, seperti yang pernah dilakukan oleh para santri di Surabaya yang dikomandoi oleh K.H. Hasyim Ashari selaku ketua Nahdlatul Ulama (NU) pada masa itu. Peristiwa lain misalnya terjadinya Perang Sabil di Aceh, saat itu terdapat banyak mantra atau syair-syair penyemangat yang dapat menggerakkan seseorang untuk benar-benar berjihad, bahkan dapat diibaratkan seorang wanita hamil 8 bulan pun berani mengambil rencong untuk membunuh tentara Belanda.

Untuk menghargai peran para santri dalam membela negara oleh pemerintah mulai tahun 2015 pada tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan peristiwa Resolusi Jihad dan jatuhnya bulan Muharram sebagai Syahrullah atau bulan Allah dimana pada bulan tersebut pembunuhan dan peperangan diharamkan. Hal itu dijabarkan oleh Ghifari Yuristriadhi, S. Hum., M.Hum., selaku pembicara kedua.

Jadi, Jihad tidak selalu identik dengan fanatik agama dan peperangan, tetapi juga dapat diperuntukkan sebagai salah satu sikap bela negara dan menciptakan perdamaian sebagaimana yang dikatakan oleh Jenderal Soedirman, “Cinta perdamaian tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Dan keislaman dapat bersanding dengan nasionalisme.

You may also like

Leave a comment