UTS BUKAN THAGUT

Bulan Oktober merupakan sebuah masa pertempuran bagi mahasiwa-mahasiswi UGM, tak terkecuali di Fakultas Hukum UGM. Sebuah bulan dimana pikiran mahasiswa akan tercurahkan pada suatu hal, yakni Ujian Tengah Semester. Pada masa UTS, seringkali para mahasiswa ini sengaja untuk tidak melakukan hal apapun dan mengabdikan dirinya untuk belajar. Ya, bagaimana tidak? UTS sudah menjadi sebuah hal yang mengerikan sekaligus menentukan masa depan para mahasiswa ini. Dengan jumlah lulusan sarjana tiap tahun yang tidak sebanding dengan lapangan kerja menyebabkan persaingan IPK marak terjadi. Sehingga UTS bagaikan sebuah thagut di kalangan mahasiswa.
Melihat fenomena tersebut, Departemen Syiar dan Ketakmiran KMFH UGM mengadakan sebuah kajian bertajuk “UTS BUKAN THAGUT”. Kajian ini diselenggarakan pada hari Jumat. 9 Oktober 2015 di Mushola Baitul Hakim FH UGM yang diisi oleh Luthfi Dwi Hartono.

Thagut sendiri adalah sesuatu yang disesembahkan terlalu (Q.S al-baqarah:256). Pada masa-masa UTS seringkali para mahasiswa ini belajar hingga melupakan ibadahnya kepada Allah swt. Oleh karenanya, Thagut merupakan salah satu bagian dari syirik besar yang zhahir(nampak), ini perbuatan yang seharusnya jangan sampai dilakukan oleh umat islam karena yang berhak disembah hanya Allah swt.

Untuk menghindari agar kita tidak men-thagutkan UTS adalah menetapkan tujuan kita kuliah. Apakah hanya untuk sekedar mendapatkan nilai bagus? Atau modal cari kerja? Formalitas pendidikan? Hal terpenting dalam kuliah adalah mencari ilmu yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Ilmu itu berguna untuk mendapatkan kebesaran pikiran, jiwa dan mental saat ke dunia kerja. Banyak orang yang hanya lulus SD, SMP dan SMA bisa meraih kesuksesan di dunia kerja. Contoh tersebut adalah bukti nyata bahwa tidak semua formalitas pendidikan mencerminkan kesuksesan kerja seseorang.
Kebanyakan para mahasiswa mati-matian berusaha mencapai kesempurnaan nilai. Mulai dari melakukan semester pendek sampai pada tingkat terendah: mencontek. Akibat dari kefokusan kita mencapai nilai yang sempurna, kita melupakan hakikat nilai yang sebenarnya. Nilai merupakan ukuran seberapa besar kemampuan kita dalam perkuliahan. Apabila kita meraih nilai dengan cara yang tidak benar maka kita sama saja menipu akan kemampuan kita sendiri. Oleh karena itu dalam kuliah seharusnya kita fokus untuk mencapai kemampuan dan bukan untuk mencapai nilai yang sempurna.

Di pertengahan kajian, Luthfi berpesan agar mahasiswa itu dapat menikmati ilmu yang mereka dapatkan dan yang mereka punyai. Ia juga menyarankan agar mengubah pola pikir dari ilmu yang mengendalikan diri seorang manusia menjadi manusia itulah yang mengendalikan ilmu. Sepeti sebuah analogi , “saya lapar lantas saya makan”, bukan “saya harus makan karena lapar”. Analogi tersebut sama seperti kegiatan mencari ilmu: rasakanlah kalau kita hampa(lapar) maka mencari ilmu(makan), in sya Allah di masa depan pekerjaan yang akan menjemput kita.
Selain itu, jangan lupakan etika-etika dalam mencari ilmu. Mencontek bukanlah cara untuk mencari ilmu, tetapi merupakan cara mengkhianati ilmu itu sendiri. Jujurlah dalam mencari ilmu karena dengan begitu ilmu dan kemampuan yang kita dapatkan akan sepadan.

Meskipun begitu pemikiran untuk mendapatkan nilai yang sempurna seakan-akan telah mendarah daging di setiap mahasiswa. Tidak ada satu pun mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai yang jelek. Namun yang perlu digarisbawahi adalah apabila kita mendapatkan nilai yang kurang memuaskan jadikanlah hal itu sebagai refleksi atau tolak ukur kesepadanan ilmu yang kita punya dan jadikan dorongan untuk melakukan yang lebih baik kedepannya.

Terakhir, Luthfi berpesan jangan simpan ilmu untuk diri sendiri. Berbagilah dengan yang lain maka in sya Allah ilmu yang kita punya akan terus bertambah dan berkembang. Sebagai insan islam, kita harus dapat berguna bagi orang lain dan sebaliknya, tidak ada gunanya ilmu jika tidak diajarkan dan dipakai secara bijak.
Tidak usah men-thaghutkan UTS, UAS dan ujian lainnya selama masa kuliah karena nilai bukanlah tujuan kuliah kita yang sebenarnya. Tujuan kuliah yang sebenarnya adalah ilmu yang bermanfaat untuk kita di dunia maupun akhirat dan berguna bagi orang lain. Jadi jangan sampai terlalu menjadikan UTS, UAS dan ujian lainnya hal yang benar-benar utama dan diutamakan sampai lupa ibadah kepada Allah swt. Karena hasil terbaik adalah dari usaha dan ibadah. Tetaplah berikhtiar dalam segala hal dan serahkan hasilnya kepada Allah swt.

You may also like

Leave a comment