Sisi Lain Mahasiswa

Rabu, 1 April 2015

sisi lain mahasiswa

Mahasiswa memiliki peranan yang sangat penting dalam melakukan pengawasan terhadap pemerintah. Namun teriakan-teriakan mahasiswa itu kian meredup. Hal ini menjadi pertanyaan yang besar kemanakah peran mahasiswa yang dikenal sebagai agen perubahan? Bahkan ketika para mahasiswa berteriak lantang hukum mati koruptor, mereka sendiri pun tanpa sadar telah menebarkan benih korupsi.

Departemen Pengkajian dan Wacana (DPW) KMFH UGM bersama BPPM Mahkamah mengadakan diskusi publik dengan tema “Sisi Lain Mahasiswa”. Diskusi ini bertempat di selasar gedung I dan dimulai pada pukul 15.30. Pembicara yang dihadirkan ada tiga orang, yakni Fahriz Fahrijan (Pegiat PUKAT), M. Fatahillah Akbar (Dosen FH UGM), Satria Triputra Wisnumurti (Presiden Mahasiswa UGM 2015) dan dimoderatori oleh Jatmiko Wirawan (Mahasiswa FH UGM).

Fahriz Fahrijan sebagai pembicara pertama berpendapat bahwa saat ini pergerakan mahasiswa sering kehilangan arah mengenai posisi mereka dalam masyarakat. Pada jaman dulu, mahasiswa begitu masif dan kolektif tetapi pada masa sekarang kepekaan mahasiswa dalam menanggapi isu berkurang. Padahal dengan melatih kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar dapat menjadi pijakan kuat untuk menghadapi hal yang lebih besar. Dapat ditemukan dalam sejarah bangsa ini bahwa mahasiswa mampu menjatuhkan suatu prinsip. “Kita terbuai dengan pergerakan mahasiswa di 98 tetapi hal itu tidak diikuti lagi setelah Soeharto jatuh”, ujar Fahriz.

Selain itu, sistem kapitalis pendidikan juga mempengaruhi pergerakan mahasiswa. Mereka disibukkan dengan tugas, absensi dan sebagainya sehingga tidak dapat berbuat banyak dalam pergerakan. Peran dalam memberikan opini alternatif terhadap pemerintah seharusnya tidak dilupakan oleh mahasiswa. Namun mahasiswa jaman sekarang hanya bertindak sebagai follower bukan leader. Banyak mahasiswa yang hanya melihat isu secara makro (nasional) tetapi tidak melihat secara mikro (lokal).

Permasalahan selanjutnya ialah terjadinya elitis mahasiswa yang sangat kuat di antara organisasi. Fahriz menegaskan bahwa tanpa adanya gerakan kolektif maka mustahil sebuah perubahan akan terjadi. Mahasiswa akan kehilangan daya tawar mereka ketika mereka bergerak sendiri-sendiri.

Lebih lanjut, Fatahillah Akbar juga mengungkapkan perbedaan mahasiswa jaman dulu dengan jaman sekarang. “Mahasiswa jaman dulu memiliki aura atmosfer yang luar biasa. Sementara jaman sekarang bahkan mau ada permira saja hening. PPSMB mau diubah dekanat, mahasiswa biasa saja”, ucapnya.

Fatahillah Akbar pun juga mendukung peran mahasiswa dalam memberikan opini alternatif. Menurutnya, saat ini mahasiswa kurang berpendapat. Walaupun berpendapat tetapi banyak mahasiswa yang hanya menjadi follower saja . Mahasiswa dirasa tidak berani melawan arus.

Ia pun juga menegaskan seharusnya antara akademik dan ekstrakurikuler itu seimbang. “Tidak ada dekanat kita yang mengatakan hanya harus fokus pada nilai akademik saja. Tidak ada halangan bagi mahasiswa untuk mengadakan acara kemahasiswaan. Cuma terkadang kalian memaksakan ekstrakurikuler saja yang menjadi fokus dan akademik kurang diperhatikan”, paparnya. Hal ini juga yang menjadi perbedaan antara mahasiswa jaman dulu dengan jaman sekarang.

Pembicara terakhir, Satria, mengatakan bahwa fenomena yang terjadi sekarang adalah sekelompok mahasiswa yang memperjuangkan suatu hal memaksaan kelompok mahasiswa lain untuk memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan. Fenomena ini terjadi pasca 98 dimana terdapatya kebebasan maka orang-orang bebas memperjuangkan menurut versinya masing-masing. Bahkan dalam tujuan yang sama dapat terjadi saling menyalahkan antar kelompok mahasiswa.

Menurut Satria, seharusnya mahasiswa harus siap untuk mengambil peranannya masing-masing. Orang yang memperjuangkan suatu isu diharuskan siap menjadi leader. Namun leader pun juga harus memiliki keseimbangan antara di dalam dan di luar kelas. Apalagi dengan sistem pendidikan yang tidak memihak kepada mahasiswa tentu membuat mahasiswa harus menemukan rumusan yang baik antara organisasi dengan kuliah.

Satria berpesan agar para mahasiswa siap untuk menjadi leader dan creator. “Negara ini mampu berdiri karena ada dua orang yang mampu bertanggung jawab atas bangsanya”, tegasnya. Ia pun menambahkan agar mahasiswa jangan sekedar memuaskan kepentingan dan kehausan ilmu pengetahuan saja yang hanya akan berakhir pada kepuasan di otak. Jadikanlah kualitas hidup di kampus ini menjadi bekal luar biasa di masa mendatang dan lebih baik dari 18 tahun sebelumnya. “Sesungguhnya bukan usia yang harus ditambah dalam kehidupan tetapi menambah kehidupan dalam usia. Semua bisa menjadi apa saja. Tinggal keberanian kita untuk memilih versi yang mana”, tutur Satria.

You may also like

One comment

Leave a comment